Cinta Fey

Cinta Fey
Reuni


__ADS_3

Pagi itu Udin sekuriti rumah Candra membawa sebuah undangan.


“Apa itu, Din?” tanya Anna.


“Undangan, Nyonya” jawab Udin.


Udin menyerahkan sepucuk undangan. Anna segera membuka dan membaca isi undangan.


Tara menghampiri Anna yang tampak serius.


“Apa itu, Ma?” tanya Tara.


“Undangan,” jawab Anna.


“Undangan apa?” tanya Tara lagi.


“Undangan reuni SMA-nya Alex,” jawab Anna.


“Apa!” pekik Tara.


Tara langsung merebut undangan itu dan membacanya.


“Eh! Ini anak! Mama lagi baca, main rebut saja,” ujar Anna.


“Ma! Kalau ini undangan reuni SMA–nya Alex pasti ada Sandra di sana,” jelas Tara.


Alex dan Sandra jebolan sekolah SMA yang sama. Sebagai alumni pasti Sandra hadir di sana.


“O ... iya, mama tidak sadar. Untung kau mengingatkan, kalau tidak Alex bisa tahu!”


Anna mengelus dada namun tak lama.


“Tahu apa!” ujar Alex sudah ada di situ.


Anna dan Tara terkejut di buatnya.


“Bukan apa-apa,” kata Tara.


Tara berusaha menyembunyikan undangan itu di balik punggungnya. Alex melihatnya.


“Apa itu ... Ra! Itu pasti untukku, kan! Sini, berikan padaku!” Tangan Alex berusaha meraih, namun Tara menjauh.


“Sini, Ra! Sebaiknya berikan padaku,” ucap Alex kesal.


”Kau tak usah perdulikan ini!” kata Tara.


Tara makin menjauhi Alex hingga membuat Alex makin marah.


“Ra, kau!” teriak Alex kian keras.


Alex mengangkat pantatnya dengan tangan berpegang lengan kursi rodanya. Ia mulai melangkah kakinya untuk yang pertama kali dari kursi rodanya. Selangkah demi selangkah dengan susah payah ia melangkah. Bulir-bulir keringat mengucur deras di tubuhnya namun tak ia menghiraukan.


Tara tertegun, terpaku di sana hingga Alex tiba di hadapannya. Alex merebut undangan di tangannya. Tapi bukan itu yang Tara perhatikan. Ia melihat Alex yang berdiri di kaki sendiri. Anna membekap mulutnya, ingin teriak gembira namun ia takut mengejutkan Alex.


Alex membuka undangan itu, ia baca huruf yang berderet disana, kata demi kata.


“Aku akan datang! Walau kau ada di sana!” Alex dengan suara bergetar.


“Lex, kau!” kata Tara dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Alex menatap dirinya dan melihat kursi rodanya berada dua meter di belakangnya.


“Ma! Alex bisa jalan!” ucap Alex.


“Iya, Sayang!” Anna menangis bahagia.


Anna memeluk Alex dengan air mata bahagia.


Tara tersenyum melihat Alex berdiri dan berjalan.


“Lex! Sebaiknya kau duduk dulu, jangan terlalu di forsir.”


Tara mendorong kursi roda mendekati Alex.


“Ya, Lex! Sebaiknya kau istirahat dulu,” kata Anna.


“Ma, Alex akan datang ke reuni itu. Oya ... jangan beritahu Fey kalau Alex bisa jalan. Alex yang akan menyampaikan sendiri pada Fey!” ujar Alex.


“Iya, Lex!” ujar Anna.


Kini kebahagiaan menyelimuti keluarga Candra dengan kabar baik dari Alex.


---


Setelah kemarin Alex bisa berjalan. Hari ini Alex akan menjalani serangkaian tes di temani pak Mul supir pribadi dan hasilnya bagus.


“Tak ada yang perlu dikhawatirkan, semua baik-baik saja,” ucap dr. Roy.


“Makasih banyak, Om!” kata Alex.


---


“Pak Mul pulang pakai taksi, ini ongkosnya! Mobil mau aku bawa,” kata Alex sambil menyerahkan uang.


“Pak Mul bilang saja, kalau aku pergi dengan Fey,” jawab Alex santai.


Mul mengangguk.


---


Selama perjalanan pikiran sudah kemana-mana.


Enaknya kemana, ya! Apa aku harus ke rumah Sandra, agar ia terkejut. Ahh ... tidak ... tidak, biar surprise bertemu di reuni saja atau ...


---


Fey baru saja tiba di halaman kampus, sebuah mobil mewah membunyikan klakson berkali-kali hingga tak hanya Fey tapi orang-orang yang berada di sana dibuat terkejut. Semua mata tertuju pada mobil mewah berwarna hitam.


Bukankah itu mobil mama Anna, batin Fey.


Merasa mengenali pemilik mobil, Fey mendekati mobil itu. Namun langkah Fey terhenti oleh sosok yang turun dari mobil tersebut.


Fey terbelalak, ia melihat sosok tampan rupawan turun.


Alex! batin Fey.


Sosok itu tidak lain Alex, Fey terpana di sana. Fey mematung dengan mulut mengangga, bukan karena ketampanan Alex tapi karena kaki Alex.


Orang-orang di sekitar Fey di buat terkesima dengan ketampanan Alex yang menghampiri Fey. Membuat para gadis yang ada di sana di buat baper. Alex menghampiri Fey dan ia berbisik.

__ADS_1


“Kau terlihat jelek dengan mulut mengangga begitu?”


“Eh ....” Fey tersadar.


Fey segera menutup mulutnya dan menelan salivanya. Masih percaya tak percaya Alex kembali menggoda Fey. Alex menarik pinggang Fey dan mencium pipi Fey dan kembali berbisik.


“Kita pergi, Sayang!” ucap Alex.


Alex mengenggam hangat tangan Fey dan membimbing Fey menuju mobil. Alex membukakan pintu untuk Fey. Fey seperti kena sihir, ia hanya bisa mematung.


“Masuk ... Sayang!”


Lagi-lagi Alex berbisik namun kali ini dengan sedikit ada tiupan dari nafas Alex.


“Eh ... ya!” kata Fey tergagap.


Fey segera masuk mobil demikian pula dengan Alex. Melihat tampang lucu Fey membuat Alex semakin senang. Wajah Alex mendekati wajah Fey kembali, Fey menahan nafas dan memejamkan matanya. Fey dapat merasakan hembusan nafas Alex menerpa wajahnya.


Dia mau apa di depan wajahku ...


“Mengapa kau memejamkan mata? Aku hanya memasangkan seat belt. Polos-polos mesum juga pikiranmu,” ucap Alex dingin.


Dalam hati Alex tertawa melihat ekspresi Fey yang naik turun. Sebentar pucat, sebentar memerah.


Mobil pun meluncur keluar kampus, diiringi puluhan pasang mata yang melihat.


Kali ini apalagi, ia bertingkah sangat manis tapi itu membuatku lebih takut.


Keduanya kini saling diam selama perjalanan, rasa canggung menyergap keduanya. Ada pertanyaan yang menggelitik Fey. Dengan mengumpulkan sedikit keberanian Fey bertanya.


“Kapan kau mulai bisa jalan?” tanya Fey.


“Kemarin!” Alex tanpa ekspresi.


Seharusnya kau langsung memberitahuku ... tapi siapa aku bagimu. Mungkin aku lebih tepat di sebut calon isteri paksaan tanpa kertas kontrak bagimu.


Pikiran Fey yang entah kemana tersadar setelah mobil Alex berhenti di sebuah butik ternama.


Alex turun dan membukakan kembali pintu mobil untuk Fey. Alex mengulurkan tangan.


Apa ini ...


Namun Fey tetap menyambut tangan Alex dan Alex menggenggam kembali tangan Fey.


Mereka jalan beriringan memasuki pintu butik, setelah orang karyawati membuka pintu untuk mereka. Seorang wanita dengan name tag jabatan manager butik menyambut mereka.


“Selamat datang, Tuan Alex.”


Dengan segera seorang karyawati menutup pintu dan memasang stiker close. Tampaknya Alex seorang pelanggan VIP butik tersebut.


“Carikan beberapa pakaian model terbaru dan pilihkan satu gaun pesta untuk nona ini,” ucap Alex.


“Pesta apa, Lex?”


Alex tak menjawab.


Seorang karyawati keluar membawa satu deret pakaian berbagai model dan warna. Alex melepaskan genggaman tangan Fey dan mempersilakan Fey mencoba.


“Mari Nona, ikut saya!”

__ADS_1


Fey menurut seperti anak ******, ia masuk ruangan penuh kaca dan tirai di tutup.


Alex menunggu duduk di sofa besar menghadap tirai di mana Fey mencoba pakaian-pakaian itu.


__ADS_2