
Kali ini Sandra pergi ke klab malam, ia menikmati minumannya seorang diri. Tampak beberapa pria mencoba menghampiri namun semuanya berakhir pergi setelah Sandra mengusirnya.
---
“San ... San ... !” teriak Danu membuka pintu rumahnya.
“Tampaknya Sandra tak kembali ke rumah ini,” guman Danu.
Kepala Danu mendadak pusing gara-gara ulah Sandra. Danu menghubungi Andy yang berada di tanah air. Mereka janji bertemu di sebuah resto.
“Duduk, Dy!” kata Danu kepada Andy begitu tiba di resto.
“Ada apa, Om?” tanya Andy.
“Dy, jika Sandra menghubungimu. Tolong kau hubungi om. Ini penting, Dy!” jawab Danu dengan wajah cemas.
“Bukankah selama ini Sandra berada di luar negeri, Om!” kata Andy.
“Me–memang, iya! Tapi ia pulang diam-diam dan tidak kembali ke rumah. Om khawatir, Dy!” sahut Danu.
“Baik Om ... jika Andy tahu kabar tentang Sandra. Pasti Andy akan kabari Om, secepatnya!” kata Andy.
“Ok ... Dy. Terimakasih sebelumnya,” balas Danu
Danu cemas karena Sandra melarikan diri dari pengobatannya di luar negeri. Namun Danu tak menceritakan perihal kejiwaan Sandra pada Andy. Danu sengaja menutup rapat-rapat soal kejiwaan Sandra yang labil kepada siapapun.
---
Andy kembali ke apartemennya.
“Dy ...!” panggil seseorang dengan lembut.
“San, kau! Apa yang kau lakukan di sini? O ... kau bau alkohol, kau mabuk lagi?” tanya Andy sambil mengibas-ibaskan tangan untuk menghalau bau alkohol.
“Dy ... tolong izinkan, aku masuk,” kata Sandra.
Andy mempersilakan Sandra masuk, ia menghempaskan diri di atas sofa.
“San, kau masih suka mabuk-mabukan?” tanya Andy sambil memberi handuk hangat pada Sandra.
“Hanya untuk melupakan sesuatu saja!” jawab Sandra.
Andy terdiam.
“Dy, Aku ingin kita seperti dulu!” pinta Sandra sambil menggenggam tangan Andy.
”Maaf, San! Aku enggak bisa!” kata Andy melepaskan tangan Sandra.
“Kenapa enggak bisa? Bukankah kau selalu memaafkanku!” teriak Sandra.
“Itu dulu, San!” sahut Andy.
“O ... kau juga sama saja dengan laki-laki di luar sana. Bukankah kau telah mengambil kegadisanku, menikmati tubuhku!” teriak Sandra.
“San, kau!” sahut Andy.
“Kenapa? Kau malu?” tanya Sandra.
”Bukankah dulu kita sama-sama menikmati. Jadi jangan kau katakan, aku yang menikmati sendiri,” jawab Andy.
“Lalu mengapa kita tak bisa seperti dulu?” tanya Sandra.
“Kau yang buat aku kecewa, San! Di saat aku menerimamu apa adanya. Apa yang kau lakukan! Aku di matamu tak pernah berharga. Kau selalu melihat Alex sebagai prioritas utama. Jadi jangan salahkan aku begini,” kata Andy.
“San ...!” Danu merangsek ke apartemen Andy.
Sandra terkejut, ia akan melarikan diri kembali namun orang suruhan Danu telah bersiap di pintu menangkap Sandra. Sandra berteriak dan meronta-ronta.
__ADS_1
“Dy, kau ...! Andy! Aku benci kau!” teriak Sandra
“Terimakasih, Dy!” kata Danu.
“Sama-sama, Om!” sahut Andy.
FLASHBACK.
Saat Andy tiba di apartemennya. Tampak di kejauhan Andy melihat Sandra berdiri di depan apartemennya. Andy pun segera menghubungi Danu. Sambil menunggu Danu tiba di apartemennya, Andy sengaja mengulur waktu dengan ajak Sandra bicara.
---
Di rumah Danu.
“Sandra ingin bersama Andy, tolong Papa bicara dengan Andy!” teriak Sandra.
“Papa akan bicara jika kau mau melanjutkan terapimu. Papa janji akan bicara dengan Andy,” kata Papa.
“Papa tak sayang Sandra,” kata Sandra sambil menangis.
“Papa sayang, sangat sayang Sandra!” sahut Danu sambil memeluk Sandra.
Tiba-tiba Sandra mengayun sebuah vas bunga ke arah Danu.
Bug!
Seketika Danu tersungkur di lantai, ia pingsan. Dengan cepat Sandra melarikan diri. Sandra kembali ke apartemen yang ia tempati sekarang. Di dalam apartemen, ia banting tas dan sepatunya sebagai ungkapan rasa kesalannya pada Danu dan Andy
Kau tak bisa mengaturku lagi, Pa! batin Sandra.
Ia pun tertidur pulas hingga pagi menjelang.
---
Sementara itu, Tara dan Tio berada di area parkir rumah sakit.
“Ya, terserah Nona saja!” balas Tio.
“Huh! Kau ini sukanya mengodaku!” Tara merajuk.
“Lho, bilang Nona salah! Maunya Nyonya?” tanya Tio.
Tara mengangguk.
“Kena deh, aku!” kata Tio sambil mengacak rambutnya.
Tara tertawa.
“Makasih, Ra! Kau telah sabar menantiku!” kata Tio.
“Lalu ...?” tanya Tara.
“Ya, sudah begitu aja!” jawab Tio.
“Hah! gitu aja” kata Tara.
“Terus mau aku lakukan di sini!” sahut Tio.
“Ya, kalau kau bera ....” kata Tara terpotong.
Tio mencium bibir Tara dengan lembut. Tara terkejut, ia membelalakkan matanya namun Tio tetap melanjutkan ciumannya. Tio makin dalam mencium bibir Tara dan mengulumnya. Tara gelagapan dan membuat Tio makin merangsek bibir Tara dan lidah Tio berhasil menyusup dan melilit lidah Tara. Mereka pun mengakhiri ciumannya dengan napas tersengal-sengal.
Mata mereka pun beradu mata, wajah Tara memerah.
“Kau ... kau harus tanggung jawab karena telah mengambil ciuman pertamaku!” Tara merajuk.
“Hah! Jadi sampai sekarang kau belum pernah berciuman?” tanya Tio.
__ADS_1
“I–itu karena aku menjaga untuk calon suamiku,” jawab Tara dengan muka kian memerah.
“Terimakasih, Ra! Sudah menjaga ini untukku,” Tio menyentuh bibir Tara.
“Hah!” Tara seperti blank.
“Ya, kau sudah menjaga the first kiss untukku. Aku akan melamarmu tapi apa kau mau menjadi istriku yang sebatang kara ini?” kata Tio.
“Mau, Iyo! Aku mau jadi istrimu. Itu adalah keberuntunganku!” balas Tara.
“Maksudmu?” tanya Tio.
“Dengan menikah denganmu, aku akan menyandang dua gelar sekaligus. Pertama gelar dari jurusan aku kuliah sekarang dan gelar dokter darimu,” jawab Tara.
“Kok bisa?” tanya Tio.
“Ya, iya! Jika aku menikah denganmu pasti orang-orang akan memanggilku, bu dokter ... bu dokter!” jawab Tara.
“Waduh!” kata Tio sambil menepuk dahinya.
Tara tertawa senang.
“Jadi enggak makannya?” tanya Tio mengalihkan perhatian karena ia sudah kalah telak.
“Jadi, yuk jalan!” jawab Tara sambil tersenyum penuh kemenangan.
Merekapun menikmati makan malam itu bersama.
---
Keesokan harinya, Tara menghampiri kamar Alex.
“Lex, aku sudah resmi jadian dengan Tio!” kata Tara.
“Serius?” tanya Alex.
“Serius!” jawab Tara sambil mengangguk.
“Selamat kalau begitu, Ra” kata Alex sambil memeluk Tara.
Tio orang baik, aku yakin kalian berdua bisa saling membahagiakan, batin Alex.
---
Saat di kampus, hari ini Tio menjemput Tara di kampus.
“Ra ...!” panggil Tio.
“Kau ...!” sahut Tara sambil membelalakan matanya.
Tara tak percaya, Tio menjemput dirinya.
“Di kampus ini ada larangan jemput pacar, ya!" kata Tio.
“Iih ... kamu!” sahut Tara kegirangan.
“Habis matamu itu, sampai mau keluar!” ucap Tio.
Tara tertawa sambil menggenggam tangan Tio. Mereka pun segera berlalu menggunakan kendaraannya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata mengawasi mereka berdua dengan tatapan mata tajamnya.
“Rupanya kau telah memiliki kekasih, aku akan buat kau menderita seperti yang aku alami. Awas kau, Ra!” kata Sandra sambil mengemetakkan giginya.
Setelah Sandra mengikuti mereka seharian.
“Tak kusangka kekasihmu seorang dokter. Andai kau kehilangan doktermu, siapa yang akan mengobati lukamu, Ra!” Sandra tersenyum licik.
__ADS_1