Cinta Fey

Cinta Fey
Tian


__ADS_3

Menjelang siang Alex kembali ke villa, saat di ambang pintu villa.


“Om Vila!” panggil seseorang anak.


Alex tenggok kanan kiri mencari sumber suara. Tampak sosok familiar di mata Alex, walau baru bertemu dua kali. Sosok Tian mampu mencuri perhatian Alex.


“Halo! Ternyata Tian! Baru pulang sekolah?” tanya Alex.


“Ya!” jawab Tian.


“Kelas berapa?” tanya Alex lagi.


“Kelas satu!” jawab Tian.


“Pintar tidak sekolahnya?” tanya Alex lagi.


“Pintar, Om! Tapi kata mama harus jujur. Kalau enggak bisa, enggak boleh contek. Harus belajar lagi, supaya bisa!” jawab Tian.


“Good!” ucap Alex.


“Apa itu goo ....” sahut Tian.


“Good!” kata Alex.


“Ya itu good!” sahut Tian sambil menggaruk kepalanya.


“Itu bahasa Inggris yang artinya bagus,” jelas Alex.


Tian mengangguk-anggukkan kepalanya seperti orang tua, membuat Alex tertawa.


“Kok, Om tertawa!” Tian menatap Alex.


“Habis Tian lucu! Bikin om gemas!” Alex mencolek hidung Tian yang mancung.


“Sudah, ahh! Tian mau pulang!” kata Tian sambil berlalu.


“Enggak mampir ke vila om dulu?” tanya Alex.


“Enggak, Om! Tian harus langsung pulang ke rumah. Kalau mau main harus izin mama dulu, supaya mama tak cemas! Tian pulang, Om!” jawab Tian membungkukkan tubuhnya.


“Ya, hati-hati Tian!” ucap Alex.


Setelah masuk ke dalam villa Alex menghempaskan diri di atas sofa.


“Anak yang mengemaskan!” guman Alex sambil memejamkan matanya.


Tak lama Alex membuka matanya.


“Mengapa aku bisa akrab dengan Tian, ya!” Alex mengacak kepalanya.


“Kepolosannya itu lho, yang bikin aku gemas!” ucap Alex.


Pikiran Alex tak bisa lepas dari tingkah laku dan gaya bicara Tian yang cute. Tak kala mengingatnya, Alex sampai senyum-senyum sendiri.


Sore itu Alex sengaja duduk di teras villa, ia berharap bisa bertemu Tian.


“Entah mengapa, jika sehari tak bertemu Tian seperti ada yang kurang,” ucap Alex sambil menggaruk kepalanya.


Setelah lama menunggu, akhirnya yang di nanti lewat juga.


“Sore, Om Vila!” sapa Tian.

__ADS_1


“Sore, Tian!” Alex sapa balik.


“Mau main bola?” tanya Alex.


“Enggak, Om! Sore ini, Tian mau main layangan” jawab Tian.


“Memang Tian bisa main layangan?” tanya Alex.


“Ya, bisa dong! Tapi lebih jago Dion, ia bisa terbang'in layangan tinggiiiiiii sekali,” jawab Tian.


“Kok, pake tinggiiiiiii sekali?” tanya Alex sambil menirukan gaya bicara Tian.


“Ya, karena Tian lihat layangan segini ... begitu di langit Tian lihat jadi keciiiiill sekali!” Tian yang bicara dengan memperagakan gerakan merentangkan kedua tangannya kemudian membuat lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jarinya di depan matanya.


“Ha ... ha ... ada-ada saja kau, Tian ... Tian!” kata Alex sambil tertawa.


“Tian pergi dulu, Om!” kata Tian sambil berlalu.


“Ya ...!” sahut Alex.


Alex pun segera masuk ke dalam villa. Hatinya merasa puas jika sudah bertemu Tian.


---


Malam pun tiba, Tian sedang belajar sendiri di ruang tengah. Setelah selesai ia menyiapkan sendiri semua buku-buku dan pakaian seragam untuk esok. Begitu selesai dengan tugasnya sebagai pelajar. Tian menghampiri Fey.


“Ma, hari Sabtu besok om Yo pulang?” tanya Tian.


“Iya ... kalau om Yo tidak ada halangan, pasti pulang. Kenapa?” Fey tanya balik.


“Tian kangen,” kata Tian.


“Tian boleh telepon om Yo, Ma?” tanya Tian lagi.


“Asyik ...!” kata Tian sambil berlari mencari ponsel Fey di kamar.


Tak lama Tian keluar dari kamarnya sambil teriak kegirangan.


“Ma, om Yo telepon!” kata Tian sambil menyerahkan ponsel itu kepada Fey.


“O ... video call,” guman Fey sambil menerima sambungan video callnya.


“Halo ... Tian!” sapa Tio sambil melambaikan tangan.


“Halo ... Om Yo!” Tian membalas dengan melambaikan tangan juga.


Keduanya langsung terlibat pembicaraan yang seru.


Tian sangat cerewet dan kritis, bagi Fey walau hanya tinggal berdua serasa tinggal berlima karena Tian bukan anak pendiam. Terkadang Tio sampai kewalahan mengatasi kecerewetan Tian.


“Ma, om Yo mau bicara sama Mama,” kata Tian sambil menyerahkan ponsel kepada Fey.


“Dah ... Om Yo!” ucap Tian sambil melambaikan tangan.


“Dah, Tian! Selamat tidur, ya!” sahut Tio sambil melayangkan kiss bye.


Setelah Tian berlalu.


“Waduh anakmu, cerewetnya minta ampun!” ucap Tio sambil menggaruk kepalanya.


“Tapi itu yang bikin kangen, kan!”

__ADS_1


“Ya sih, bikin gemes!”


“Salah kau juga, suka manja'in Tian,”


“Hm ... aku kena lagi. Besok aku pulang mau minta oleh-oleh apa?”


“Enggak usah repot-repot, Iyo!”


“Beda amat kalian!”


“Maksudmu?”


“Anaknya pesan seabreg, emaknya enggak pesan apa-apa!”


“Ha ... ha ... ha ... itu namanya kau kena batunya,”


Tio dan Fey pun terlibat pembicaraan melalui video call hingga malam menjelang.


Pagi itu di rumah Fey beraktivitas seperti biasa, hari ini Fey libur tidak ke pondok. Fey pergi ke pasar untuk belanja bahan makanan, ia akan masak makanan kesukaan Tio.


“Ma! Tian berangkat sekolah, ya!” kata Tian.


“Ya, Sayang hati-hati. Muah!” sahut Fey tak lupa sambil mengecup bibir Tian.


---


Sementara itu, Alex bangun saat matahari telah meninggi. Ia sedang malas beraktifitas di pagi hari.


Hm sebentar lagi Tian pulang sekolah, batin Alex


Alex membuka pintu villa lebar-lebar namun yang di tunggu tak kunjung datang. Dengan perasaan kecewa tergurat jelas di wajah Alex. Sore itu pun Alex berharap kembali bertemu Tian. Ia menunggu Tian dengan setia di teras villa.


“Kok ... seharian ini, aku enggak lihat Tian. Apa ia sakit sehingga tidak berangkat sekolah dan tidak pergi bermain juga?” Alex cemas.


Banyak pertanyaan di pikiran Alex yang silih berganti namun intinya tetap pada Tian yang tak dia lihat batang hidungnya. Seharian tak melihat Tian, Alex jadi terlihat bete sendiri.


---


Sementara itu di rumah Fey, Tian duduk manis menunggu Tio di teras rumah. Yang di nanti tak kunjung datang.


“Ma ... Tian tunggu om Yo di depan jalan, ya!” teriak Tian.


“Ya!” sahut Fey sambil geleng-geleng kepala melihat Tian berlari ke luar rumah.


Setelah satu jam menunggu, Tian kembali masuk ke dalam rumah.


“Ma! Kok, om Yo belum datang?” tanya


Tian.


“Ya, mungkin pasien om Yo masih banyak. Tian istirahat saja dulu, om Yo datang juga pasti masih lelah,” kata Fey.


“Ya ... Ma,” ucap Tian lesu.


Setelah malam tiba, Tio baru tiba di rumah.


“Kau baru tiba, apa di jalan macet?” tanya Fey sambil memeluk Tio.


“Enggak, cuma tadi aku berangkat sudah sore. Tian mana?” Tio balik tanya sambil melepas pelukannya.


“Tian sudah tidur, ia kelelahan menunggumu,” jawab Fey.

__ADS_1


“Kau mandi saja dulu. Kau belum makan, kan!” kata Fey.


Tio mengangguk


__ADS_2