Cinta Fey

Cinta Fey
Balas penghinaan Ini


__ADS_3

“Kau terluka?” tanya Toni.


Toni melihat plester menghiasi dahi Fey.


“Hanya luka gores!” jawab Fey singkat.


“Tergores apa Fey? Tubuhmu agak demam barangkali infeksi,” ujar Toni.


“Cuma botol minum, kok!” Fey keceplosan.


“Botol minum! Kau di lempar orang? Siapa orangnya, berani-beraninya aniaya perempuan!” kata Toni.


Fey paling tak bisa berbohong dengan Toni karena Toni sangat baik dan perhatian padanya, jadi semuanya di ceritakan.


“Seharusnya Alex bisa kontrol diri,” kata Toni.


---


Pagi ini Alex menjalani tes, hanya didampingi Tara seorang. Anna hanya bisa menangis terus apalagi setelah tahu Alex tak bisa berjalan. Jadi Candra temani Anna, otomatis Candra tak bisa kemana-mana.


“Ra, buat apa aku hidup! Kalau aku cacat!” Alex mengutuk diri.


“Tidak Lex! Aku yakin kau akan seperti semula.” Tara menguatkan Alex.


---


Sore itu hasil tes Alex keluar. Tara cemas namun ia berusaha tetap tenang.


Tara sudah berdiri di depan pintu kantor dr. Roy.


“Sore, Om!” sapa Tara.


“Sore. Silakan duduk, Ra!” sahut dr. Roy.


“Bagaimana hasil tes Alex, Om?” tanya Tara.


Dr. Roy membaca hasil tes Alex. ”Hasilnya normal!”


“Lalu mengapa Alex tak bisa berjalan, Om?” tanya Tara.


“Alex mengalami trauma kompleks yang membuat dia merasa kehilangan kemampuan untuk melakukan sesuatu. Nanti kita lakukan terapi,” ucap dr. Roy.


“Apa bisa pulih, Om?” tanya Tara.


“Tergantung Alex dan dukungan keluarga,” kata dr. Roy.


Tara menyampaikan hasil tes Alex ke Candra. Ini berita baik, setidaknya ada harapan Alex bisa pulih.


---


Saat Tara menemui dr. Roy. Sandra datang menjenguk Alex. Alex senangnya bukan kepalang namun rasa senang itu hanya sesaat.


“Apa kau bilang!” ucap Alex.


“Iya putus! Bukankah saat kita terakhir bertemu, aku sudah bilang kita putus,” kata Sandra.


“San, kau gila!” kata Tara.


Kali ini Tara sudah berusaha meredam emosi ia menjatuhkan harga dirinya bila perlu. Ia tak mau memancing kemarahan Sandra demi kesembuhan Alex. Alex butuh dukungan dan selama ini Sandra yang bisa mensupport Alex.

__ADS_1


“Mungkin aku akan menikah dan menetap di luar negeri!” ucap Sandra.


“Apa ... menikah!” Alex terkejut.


“Ya ... menikah!” Sandra menegaskan.


“Kau hanya akan menikah denganku, San!” teriak Alex.


“San, pertimbangkan kembali. Bukankah hubunganmu dengan Alex sudah lama,” kata Tara dengan halus.


“Kau tak usah membujukku. Kau ingin aku menikah dengan kakakmu ini.” Tuding Sandra pada Alex.


“Ya,” jawab Tara.


Tapi hatiku bilang tidak. Ini demi Alex ...


“Itu sama saja aku di suruh merawat kakakmu yang cacat ini, seumur hidupku.” Sandra bermulut pedas makin menyulut emosi Tara. Akhirnya Tara habis kesabarannya.


“Kalau kau hanya ingin buat onar sebaiknya kau pergi dari sini!” Tara mengusir Sandra.


“Tak usah kau suruh, aku pasti pergi! Jadi Lex, kau tunggu saja undangan dariku. Tapi apa kau mau datang? Kalau kau tak bisa jalan ... ha ... ha ...!” Sandra tertawa keras.


Tara cepat menutup pintu agar Alex tak semakin terluka mendengar tawa Sandra. Tara melihat Alex menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis. Alex menangis, baru kali ini Tara melihat Alex menangis. Hati Tara sakit melihatnya. Tara mendekati dan memeluk tubuh Alex, hatinya hancur dan harga diri jatuh. Alex yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi kini berbanding terbalik, ia lemah tak berdaya. 360° hidup Alex berubah.


“Menangislah sepuasmu, Lex! Tapi sesudah itu, kau harus bangkit. Tak ada waktu lagi untuk mengeluarkan air mata. Balas penghinaan ini,” ucap Tara.


Tara menepuk-nepuk punggung Alex yang sedang terpuruk di dasar terdalam.


---


Sudah satu minggu, Alex di rumah. Alex jadi pendiam, sangat dingin, mudah tersinggung dan terlihat menakutkan.


---


“Ma, Alex ingin menikah!” kata Alex.


Anna terkejut, karena sejak putus dengan Sandra. Alex tak pernah menjalin hubungan dengan gadis lain.


“Rupanya diam-diam kau menjalin hubungan dengan seseorang. Dengan siapa kau akan menikah?” tanya Anna.


“Dengan Fey!” jawab Alex singkat.


“Siapa?” Anna kian terkejut.


“Fey, teman Tara!” kata Alex.


“Fe–Fey, teman Tara,” Anna mengulang perkataan Alex.


Anna tahu Alex membenci Fey dari Tara, hingga melukai Fey dengan botol.


“Ya, Fey! Siapa lagi! Cuma Fey itu yang Alex kenal,” jawab Alex ketus.


“Kamu cinta Fey?” tanya Anna.


“Soal cinta bisa di bina, Ma! Lamar dia untuk Alex!” jawab Alex.


Alex tak bicara lagi, ia mengayuh kursi rodanya ke kamar.


---

__ADS_1


“Apa, Ma!” pekik Candra.


Candra tak kalah terkejut saat Anna cerita Alex akan menikahi Fey. Mereka tak tahu harus senang atau sedih. Senang karena mereka berdua sudah mengenal Fey seorang gadis yang baik sekaligus sedih tak tega menghancurkan masa depan Fey untuk menikahi Alex yang secara fisik kurang. Apalagi Fey putri tunggal mereka.


“Tidak, Ma! Papa enggak setuju!” Candra menentang.


“Ya, mama juga tidak setuju, Fey terlalu baik untuk Alex. Bukan mama bilang Alex tak baik tapi Fey anak tunggal, pasti besar harap orang tuanya pada Fey. Apalagi sekarang keadaan Alex ....” Anna tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


“Nanti papa coba bicara dengan Alex,” ujar Candra.


---


Malam itu Candra bicara dengan Alex di kamar baca.


“Lex, papa sudah dengar keinginanmu menikahi Fey. Apa kau serius?" tanya Candra.


“Sangat serius, Pa!” Alex menegaskan.


“Bukan untuk pelarian dari Sandra!” ucap Candra.


“Pa, Alex mohon! Jangan sebut nama itu lagi!” kata Alex.


“Maaf ...!” kata Candra.


“Pokoknya Alex hanya menikah dengan Fey titik. Kalau tidak, jangan harap Alex akan menikah!” ucap Alex.


Alex langsung keluar kamar baca, Candra hanya bisa geleng-geleng kepala. Candra kembali masuk kamar tidurnya.


---


“Bagaimana, Pa!” Anna tak sabar.


“Rupanya Alex telah bertekad, Ma! Kalau tidak dengan Fey, Alex tidak akan menikah” kata Candra.


“Pa, bagaimana kalau mama bicara dengan Fey dulu. Agar kita tahu pendapat dia?” kata Anna.


“Terserah Mama!” Candra memijit kepalanya.


---


“Halo ... Fey. Ini Tante Anna.”


“Halo ... Tante. Apa kabar!”


“Baik ... Fey! Hm, Fey hari ini ada waktu tidak? Tante ingin bertemu Fey.”


“Nanti siang, Fey ada waktu.”


“Ok! Nanti tante chat alamat dan jamnya. Bye ... Fey!”


“Bye ... Tante Anna.”


Sepulang kuliah Fey menuju resto mewah, di salah satu sudut kota. Ia telah berjanji menemui Anna di resto tersebut. Sesampainya di sana, tampak Anna telah tiba di sana. Fey segera menghampiri.


“Maaf, Tante! Nunggu lama, ya?” ucap Fey.


“Belum lama! Tante juga baru saja sampai, duduk Fey!” balas Anna.


“Kita pesan dulu, ya! Tante ingin ngobrol sambil makan dengan Fey. Tante belum mengucapkan terima kasih dengan benar, saat Fey mendonorkan darah karena perasaan tante sedang tak karuan,” ujar Anna.

__ADS_1


__ADS_2