Cinta Fey

Cinta Fey
Cute


__ADS_3

Waduh! Apa nama sayuran itu, ya! batin Alex.


Alex berusaha berpikir keras, namun ia tak bisa mengingat nama sayur yang ia pinta saat itu bersama Fey. Akhirnya ia nekat memintanya pada Diding.


“Mang! Aku mau sayuran yang waktu itu aku minta, tapi sedikit saja,” pinta Alex.


“O ... sayur yang di minta neng geulis itu, ya?” tanya Diding.


“Ya, Mang!” jawab Alex sambil menggaruk kepalanya.


Diding segera memetik satu ikat sayuran dan menyerahkan kepada Alex.


“Ini, Den!” kata Diding.


“Iya benar ini sayurnya. Makasih, Mang!” sahut Alex girang saat melihat sayur di tangannya.


Alex pun bergegas kembali ke villa dengan membawa sayuran dari Diding.


Sesampainya di villa, Alex segera membersihkan diri. Setelah beraktivitas di kamar mandi selesai, ia menuju dapur tampaknya ia bersiap masak pagi itu. Alex mengambil ponselnya, tampaknya ia browsing sesuatu di internet.


‘CARA MENGOLAH MIE SHOA’


Kalimat yang muncul di layar ponsel Alex. Ternyata Alex ingin membuat, apa yang dulu pernah Fey buat untuk dirinya.


“Tak sia-sia aku memperhatikan waktu Fey masak, ternyata ada gunanya,” guman Alex pada diri sendiri.


Setelah makanan itu matang, Alex mencicipinya.


“Hm ... lumayan untuk seorang pemula seperti aku, walau rasanya tak seenak buatan Fey,” ucap Alex memuji diri sendiri.


Lalu Alex membawa hasil masakan pertamanya ke dalam dua buah box. Alex nenteng kedua buah box itu ke halaman belakang villa.


Diding masih berada di kebun maklum, tanah di belakang villa itu cukup luas. Alex menghampiri Diding.


“Mang! Ini untuk Mamang,” kata Alex sambil menyerahkan sebuah box yang ia bawa.


“Apa ini, Den! Wah, ieu saé pisan (Wah, harum sekali). Masih hangat lagi. Aden masak sendiri?” kata Diding heran.


Ada rasa bahagia di hati Alex saat melihat raut wajah Diding.


Apa ini yang kau rasa, Fey! Saat membahagiakan orang di sekitarmu, batin Alex.


“Mari Mang, kita makan sama-sama. Makanan ini enak di makan saat masih hangat. Kalau tak enak, jangan di makan Mang!” jawab Alex dengan malu-malu.


“Makasih, Den!” tiba-tiba mata Diding berkaca-kaca.


“Kenapa Mang?” tanya Alex.


“Aden sudah banyak berubah ....” jawab Diding.


Memang dulu sikap Alex seperti tuan muda yang sangat sombong.


“Maaf, Mang! Kalau dulu sikapku tak berkenan di hati Mang Diding,” kata Alex.


“Tak apa-apa, Den!” sahut Diding sambil menikmati makanannya.


Tampak di kejauhan ada beberapa anak sedang bermain dan berlari-lari.

__ADS_1


“Mang, di sekitar sini ada villa baru?” tanya Alex.


“Tidak ada! Memang kenapa, Den?” Diding tanya balik.


“Kemarin di teras villa ada seorang anak sedang bermain. Tampaknya bukan warga sini, Mang!” ucap Alex.


“Maksud, Aden?” tanya Diding.


“Anaknya putih bersih kulitnya,” jawab Alex.


“O ... dia!”


“Mamang kenal?” tanya Alex.


“Kenal, anak sini kok, Den! Namanya Tian! Memang hanya dia yang berkulit putih di kampung sini, sampai-sampai di juluki bule,” kata Diding.


“O ... kira'in salah satu pengunjung villa sekitar sini. Mang, aku kembali ke villa mau istirahat dulu!” sahut Alex.


“Ya Den, silakan! Makasih, Den! Sudah di kirim makanan,” kata Diding.


Alex mengangguk.


Alex kembali menuju villa, saat menyusuri jalan menuju villa. Alex melihat anak berkulit putih itu lagi, ia berjalan menuju lapangan, di mana banyak anak-anak bermain di sana.


“Tian!” sapa Alex.


Anak itu berhenti melangkah. Tak seperti hari kemarin, kali ini anak yang di sapa Tian menghampiri Alex.


“Kok, Om tahu namaku?” tanya Tian.


“Tahu!” Jawab Alex.


“Tahu dari mamang yang di tinggal di sana!” jawab Alex sambil menunjuk ke arah sebuah rumah samping kebun sayur.


“Om temannya pak mang, ya!” kata Tian.


Alex mengangguk.


“Kemarin, om panggil! Kok, Tian lari?” tanya Alex.


“Kata mama, Tian tak boleh bicara sama orang yang Tian belum kenal,” jawab Tian.


“Kan, kita juga belum kenal!” kata Alex.


“Tadi Om panggil nama Tian, terus Om juga kenal sama pak mamang,” sahut Tian.


Pintar anak ini, cute lagi! batin Alex.


“Om! Tian pergi main dulu,” kata Tian.


Alex pun mengangguk.


Tanpa basa-basi lagi, Tian langsung berlari ke arah teman-temannya. Alex tersenyum melihat polah Tian yang mengemaskan.


---


Sore itu, Tian baru saja pulang bermain.

__ADS_1


“Tian, ayo mandi! Mau mandi sama mama atau mau mandi sendiri?” tanya Fey.


“Mandi sendiri saja, Ma! Tian sudah besar!” jawab Tian.


“Ya ... jangan lupa gosok ....” kata Fey.


“Seluruh tubuh agar semua daki hilang!” Tian potong kalimat Fey.


Kemudian mereka tertawa bersama.


“Tian ... Tian ... !” kata Fey.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, Tian sudah duduk manis di ruang makan. Mereka pun makan bersama.


“Hari ini Tian ngapa'in aja?” tanya Fey sambil mengambil nasi untuk Tian.


“Main dengan Ivan, Eza terus Dion. Oya ... hari ini Tian bertemu om yang tinggal di vila, teman pak mang,” celoteh Tian.


“O ... ayo, habiskan makanannya. Terus siapkan buku untuk sekolah besok ya, Sayang!” ucap Fey.


“Ya ... Ma!” sahut Tian.


---


Malam pun menjelang, Alex bersiap untuk pergi tidur. Alex menikmati waktu kesendiriannya.


Fey, kini aku tahu maknanya berempati dengan orang sekitar. Melihat mereka senang, di hati ini bahagia, batin Alex.


Alex tahu arti bahagia yang sesungguhnya


Alex tersenyum lalu ia berkata, “Malam Fey dan anakku sayang, tidurlah untuk kalian berdua. Peluk cium, semoga mimpi indah.”


Tak lama, Alex pun tertidur pulas dengan senyum menghias wajah nan tampan.


---


Pagi itu, Fey telah sibuk berkutat di dapur.


“Tian sudah siap, Sayang?” tanya Fey.


“Sudah, Ma!” Jawab Tian yang muncul dengan mengenakan seragam sekolahnya.


“Hati-hati, Sayang!” ucap Fey.


“Dah, Mama!” balas Tian sambil mengecup bibir Fey.


“Dah, Sayang!” Fey melambaikan tangan kepada malaikat kecilnya yang kini sudah menjelma menjadi jagoan kecil.


Sekolah Tian tak jauh dari rumah, setiap pulang dan pergi sekolah Tian bersama teman-temannya berjalan kaki.


Setelah Tian berangkat sekolah, Fey bergegas menuju pondok untuk jualan bubur ayam seperti biasanya. Semenjak Tian sekolah, Fey hanya jualan hingga tengah hari.


---


Pagi ini, Alex masih terbaring di peraduannya. Ia masih ingin menikmati masa-masa liburnya di atas bed. Setelah mentari mulai meninggi, Alex mulai bersiap diri menuju kamar mandi. Hari ini Alex berencana pergi jalan-jalan di sekitar puncak.


Alex pun meluncur di area perbukitan tempat pengambilan foto prewedding di sana. Alex berdiri tepat di mana ia pernah berdiri memeluk Fey dan memandang masa depan mereka di sana. Air mata Alex mengalir di pipinya, dadanya merasa sesak. Alex segera mengatur napasnya kembali.

__ADS_1


Lama Alex berdiri di sana memandang ke hamparan pepohonan di perbukitan seolah-olah mencari Fey di antara rimbunnya pepohonan di area perbukitan.


__ADS_2