Cinta Fey

Cinta Fey
Curiga


__ADS_3

“San! Kau tak cintai Alex. Kalau dulu mungkin iya. Tapi sekarang kau hanya terobsesi pada Alex. Kau merasa malu jika tak menikahi Alex. Egomu yang mengharuskan kau memiliki dan menikahi Alex,” sahut Andy.


Sandra hanya terdiam mencerna kata demi kata yang Andy ucapkan.


Ya mungkin kau benar, egoku menguasaiku, batin Sandra.


“Dy, kita sama-sama terjebak perasaan kita sendiri,” kata Sandra lirih.


Kini ganti Andy yang terdiam, ia berkutat dengan perasaannya sendiri.


“San, cobalah mencintaiku,” pinta Andy.


Sandra menggeleng.


Andy mendekati Sandra dan memeluknya. Sandra tak menolak, Andy memberanikan diri mengecup bibir Sandra dengan lembut lalu Sandra pun membalas kecupan Andy dengan ciuman yang dalam. Mereka pun terlibat ciuman yang panas.


Bibir Andy mengulum semua bibir Sandra dengan lembut. Lidah Andy ingin menyusup ke dalam bibir Sandra mencari lidah Sandra, tapi bibir Sandra tak memberi celah. Lalu Andy meraba puncak dan meremas dada Sandra.


“Aaah ....” Sandra mendesah.


Kesempatan ini tak di sia-siakan Andy untuk mengulum lidah Sandra dan saling melilit. Bibir Andy mengulum lidah Sandra, kini Andy menurunkan ciumannya ke leher Sandra. Secara refleks Sandra mendorong tubuh Andy menjauh.


Seolah teringat kissmark yang Andy tinggalkan tempo hari, membuat Sandra tersadar. Bagaimana ia dengan susah payah menutupi tanda memar di lehernya.


“Tidak, Dy! Yang kita lakukan itu hanya nafsu semata,” ucap Sandra.


“Kau boleh anggap itu nafsu, tapi buatku. Aku melakukan dengan dasar cinta, San!” balas Andy.


“Aku pulang, Dy! Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi,” kata Sandra beranjak dari sofa.


Saat akan keluar dari apartemen Andy menahan tangan Sandra.


“Jangan bohongi dirimu, bibirmu bilang tidak tapi hatimu bilang ya!” kata Andy.


Sandra menghempaskan tangan Andy.


“Jika kau mencariku, aku akan selalu menunggumu di sini!” ucap Andy.


Sandra tak menjawab, ia pergi meninggalkan Andy seorang diri di sana. Andy hanya bisa menatap sosok Sandra yang menghilang di balik pintu.


Menjelang malam Sandra langsung masuk ke dalam kamarnya.


Brug.


Sandra menjatuhkan diri ke ranjang dan memejamkan matanya.


“Aku lelah, aku tak bisa begini terus!” Sandra menggerutu sendiri.


Sandra menuju kamar Alex, ia mengetuk pintu kamar Alex. Tak ada jawaban dari dalam sana, Sandra menyentuh handle pintu kamar Alex.


Tak terkunci! batin Sandra.


Sandra memberanikan diri masuk, ia melihat seseorang sedang tertidur di atas ranjang, Sandra mendekati sosok itu.


Alex! batin Sandra.

__ADS_1


Alex tertidur pulas tak menyadari kehadiran Sandra. Dengan leluasa Sandra naik ke atas ranjang dan merebahkan diri di samping Alex. Sandra memandang wajah Alex yang tertidur pulas.


Kau semakin tampan, Lex! batin Sandra.


Sandra sampai puas memandang wajah porselen yang dulu pernah mengisi hari-hari indahnya. Sandra tertidur di samping Alex hingga pagi menjelang.


Alex menggeliat dan membuka matanya. Betapa terkejutnya Alex melihat Sandra yang tertidur di ranjangnya.


“Apa yang kau lakukan di sini!” teriak Alex.


Suara Alex mengema di telinga Sandra hingga ia terbangun dari tidur pulasnya.


“Hua ... tidur,” ucap Sandra sambil menguap dengan santai.


“Aku sudah bilang untuk tidak masuk ke kamar ini!” teriak Alex lagi kali ini lebih keras.


“Tak usah teriak-teriak! Bukankah wajar jika suami istri tidur bersama,” balas Sandra.


“Kau!” ucap Alex sambil mencengkram lengan Sandra.


“Apa!” balas Sandra menantang.


Daripada pagi-pagi ribut meladeni Sandra. Alex lebih memilih, menyeret Sandra keluar dari kamarnya. Dihempaskannya lengan Sandra di depan pintu kamar dan langsung menutup pintu kamar dan menguncinya kembali.


“Apa semalam aku terlalu lelah hingga lupa mengunci pintu!” Alex mengacak-acak rambutnya.


Ada sesuatu yang mengusik Alex saat melihat leher Sandra ada beberapa bercak merah.


“Apa aku ...!” guman Alex pada diri sendiri.


Alex pun bergegas membersihkan diri untuk bersiap menuju kantor. Sesampainya di kantor Alex tetap merasa kepikiran tentang kejadian tadi pagi.


“Lex ... Lex ... haloo,” sapa Indra.


“Eh ... ya!” Alex terkejut.


“Pagi-pagi sudah melamun!” ucap Indra.


“O ... enggak. Ada apa?” tanya Alex.


“Kau di panggil bapak pimpinan,” jawab Indra.


“Aku?” Alex tanya balik.


“Iya ... kamu! Kok jadi blank pagi-pagi gini,” jawab Indra.


“Sorry!” ucap Alex menggaruk kepalanya walau tak gatal.


Alex segera meninggalkan Indra menuju ruangan Candra.


Saat pulang kantor, Alex ajak janji temu dengan Tara di coffee shop.


Alex tiba lebih dulu, ia menempati di salah satu meja lalu tak lama muncul Tara. Alex melambaikan tangan pada Tara. Setelah Tara melihat Alex, ia pun segera menghampiri.


“Dari tadi, Lex?” tanya Tara.

__ADS_1


“Tidak, baru aja,” jawab Alex.


Seorang pramusaji menghampiri kemudian mereka memesan minuman beserta dessert. Tak lama pramusaji mengantar pesanan mereka.


Alex membuka pembicaraan yang serius itu.


“Ra ... aku merasakan sesuatu yang aneh pada Sandra,” ucap Alex.


“Apa maksudmu?” Tara tanya balik.


Lalu Alex menceritakan kejadian di kamarnya tadi pagi.


“Kalau kau merasa tidak melakukan, berarti Sandra main gila di luar,” ujar Tara.


“Ya, aku merasa curiga. Aku sempat kepikiran ke situ, Ra!” balas Alex sambil menikmati kopinya.


Tara hanya mengangguk-anggukkan kepala.


“Serahkan padaku, Lex! Biar aku menyelidiki Sandra,” ucap Tara.


Alex mengangguk.


“Hati-hati, Ra! Jangan sampai Sandra tahu kita mencurigai dia,” ucap Alex.


“Tenang, aku bisa atasi masalah ini,” balas Tara.


“Ok!” ujar Alex.


Alex percaya Tara mampu melakukan ini.


---


Sudah seharian Sandra hanya di kamar saja. Hatinya merasa senang karena semalam tidur sekamar seranjang bersama Alex.


Sandra tak memperdulikan perlakuan yang di terimanya dari Alex. Baginya kejadian tadi pagi termasuk hal yang menakjubkan bisa sedekat itu dengan Alex sejak pernikahannya dengan Alex.


Kedua bersaudara telah tiba di rumah, hampir bersamaan. Namun keduanya langsung masuk ke kamarnya masing-masing agar tidak memancing kecurigaan Sandra.


Begitu pula saat makan malam, mereka berusaha bertingkah laku seperti biasanya. Walau kadang keduanya ingin rasanya memeriksa leher Sandra.


Hingga menjelang malam Alex dan Tara masih berbincang melalui chat, membahas saat makan malam bersama Sandra tadi.


---


Pagi itu aktifitas di rumah Candra tetap seperti biasa.


Demikian pula dengan Tara, ia kuliah seperti biasa. Sebelum berangkat kuliah, Tara berpesan pada Udin untuk mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk membuntuti Sandra hari itu juga. Dan melaporkannya setiap hari pada Tara.


---


Betul kata papa, sebaiknya aku buka kantorku kembali, batin Sandra.


Sandra hari itu berkunjung ke kantor Danu dan ke kantor lamanya untuk merencanakan renovasi. Hampir seharian ia di sana untuk desain interior ulang. Sandra ingin menciptakan suasana baru di kantor lamanya.


Setelah dari kantor, ia menuju salon untuk spa dan sekalian makan malam seorang diri di sebuah resto.

__ADS_1


__ADS_2