Cinta Fey

Cinta Fey
Tengil


__ADS_3

Saat di dalam mobil, bibir Tara mengembang saat melirik emoji smile yang Tio gambar.


“Apa yang kau lihat, sampai senyum-senyum sendiri begitu?” tanya Alex.


“Ahh ... bukan apa-apa,” jawab Tara dengan wajah memerah sambil mengalihkan pandangannya.


“Mikir dokter cakep itu, ya!” goda Alex.


“Enggak ...!” balas Tara dengan cepat.


“Aku enggak nolak, kok! Kalau punya adik ipar dokter!” Makin jadi Alex mengoda Tara.


“Iih ... apa'an, sih!” jawab Tara kian memerah wajahnya.


“Ha ... ha ...!” Alex tertawa.


“Apa yang kau tertawakan?” tanya Tara.


“Wajahmu itu, lho! Kaya kepiting rebus gitu!” kata Alex.


“Dasar!” balas Tara.


---


Mulai hari ini Tara mengerjakan semua dengan tangan kirinya.


Makanku jadi lama gara-gara pakai tangan kiri. Dokter tengil bilang harus di gips tiga Minggu lagi. Ampun, deh! Bikin kepala pusing! batin Tara.


Di saat susah menjalani aktifitas menggunakan tangan kiri karena Tara bukan kidal, ia melihat gambar emoji smile jadi senyum-senyum.


“Apa yang rusak dengan otakku? Senyum-senyum sendiri gara-gara emoji!” guman Tara.


“Hai ... enggak baik! Anak gadis bicara sendiri!” tiba-tiba Alex berseloroh.


“Ahh ... kau ini, bikin kaget aja!” kata Tara.


“Emang tadi ngomong apa?” tanya Alex.


“Enggak ngomong apa-apa, kok!” Tara berusaha ngeles.


“Bener, nih! Enggak ngomong apa-apa?” tanya Alex.


“Iya bener!” jawab Tara menegaskan.


“O ... kira'in ada sesuatu yang mau di sampaikan padaku,” ucap Alex santai.


“Apa maksudmu?” tanya Tara.


“Ya, mungkin kau ingin tanya no hp dokter Tio,” kata Alex.


“Memang kau punya!” sahut Tara.


“Kena kau! Katanya enggak tertarik ternyata terperangkap juga hatimu!” ledek Alex.


“Iih ... kau ini!” balas Tara sambil mengambil bantal sofa untuk nimpuk Alex.


“Eh ... ingat, tuh tangan! Pengin yang satunya di gips juga!” sindir Alex.


Perkataan Alex menyadarkan Tara sehingga ia mengurungkan aksinya.


“Ra ... enggak usah malu. Kau sudah dewasa, tertarik lawan jenis itu wajar. Aku akan mendukungmu, asal ia pria yang baik dan sayang padamu!” ucap Alex.


Tara hanya diam mendengarkan kata-kata Alex.


“Kalau kau membutuhkan bantuanku, bilang saja! Aku siap membantumu!” kata Alex berlalu sambil menepuk punggung Tara.


Tara masuk ke kamarnya, Tara merebahkan dirinya ke ranjang dan menatap langit-langit kamarnya.

__ADS_1


Apa benar aku jatuh cinta dengan dokter tengil itu! batin Tara.


“Apa iya, ini yang di bilang jatuh cinta. Awalnya aku sebel tapi kalau lagi sebel lihat emoji ini jadi adem. Aku kaya kena pelet aja!” guman Tara pada diri sendiri.


“Dasar dokter tengil” kata Tara.


“Ahh ... bodo amat!” ucap Tara sambil menarik selimut sampai ke kepala.


---


Hari itu Alex mengantar Tara ke toko buku. Begitu sampai ke toko buku.


“Ra ... aku ke toko perkakas, ya! Kalau kau sudah selesai, bisa cari aku di sana atau kau bisa call” ucap Alex.


“Ok!” balas Tara.


Alex tidak suka baca buku, berbeda dengan Tara yang bisa duduk berjam-jam lamanya hanya untuk membaca. Tara mencari beberapa buku, setelah menemukan beberapa yang menarik hati. Tara mencari space yang nyaman, untuk baca referensi buku-buku yang akan Tara beli. Tak ada kursi, duduk di lantai pun jadi.


“Tak sangka ternyata kutu buku juga!” kata seseorang.


Tara tak menyadari ada seseorang yang berdiri di sampingnya. Membuat Tara harus mendongak karena suaranya seperti tak asing di telinganya.


“Dokter tengil!” teriak Tara spontan.


“Apa!” kata Tio.


“Hm ... bukan apa-apa!” Tara ngeles.


Tara Bergegas berdiri membuat Tara kehilangan keseimbangan, apalagi satu tangan Tara yang di gips makin tidak stabil. Untung Tio memiliki reflek yang baik dengan sigap ia menyangga tubuh Tara. Menyadari tubuhnya bersandar pada dada Tio dengan segera Tara memperbaiki posisinya.


“Maaf!” ucap Tara.


“Sebaiknya kau jangan membuat gerakan mendadak, bisa kehilangan keseimbangan!” ujar Tio.


Mulai deh, bawelnya! batin Tara.


“Terlalu suka sih, tidak! Paling untuk mengisi waktu,” jawab Tio.


“O ....” ucap Tara singkat.


---


Bukankah itu dokter Tio, ahh aku ada ide! batin Alex


Alex mengambil ponsel lalu mengetik chat untuk Tara.


Alex : “Sorry, Ra! Kau pulang rumah sendiri, ya! Tiba-tiba aku ada urusan.”


Setelah Alex mengirim chat itu pada Tara, dengan santai Alex meninggalkan mereka berdua di sana.


---


Tara membaca chat dari Alex.


“Kok di tinggal, sih!” Tara membaca chat Alex sambil menggerutu.


“Apa!” kata Tio.


“Bukan pada Dokter, tapi ini! Maaf aku harus pergi!” Tara menunjukkan ponselnya.


Tara tampak kesulitan membawa buku yang akan ia beli.


“Boleh, kubantu!” ucap Tio.


Tara merasa canggung, tapi ia memang butuh bantuan membawa buku yang ia beli. Alex yang diandalkan malah meninggalkannya.


“Apa tak menganggu?” tanya Tara.

__ADS_1


“Tidak! Kalau kau minta aku bawa begini tiap hari, baru itu menganggu!” jawab Tio santai.


Tara tersenyum kecut.


Setelah selesai transaksi.


“Dok, bisa antar aku sampai ke depan! Biar gampang pesan taxi onlinenya,” pinta Tara.


“Aku akan mengantar kau sampai ke rumah. Tapi temani aku makan dulu!” kata Tio.


Berhubung Tara sendiri juga belum makan akhirnya Tara mengangguk.


“Kau ingin makan apa?" tanya Tio.


"Terserah Dokter asal jangan sejenis mie, aku susah memakannya. Karena perbuatan Dokter ini!” ucap Tara sambil menunjukkan lengannya yang berbalut fiberglass.


Tio mengenyitkan alis matanya. “Kok, perbuatanku!”


Tara hanya tersenyum kecil, melihat ekspresi Tio yang kocak.


“Akan kusuapi kau!” kata Tio ganti mengoda Tara.


Wajah Tara memerah merona.


“Kenapa, malu kalau aku suapi?” tanya Tio.


Huh! dasar tengil! batin Tara.


“Kok enggak jawab? Berarti mau!” tanya Tio lagi.


“Diam belum tentu mau ... weee!” jawab Tara sambil menjulurkan lidah.


“Ha ... ha ... so cute!” kata Tio sambil tertawa.


Memang benar-benar tengil! batin Sekarang mengajak ke resto steak, begitu pesanan mereka tiba. Tio dengan cekatan memotong steak milik Tara.


“Silakan dinikmati!” ucap Tio meletakkan piring berisi steak yang sudah di potong-potong.


“Makasih, Dok!” sahut Tara.


“Stop!” kata Tio tiba-tiba menghentikan saat Tara tepat akan memasukkan potongan steak ke mulutnya.


“Apa!” tanya Tara.


“Aku kemari bukan mengajak makan pasienku!” jawab Tio.


“Lalu?” Tara bertanya kembali.


“Dari tadi kau panggil aku dokter!" balas Tio.


“Terus aku panggil apa?” tanya Tara.


“Panggil Iyo saja, lagi pula kita tidak sedang di rumah sakit, umur kita pun tak terpaut jauh tampaknya,” ucap Tio.


Tara mengangguk.


Saat Tara akan menyuap steak itu kembali. Tio berbicara kembali.


“Sepertinya kita harus kenalan dengan baik” ucap Tio sambil mengulurkan tangan kirinya untuk menjabat tangan Tara.


“Tio Saputra” ucap Tio.


“Tara Wijaya. Sekarang sudah boleh makan?” tanya Tara dengan nada kesal.


Tio kali ini mengangguk dan Tara akhirnya menikmati potongan steak pertamanya.


Mau traktir makan tapi nyiksa dulu! Mimpi apa aku! Kok bisa bertemu orang setengil dia! batin Tara dongkol.

__ADS_1


__ADS_2