
Di daerah pegunungan, ada sebuah pondok makan sederhana
“Bu Heni, bubur ayamnya masih?” teriak seorang ibu.
“Maaf, Bu Neni! Buburnya sudah habis,” sahut Heni.
“Waduh! Padahal Anto suka sekali sama bubur ayamnya Bu Heni. Ya, sudahlah! Besok aku kembali lagi,” kata Neni.
“Ya,” sahut Heni.
Heni masuk dapur untuk bersiap menutup pondok makannya.
“Sudah, besok lagi saja cuci piringnya. Nanti kau lelah, Nak!” kata Heni.
“Tanggung, Bu! Sebentar lagi juga selesai” sahut wanita muda.
Wanita muda yang sedang hamil tua itu adalah Fey.
“Kau ini tak ada capainya,” kata Heni.
“Kata orang tua dulu, saat hamil sebaiknya banyak bergerak, agar nanti saat melahirkan mudah. Nih, sudah selesai!” sahut Fey.
“Mari pulang!” ajak Heni.
FLASHBACK
Sembilan bulan yang lalu, saat Fey meninggalkan rumah Alex. Fey pergi ke pedesaan daerah pegunungan. Daerah tersebut jauh dari keramaian.
Hari masih sore namun langit tampak gelap di kuasai awan kumulonimbus.
Tampaknya akan hujan besar, aku harus segera cari tempat untuk berteduh! batin Fey.
Tak lama hujan pun turun dengan sangat deras. Fey segera berteduh di sebuah pondok makan. Pondok itu tutup, sehingga Fey hanya bisa berteduh di teras pondok saja.
Hujan mulai reda saat pagi menjelang. Tubuh Fey menggigil menahan dinginnya hawa pegunungan, hujan pula. Fey hanya bisa meringkuk di sudut teras pondok.
Hari telah berganti pagi, namun dinginnya udara pagi masih menusuk tulang membuat Fey enggan beranjak dari sudut pondok.
“Nak, kau sedang apa di sini?” tanya Heni.
Fey mengeliat saat terdengar suara seseorang.
“Maaf, Bu! Semalam aku berteduh di sini,” jawab Fey.
“Kau pasti kedinginan, wajahmu pucat. Mari masuk!” ajak Heni.
Fey segera beranjak untuk mengurangi rasa dingin menyerang tubuhnya.
“Kau deman, Nak! Sebaiknya kau minum obat.”
Fey menggeleng.
“Aku tak bisa minum obat, Bu! Aku sedang hamil.”
“Ya, Tuhan! Kau pasti sangat kedinginan! Sebentar ibu rebus air untuk kau mandi,” kata Heni.
Setelah Fey membersihkan diri.
“Makan, Nak!”
Heni memberi Fey makanan dan minuman hangat.
“Kau dari mana, Nak?” tanya Heni.
Fey terdiam, ia bingung mau jawab apa.
“Kau bertengkar dengan suamimu?” tanya Heni lagi
__ADS_1
Fey menggeleng.
“Aku sebatang kara, Bu!” Fey berbohong.
“Suamimu mana?”
“Aku tak tahu, sudah lama kami hilang kontak.” Fey berbohong kembali.
“Lalu kau mau kemana, Nak?” tanya Heni.
Fey menggelengkan kepalanya.
“Tinggal di sini bersama ibu,” kata Heni.
“Aku boleh tinggal di sini, Bu! Sungguh?” tanya Fey.
Heni mengangguk.
“Terimakasih banyak, Bu! Terimakasih!”
Air mata Fey jatuh, Heni menghapus air mata di pipi Fey.
Aku tak tahu, apa yang terjadi padamu. Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, batin Heni.
---
“Bu, tampaknya dulu Ibu jualan?” tanya Fey.
“Ya, Nak! Karena faktor usia, ibu sudah tak jualan lagi,” jawab Heni.
“Bagaimana kalau aku yang kelola, Bu!” kata Fey.
”Nanti kau lelah, Nak!” kata Heni.
“Aku hanya jual bubur ayam, Bu! Jadi kita jualan pagi hingga sore saja.”
Heni seorang janda dengan seorang anak yang bekerja di luar kota. Heni melihat Fey bukan orang yang punya niat jahat. Jadi ia bersedia menampung Fey tinggal bersamanya apalagi selama ini ia tinggal seorang diri.
Heni menyayangi Fey seperti anaknya sendiri. Di saat Fey mengalami masa sulit saat awal kehamilannya, Heni merawatnya dengan penuh kasih sayang. Pada tetangga sekitar Heni mengenalkan Fey sebagai kerabat dari jauh. Sejak itulah Fey tinggal di desa tersebut.
---
Dengan perut kian membuncit, Fey tetap rajin kontrol di sebuah klinik kecil, walau kecil tapi perlengkapannya komplit.
Setiap malam Fey selalu membacakan cerita untuk buah hatinya yang masih dalam kandungan.
Ia juga mendengarkan anak musik clasic yang konon bagus untuk perkembangan otak sejak dalam kandungan. Fey juga tak lupa selalu mengajak bicara dengan anaknya, terkadang sang anak merespon dengan tendangan.
Tak jauh berbeda dengan Alex, saat malam menjelang Fey pun mengalami kerinduan pada Alex. Namun ia berusaha menahan diri. Agar janin yang ia kandung tidak bersedih atau stress.
“Sebentar lagi kau datang ke dunia, Anakku Sayang,” ucap Fey.
Fey mengelus perut buncitnya.
“O ... kau senang, Nak!” ucap Fey.
Fey mengelus perutnya kembali saat bayinya merespon.
“Kau belum tidur, Nak?” kata Heni.
“Belum ngantuk, Bu! Ibu duluan, nanti Fey nyusul,” sahut Fey.
Heni mengangguk.
Fey kembali melanjutkan cerita yang ia baca untuk anaknya sambil mengelus perutnya. Tak lama Fey pun menyusul Heni tidur.
Saat tengah malam, tiba-tiba perut Fey kontraksi.
__ADS_1
“Bu ... Ibu ...!” Fey merintih.
Fey menggoyang-goyangkan tubuh Heni yang tidur di sampingnya.
“Ada apa, Nak! Apa sudah waktunya?” tanya Heni.
Fey mengangguk.
Heni segera menyambar tas, yang telah disiapkan jauh-jauh hari. Hingga saat Fey melahirkan, ia tak perlu repot berkemas-kemas lagi.
Setibanya di rumah sakit, Fey di periksa oleh perawat.
“Baru buka satu, Bu! Nanti kalau kontraksi makin intens, Ibu panggil saya lagi. Ibu rebahan dulu di sini,” kata perawat.
Fey mengangguk.
Heni menunggu di samping ranjang Fey, ia menggenggam tangan Fey untuk memberi semangat.
“O ... Tuhan! Beri aku kekuatan agar aku bisa melahirkan dengan tidak kekurangan suatu apa,” ucap Fey.
“Ya, Nak! Pasti Tuhan beri pertolongan padamu,” sahut Heni.
Lex! Bantu aku. Anak kita, akan segera lahir, batin Fey.
Setelah menunggu hampir empat jam, kontraksi juga kian intens.
“Bu, kakiku terasa basah!” ucap Fey.
“O ... air ketubanmu sudah pecah, Nak! Sebentar lagi anakmu lahir. Tunggu aku panggilkan dokter,” kata Heni.
Tak lama dokter kandungan tiba.
“Saya periksa, ya Bu!” ucap dokter itu.
Fey hanya bisa mengangguk, ia menahan sakit yang luar biasa.
“Ya, Bu! Ini sudah buka sepuluh, anak ibu akan segera lahir. Tenang, ya Bu! Dengar aba-aba dari saya, tarik napas dalam-dalam, buang perlahan, lalu dorong,” kata dokter itu.
Fey menggenggam tangan Heni dengan erat.
“Aaaaa ...!” teriak Fey.
“Ayo, Bu! Tarik napas dalam, buang pelan-pelan, dorong, Bu!” ucap dokter itu.
“Ayo, Bu! Sekali lagi. Kepala bayi Ibu sudah terlihat. Sekali dorong, ya Bu!” ucap dokter itu lagi.
“Aaaaaa ...!” teriak Fey yang ke sekian kalinya.
Owaaaaa ... owaaaa.
Tangis bayi terdengar sangat keras.
“Selamat, Bu! Anak ibu seorang putra, sehat dan cakep mungkin seperti ayahnya,” ucap dokter itu.
“Terimakasih, Dok,” sahut Fey.
Fey menangis bahagia.
Dokter menyerahkan bayi Fey pada perawat untuk dibersihkan.
“Selamat, Nak!” ucap Heni.
Heni mengenggam dan menepuk-nepuk punggung tangan Fey.
Fey tersenyum.
“Ibu dorong lagi, ya! Untuk mengeluarkan plasentanya,” kata dokter.
__ADS_1
Fey mengangguk.