
Di saat hampir bersamaan.
Tak berbeda dengan Sandra, Andy pun demikian.
Dari semalam Andy uring-uringan sendiri tak mendapat balasan apapun dari pujaan hati.
Setelah membaca chat dari Sandra pun tak membuatnya serta merta Andy tenang. Sesudah ia membaca chat dari Sandra, ia coba menghubungi Sandra kembali.
“Tidak aktif ...!” ucap Andy sambil menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
Andy gelisah di dalam kamarnya.
---
Di kamar Tara.
“Hm ... hari ini Sandra tak pergi ke kantor,” guman Tara sambil membuka ponsel.
Tara meminta si pengintai untuk melapor padanya tiap hari.
“Rupanya kejadian semalam menjadi pukulan telak bagi Sandra,” ucap Tara pada diri sendiri.
---
Keesokan harinya.
Sandra baru saja masuk ke dalam kantornya, tiba-tiba seseorang memeluk Sandra dari belakang.
“Kau ...!” Sandra terkejut.
“Aku sangat rindu padamu, San!” kata Andy.
“Kapan kau datang?” tanya Sandra.
“Baru saja,” jawab Andy masih memeluk pinggang Sandra dari belakang dan menempelkan dagunya pada pundak Sandra.
Sandra melepas pelukan Andy.
“Sorry, Dy! I have bad mood now,” kata Sandra.
“Bad mood! Why?” tanya Andy.
“Entahlah!” jawab Sandra berbohong.
“Kok entah?” tanya Andy sambil memegang lengan Sandra.
“Bisa enggak, kau jangan banyak tanya. Aku lagi benar-benar bad mood. Serius!” ucap Sandra dengan suara meninggi.
Andy menarik tangannya, ia sangat paham karakter Sandra saat seperti ini yang terbaik Andy lakukan melangkah mundur. Untuk memberi ruang gerak pada Sandra.
“Sorry ... Dy! Bukan maksudku untuk ....” kata Sandra sambil meraih tangan Andy.
Andy membalas dengan menepuk-nepuk punggung tangan Sandra.
”Sudahlah, enggak usah kita bahas lagi. Nanti kita jadi bertengkar. Aku akan menunggu sampai kau siap bicara,” sahut Andy sambil mencium rambut Sandra.
Sandra memandang wajah Andy.
“Makasih, Dy! Kau memang sangat mengenalku,” ucap Sandra.
__ADS_1
Andy hanya mengedipkan kedua matanya dan tersenyum.
“It's ok, San!” Andy memeluk Sandra sambil menepuk punggung wanita yang amat ia cintai.
“Aku pulang, ya! Telepon aku, jika kau butuh teman bicara,” ucap Andy sambil melepas pelukannya.
Andy mengecup bibir Sandra dengan lembut.
“Bye, Dy!” ucap Sandra.
Andy hanya melambaikan tangannya.
Setelah Andy berlalu.
“Maaf, Dy!” ucap Sandra sambil menelungkup wajahnya di atas meja.
Sandra menghapus air matanya, ia menghela napas panjang. Kini Sandra merasa lebih baik dan mulai bisa menguasai perasaannya. Sandra mulai mengerjakan pekerjaannya.
---
Sekembalinya Andy dari kantor Sandra. Andy merasakan perubahan sikap Sandra sejak kemarin malam. Andy duduk terdiam sambil berpikir sesuatu.
“Ada apa, ya?” guman Andy bertanya-tanya pada diri sendiri.
Andy kembali mengingat kejadian terakhir bersama Sandra.
“Perasaan tak ada yang salah,” ucap Andy pada diri sendiri.
Andy seperti membentur tembok tak menemukan jawaban apapun. Andy pun tak memiliki semangat menjalani hari itu.
---
Ting.
Ponsel Sandra ada notifikasi chat.
Andy : ”San, semangat!”
Sandra tersenyum kecil membaca chat dari Andy.
“Chat dari siapa, sampai bacanya sambil senyum-senyum,” ucap Alex sudah berada di belakang Sandra.
“Aah ... bu–bukan dari siapa-siapa, hanya teman yang kirim,” sahut Sandra gugup karena terkejut.
Sandra segera menyembunyikan ponsel ke dalam tas miliknya.
“Kenapa kau jadi gugup?” tanya Alex.
“Enggak ada apa-apa! Aku masuk dulu, Lex!” jawab Sandra sambil bergegas pergi.
“Hei! Mengapa kau seperti menghindariku?” tanya Alex sambil menahan lengan Sandra.
“Tidak, Lex! Mungkin hanya perasaanmu saja. Lepaskan aku, Lex!” teriak Sandra.
“Tidak!” kata Alex mencengkeram lebih erat.
Sandra berusaha menghentakkan tangan Alex namun ia tak berdaya melawan tenaga Alex.
“Bukankah dulu, kau berharap aku sentuh!” kata Alex lagi.
__ADS_1
“Lepaskan aku, Lex! Sakit!” Sandra meringis.
Bukan melepaskan Sandra, kini Alex menyeret Sandra menuju kamar Sandra. Setelah berada di kamar Sandra, Alex menghempaskan Sandra ke atas ranjang dan Alex segera mengangkangi Sandra diatas ranjang. Dengan kedua tangannya Alex menahan kedua tangan Sandra di atas kepala Sandra seperti mengurung Sandra di bawah sana.
Sandra yang sudah terlentang di atas ranjang, melihat wajah Alex tepat di atas wajahnya dengan sorot mata tajam menghunjam ke dalam mata Sandra. Seperti pemangsa mengawasi hewan buruannya. Tak ada celah bagi sandra untuk melarikan diri.
“Kau ... kau ... mau apa!” tanya Sandra ketakutan.
Wajah Sandra memucat, tubuhnya gemetar dan bibirnya bergetar.
“Aku ingin menggauli istriku!” jawab Alex dengan senyum sejuta makna.
“Kau ...!” kata Sandra.
“Bukankah kemarin kau minta aku kembali, saat aku tak mabuk lagi,” kata Alex.
“Ka–kau ... kau saat itu sadar?” tanya Sandra tergagap.
Alex mengangguk.
“Ya ... 100 persen aku sangat sadar!” jawab Alex.
“Kau mempermainkan diriku!” teriak Sandra.
“Aku tidak mempermainkanmu. Justru aku melakukan ini untuk memenuhi kewajibanku sebagai suami, seperti yang kau minta padaku selama ini,” kata Alex.
Alex menurunkan tangan Sandra dan menahan mengunakan lututnya. Kedua tangan Alex menyentuh kancing-kancing pada gaun Sandra. Melihat apa yang akan Alex lakukan, Sandra berontak.
“Kau, berani!” teriak Sandra mulai mengeluarkan watak garangnya.
“Tentu saja aku berani, bukankah kau istriku! Apa aku salah mengauli istriku sendiri! Entah apa yang membuatku sangat ingin menidurimu!” ucap Alex.
“Aku akan teriak ...!” kata Sandra dengan nada suara meninggi.
“Silakan kau teriak, ayo teriak!” sahut Alex yang mulai membuka kancing gaun Sandra.
Sandra mulai panik saat Alex telah membuka kancing di gaunnya. Sandra berontak dengan menendang dan memukul Alex secara brutal. Alex kewalahan hingga Sandra berhasil melepaskan diri dari Alex.
“Kalau kau berani menyentuhku! Aku akan menuntutmu, karena telah memperkosaku!” teriak Sandra.
“Ok, kau yang bicara sendiri. Dengar, aku tak akan melakukannya denganmu! Tak akan pernah! Camkan itu!” teriak Alex sambil keluar dari kamar Sandra.
“Lex ... Lex! Bukan itu maksudku!” teriak Sandra.
Sandra mengejar Alex namun terlambat sudah, sosok Alex telah menghilang di balik pintu kamar Sandra. Sandra menangis terisak, ia menyesali apa yang baru ia katakan.
Mengapa kata-kata itu harus aku lontarkan pada Alex, batin Sandra.
Di saat ia berharap dapat membina rumah tangga normal dengan Alex. Kini hidup Sandra dalam kemelut, ia harus menelan pil pahit buah perbuatannya bersama Andy. Sandra hanya menganggap Andy sebagai pelarian semata. Di saat Sandra merasa kesepian, Andy datang menawarkan kehangatan. Andy memberi air yang menyegarkan di saat Sandra merasa haus. Kini harapannya pupus sudah.
Malam itu Sandra habiskan dengan menangis dan menyesali diri.
---
Setelah meninggalkan kamar Sandra, Alex menuju kamarnya.
“Aku kian yakin dengan apa yang ia sembunyikan,” guman Alex sambil menuju kamarnya.
“Kau tunggu, San! Akan kucari, kau bermain dengan siapa di belakangku!” ucap Alex sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1