Cinta Fey

Cinta Fey
Terharu


__ADS_3

“O ... Tian kira Mama sakit,” kata Tian.


“Tidak, Sayang! Mama tidak menangis,” sahut Fey.


“Ma, Tian minta baterai kecil untuk remote,” kata Tian.


“Ya ... sebentar mama ambilkan.”


Fey beranjak dari ranjang menuju lemari milik Alex, Tian mengekor di belakang Fey.


“Ini, Sayang! Mau minta berapa?” tanya Fey.


“Tiga ... Ma!” jawab Tian.


“Ini baterainya!” Fey menyerahkan pada Tian.


“Terimakasih, Ma!” kata Tian.


Tian pun segera bergegas keluar kamar setelah mendapat yang ia inginkan.


“Ini, Pa!” Tian menyerahkan baterainya.


“Ambil baterainya lama sekali, sampai papa hampir ketiduran,” Alex bergurau.


“Ahh ... masa sampai ketiduran, ini gara-gara mama. Pa! mama sedang menangis di atas ranjang. Tadi Tian tanya, bilangnya enggak apa-apa,” kata Tian.


Saat Tian bilang Fey menangis, hati Alex merasa tak tenang namun ia tak mau menunjukkan di depan Tian. Alex berusaha secepatnya memasang baterai untuk remote control mobil mainan Tian.


“Ini Tian, baterainya sudah papa pasang. Tian main sendiri, ya! Papa mau tengok mama dulu,” Alex menyerahkan remote control pada Tian.


Tian mengangguk.


Alex segera bergegas ke kamarnya, Alex mendapati Fey terduduk di lantai, di antara album dan buku-buku.


Alex menghampiri Fey.


“Fey ....” panggil Alex.


“Hm ....” sahut Fey tanpa melihat wajah Alex dan pura-pura sibuk.


“Fey ... lihat aku!”


Alex menyentuh bahu Fey dan menggenggam tangan Fey. Fey hanya tertunduk diam menatap lantai yang dingin.


“Ada apa, Fey?” tanya Alex kini lebih hati-hati, karena ia tak tahu apa yang membuat Fey bersedih.


“A ... hiks ... aku ... aku sedih ... hiks ... karena ini,” jawab Fey dengan tangis pecah seketika.


Fey menunjuk beberapa buku tentang kehamilan dan tumbuh kembang anak yang berserakkan di lantai.


Alex memeluk kekasih hatinya yang sedang bersedih dan tangis Fey kian keras. Alex membiarkan Fey menangis agar beban Fey ringan. Setelah Fey tenang, Alex memapah Fey menuju sofa.


“Hm ... maaf, Lex! Karena aku, kau tak melihat Tian tumbuh,” Fey tak berani menatap Alex karena ini kesalahannya.


“Sudahlah, Fey! Aku mengerti. Lagipula kau merawat anak kita dengan baik, Fey! Sungguh tak bisa kubayangkan. Kau sendiri melahirkan Tian pasti miliki kesulitan tersendiri. Aku bersyukur, kalian berdua baik-baik saja tanpa kekurangan suatu apa,” kata Alex.


“Tapi aku ....” ucap Fey tercekat.

__ADS_1


“Walau aku di sini, aku bisa merasakan apa yang kau rasakan. Pernah aku semalaman tak bisa tidur, perasaanku tak enak. Mungkin saat itu, anak kita lahir juga aku tak tahu. Aku bangga padamu, Fey!” sahut Alex sambil mengecup kening Fey.


“Jangan pernah pikirkan itu lagi, ya! Nanti kau cepat tua. Aku tak mau punya isteri dengan wajah yang lebih tua dariku hanya karena memikirkan hal seperti itu. Mari kita menua bersama?” kata Alex lagi.


Fey akhirnya tertawa.


“Kenapa kau tertawa?” tanya Alex.


“Aku tak bisa membayangkan wajahmu yang menua,” jawab Fey.


“Kenapa? Apa aku terlalu tampan jika menua?” kata Alex.


“O ... kau merasa dirimu tampan?” tanya Fey.


“Ya, pastilah! Tak sedikit wanita yang suka padaku!” jawab Alex penuh percaya diri.


Tak di pungkiri wajah rupawan Alex memang punya nilai lebih. Fey tertarik pada Alex pun berawal dari wajah tampannya.


“Hai! Kok bengong?” Alex mengusik lamunan Fey.


“Enggak lagi bengong, kok!” Fey mengelak.


“Dasar tukang ngeles!” kata Alex.


“Enggak ngeles!” jawab Fey.


“Lho dari tadi di panggil, diam saja! Itu namanya apa?” kata Alex gemas.


Fey hanya tersenyum.


“Kau ingin Tian sekolah di mana?” tanya Fey.


“Terserah kau! Aku percayakan pendidikan anakku pada Mama. Tugasku mencari nafkah untuk kalian,” jawab Alex.


“Pada siapa?” tanya Fey lagi.


“Pada Mama, bukankah kau mama-nya Tian anakku! Memangnya enggak mau aku panggil Mama. Kan, kau sudah jadi mama dari anakku!” jawab Alex.


Fey tertawa.


“Mengapa kau tertawa?” tanya Alex heran.


“Aku geli mendengarnya sekaligus canggung!” Fey makin terkekeh-kekeh.


“Maunya di panggil apa? Sayang? Honey? Darling? Chagiya? Yeobo? mana yang kau mau?” Alex menyebutkan kata dari versi Indonesia, Inggris sampai Korea.


Fey makin tertawa sambil memegang perutnya.


“Aku tak tahan lagi! Sudah kau jangan bicara itu lagi!” kata Fey yang masih memegang perutnya.


Alex tertawa senang melihat Fey ceria kembali. Fey melanjutkan kembali apa yang tadi ia keluarkan dari lemari. Fey membereskan semua.


“Chagiya, jangan lupa pikiran sekolah anak kita,” kata Alex sambil keluar kamar.


“Iih ... aku geli mendengarnya,” sahut Fey.


“Ha ... ha ....” tawa Alex masih terdengar hingga kamar di mana Fey berada.

__ADS_1


Malam pun menjelang.


Fey bercermin di depan meja rias, seperti biasa melakukan ritual menjelang tidur.


“Kau masih libur kerja?” tanya Fey sambil naik ke ranjang.


Alex membuka tangannya, Fey langsung mendekat dan bersandar di samping Alex.


“Aku masih resign. Aku jenuh saat kau tak ada di sisiku. Jadi aku pikir kerja untuk siapa,” kata Alex sambil mencium rambut Fey.


“Aku masih ingin menikmati kebersamaan dengan kalian,” kata Alex lagi.


“Papa tak keberatan?” tanya Fey sambil menatap wajah Alex.


“Justru papa yang bilang, daripada aku mengundurkan diri lebih baik resign dulu. Fey, bagaimana kalau kali ini kita pergi bulan madu?” Alex tanya balik.


“Lalu Tian dengan siapa?" Fey membelalakkan matanya


“Kita pergi bertiga, aku harap kita kembali pulang berempat atau berlima,” kata Alex.


“Apa! Kau ingin kita punya anak lagi?” tanya Fey.


“Kasihan juga, Tian kalau sendirian tak punya saudara kandung. Lagipula kita belum punya anak perempuan. Aku ingin punya anak perempuan yang cantik seperti kau,” jawab Alex.


“Kalau belum punya anak perempuan, bagaimana?” tanya Fey.


“Ya ... kita berusaha lagi. Aku yakin Tian juga pasti setuju,” jawab Alex enteng.


“Jadi aku harus hamil sampai punya anak perempuan?” tanya Fey.


“Kalau kau tak keberatan!” jawab Alex hampir tak tahan melihat raut wajah Fey yang sudah hampir meledak.


“Gila!” Fey membalikkan badannya dan menutup wajahnya dengan selimut.


Meledaklah tawa Alex, seketika Alex terdiam saat Fey buka selimutnya. Mata Fey bagai laser menatap wajah Alex.


“Aku becanda Fey, masa aku samakan kau dengan kucing,” seloroh Alex.


“Enggak lucu!” bibir Fey sampai moyong-moyong.


Muaah.


Alex langsung nyosor bibir Fey, tapi Fey tak merespon.


“Maaf, Fey! Jangan marah, dong!” Bujuk Alex.


Kini Alex di lingkupi ketakutan, jika Fey benar-benar marah.


Jangan berani-berani dengan yang namanya Fey batin Fey.


“Ayolah, Fey! Jangan cuek'in aku! Aku tak tahan jika kau abaikan aku!” Alex merengek.


Fey kini tertawa penuh kemenangan.


“Dasar! Sekarang Fey nakal, ya!” kata Alex.


Alex langsung memeluk Fey erat, Fey merangsek dalam pelukan hangat Alex.

__ADS_1


__ADS_2