Cinta Fey

Cinta Fey
Siapa Kau!


__ADS_3

“Hai, Fey! Ayo turun! Kenapa kau bengong!” kata Tara memotong lamunan Fey.


Tara menarik tangan Fey yang masih terpaku di sana.


“Eh ya–ya,” kata Fey terbata-bata.


“Masuk, yuk!” ajak Tara.


Mata Fey terbelalak saat memasuki rumah Tara. Sesekali mulut Fey, berdecak kagum tiada henti.


“Hai, ini anak! Ayo masuk!” Tara menarik tangan Fey masuk ke kamarnya.


“Wow ... kamarmu seperti istana ....”


“Hai, sudah!” potong Tara.


“Rumahmu bagus, Ra! Apalagi kamarmu, luas kamarmu seluas rumahku,” ujar Fey.


“Jangan begitu! Ini bukan punyaku, kok!” kata Tara.


“Astaga! Jadi punya siapa, Ra?" tanya Fey.


“Punya papa,” jawab Tara.


“Huh! Dasar dodol!” Fey mengelitik pinggang Tara.


“Ha ... ha ... sudah, Fey! Ha ... ha ....” Mereka berdua terkapar di atas ranjang dengan nafas ngos-ngosan.


“Fey ...!”


“Ya ...!”


“Tolong jangan berubah, ya! Aku tetap Tara yang kamu kenal,” pinta Tara.


“Aku tahu kau orang kaya tapi aku enggak sangka kau sekaya ini, tapi kau tak pernah meremehkan kami. Itu yang aku suka darimu,” ucap Fey.


“Thanks, Fey!”–Tara beranjak dari ranjang–“hm ... aku mandi dulu, ya!”


Fey mengangguk.


Fey mengambil ponsel dari dalam tas dan menghubungi Amanda.


“Halo ... Ma!”


“Halo ... Sayang!”


“Ma ... malam ini Fey nginap di rumah Tara.”


“Hanya malam ini?”


“Iya, hanya semalam. Papa ... mama Tara ke luar negeri jadi Tara minta Fey temani malam ini”


“Ya, Sayang!”


“Makasih, Bye Ma.”


“Bye ... Sayang.”


Fei melihat halaman rumah Tara melalui jendela, tiba-tiba ia teringat sesuatu.


Siapa Dia? Dia memiliki hubungan apa dengan Tara. Apa sebaiknya aku tanya Tara ... ahh ... tidak! batin Fey.


“Itu bukan ide yang baik,” guman Fey lirih.


“Apa yang baik?” Tara sudah berdiri di samping Fey.

__ADS_1


“Eh, sejak kapan kau ada di sini?” tanya Fey dengan mata membelalak.


“Sejak lahirlah,” jawab Tara sambil menjulurkan lidah.


Fey tersenyum, mendengar jawaban asal Tara artinya ia tidak mendengar apa yang tadi Fey katakan.


“Cabut, yuk! Belum makan dari pagi, nih!” ajak Tara.


“Yuk!” balas Fey.


“Bi ... Bi Nah!” panggil Tara.


“Iya, Non! Eh, ini Non yang kemarin sore kemari. Non, sudah baikan?” tanya Nah.


“Kau kemarin ke rumahku?” Tara melirik Fey.


“Iya, bantu kak Toni delivery order. Tapi aku tak tahu kalau ini rumahmu.”–Fey mengangguk pada Nah–“sudah mendingan, makasih ... Bi.”


Nah tersenyum sambil mengangguk.


“Bi Nah, malam ini enggak usah masak. Aku mau makan di luar,” kata Tara.


“Baik Non!” jawab Nah.


Mereka pun pergi mengendarai mobil menyusuri jalan, menikmati sisa hari itu.


---


“Ra ... bangun sudah siang, nih! Gara-gara kau semalam ngajak ngobrol terus.” Fey berusaha membangunkan Tara dengan menepuk-nepuk pantat Tara.


Tara hanya menggeliatkan tubuh, sang putri masih malas beranjak dari peraduannya. Tara membuka matanya berlahan, seperti hendak mengumpulkan nyawa. Tara melihat Fey duduk depan meja rias, sudah bersiap berangkat ke kampus.


“Sekarang jam berapa? Kok, kau sudah siap-siap pergi,” tanya Tara santai.


“Tuh, sudah pukul 9 lewat,” jawab Fey sambil tunjuk jam dinding.


“Sudah dari tadi tapi kau tak mau bangun!” balas Fey.


“Fey ... kau berangkat saja dulu. Aku nanti nyusul!” teriak Tara dari kamar mandi.


“Ok! Aku pergi, ya!” kata Fey.


Fei keluar dari kamar dan Nah lagi siapkan sarapan.


“Sarapan dulu, Non!” kata Nah.


“Sudah kesiangan, Bi! Minta juicenya saja, Bi.” balas Fey.


“Baik, ini Non!” Nah menuang dan menyodorkan segelas juice pada Fey.


Dengan sekali teguk Fey meminum juice itu.


“Makasih, Bi! Saya pergi, Bi,” ujar Fey.


Tara mandi secepat kilat karena sudah terlambat. Tara yang tomboy tak terlalu banyak berdandan seperti gadis kebanyakan. Tara keluar kamar dengan tangan masih sibuk masukan buku-buku yang akan dibawanya ke kampus.


“Sarapan Non sudah bibi siapkan roti lapis dan ini juicenya. Bibi taruh di tas Non,” kata Nah.


Nah bekerja di keluarga ini sejak Tara bayi, jadi ia hafal betul dengan watak dan kebiasaan di keluarga ini. Termasuk jika Tara kesiangan, Nah dengan cekatan melayani majikan paling kecilnya ini.


“Oya ... Bi, semalam Alex pulang?” tanya Tara.


Nah menggeleng.


“Hm ... makin enggak karuan, dah!” Tara menggerutu sendiri.

__ADS_1


Hari ini Tara naik mobil ke kampus, lagipula Fey sudah tahu segalanya.


---


Alex baru pulang saat hari menjelang siang, ia mengendarai mobil sport-nya langsung ke garasi halaman belakang.


“Pak Mul! Cuci mobilku!” perintah Alex.


Mul mengangguk.


Alex masuk kamar dan langsung tertidur pulas, tampaknya Alex semalaman tidak tidur.


---


Dret ... dret.


Ponsel Tara bergetar, ekor mata Tara melihat di layar ponselnya nama Feylin tertera di sana.


“Halo! Ada apa, Fey?”


“Sorry, Ra! Ada barangku tertinggal di kamarmu.”


“O ... kau ke rumah saja. Nanti aku bilang bi Nah, kalau kau mau ke rumah.”


“Ok ... thanks Ra. Bye”


“Bye”


Tara lalu telepon rumah.


“Halo, Bi! temanku yang tadi nginap mau ambil barang ketinggalan di kamarku. Tolong, bukakan pintu.”


“Mau ambil, kapan Non?”


“Mungkin nanti sore. Makasih,Bi.”


“Ya.”


Setelah mengakhiri panggilan melalui ponsel. Tara melanjutkan kembali aktifitasnya di kampus.


---


Sore itu Fey datang ke rumah Tara dan langsung dipersilakan masuk oleh Udin, sekuriti rumah.


“Non sudah datang, silakan masuk saja ke kamar non Tara. Kalau perlu apa-apa bibi ada di dapur,” kata Nah.


“Ya ... Bi! Makasih,” jawab Fey.


Sore itu Alex baru bangun lalu ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Wah ... segar!” guman Alex.


Setelah mandi Alex menuju walk in closet,


hanya dengan sehelai handuk melilit di pinggangnya hingga dada bidang dan perut six pack-nya terpampang jelas. Sore itu Alex mengenakan t-shirt ketat sehingga dada bidang Alex tercetak di sana dan di padu padan dengan short pants casual. Membuat tampilan Alex so cool.


Alex keluar dari kamar, hampir bersamaan Fey juga keluar dari kamar Tara. Ternyata kamar keduanya bersebelahan. Dan keduanya sama-sama terkejut.


“Siapa kau! Kenapa keluar dari kamar adikku!” Teriak Alex dengan suara menggelegar mengejutkan Fey.


Seketika wajah Fey pucat pasi, kakinya lemas dan bibirnya bergetar.


“A–a–a–aku–aku.” Fey tergagap-gagap, seperti maling kepergok pemilik rumah.


“Iya, kau! Kau siapa! Di sini hanya ada kau dan aku. Aku pemilik rumah ini, lalu siapa kau?” Suara Alex kian meninggi membuat Fey kian gemetar dan matanya mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Teriakan Alex bagai petir di siang bolong, membuat Nah mendatangi Alex.


__ADS_2