Cinta Fey

Cinta Fey
Pengisi Daya


__ADS_3

Setelah menikmati makan malam bersama, Tio menepati janjinya mengantar Tara pulang.


“Iyo, aku turun di sini saja,” pinta Tara.


“Tidak, aku akan antar kau sampai ke rumah. Barang yang kau bawa berat! Kecuali kau berencana mematahkan tangan kirimu” kata Tio.


Tara mengerucutkan bibirnya.


Akhirnya Tara mengalah dengan segala resiko, di tanya macam-macam oleh orang rumah. Tampak di teras rumah, Alex sedang duduk santai di sana terlihat jelas menunggu kedatangan mereka berdua.


Dasar! Ini pasti ulah Alex. Awas kau, Lex! batin Tara.


Alex segera menghampiri mereka berdua.


“Maaf, Dok! Jadi merepotkan. Kalian bertemu di mana?” Alex pura-pura tidak tahu sambil menerima buku-buku Tara dari tangan Tio.


“Tak sengaja bertemu di toko buku,” jawab Tio.


“Makasih, Iyo!” ucap Tara malu-malu sambil berlalu.


Setelah Tara menghilang di balik pintu, Alex mulai melancarkan aksinya.


“Aduh, Tara jadi merepotkan Dokter. Kapan-kapan kalau ada waktu luang, boleh kita makan bersama,” kata Alex.


“Ok!” balas Tio.


“Boleh aku minta nomer HP Dokter?” tanya Alex.


“Boleh! Mana ponselmu?” pinta Tio.


Alex memberi ponsel miliknya, Tio mengambil ponsel Alex dan mengetik di sana lalu menyerahkan kembali ke Alex.


“Namaku Tio, panggil saja, Iyo. Maaf! Aku harus kembali,” ucap Tio.


“Silakan, Iyo! Sekali lagi terimakasih, hati-hati di jalan!” balas Alex.


Tio melambaikan tangan.


Alex mengantar buku-buku ke kamar Tara. Saat melihat Alex, Tara langsung nyerocos.


“Kau sengaja meninggalkanku di sana, kan!” desak Tara saat di kamarnya.


“Ha ... ha ... tapi aku dapat ini!” balas Alex sambil menunjukkan ponselnya dan ada nama Tio di sana.


“Serius!” kata Tara.


Alex mengangguk.


“Aku kirim no Tio, ya! Eh ... dia orangnya, gimana?” tanya Alex penasaran.


“Ya, dia orangnya nyebel'in, kadang lucu,” jawab Tara.


“Kau suka?” tanya Alex lagi.


“Enggak tahu!” jawab Tara asal.


“Kalau kau merasa ingin tahu lebih tentang dia, memikirkan dia, itu tanda ada ketertarikan,” ucap Alex.


“Dia menurutmu, bagaimana?” tanya Tara

__ADS_1


“Terlihat baik ... humble orangnya,” jawab Alex.


Tara hanya mengangguk-angguk.


“Biarkan mengalir, Ra!” kata Alex lagi sambil berlalu.


Tara memikirkan perkataan Alex tadi.


“Ya, mengalir saja seperti air,” ucap Tara.


Tak terasa, sudah tiga minggu Tara menggenakan gips. Hari ini gips itu akan di buka dengan di temani Alex, Tara menuju ke rumah sakit.


“Ra, mumpung kita di sini, bagaimana kalau kita makan bersama Tio?” ajak Alex.


“Memang dia mau?” tanya Tara.


“Ajak dia juga belum. Mana kutahu?” jawab Alex.


Alex menghubungi ponsel Tio


“Aku tak bisa hubungi, Ra! Mungkin dia sibuk!” kata Alex.


Alex mengirim chat pada Tio.


Alex : “Maaf, Iyo! Aku ada di rumah sakit. Kalau kau ada waktu, kita makan siang bersama!”


Tak berapa lama Alex mendapat balasan chat dari Tio.


Tio : “Maaf, aku tak bisa. Aku ada di luar kota.”


“Dia di luar kota, Ra! Kalau begitu kita makan berdua saja!” ajak Alex.


---


Sementara itu, Tio dalam perjalanan ke rumah karena Heni meninggal dunia karena sakit. Sepanjang perjalanan Tio ada rasa sesal di hati. Ia belum mengabulkan permintaan terakhir Heni. Tanpa Tio sadari air matanya telah mengalir di kedua pipinya. Saat tiba di rumah, Fey menyambut Tio.


“Maafkan aku, Iyo! Aku tak bisa menjaga ibu dengan baik!” tangis Fey seketika pecah di hadapan Tio.


“Jangan salahkan dirimu! Tak ada yang bisa mengalahkan, saat maut datang menjemput,” ucap Tio.


“Kalau saja aku lebih ....” ucap Fey terhenti.


Tio menutup mulut Fey di hadapannya dengan jarinya.


“Jangan kau teruskan, jangan kau menyesali dirimu. Kau sudah cukup baik menjaga mama, Fey!” ucap Tio.


“Tapi kau sudah menitipkan ibu padaku!” kata Fey lirih.


Saat dalam perjalanan Tio merasa rapuh, ternyata Fey lebih rapuh dari dirinya. Sehancurnya hati Tio di tinggal Heni, ternyata lebih hancur hati Fey.


Tio tak menyangka pesan terakhirnya pada Fey berdampak nyata saat Heni meninggal menjadi pukulan telak bagi Fey, membuat Tio merasa bersalah. Fey merasa tak berguna, ia gagal menjaga Heni. Tio tahu, Fey memperlakukan Heni seperti orang tuanya sendiri.


“Berhentilah menangis, kasihan Tian!” ucap Tio.


Tio memegang wajah Fey, ia menghapus air mata yang mengalir di pipi Fey.


”Aku urus mama dulu, ya!” kata Tio.


Fey mengangguk.

__ADS_1


Selama dua hari Tio sibuk mengurus Heni hingga pemakaman usai. Rumah itu terasa sepi, karena para kerabat pun telah kembali pulang ke rumah masing-masing.


Sore itu, mereka berdua duduk berbincang serius di ruang tengah.


“Fey, ikutlah denganku!” ajak Tio.


Fey menggeleng.


“Kenapa?” tanya Tio.


“Aku tak tahu harus bilang apa!” jawab Fey.


“Aku kan, mengajakmu ikut denganku. Bukan menikah denganku. Aku khawatir meninggalkanmu hanya berdua di sini!” ucap Tio.


Fey tetap menggelengkan kepalanya. Fey ingin bicara terus terang pada Tio. Namun Fey tidak tahu, harus mulai dari mana.


Aku tak bisa tinggal bersamamu di kota itu, di mana Alex ada di sana, batin Fey.


Tio bisa membaca, apa yang Fey pikirkan dan apa yang menjadi keraguan wanita di hadapannya.


“Kau memikirkan suamimu?” tanya Fey.


Fey terdiam karena Tio menebak dengan tepat apa yang menjadi kegundahan hatinya.


“Aku tak akan memaksamu harus menerima aku. Setelah mama tak ada, aku mengkhawatirkan kau dan Tian kalau tinggal di sini,” kata Tio.


“Aku akan tetap di sini, Iyo! Menjaga rumah ini untukmu. Itupun kalau masih kau izinkan aku tinggal di sini,” balas Fey.


“Aku hargai pendapatmu, tapi kalau kau berubah pikiran. Aku masih membuka tanganku!” ucap Tio.


Fey mengangguk.


“Karena kau bersikeras dengan sikapmu, setiap aku libur walau seharipun, aku akan pulang menjenguk kalian,” kata Tio.


“Jangan! Nanti kau lelah!” sahut Fey.


“Lelah, tidak ada kata lelah untuk orang berarti sepertimu!” kata Tio tegas.


Kata-kata Tio membuat wajah Fey memerah.


“Tak usah merasa terharu ...!” ucap Tio.


“Siapa yang terharu!” sahut Fey berusaha memalingkan wajahnya agar tak terlihat Tio.


Namun Tio menahan wajah Fey.


“Aku ingin menatap wajahmu, aku rindu Fey. Wajahmu lebih kecil, Fey! Apa karena efek kehamilan yang membuatmu terlihat lebih gemuk!” kata Tio.


“Enggak tau ... ahh!” sahut Fey.


Fey malu di perhatikan oleh Tio, ia pun segera beranjak menghindari Tio.


Tio menahan Fey, dengan lembut Tio memeluk Fey. Fey meronta.


“Diamlah! Kali ini kau jadi charger untukku. Dayaku sedang lemah ... jadilah pengisi daya untukku,” ucap Tio lirih.


Fey melingkarkan kedua tangannya di punggung Tio dan menepuk-nepuk dengan lembut. Kepala Tio bersandar di dada Fey, merangsek di sana, tak lama dada Fey terasa basah.


Tio menangis! Apa ia rindu ibu! batin Fey.

__ADS_1


__ADS_2