
Seminggu sudah Fey pergi, bagi Alex terasa bertahun-tahun. Hari-hari Alex lalui terasa amat berat. Sepulang kantor, Alex menyusuri jalanan hingga menjelang tengah malam, berharap menemukan Fey.
Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, Alex tetap jalani pencariannya tanpa kenal lelah. Namun Fey bagai di telan bumi, tak ada kabar beritanya hingga Sony dan Amanda pun tak tahu keberadaan anak mereka.
---
Di teras kamar, Alex menatap bintang-bintang di langit. Seolah-olah Alex bertanya pada bintang di atas sana, apa para bintang melihat apa yang ia cari.
“Aku rindu kau, Fey!” guman Alex.
Alex lewati malam-malam dengan rasa sepi yang amat sangat. Terkadang hingga menjelang pagi, Alex baru memejamkan matanya.
---
Hari pernikahan Alex dengan Sandra kian dekat. Alex menyerahkan semua urusan pada Tara.
“Ra, aku hanya minta satu. Aku tak mau wanita itu menempati kamar ini. Aku tak ingin dia menyentuh barang-barang di kamar ini terutama barang milik Fey,” ucap Alex.
“Aku ngerti, Lex! Aku sudah atur kamar tamu untuk kamar dia,” sahut Tara.
“Biarkan kamar ini terlihat seperti saat Fey pergi, tak ada yang berubah saat ia kembali. Begitu pula dengan hatiku,” kata Alex
Tara mengangguk.
“Ra, ada kabar tentang Fey?” tanya Alex.
“Aku mencari informasi dari berapa teman kampus, tak satupun yang tahu keberadaannya,” jawab Tara.
“Di balik sikap lemah lembutnya, tersimpan watak keras kepala. Jika ia yakin, ia akan perjuangkan,” kata Tara lagi.
---
Siang itu, Alex janji bertemu Toni.
“Fey pernah hubungi kau?” tanya Alex.
“Tidak sama sekali. Aku pernah coba hubungi ponsel Fey tapi selalu off,” jawab Toni.
“Ton, jika kau dengar kabar Fey. Tolong hubungi aku?” ucap Alex.
“Pasti, Lex!” sahut Toni.
Ponsel Alex berdering.
“Bentar, Ton! Aku terima telepon dulu.” Alex menjauhi Toni.
Toni mengangguk.
Tampak Alex bicara serius, tak lama Alex menghampiri Toni.
“Sorry, Ton! Aku harus pergi, ada urusan mendadak!” kata Alex.
“It's ok, Lex! Pergilah!” balas Toni.
“Jangan lupa! Beritahu aku jika ada kabar dari Fey,” ucap Alex.
“Ok, Lex!” sahut Toni.
---
Alex menuju rumah sakit, Indra mengalami kecelakaan.
“Bagaimana, Dra?” Alex melihat kondisi Indra.
“Enggak apa-apa, Lex! Sudah di periksa, hasilnya baik. Sebentar lagi pulang,” jawab Indra.
“Ya, syukurlah! Aku tunggu di luar, ya!” ucap Alex.
Indra mengangguk.
Alex keluar dari ruang IGD.
“Hai, Lex!,” sapa Mega.
“Eh, Tante Mega. Apa kabar, Tan!” Alex sapa balik.
__ADS_1
“Baik! Eh, selamat ya! Kau akan menjadi seorang ayah,” kata Mega.
“Apa!” Alex terkejut.
“Minggu lalu, istrimu kemari,” jelas Mega.
“Dok, ada keluarga pasien ingin bertemu.” Seorang perawat menghampiri.
“Ya, aku ke sana!” sahut Mega.
“Lex, kau harus beri perhatian ektra. Apalagi di trimester pertama, sangat rawan keguguran. Kalau ada apa-apa, kau bisa telepon tante. Tante pergi dulu, Lex!” ucap Mega.
“Ya–ya, Tante!” Alex tergagap.
Alex merasa dunia berputar-putar, ia bersandar pada dinding. Seluruh tubuh terasa lemas, ia shock mendengar penjelasan Mega.
Fey, hamil! Ya, Tuhan! Fey pergi dalam keadaan hamil.
Alex segera menguasai diri, ia kembali ke ruangan Indra.
“Sorry, Dra! Aku pulang dulu, kepalaku tiba-tiba pusing.” Alex beralasan.
“Ya, hati-hati di jalan!” pesan Indra.
Alex mengangguk.
Alex segera memacu mobilnya menuju rumah.
“Pa ... Pa ...!” teriak Alex.
“Ada apa? Kau datang teriak-teriak,” kata Tara.
“Ra, tolong cari Fey,” kata Alex lirih.
Candra dan Anna keluar dari kamar. Alex meraih tangan Candra, ia bersimpuh di sana.
“Pa, kembalikan Fey!” Mata Alex berkaca-kaca.
“Lex, papa sudah berusaha mencari Fey. Kalau papa boleh memilih, lebih baik papa bangkrut daripada kehilangan menantu sebaik Fey,” ucap Candra.
“Kita tak hanya kehilangan Fey tapi cucu Papa, anak Alex!” ucap Alex lirih.
“Apa! Fey hamil?” tanya Anna.
Alex mengangguk.
“Ya, Tuhan! Fey, di mana kau? O ... cucuku,” ratap Anna.
Anna pun terkulai.
“Kau tahu dari mana, Fey hamil?” tanya Tara.
“Dari tante Mega. Fey memeriksa kandungannya pada tante Mega,” jawab Alex lemah.
Hanya tangis Anna yang terdengar di saat yang lain hanya terdiam.
---
Malam itu, Alex berdoa dengan mata berkaca-kaca.
“Ya, Tuhan! Beri perlindungan pada anak dan istriku. Pelihara kesehatan mereka, agar kami dapat bertemu kembali” ucap Alex.
“Lex ....” panggil seseorang.
“Kau ... kau kembali, Fey.” Alex kegirangan.
Alex segera memeluk erat Fey.
“Lex, aku tak bisa bernapas,” sahut Fey.
“Maaf, Sayang!” kata Alex.
Fey mengangguk dan mencium lembut bibir Alex, di sentuhnya wajah Alex.
“Kau kurusan, Sayang!” sahut Fey.
__ADS_1
“Fey, kau jangan pergi lagi,” pinta Alex.
“Aku tidak pernah pergi, aku selalu ada di setiap aliran darahmu,” sahut Fey.
"Itu aku tahu, tapi selanjutnya jangan pernah tinggalkan aku. Janji!” Alex memohon.
Fey tersenyum.
“Fey! Jawab aku! Fey ... Fey ...!” Alex terbangun dari tidurnya.
“O .... kau datang lewat mimpi untuk mengobati kerinduanku,” Alex meneteskan air mata.
---
Hari bahagia Sandra akan segera tiba, sebentar lagi ia menyandang nyonya Alexander Wijaya.
“San, apa kau bahagia?” tanya Danu.
“Sangat bahagia, Pa!” jawab Sandra.
“San, mungkin Alex sekarang bukan Alex yang dulu memujamu,” ucap Danu.
“Maksud, Papa?” Sandra tanya balik.
“Saat Alex mendatangi papa, setelah siapa nama istrinya?” tanya Danu.
”Fey!” jawab Sandra.
“Ya, Fey! Setelah Fey pergi, sorot matanya papa lihat sangat garang. Seperti singa yang terusik,” ucap Danu.
“Papa tenang saja, ingat tidak waktu SMA, kan! Alex yang kejar-kejar Sandra,” sahut Sandra.
“Ya, mudah-mudahan kali ini kau bisa meluluhkan hatinya kembali,” kata Danu berharap.
Sandra kembali ke kamar sambil membayangkan saat indah bersama Alex.
FLASHBACK
Saat SMA, dalam kelas.
“San, ada yang perhati'in, tuh!” kata Rita.
“Siapa?” sahut Sandra.
“Itu, si cowok porselen,” ucap Rita.
Alex saat SMA terkenal julukan cowok porselen, karena wajah rupawan halus melebihi wajah cewek.
“Hei! Lagi ngomong'in apa?” sela Andy.
“Ahh, enggak lagi ngomongin apa-apa. Ke kantin yuk, Rit!” ajak Sandra menghindari Andy.
“Ayo!” sahut Rita.
Saat pulang sekolah.
“San, aku jalan dulu! Sudah di jemput Lucky,” kata Rita bonceng motor Lucky.
Sandra mengangguk.
Sandra melambaikan tangan. Sandra menunggu Danu, ia memainkan tanah menggunakan sepatunya.
“Mau aku antar?” ucap seseorang.
Sandra mendongakkan wajah, ternyata si cowok porselen.
“Memang rumah kita searah?” Sandra tanya balik.
“Lah, rumahmu saja! Aku enggak tahu! Gimana tahu kalau searah apa enggak! Mau enggak?”
Sandra melihat jam di pergelangan tangannya.
Sudah pukul 5 sore, pasti papa lupa jemput Sandra.
Sandra mengangguk.
__ADS_1
Akhirnya sandra pulang bersama Alex. Saat naik motor sport Alex, Sandra mengangkat rok abu-abunya tinggi-tinggi hingga paha putih Sandra terlihat Alex. Alex tersenyum nakal, hingga Sandra malu dibuatnya.
Sejak saat itu hubungan keduanya makin intens hingga melanjutkan sekolah bersama di luar negeri. Sandra senyum-senyum mengenang masa lalu.