Cinta Fey

Cinta Fey
Janji


__ADS_3

“Alex ... Alex ...!” teriak Candra penuh amarah dari luar kamar.


“Ya, Pa!” Alex muncul dari dalam kamar.


“Ikut papa!” ucap Candra.


Alex segera mengekor Candra masuk ruang baca sekaligus ruang kerja Candra di rumah.


Ada apa ini? Apa yang om Sony bicarakan hingga papa tampak marah sekali.


Sebaiknya aku cari Fey, batin Tara.


---


Di dalam ruangan baca selain Candra, ada Sony di sana.


Aduh! Aku lupa menemui papa Sony. Pasti papa sudah tahu masalahku dari papa Sony.


Candra memukul meja kerjanya.


“Kau anak kurang ajar, bikin malu papa!” kata Candra.


Wajah Candra merah padam menahan amarah.


“Kau ceraikan Fey sekarang juga!” ucap Candra lagi.


“Maaf, Pa! Alex tak bisa ceraikan Fey,” sahut Alex.


“Kau ... kau ...! Sampai kapan kau akan menyiksa Fey. Setelah apa yang Fey perbuat untukmu!” Candra marah.


“Justru Alex ingin memperbaiki kesalahan. Beri waktu Alex untuk membuktikan,” pinta Alex


“Kau telah menyia-nyiakan waktu sepuluh bulan,” ucap Candra.


“Pa ... Alex mohon, please!” mohon Alex.


“Pa, Alex minta maaf sudah menyakiti Papa Sony sekeluarga, tolong beri Alex kesempatan” ucap Alex.


Alex memohon dan bersimpuh di depan Sony.


---


Tara mencari Fey di halaman belakang.


“Fey ...!” Tara menghampiri Fey.


“Ya!” sahut Fey.


“Papamu ... papamu ... kemari! Mencari Alex!” ucap Tara.


“Apa!” Fey teringat janjinya dengan Sony.


Bagai tersengat listrik, Fey segera berlari meninggalkan Tara.


“Mereka ada di ruang baca!” teriak Tara.


Tara terbengong-bengong melihat situasi yang terjadi.


Fey segera masuk ruang baca.


“Pa!” Fey menghampiri Sony.


Sony bangkit dari kursi, ia mencengkeram tangan Fey.


“Fey, kita pulang!” kata Sony.


Sony menyeret Fey, ia meronta melepaskan diri dari cengkeraman Sony.


“Tidak, Pa! Fey tidak mau pulang!” ucap Fey.

__ADS_1


Fey bersimpuh di samping Alex.


“Kau ... kau ... gadis bodoh!” Sony kesal.


“Papa ... kami minta waktu. Kami akan memberi kalian cucu, sebanyak yang kalian mau. Kami telah melakukan malam pertama,” ucap Alex.


Alex menggenggam erat tangan Fey.


“Apa kalian tidak sedang bersandiwara lagi!” kata Candra.


“Tidak, Pa! Kalau Papa tidak percaya. Kalian bisa cek Fey ke dokter kandungan,” sahut Alex.


“Apa benar yang Alex katakan, Fey?” tanya Candra.


Fey hanya mengangguk malu-malu dengan wajah memerah.


“Besan, bagaimana menurutmu?” tanya Candra.


“Aku serahkan padamu!” jawab Sony.


“Ok, Papa beri kalian waktu 1 tahun, kalau kalian tak memberi kami cucu. Kalian tanggung akibatnya tanpa kompromi,” kata Candra.


---


Di kamar Fey memukul dada Alex.


“Aduuh, sakit Fey!” ucap Alex mengosok dadanya.


“Kau, kalau ngomong seenaknya saja,” kata Fey.


“Ngomong apa?” Alex tanya balik.


“Minta cucu sebanyak yang kalian mau. Gila! Memang aku kucing!” Fey bersungut-sungut.


“Untung kamu mengingatkan!” kata Alex.


“Ingat apa!” sahut Fey.


“Ahh, kau! Modus!” kata Fey.


“Kita buat anak secepatnya, kau mau kita bercerai setelah satu tahun!” kata Alex.


Alex menakut-nakuti Fey dengan kocak dan langsung melancarkan serangan yang tak bisa di tolak Fey. Mereka pun bergumul di atas ranjang untuk ke sekian kali hingga napas keduanya ngos-ngosan.


“Aku lelah, Lex,” ucap Fey.


“Tidurlah sayang.”


Alex memeluk Fey dan mencium kening Fey. Ia meringkuk dalam pelukan Alex keduanya pun tertidur.


---


Tara menarik tangan Alex, ia ingin tahu apa yang terjadi di ruang baca.


Alex mau tak mau menceritakan semua dari awal hingga akhir.


“Kau gila! Ya ... Lex! Masih untung kau tidak di hajar om Sony!” teriak Tara.


“Maaf, Ra! Itu semua karena kebodohanku. Kau juga ada andil di sini!” ucap Alex.


“Apa maksudmu?” tanya Tara.


“Kalau kau bilang, Fey yang mendonorkan darahnya. Mungkin aku tak berani mengawininya,” jawab Alex.


“Fey melarangku ... ia tak mau nanti kau merasa hutang budi padanya. Apa kini kau menyesal, menikahi Fey?” tanya Tara.


“Tidak. Sekalipun waktu di putar kembali aku akan tetap memilih jalan yang sama tetap menikahi Fey. Fey sangat berarti buatku, ia segalanya bagiku,” jawab Alex.


“Lex, jangan pernah sakiti Fey lagi!” ucap Tara.

__ADS_1


“Pasti!” balas Alex.


“Jangan kecewakan aku lagi dengan janji palsu!” timpal Tara.


“Tidak akan lagi!” ucap Alex tegas.


---


Kehidupan rumah tangga Alex yang sudah lama tapi serasa pengantin baru saja. Alex tak pernah lagi membawa pekerjaannya ke rumah. Ruang kerja dalam kamar pun sudah ia rombak. Ia ingin membangun quality time dengan Fey saat di rumah.


“Fey, kemarilah!” panggil Alex.


“Ya,” sahut Fey.


Fey menghampiri Alex yang berdiri di teras kamar. Alex menarik dan memeluk Fey dari belakang.


“Fey, aku ingin pergi kita pergi bulan madu” ucap Alex.


“Bukankah kemarin kita bicara tentang masalah ini.”


“Ya kemarin, kan! Kita binggung mencari alasan yang tepat. Kini mereka sudah tahu alasan kita, bulan madu kedua.”


Alex mempererat pelukannya.


“Aku ingin memperbaikinya,” bisik Alex di telinga Fey.


Fey membalikkan tubuh.


“Asal tidak menganggu pekerjaanmu dan papa tak keberatan. Aku setuju,” ucap Fey.


Alex membalas dengan mencium bibir Fey. Fey pun membalas ciuman Alex. Alex mempererat pelukannya seakan tak ingin melepaskan Fey. Alex mendorong Fey hingga Fey berjalan mundur tanpa melepaskan ciumannya hingga keduanya jatuh di atas ranjang. Mereka kembali memadu kasih di sana.


Setelah saling memuaskan hasrat, Alex memandang lekat-lekat wajah Fey. Sesekali Alex menciumi wajah Fey seakan tak pernah bosan.


“Kau bahagia, Sayang?” tanya Alex.


“Aku bahagia, Lex!” jawab Fey.


“Jangan pernah tinggalkan aku, Fey!” pinta Alex.


“Aku takkan pernah meninggalkanmu!” ucap Fey.


“Janji!” Alex minta ketegasan Fey.


“Janji!” Fey mengangkat dua jari.


Alex pun kembali mencium Fey dan leher Fey hingga tengkuk Fey mengembang karena sentuhan Alex yang merangsang kembali gairahnya.


“Bibirmu sangat lembut, Sayang,” ucap Alex.


“Ahh ... hm ....” hanya desahan yang keluar dari mulut Fey


Mereka pun kembali memadu kasih entah sudah yang ke berapa, malam itu menjadi malam panjang mereka. Akhirnya mereka tertidur pulas dengan saling berpelukan.


---


Setelah membersihkan diri Alex menuju walk in closet hanya mengenakan handuk melilit di pinggang. Fey seperti biasa menyiapkan pakaian yang akan Alex kenakan ke kantor. Fey kini terbiasa melihat dada bidang dan six pack Alex karena mereka sudah benar-benar menjalani kehidupan rumah tangga yang normal. Setelah berpakaian Alex bersiap berangkat.


“Fey, aku berangkat.”


Alex mengecup kening Fey namun Alex tak beranjak pergi jua.


“Kenapa?” tanya Fey.


Alex tak menjawab, ia hanya menunjuk bibirnya yang monyong. Mau tak mau Fey menyodorkan bibir untuk di cium Alex.


Muuaah.


“Huh! Genit,” ucap Fey.

__ADS_1


“Tapi suka, kan!” sahut Alex.


Fey hanya tersenyum.


__ADS_2