Cinta Fey

Cinta Fey
Lamaran


__ADS_3

“Maaf ... Dan! Saat ini Alex sedang menjalin hubungan serius dengan seorang gadis dan sudah mengarah ke jenjang pernikahan,” ucap Candra.


“Apa! Kau serius!”


Candra mengangguk.


“Hari ini Anna sedang membicarakan rencana lamaran dengan besan.”


“Sandra tak bicara, Alex menjalin hubungan dengan gadis lain,” Danu terkejut.


“Tapi itu benar! Dalam waktu dekat setelah kami melamar, Alex akan menikah dua bulan lagi,” ujar Candra.


---


Sandra dari tadi jalan mondar-mandir sambil sesekali melihat ke halaman. Sandra sedang gelisah menunggu Danu. Hari ini Danu bertemu dengan Candra. Begitu Danu turun dari mobil, Sandra langsung bertanya.


”Bagaimana, Pa!” tanya Sandra.


“Kau bikin malu, papa!” jawab Danu.


“Apa maksud Papa?“


“Alex mau menikah. Bagaimana bisa kau suruh papa bilang, kau mau kembali bersama dengan Alex!” ucap Danu.


“Tidak, Pa! Itu tidak benar. Mereka pasti hanya bersandiwara agar Sandra mengalah. Sandra mengenal Alex dengan sangat baik. Tak mungkin Alex mengkhianati Sandra. Ini semua karena wanita murahan itu!” ucap Sandra.


“Sadar, San! Bahkan dalam waktu dekat Alex akan melamarnya dan menikah dua bulan lagi.”


“Ini tak boleh terjadi, Pa! Alex hanya milik Sandra seorang,” teriak Sandra.


Sandra berlari ke kamar, seperti biasa barang-barang di sana menjadi sasaran pelampiasan kemarahan Sandra.


Danu hanya geleng-geleng kepala menghadapi ulah anak tunggalnya.


---


Besok hari H dan persiapan juga sudah selesai.


Malam itu Alex merebahkan diri di atas ranjang. Hanya bisa membolak-balik badan, ia merasa gelisah. Ia tak bisa memicingkan matanya sama sekali. Pagi yang di tunggu terasa panjang. Baru menjelang pagi Alex baru bisa tidur.


---


Fey pun mengalami hal yang sama.


Akhirnya dia melamarku. Apa aku mimpi? batin Fey.


Fey mencubit lengannya.


“Aduh sakit!” ucap Fey.


Fey mengusap lengannya yang merah bekas cubitan tangan sendiri.


Tapi ia tak pernah mencintaiku ... Aku tak tahu harus bahagia atau bersedih.


Fey bicara di depan cermin memberi semangat pada diri sendiri.


“Fey ... berbahagialah!” ucap Fey.

__ADS_1


---


Pagi itu Alex bersiap diri menuju rumah Fey untuk meminang gadis itu walau semalam ia kurang tidur. Alex termangu di depan cermin, menatap dirinya sendiri.


Inilah salah satu hari yang kutunggu! batin Alex.


Tak lama HP Alex berbunyi.


“Halo Om Danu!”


“Lex, tolong om. Sa–Sandra mencoba mengakhiri hidupnya. Tolong Alex kemari.”


“Maaf Om. Antara kami sudah tak ada hubungan apa-apa lagi. Lagipula hari ini Alex ada acara penting. Maaf, Alex harus pergi.”


Alex menutup panggilan ponselnya.


Tidak semudah itu, San! Kau mengakhiri hidup demi menggagalkan rencanaku.


---


Sandra melakukan percobaan bunuh diri dengan konsumsi obat tidur.


“Beruntung obat yang masuk cuma sedikit dan dapat segera dikeluarkan.”


Kata dokter masih terngiang di telinga Danu. Ia hanya bisa menggenggam tangan putri satu-satunya yang masih tergolek lemah di ranjang.


“Dasar gadis bodoh!” guman Danu.


Baru menjelang siang Sandra baru sadar.


“Aku di mana?” tanya Sandra.


“Alex ... Pa! Sandra mau Alex. Sandra tak bisa hidup tanpa Alex,” teriak Sandra histeris.


Danu hanya bisa memeluk anak gadisnya yang hampir kehilangan nyawa.


---


Suasana rumah Sony sangat ramai, tak henti-hentinya Fey tersenyum. Hari ini Fey akan menerima pinangan dari Alex. Rona bahagia tak pernah beranjak dari wajah Fey. Senyum manis tetap setia di wajah Fey pada tiap orang yang memberi selamat kepadanya. Walau tanpa make-up berlebih, wajah Fey tetap terlihat cantik.


Kedua orang tua Alex telah tiba dan di sambut langsung oleh Sony sekeluarga.


“Maksud kedatangan kami sekeluarga ingin meminta Feylin Prasetya secara resmi untuk menjadi calon istri, putra kami yang bernama Alexander Wijaya” ucap Candra


“Kami Keluarga Sony Prasetya menerima Alexander Wijaya sebagai calon suami, putri kami yang bernama Feylin Prasetya,” balas Sony.


Alex mengenakan kalung pada leher Fey tanda hubungan keduanya sudah saling mengikat. Kedua keluarga pun sudah menentukan tanggal pernikahan mereka.


Ucapan selamat menghampiri keduanya yang tersenyum bahagia. Kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tamah, walau sederhana namun keakraban di antara kedua keluarga terjalin dengan sangat baik.


Alex menggengam tangan Fey, ia memandang Fey membuat wajah Fey merah merona.


Apa ini akhirnya ... wanita yang Tuhan berikan untuk kunikahi.


“Apa yang kau pikir?” tanya Fey.


“Tidak, hanya tinggal separuh lagi kau jadi milikku. Apa kau bahagia?” jawab Alex.

__ADS_1


Alex menarik pinggang Fey sehingga kini Fey berada dalam pelukan Alex.


Fey tertunduk malu.


“Kenapa? Kau enggak mau jadi istriku? bilang sekarang mumpung belum aku nikahi!” Alex pasang mimik wajah serius.


Fei memukul dada Alex.


“Aduh ... sakit! Kau memukul persis di atas luka bekas operasiku,” erang Alex.


Alex membungkuk dan merintih dengan tangan kanan memegang dadanya. Wajah Fey mendadak pucat pasi melihat reaksi Alex akibat perbuatannya.


“Aduh! Maaf, Lex! Maaf ... maaf ...! Mana ... mana sini aku lihat!” Fey panik.


Melihat Alex makin meringis menahan sakit sambil memegang dadanya. Fey berusaha membuka kancing kemeja Alex untuk melihat luka dadanya barangkali berdarah. Fey berhasil membuka beberapa kancing kemeja Alex. Melihat perbuatan Fey yang akan menelanjangi dirinya di depan orang banyak. Alex tak tahan lagi.


“Eh ... eh... jangan di sini ... malu!” ucap Alex.


Alex menyilangkan tangan di dada. Fey berhenti membuka kemeja Alex.


“Bukanya di kamar saja!” bisik Alex di telinga Fey.


Seketika wajah Fey merah merona mendengar canda mesum Alex.


“Ha ... ha ... ha ....”


Alex tertawa senang, godaannya mengena. Fey yang malu segera menjauhi Alex. Namun Alex tak melepaskan Fey begitu saja, ia mengekor Fey.


Tara melihat tingkah laku mereka berdua di hadapannya. Tara mencoba berpikir positif.


Semoga kalian benar-benar bahagia!


“Fey ... Fey ... tunggu!”


Namun Fey tetap berjalan menjauhi Alex. Alex berlari untuk mengejar Fey. Wajah Fey masih memerah karena keusilan Alex.


Tara menghampiri.


“Hai ... kakak ipar!” sapa Tara.


Fey tersipu malu dengan ulah Tara yang kocak.


“Kakak ipar, semoga kau bahagia selalu,” ucap Tara.


Fey hanya bisa mengangguk dengan wajah lagi-lagi memerah.


Alex hanya bisa mengibas-ibaskan tangan untuk menghalau Tara agar tak menggoda Fey lagi. Tara pun menjauh sambil menjulurkan lidah.


“Fey, mulai besok aku akan bekerja di perusahaan. Mungkin waktu kita jalan akan berkurang,” kata Alex.


“Enggak apa-apa! Lagipula dari awal aku enggak pernah nuntut kau harus menyediakan waktu untukku,”


Alex mencium Fey.


Aku memang tak salah memilihmu karena kau tak pernah menuntutku macam-macam, batin Alex.


---

__ADS_1


Hari ini, hari pertama Alex mulai masuk perusahaan. Seperti biasa keberadaan Alex selalu menarik perhatian. Alex ditempatkan di divisi pemasaran walau anak CEO, Alex tetap wajib mengikuti aturan perusahaan.


__ADS_2