Cinta Fey

Cinta Fey
Cara Yang Lain


__ADS_3

Sandra :“ Semangat, Dok!”


Tio membaca chat dari Sandra, saat baru saja membuka matanya.


Hm ... pagi benar, kau sudah kirim chat! batin Tio.


Tio segera membersihkan diri, hari ini berencana menemui Tian di rumah Candra.


---


“Om Yo!” sapa Tian sambil meloncat dalam pelukan Tio.


“Tian! Mama sudah bilang, kan! Jangan begitu dengan om Yo. Kamu, kan sudah besar!” kata Fey.


“Iya, Ma! Tian lupa, itu karena Tian rindu sekali dengan om Yo!” Tian langsung nempel pada Tio.


“Waduh, rival papa datang!” ucap Alex.


“Apa itu rival?” sahut Tian.


“Rival itu bersaing!” jawab Tio.


“Memang Papa bersaing apa?” Tian bertanya pada Alex.


“Merebut hati Tian!” sahut Alex.


“Aduh!” Tian menepuk dahinya.


Tingkah Tian mengundang gelak tawa orang yang ada di situ.


---


Sandra hari itu ke rumah sakit untuk menyambangi Tio.


“Maaf, Nona. Hari ini dokter Tio libur!” kata seorang perawat saat Sandra bertanya keberadaan Tio.


“Huh! Dasar sial!” guman Sandra.


Sandra bergegas pergi dari rumah sakit, ia menuju sebuah hotel. Dalam perjalanan menuju hotel Sandra mengontak seseorang untuk menemui dirinya di sana.


Setelah Sandra cek in, ia menuju kamar suite room di sebuah hotel mewah.


Tak lama seorang pemuda tampan datang ke kamar Sandra.


“Hm ... kau datang!” kata Sandra.


Pemuda itu langsung memeluk dan menciumi Sandra dengan penuh gairah. Tanpa basa basi mereka bergumul di ranjang hotel. Setelah bermain berapa kali dan Sandra terpuaskan, pemuda itu masih memanjakan dirinya dengan belaian lembut.


Sandra bangkit dari pelukan pemuda itu, ia mengambil ponsel dan mengetik sesuatu di sana.


“Bayaranmu telah kukirim melalui m-banking!” ujar Sandra.


Pemuda itu mencek melalui ponselnya dan tersenyum. “Terimakasih Nona! Semoga Anda puas dengan pelayananku.”


Pemuda tersebut segera berpakaian dan bergegas pergi dari kamar tersebut. Setelah pemuda itu pergi, Sandra pun segera mengenakan pakaiannya kembali.


Tak berapa lama, pintu hotel di ketuk seseorang. Sandra mempersilakan laki-laki paruh baya dengan mengenakan kacamata hitan masuk ke kamar Sandra.


“Aku ingin memakai jasamu!” kata Sandra membuka pembicaraan.


“Servis apa yang Nona minta pada kami?” tanya pria tersebut.


“Aku ingin kau mengikuti wanita di foto itu!” Sandra melempar sebuah foto di atas meja.


Pria tersebut membuka kacamata, ia memperhatikan wanita dalam foto tersebut lekat-lekat.

__ADS_1


“Akan kukirim alamat di mana dia tinggal. Aku minta laporan detail kemana, dengan siapa, tiap jam, menit dan detiknya.“ Sandra melempar segepok uang di meja. ”ini, bayarmu! Sisanya setelah selesaikan pekerjaanmu. Ingat jika kau ketahuan, aku tak mau terlibat!” kata Sandra di sertai ancaman.


”Nona tak usah khawatir, pekerjaan kami sangat profesional!” sahut pria tersebut.


“Aku ingin bukti, bukan janji!” tukas Sandra.


“Baik Nona, kami mengerti.” pria itupun beranjak pergi.


Setelah pria tersebut pergi, Sandra merebahkan diri untuk menghilangkan penat setelah bercinta.


---


Setelah seharian bermain dengan Tio, Tian kelelahan. Alex mengendong Tian yang bersandar di pundaknya. Fey mengekor di belakang Alex. Alex merebahkan tubuh Tian di atas ranjang. Fey mengelap wajah Tian dengan handuk hangat. Setelah bersih, Fey menyelimuti tubuh Tian dengan selimut.


“Fey, Tian selalu seperti itu setiap bermain dengan Tio?” tanya Alex penasaran.


“Ya,” jawab Fey.


“Ini karena Tian dekat Tio sejak bayi!” guman Alex.


Fey mengangguk.


Alex segera membopong tubuh Fey ala bridal style ke ranjang. Alex segera menindih tubuh Fey.


“Lex!” Fey membelalakkan matanya.


“Fey, aku ingin kau segera hamil, aku ingin memiliki ikatan seperti Tio dan Tian!” kata Alex.


“Iih ... kekanak-kanakan. Bilang aja lagi pengin!” sahut Fey.


“Nah, tuh! Tahu!” Alex langsung membuka pakaian atas Fey.


“Jangan ... Lex!” Fey menahan tangan Alex bertindak lebih jauh.


“Waduh! Kenapa dapat sekarang saat aku lagi pengin!” kata Alex sambil melepaskan Fey.


“Maaf, Lex!” Fey segera mengenakan baju atasnya kembali, yang Alex buka.


Alex tampak frustasi, ia mengacak rambutnya dengan kesal. Fey tersenyum melihat tingkah Alex. Fey segera keluar kamar karena tak tahan melihat mupeng Alex yang sudah sampai ubun-ubun.


“Alex mana?” tanya Tara.


“Sedang tidur!” jawab Fey.


“Sore-sore kok tidur!” kata Tio.


“Entahlah!” balas Fey sambil mengangkat bahunya.


Ketiganya terlibat pembicaraan ringan penuh canda tawa.


“Fey, kalau kita pergi ke puncak lagi. Mau enggak?” Tara ajak Fey.


“Boleh juga! Nanti aku bicara dengan Alex. Sekalian tengok rumah, Iyo,” kata Fey.


“Ok! Aku lihat jadwal liburku dulu, ya! Ra ... Fey, aku pulang, ya! Sudah petang!” ucap Tio.


“Ok! Hati-hati Iyo!” ucap Tara dan Fey hampir bersamaan.


Setelah Tio pergi.


“Ra, aku masuk kamar dulu!” kata Fey.


Tara mengangguk.


Fey kembali masuk kamar, ia melihat Alex masih di ranjang.

__ADS_1


Tampaknya Alex tertidur.


Fey senyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian siang tadi.


“Ma!” panggil Tian membuyarkan lamunan Fey.


“Eh, Sayang sudah bangun! Ayo mandi ini sudah malam lagi. Tian kalau main sama om Yo suka lupa waktu!” Protes Fey.


“Habis kalau main sama om Yo, seru!” kata Tian antusias.


“Sama papa juga sama, sama serunya! Ya, Pa!” kata Tian lagi saat tahu Alex telah berdiri di ambang pintu kamar.


Alex tersenyum, ia tahu Tian hanya menyenangkan hatinya. Namun ia menghargai usaha Tian menghibur dirinya. Tian pun segera ke kamar mandi saat Fey menyerahkan pakaian yang akan ia kenakan.


“Lex! Kau juga mandi!” Fey menatap Alex.


Alex cuma mengangguk.


“Masih ngambek?” tanya Fey.


“Hm ...!” Alex hanya berdeham.


“Jangan kaya anak kecil, ahh! Malu sama Tian!” bisik Fey.


Fey mendorong tubuh Alex menuju kamar mandi. Mau tak mau Alex beranjak dari pintu menuju kamar mandi. Fey geleng-geleng kepala melihat tingkah Alex.


Mereka pun bersiap malam malam bersama.


“Sudah bangun, Lex!” tanya Tara.


“Hm!” guman Alex.


“Tumben sore-sore, kau tidur!” kata Anna.


“Tadi pusing, Ma!” sahut Alex asal.


“Jangan anggap sepele sakit kepala. Kalau tak membaik ceklah ke dokter, atau tanya Tio,” kata Anna lagi.


“Ya, Ma!” balas Alex.


Fey lagi! Kenapa harus kasih alasan tidur pada orang rumah. Jadi tambah kesal hatiku! batin Alex.


Saat malam hampir larut, Fey mengajak Tian tidur. Alex pun mengikuti dari belakang.


Setelah mengurus Tian selesai, Fey segera mengurus suami tercinta.


Saat Alex bersiap tidur memunggungi Fey.


“Lex!” Fey membelai Alex dengan lembut.


“Hm ...!” sahut Alex dingin.


Fey mencium tengkuk Alex, membuat bulu kuduk Alex mengembang.


“Hai! Kau memang ...!”


Fey mencium bibir Alex dengan lembut hingga Alex tak menyelesaikan kalimatnya.


“Apa karena aku lagi dapat, terus enggak bisa memuaskanmu!” bisik Fey di telinga Alex.


Malam itu Fey mampu memuaskan Alex dengan cara yang lain, hingga rasa kecewa Alex terobati.


“Belajar dari mana memuaskan suami pakai tangan?” tanya Alex.


Fey hanya tersenyum malu-malu.

__ADS_1


__ADS_2