Cinta Fey

Cinta Fey
Patah Hati


__ADS_3

“Fey ... Tian saat bayi, apa ia menyulitkanmu?” tanya Alex.


“Tidak! Ia sangat pengertian, tak merepotkan. Sepertinya ia tahu, aku seorang diri di tempat yang asing,” jawab Fey.


Malam itu, mereka menceritakan hal-hal tentang mereka terutama saat mereka berpisah hingga tertidur pulas.


---


Pagi itu ponsel Tio sudah berbunyi.


“Halo ... Ra!”


“Halo ... Iyo! Siang ini kita makan siang bersama, ya!”


“Aduh, sorry! Aku sudah ada janji. Lain hari kita atur janji lagi, Ra!


“Ok, sudah nanti aku call lagi. Bye!”


“Bye, Ra!”


Siang itu tampak Tio bersiap pergi, Tio menggunakan kendaraannya menuju ke suatu tempat. Mobil Tio berhenti di sebuah coffee shop. Saat memasuki coffee shop, mata Tio mencari seseorang, tampak di kejauhan Sandra melambaikan tangannya. Tio pun merespon lambaian tangan Sandra. Tio menghampiri Sandra di sana.


“Sudah lama, San?” tanya Tio sambil mendaratkan pantatnya di kursi depan Sandra.


“Belum lama, kok!” jawab Sandra.


“Maaf, aku terlambat. Seharusnya aku yang datang lebih dulu sebagai permohonan maaf atas kejadian kemarin!” kata Tio.


“Tak usah sungkan, santai saja Tio! Menunggu satu jam sekalipun aku mau. Kan, yang di tunggu seorang dokter, ganteng lagi!” balas Sandra melancarkan serangan.


“Kau ini, bisa saja! Kau mau pesan apa?” Tio mengalihkan pembicaraan.


Sandra memilih menu yang ingin dia santap siang ini, begitu juga dengan Tio. Sambil menunggu hidangan di sajikan, mereka terlibat percakapan yang santai, kadang-kadang mereka tertawa. Setelah menu yang mereka pesan tiba, mereka pun segera bersantap bersama dan berbincang-bincang untuk mengakrabkan diri.


“Tak sangka, ternyata kau seorang desainer ternama di luar negeri. Maaf aku tak terlalu memperhatikan mode jadi tak mengerti nama desainer ternama seperti dirimu!” kata Tio.


“Kau terlalu merendah, kalau kau mau konsultasi tentang fashion. Aku bisa bantu,” kata Sandra.


“Gratis? Sorry bercanda, kok!” Tio berseloroh.


“Boleh-boleh, kapan aku minta traktir makan lagi saja!” balas Sandra.


Tio mengangguk.


“Kau sudah punya pacar?” tanya Sandra mulai mengorek informasi.


“Ada! Masih penjajakan!” kata Tio sambil menikmati makanannya.


“Aduh ... kau membuatku langsung patah hati!” sahut Sandra.


“Memang kau naksir aku?” tanya Tio.


“Halo, Dok! Siapapun pasti mau jadi pacarmu! Sudah ganteng, dokter pula. Calon suami idaman dan menantu dambaan mertua!” jawab Sandra.


Tio tersipu-sipu.


Memang ia pintar kalau berbicara, batin Tio.


“Kok melamun, Dok!” Sandra menatap Tio

__ADS_1


“O ... enggak, kok! Hm ... kau mau tambah lagi?” Tio menawarkan.


“Tidak ... ahh! Aku takut gemuk!” Sandra berkilah.


“Badan baru segitu di bilang takut gemuk. Kalau kau hidup sehat, atur pola makan pasti bisa menyeimbangkan tubuh!” Tio menjelaskan.


“Tuh ... enaknya punya pacar dokter, bisa panjang umur,” Sandra berseloroh.


Tio hanya tersenyum


“Dok! Kali ini serius. Aku ada peluang enggak, jadi pacarmu?” tanya Sandra langsung tembak.


”Aduh ... main tembak aja. Kan, tadi sudah kubilang, aku punya pacar!” jawab Tio.


”Ya, kan! Namanya juga usaha. Selama belum duduk di pelaminan, ya!” kata Sandra.


Ini orang tipe pemberani, betul kata Alex. Aku harus extra hati-hati, batin Tio.


“Tuh, kan! Melamun lagi!” kata Sandra membuyarkan pikiran Tio.


“Ahh ... kau ini. Bisa aja!” sahut Tio.


“Hari ini kau enggak tugas?” tanya Sandra.


“Hari ini aku libur!” jawab Tio.


“Hm ... kalau libur, biasa kemana?” tanya Sandra.


“Hanya di rumah, biasa paling-paling bersihkan rumah,” kata Tio.


“Makanya cepat cari pendamping agar ada yang ngurus rumah,” kata Sandra dengan manja.


“Tio, lain waktu kita bisa bertemu lagi?” tanya Sandra.


“Silakan, jika aku ada waktu. Kau call saja!” jawab Tio.


“Ok!” Raut wajah Sandra terlihat senang.


Saat gayung bersambut, Sandra memiliki gairah hidup yang lebih dari hari-hari lalu.


---


Tio merebahkan tubuhnya di atas sofa, ia melepas beberapa kancing kemejanya.


Sungguh melelahkan bertemu denganmu, aku harus putar otak untuk tidak terjebak dan berpura-pura tak tahu tabiatmu, batin Tio.


Siang itu Tio memejamkan mata hingga tertidur di sofa.


---


“Lex, ini apa!” teriak Tara saat melihat guratan di lengan Alex.


“Bukan, apa-apa!” Alex menurunkan lengannya.


“Kalian sedang ngobrol apa?” tanya Fey sambil menghampiri mereka berdua.


“Tak sedang ngobrol apa-apa. Ayo Fey, kita ke kamar!” Alex menarik tangan Fey.


“Eits ... tunggu!” Tara merentangkan tangan menghalangi jalan mereka.

__ADS_1


Tara menatap wajah Fey dengan seksama. Fey saling lempar tatapan antara Alex dan Tara.


“Ada apa, Ra! Kau jangan menakutiku!” kata Fey.


“Ha ... ha .... tak kusangka kau ganas juga!” kata Tara.


“Apa, sih! Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan!” sahut Fey.


Tara mendekati Fey dan berkata, ”Kau kalem tapi kalau urusan ranjang, kau ganas juga!”


Seketika wajah Fey memerah, ia menatap tajam pada Alex. Tanpa Fey bicara Alex tahu arti tatapan Fey.


“Aku tak bilang apa-apa pada Tara! Ra, kamu!” Alex di buat tak berkutik oleh Tara.


“Ha ... ha ... tak usah malu, Fey!” sahut Tara.


“Ra! Awas kau!” ucap Fey tersipu malu-malu.


Tara memeluk Fey. “Beri aku keponakan cantik setelah aku mendapat keponakan ganteng!”


“Bodo ... ahh!” Fey meninggalkan mereka di sana.


Fey menuju kamar.


“Dasar!” Alex membelalakkan mata pada Tara.


Alex segera mengekor Fey ke kamar.


“Fey!” panggil Alex.


Alex menghampiri Fey di sofa, wajah Fey masih merah merona.


“Kau tahu sifat Tara suka usil, aku enggak cerita apa-apa padanya!” kata Alex.


“Lalu Tara tahu dari mana? Ka–karena kita melakukan hanya kita berdua yang tahu!” tanya Fey.


“Tara tahu dari ini!” Alex membuka lengan kaos ¾ -nya.


Di lengan Alex ada bekas cengkraman dari kuku yang masih merah walau telah memudar warnanya. Fey menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Fey baru menyadari maksud perkataan Tara tadi.


“Ahh ... Lex! Aku malu!” kata Fey.


“Tak usah malu. Aku sendiri tak keberatan, mau kau cabik-cabik sekalipun.” Alex membuka telapak tangan Fey yang menutupi wajahnya.


“Ihh!” Fey menyembunyikan wajahnya di pelukan Alex.


“Ha ... ha ... baru kali ini ku lihat kau malu begini, Fey! Seperti kura-kura tak mau memperlihatkan wajahmu!” kata Alex.


Fey akhirnya melepas pelukannya, wajahnya masih memerah.


“Seperti apapun kau, aku tetap suka kau apa adanya. Jangan kau pedulikan apa yang Tara bicarakan tadi!” ucap Alex.


“Masih malu?” tanya Alex.


“Sedikit!” jawab Fey malu-malu.


“Ha ... ha ... kau bikin aku gemas!” Alex menarik Fey kembali dalam pelukannya.


Fey bersandar di dada Alex yang telah membuat hidup Fey sempurna sebagai wanita. Alex mencium rambut Fey, sesekali membelai rambut Fey. Sore itu mereka habiskan dalam diam, hanya hati yang bicara.

__ADS_1


__ADS_2