
“Eits ... kau salah! Justru kau adik iparku bukankah Fey adikku!” ucap Tio.
“Siapa yang lebih tua, kau dan aku?” tanya Alex.
“Ya, kau!” jawab Tio sambil menuding Alex.
“Dasar ... giliran di tanya lebih tua siapa, milih mundur!” kata Alex.
“Hi ... hi ... hiks ... hiks,” Fey tak bisa menahan tawa di sela-sela tangisannya melihat tingkah kedua pria dewasa yang kekanak-kanakan.
“Thanks, Fey! Sudah mau tertawa!” ucap Alex dan Tio hampir bersamaan.
“Kalian berdua kaya anak kecil,” balas Fey.
“Ya, tentu! Kami teman baik anakmu,” ujar Tio.
Fey pun tersenyum lebar.
“Makan, Fey!” Alex menawarkan makanan pada Fey.
Fey menggeleng.
“Fey, kau bisa sakit atau ingin kusuapi!” Mata Alex membulat.
Fey menggeleng kembali.
“Fey, kau enggak bisa begini terus. Kau mau saat Tian sadar, kau pingsan karena kelelahan dan tak makan?” tanya Alex.
Mendengar kata-kata Alex, Fey mau menyentuh makanan itu. Sudah hampir tengah malam Tian belum juga sadar, Fey masih setia di samping Tian.
“Fey! Sebaiknya kau istirahat, biar kami yang menunggu Tian,” kata Alex.
“Tidak ... saat Tian sadar, ia pasti mencariku,” sahut Fey.
“Sayang ... mama di sini!” Sesekali Fey mengucapkan kalimat itu sambil menciumi tangan Tian.
Saat menjelang pagi.
“Ma ... Mama ...!” Tian memanggil Fey dengan suara yang lirih.
“Tian ... Tian! Kau bangun, Sayang! Lex! Iyo! Tian bangun!” teriak Fey sontak membuat kedua pria itu terjaga.
“Aku panggilkan dokter!” kata Tio sambil berlari keluar kamar.
Alex menghampiri Tian, air matanya tak bisa ia tahan lagi.
“Tian ... Sayang,” Alex menggenggam tangan Tian dan mengucapkan kata pertamanya pada Tian sebagai darah dagingnya.
“Om Vila,” sapa Tian dengan suara lirih.
“O ... thank you, God!” tangis Alex seketika pecah.
“Tian ... terimakasih, Sayang!” ucap Fey sambil menangis haru.
Alex memeluk dan mencium rambut Fey serta menggenggam tangan Tian. Tak lama dokter jaga memeriksa kondisi Tian. Mereka bersyukur untuk hasil yang baik pasca operasi Tian. Namun mereka akan melakukan beberapa tes lagi pada Tian.
__ADS_1
“Tian istirahat dulu, ya! Mama akan tunggu Tian di sini!” kata Fey.
Tian mengangguk lemah.
Tak lama Tian tertidur, Fey masih duduk di samping bed Tian. Fey pun tertidur dengan kepala tengkurap pada bed. Alex membopong Fey yang tertidur pulas ke sofa bed di ruang rawat Tian.
“Kau sungguh beruntung bisa menikahi Fey! Dulu aku sangat cemburu pada laki-laki yang berhasil menikahi Fey, ternyata laki-laki itu kau!” kata Tio.
“Ya, seperti pernah aku bilang padamu. Dulu aku sempat menyia-nyiakan dia,” sahut Alex.
“Bagaimana ceritanya?” tanya Tio.
“Itu semua karena kebodohanku!” jawab Alex.
Kemudian Alex menceritakan perjalanan panjangnya bersama Fey kepada Tio.
“Tunggu ... tunggu ... siapa nama mantan mu?” tanya Tio.
“Sandra” jawab Alex.
“Sandra Hartawan!” kata Tio.
“Lho! Kok, kau tahu!” ucap Alex terkejut.
“Belum lama ini, ia jadi pasienku. Ia melakukan percobaan bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya,” kata Tio.
“Terus?” tanya Alex.
“Aku curiga, ia tak benar-benar ingin bunuh diri, karena sayatan yang ia buat dangkal!” jawab Tio.
“Aku harap kau berhati-hati padanya!” kata Alex.
“Tara memiliki andil dengan putusnya perkawinan aku dan Sandra. Kini kalian menjalin hubungan, kau tahu maksudku, kan?” tanya Alex.
Tio mengangguk.
“Dia wanita pintar namun cenderung psycopath. Ia sangat pintar mencari celah untuk menghancurkan. Hati-hati jika bertemu dengannya!” jawab Alex.
“Ok ... terimakasih infonya! Hm ... Lex! Kau jangan sia-siakan, Fey lagi! Kalau tidak, aku akan ....” kata Tio terpotong.
“Akan apa? Berani kau dengan Tara? Sebelum berurusan dengan Tara. Kau akan aku buat babak belur dulu, karena berani menganggu kakak iparmu!” sahut Alex sambil mengepalkan tangan.
“Waduh ... ke situ lagi!” kata Tio sambil menggaruk kepalanya.
“Janji kita tak akan menyia-nyiakan mereka. Mereka sangat berharga untuk kita sia-siakan!” sahut Alex.
Tio mengangguk.
Tiba-tiba Tian teriak, tampaknya ia alami mimpi buruk.
“Ma ... Mama!” teriak Tian.
Tio bergegas menuju ranjang dimana Tian berada, Tian tampaknya sedang mengigau. Dengan sigap Tio segera menenangkan Tian.
“Ssstttt ... Tian rupanya mimpi buruk, ya! Om Yo ada di sini, Tian tidak usah takut,” kata Tio lirih sambil mengelus-elus dada Tian.
__ADS_1
Setelah Tian tenang, Tio merapikan kembali selimut Tian. Alex melihat Tio memperlakukan Tian seperti anak sendiri tanpa rasa canggung, membuat Alex tak enak hati.
Mungkin karena Tio telah mengenal Tian sejak lahir, batin Alex.
Alex mengajak Tio duduk di sofa, ia mulai bicara serius.
“Iyo ... ceritakan masa kecil Tian padaku!” kata Alex.
“Ahh, kau! Kau bisa tanya Fey!” sahut Tio.
“Itukan dari sudut pandang Fey, aku mau dari sudut pandang kau sebagai sesama laki-laki. Tentu beda yang kalian bicarakan atau yang kalian lakukan!” kata Alex.
“Tak banyak yang kami bicarakan karena aku jarang pulang. Saat aku pulang, seharian aku ajak main ATV atau outbound!” kata Tio.
Kemudian Tio mengeluarkan ponsel dari sakunya.
“Ada beberapa moment aku ambil, nih! Kau mau melihatnya!” kata Tio sambil menyerahkan ponselnya.
Alex menerima ponsel dari tangan Tio dan melihat foto-foto itu satu persatu.
“Aku sungguh iri denganmu, aku tak memiliki kenangan ini bersama Tian!” ujar Alex dengan wajah sedih.
“Hai ... kau belum terlambat melakukan itu, daripada tak kau lakukan sama sekali!” sahut Tio.
Alex mengangguk.
“Kudengar dari Tian, kalau kau pernah obati Tian saat panas tinggi?” tanya Alex.
“O ... waktu itu Tian demam setelah di imunisasi, Fey tampak kewalahan dan kebetulan aku tahu penanganan karena aku seorang dokter!” kata Tio.
“Makasih, Iyo! Kau banyak membantu Fey saat jauh dari kami!” ucap Alex.
“Tak usah sungkan! Sorry, Lex! Aku harus pulang, besok ada shift sore,” ujar Tio.
Alex mengangguk.
“Thanks, Iyo!” kata Alex.
Tio membalas dengan melambaikan tangan.
Malam itu pun berganti pagi.
Pagi itu Mul datang ke rumah sakit dengan membawa tas berisi beberapa pakaian untuk Fey dan Alex.
“Fey! Kau mandilah! Aku akan menjaga Tian di sini!” perintah Alex.
Fey mengangguk.
Alex duduk di tepi bed Tian berbaring. Alex memandang wajah Tian, ia menggenggam tangan mungilnya. Sesekali Alex tersenyum melihat Tian.
Sungguh senang, ternyata kau adalah anakku! batin Alex.
Setelah membersihkan diri Fey memeluk Alex dari belakang. Alex menatap Fey, Alex mengenggam tangan Fey dan menciumnya.
“Fey tahukah kau, apa yang aku katakan saat aku bertemu dengan Tian sebelum mengenal Tian sebagai anakku,” kata Alex tanpa mengalihkan tatapan matanya dari wajah Tian.
__ADS_1
“Apa itu?” tanya Fey.
”Aku bertanya pada diri sendiri, seperti apa rupa anak kita. Di situ aku berharap anak kita setampan dan sepintar Tian. Ternyata Tuhan benar-benar kirim Tian untukku!” jawab Alex sambil mencium punggung tangan Fey.