
“Sebaiknya kau keluar! Aku mau mandi!” ucap Fey.
“Mandi tinggal mandi, kenapa aku harus keluar. Bukankah aku sudah lihat separuh tubuhmu yang hanya mengenakan ....”
Fey membekap mulut Alex dengan tangannya dan mendorong tubuh Alex keluar dari kamar. Setelah Alex keluar kamar, Fey segera mengunci pintu kamarnya. Di balik pintu Fey mengelus dada menghela nafas panjang.
“Sudah! Enggak usah ngebayangin yang enggak-enggak ... cepat mandi sana! Aku tak mau nunggu lama-lama,” teriak Alex dari balik pintu.
Ucapan Alex membuat Fey menghentakkan kaki sambil menuju kamar mandi.
Fey keluar kamar, setelah membersihkan diri. Aroma tubuh Fey yang khas tercium Alex. Tampilan Fey hari itu sangat sederhana, hanya mengenakan t-shirt, celana jeans dan mengelung rambut panjangnya ke atas.
“Apa yang membuatmu datang pagi-pagi begini?” tanya Fey.
“Pagi? Ini sudah siang! Fey, buatkan aku kopi dan sarapan!”
“Kenapa kau tak sarapan di rumah!” omel Fey.
Walau ngomel, Fey tetap membuatkan apa yang di minta Alex.
“Dari rumah aku sengaja pagi-pagi kemari tapi kau masih molor. Untung mamah Manda belum pergi! Kalau ngga, mungkin aku akan melewatkan ini!” balas Alex.
Alex menunjukkan video pada Fey, warna wajah Fey langsung berubah.
“Eh! Kau hapus!”
“Enggak, ini kenangan Fey tidur sambil ngiler ... ha ... ha ...!”
“Udah jangan ngeledek melulu. Ini kopinya!”
Fey mengantar secangkir kopi untuk Alex. Ekor mata Alex mengawasi Fey, kemana Fey bergerak. Alex membayangkan situasi sekarang seperti sepasang suami isteri.
Apa ini yang akan aku jalani bersama Fey?
Tak butuh waktu lama, aroma sedap sudah mengoda perut Alex.
“Lex, Ayo makan!” ajak Fey.
Fey menata makanan di meja makan, Alex segera menghampiri meja makan, ternyata Fey membuat bubur ayam.
Tanpa basa-basi Alex langsung menyantap bubur ayam buatan Fey. Alex merasakan bubur buatan Fey berbeda dengan yang Anna atau siapapun yang buat.
“Fey, bubur buatanmu enak!” puji Alex.
“Hm ....”
“Minta nambah, dong!” pinta Alex.
Alex menyodorkan mangkok yang telah kosong kepada Fey.
“Huh! Bilang aja mau tambah, pake muji segala.” Fey mengerucutkan bibirnya.
Selesai makan Fey membersihkan dan mencuci perabotan dapur yang tadi ia pakai.
“Fey, aku mau ajak kau pergi!” ucap Alex.
__ADS_1
“Kemana?” Fey tanya balik.
“Ikut aja, nanti juga kau tahu,” jawab Alex.
Fey mengangguk.
Mereka menuju bridal boutique, fitting gaun pre-wed dan gaun pengantin.
Alex menggenakan tuksedo warna abu dengan aksen hitam membuat Alex terlihat elegan. Fey menggenakan sutera transparan soft pink bertabur manik-manik. Walau tanpa make up saat fitting, tetap membuat mata Alex tak berkedip.
“Apa Tuan suka?”
“Ya, aku suka.” Mata Alex tak beralih sedikitpun dari Fey hingga membuat Fey tertunduk malu.
“Untuk gaun pre-wed juga kami siapkan, silakan nona mencoba!”
Alex mengangguk, mau tak mau Fey mencoba gaun lagi.
Dari bridal boutique, mereka ke rumah Alex. Alex mengenggam tangan Fey menuju kamarnya dan menutup pintu.
“Mau apa ke sini?” tanya Fey.
“Memang kau pikir mau ngapa'in, kalau dua orang beda jenis di kamar hanya berdua.”
Alex memeluk Fey dari belakang, ia tergoda tengkuk Fey yang putih bersih. Ia ingin menciumnya namun Fey refleks membalikkan tubuhnya dengan cepat.
“Kau ... kau mau apa!” teriak Fey.
Alex terkejut dengan reaksi Fey, untuk menutupi keterkejutannya, Alex mengoda Fey.
Raut wajah Fey langsung pucat, ia berjalan mundur sambil mensilangkan tangan di dada Alex mendekati Fey hingga ia tak bisa mundurkan karena terhalang dinding. Fey memalingkan wajahnya sambil memejamkan mata dan mempererat dekapan tangannya.
“Susah ... kalau punya calon isteri bawaannya mikir mesum melulu,” bisik Alex.
Fey mulai membuka matanya saat merasakan Alex menjauh, ia menghela nafas lega.
“Aku ajak kau ke kamar untuk mendekor ulang kamar ini. Kamar ini akan menjadi kamar kita. Aku serahkan padamu karena aku tak punya waktu lagi selain ambil foto untuk Pre-wed. Kau boleh rubah ruangan ini kecuali yang itu.”
Alex menunjuk salah satu sudut untuk ruang kerjanya di rumah.
Fey mengangguk.
Kau sangat takut jika kusentuh ... apa sesulit itu meraihmu! batin Alex.
---
Mendekati hari H, Alex kian sibuk urusan pekerjaan. Walau persiapan sudah 90% tetap aja Anna merasa ada kurang ini itu.
“Lex, jangan lupa besok. Kau foto pre-wed, kan!” Anna mengingatkan.
“Ya ... Ma! Alex tidak lupa” ucap Alex.
---
Akhirnya hari ini datang juga, aku merasa sedih. Kenapa aku menikah muda dan meninggalkan bangku kuliah demi Alex. Ini pilihan hidupku ... Aku ingin bahagia dengan Alex.
__ADS_1
Fey menatap gedung kampus di mana ia menuntut ilmu selama ini. Walau belum lama namun banyak kenangan di tempat itu. Fey duduk di salah satu sudut kampus. Tara melihat Fey termenung di sana, ia segera menghampiri.
“Hai.”
Tiba-tiba pundak Fey di tepuk seseorang.
“Hai ... Ra,” sapa Fey lirih.
“Waduh ... calon pengantin. Lesu amat!”
“Sedih juga, Ra! Ninggal'in kampus,” ucap Fey.
“O ... kau sudah urus surat pengunduran diri?” tanya Tara.
Fey mengangguk.
Mata Fey berkaca-kaca, Tara memeluk dan menepuk-nepuk punggung sahabatnya yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.
“It's ok! Fey,” ucap Tara.
Tara menghapus air mata di pipi Fey. Ada Tara di sampingnya memberi dukungan, Fey merasa lega.
Fey mengangguk.
“Makan, yuk!” ajak Tara.
“Aku bisa gemuk kalau tiap sedih makan,” ucap Fey.
“Enggak apa-apa. Alex tak keberatan, bukan! Udah laku juga, kalau aku belum laku-laku, enggak boleh melar ini badan,” ucap Tara bertingkah kocak.
Fey tertawa, melupakan kesedihan yang baru ia rasakan.
Fey ... aku akan selalu mendukungmu dan akan selalu menghiburmu saat kau sedih, ini janjiku ... Fey.
Mereka menuju kantin kampus favorit, kantin yang akan Fey rindukan.
---
Hari ini, Fey dan Alex pergi ke puncak untuk melakukan sesi pemotretan pre-wed. Alex menerawang jauh di salah satu lokasi.
Semua berawal dari sini! batin Alex.
Raut wajah Alex menegang, ada perasaan yang bercampur aduk saat melihat tempat ini.
“Apa yang kau lihat?” tanya Fey.
Raut wajah Alex mengendur, ditariknya tubuh Fey sedikit ke depan. Alex memeluk Fey dari belakang.
“Lagi melihat masa depan kita,” bisik Alex.
Fey tersenyum geli karena ada tiupan dari deru nafas Alex di telinga Fey.
Tanpa mereka sadari.
Seorang fotografer mengabadikan momen itu. Karena sudutnya bagus terlihat natural. Beberapa foto di ambil oleh sang fotografer.
__ADS_1
Baru menjelang sore mereka baru turun dari puncak. Fey tampak kelelahan, sepanjang perjalanan hingga rumah, Fey tertidur. Alex melepas jaketnya untuk selimut Fey. Alex tak berniat membangunkan calon istrinya itu. Alex menatap wajah Fey, Alex ingin menyentuh wajah Fey namun ia urungkan.