
Tio masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, Tio menuju kamar di mana Tian berada.
“Makan, Iyo!” kata Fey sambil menyiapkan makanan.
“Sebentar, aku ke kamar Tian dulu!” sahut Tio
Di dalam kamar, Tio mendekati Tian yang tertidur pulas di atas ranjang. Dengan perlahan Tio mencium kening Tian. Tio sangat sayang kepada Tian seperti pada anak sendiri. Setelah puas melepas rindu pada Tian. Tio makan malam di temani Fey sambil bercakap-cakap.
Pembicaraan mereka seputar tingkah laku Tian, mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang membicarakan tingkah laku anak mereka.
Malam itu pun berganti pagi.
“Halo ... Tian!” sapa yang sangat familiar di telinga Tian.
Tanpa merasakan lelah setelah semalam berkendara, Tio berusaha bangun pagi untuk mengawali hari bersama Tian.
“Om Yo!” Tian menyapa balik sambil loncat ke pelukan Tio.
“Tian, jangan begitu! Kau sudah besar pasti berat, kasihan om Yo!” teriak Fey.
“Tak apa-apa, Fey!” kata Tio.
“Tuh, kata om Yo tak apa-apa!” ucap Tian senang, saat Tio membelanya.
“Kau, terlalu memanjakan Tian!” kata Fey.
“Waduh, om Yo lagi yang disalahkan!” kata Tio merajuk.
Tian dengan penuh kasih sayang membuka kedua tangannya memeluk tubuh Tio dan menepuk-nepuk punggung Tio bak seorang yang ingin menenangkan.
Polah Tian membuat Tio dan Fey tertawa, hanya Tian yang kebingungan sambil menggaruk kepalanya.
“Om ... kita jalan-jalan, yuk!” ajak Tian.
“Tian mau kemana?” tanya Tio.
“Terserah Om Yo, Tian ikut aja,” jawab Tian.
”Ok, ikut Fey?” kata Tio.
“Aku enggak bisa, nanti sore ada acara,” balas Fey.
“Dah, Ma! Tian pergi, yah! Muaah!” kata Tian sambil mengecup bibir Fey.
“Dah, Tian! Jangan rewel, ya! Jangan bikin repot om Yo!” teriak Fey kian meninggi karena Tian sudah lari menjauh.
Tio tak beranjak dari tempatnya berdiri.
“Kok, enggak pergi?” tanya Fey.
“Ini belum!” jawab Tio sambil mengerucutkan bibirnya.
“Huh! Genit!” ucap Fey sambil menusuk-nusuk pinggul Tio dengan jarinya.
Tio tak tahan jika pinggangnya di tusuk, ia segera ambil langkah seribu menjauh dari Fey.
---
Sepanjang hari itu, Tio menghabiskan waktu bersama Tian.
Saat malam tiba, mereka baru kembali ke rumah. Tian tampak kelelahan, ia tertidur selama perjalanan pulang.
Setibanya di rumah, Tio mengendong Tian di punggungnya dari mobil menuju kamarnya.
__ADS_1
“Aduh ... Tian! Kenapa tidur, om Yo bisa kelelahan gendong Tian!" kata Fey.
Kemudian dengan hati-hati Tio merebahkan Tian di atas ranjang dan menyelimuti tubuh Tian dengan selimut. Tio menarik tangan Fey keluar dari kamar di mana Tian berada.
“Fey ... Fey ... sudah! Aku suka di buat repot oleh Tian. Jangan pernah ngomel lagi,” pinta Tian.
“Maaf, Iyo! Itu ... itu ... karena aku tak mau merepotkanmu!” kata Fey.
“Sungguh aku tak merasa repot. Sudah larut malam, Fey! Sebaiknya kita istirahat,” sahut Tio sambil menuju ke kamarnya.
Setelah Tio masuk kamar, Fey merasa tak enak hati. Fey tahu Tio berbuat begitu karena rasa sayang Tio pada Tian yang sangat besar.
Malam itu pun kian larut dan berganti pagi.
Tio baru saja keluar dari kamarnya.
“Sarapan, Iyo!” sapa Fey yang pagi itu sudah sibuk menyiapkan menu sarapan untuk para pria di rumah ini.
“Ya, Tian sudah bangun?” tanya Tio.
“Sudah, Om!” jawab Tian keluar dari kamar mandi.
“Kamu bikin om kaget saja. Sudah bisa mandi sendiri?” tanya Tio.
“Sudah, Om! Kan, Tian sudah besar!” jawab Tian.
“Good!” kata Tio.
“Ih ... Om Yo, juga ikut-ikutan ngomong Inggris kaya om Vila,” sahut Tian sambil masuk kamarnya.
“Siapa, om Vila?” tanya Tio kepada Fey.
“Enggak tahu. Kata Tian, sih teman pak mang,” jawab Fey.
“Ayo ... Tian sarapan! Nanti kesiangan berangkat sekolahnya!” teriak Fey.
“Iya ... iya ... ini Tian sudah selesai. Sabar dong, Ma!” sahut Tian sambil menuju meja makan.
“Ya tuh, mamamu, kalau sudah ngomong. Teruuuus ngomong! Padahal dulu enggak begitu!” kata Tio.
Fey sudah membelalakkan matanya.
“Oya ... kok sekarang begitu, Om?” tanya Tian.
“Itu karena Tian. Sudah! Ayo makan nanti Tian makin terlambat!” jawab Fey.
“Ya, ini Tian sudah selesai,” kata Tian sambil bersiap berangkat ke sekolah.
“Tian! Nanti siang om, pulang ya!” kata Tio.
“Ya, Om! Hati-hati di jalan,” sahut Tian sambil memeluk Tio dengan erat.
“Sekolah yang pintar, Sayang!” ucap Tio sambil mencium kening dan kedua pipi Tian.
Tian mengangguk.
“Mah, Tian berangkat. Muuaah!” kata Tian tak lupa mengecup bibir Fey.
“Dah, Sayang!” balas Fey dan Tio hampir bersamaan.
---
“Hm ... sore ini sangat cerah" ucap Alex sambil menikmati kopi di teras villa.
__ADS_1
Alex berharap sore itu cerah agar anak-anak bisa bermain di lapangan termasuk Tian yang sudah dua hari tidak ia lihat.
“Sore, Om Vila!” sapa khas Tian.
“Sore, Tian! Kok kemarin om ngga lihat Tian main ke lapangan?” tanya Alex.
“O ... kemarin Om Tian datang ke sini. Namanya om Yo,” jawab Tian.
“O, om kira Tian sakit,” kata Alex.
“Ngga, Tian pergi main sama om Yo jalan-jalan sampai malam,” sahut Tian.
“O ... senang dong!” ucap Alex.
“Ya, senang sekali apalagi om Yo jarang pulang. Om Yo seorang dokter yang sibuuuk sekali. Pasiennya banyak, jadi ngga bisa sering pulang,” celoteh Tian.
“Senang, ya! Punya om dokter?” tanya Alex.
“Iya! Kata mamah, dulu waktu Tian kecil sakit panas tinggi, om Yo yang obati Tian,” jawab Tian.
“Oya! Enak ya, Tian punya om dokter. Eh, Tian boleh makan coklat?” tanya Alex.
“Boleh!” jawab Tian.
“Om punya coklat, Tian mau?” tanya Alex
Tian mengangguk
Kemudian Alex buka lemari pendingin dan mengambil beberapa coklat.
“Ini om punya lima, Tian bagi sama teman-teman, ya!” ucap Alex sambil menyerahkan coklat kepada Tian.
“Wah, coklatnya dingin.” Raut wajah Tian senang.
“Sudah sana di bagi dengan teman-teman Tian, mumpung masih dingin!” kata Alex.
“Makasih, Om! Tian pergi dulu!” balas Tian.
“Ya!” kata Alex.
Tian pun berlari menuju lapangan dan langsung bergabung dengan teman sebayanya.
---
Malam pun tiba, Tian menghampiri Fey di ruang tengah.
“Mah, Tian mau minta tolong?” tanya Tian.
“Minta tolong apa?” Fey tanya balik.
“Tadi sore Tian di kasih lima coklat sama om Vila,” jawab Tian.
“Terus?” tanya Fey lagi.
“Ya ... Tian juga ingin kasih sesuatu ke om Vila juga,” jawab Tian.
“O ... maksud Tian, Tian mau membalas kebaikan om Vila?” tanya Fey.
“Iya, itu maksud Tian,” jawab Tian.
“Tian ... Tian ... bilangnya saat sudah malam, mamah ngga punya persiapan apa-apa. Terus Tian mau di kasih apa?” tanya Fey.
“Tian mau kasih bubur ayam buatan mamah saja. Bubur ayam buatan mamah buat Tian paling eeenaaaak sedunia,” jawab Tian sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
__ADS_1
“Ahh kamu ... ! Seperti sudah pernah makan bubur semua di seluruh dunia,” ucap Fey sambil tertawa.