
“Lex, aku mau bicara!” kata Fey sambil mengandeng tangan Alex menuju sofa.
“Lex! Hari ini aku akan memberitahu Tian tentang kau,” kata Fey.
“Secepat itu?” tanya Alex.
“Mengapa? Kau tidak mau?” tanya Fey.
“Hm ... a–aku enggak tahu harus bagaimana. Aku ....” jawab Alex gugup.
“Untuk menjadi seorang ayah itu tak ada sekolahnya. Aku dulu juga merasa canggung, sama seperti dirimu,” kata Fey.
“Naluri seorang ayah akan muncul kalau di lakukan dengan ini!” kata Fey lagi sambil menunjuk dada Alex.
“Ok, I can do it!” kata Alex memberi semangat pada diri sendiri sambil mengepalkan tangannya di ayun ke bawah.
Fey tertawa geli melihat tingkah Alex yang seperti cuaca dari canggung jadi berapi-api. Saat Fey beranjak dari tempat duduknya, Alex menarik Fey hingga Fey kembali terjatuh di pangkuan Alex.
“Fey, aku sangat rindu padamu!” kata Alex.
“Nanti ada yang lihat!” sahut Fey sambil meronta.
Melihat Fey yang meronta-ronta, membuat sifat usil Alex muncul. Alex mengelitik pinggang Fey hingga Fey semakin meronta dan tertawa geli.
“Sudah, Lex! Hentikan!” ucap Fey yang tertawa hingga terkulai lemas bersandar pada sofa.
Alex mencium bibir Fey.
“Bibirmu masih manis seperti dulu, Sayang!” kata Alex.
“Manis mana dengan wanita itu?” tanya Fey.
“Wanita yang mana?” Alex tanya balik.
“Wanita yang itu, tuh!” goda Fey.
“Hm ... kau sekarang nakal, ya! Awas kau!” balas Alex.
“Awas apa?” tanya Fey.
Alex mendekatkan wajahnya pada wajah Fey. Fey memejamkan matanya rapat-rapat.
“Hm ... rupanya kau minta, aku melakukannya di sini!” kata Alex.
Bagai tersengat listrik, Fey segera beranjak menjauh dari Alex.
“Aku harus membangunkan Tian karena hari ini, Tian akan melakukan beberapa tes!” kata Fey sambil mengibas-ibaskan tangan ke wajahnya yang merah merona.
Kau masih saja seperti dulu, Itu salah satu yang kurindu darimu, batin Alex.
Setelah Tian menjalani serangkaian tes dan hasilnya sangat melegakan. Hanya tinggal pemulihan pasca operasi.
“Kapan Tian pulang, Ma?” kata Tian.
“Tian akan pulang beberapa hari lagi, Kenapa?” tanya Fey sambil menghampiri Tian.
“Di sini Tian bosan!” jawab Tian.
“Sabar ya, Sayang!” kata Fey sambil mencium kening Tian.
__ADS_1
Tian mengangguk.
Fey memegang tangan Tian dan berkata, “Tian ... mama mau kasih tahu tentang papa Tian.”
Tian menatap Fey, menanti apa yang akan di ucapkan wanita yang telah mengantar dirinya ke dunia ini. Alex menghampiri Fey, ia berdiri di samping wanita yang kini telah menjadi ibu dari anaknya.
“Tian ... sebelumnya mama minta maaf. Mama tak bisa jelaskan sekarang, mengapa Tian berpisah dengan papa. Nanti setelah Tian dewasa, mama akan kasih tahu Tian,” ucap Fey.
Tian mengangguk.
“Tian, ini papa Tian,” kata Fey sambil menumpangkan tangan Tian di atas tangan Alex.
Kini mata Tian menatap Alex dengan raut wajah bingung.
“Om Vila? Papa Tian?” tanya Tian.
Fey mengangguk.
“Tian masih ingat foto papa yang mama tunjukkan pada Tian?" tanya Fey.
Tian mengangguk.
“Tian lihat sama dengan Om Vila. Waktu itu Tian mau tanya sama Om Vila tapi Om Vila sudah pergi” jawab Tian.
“O ... Tian! Papa minta maaf!” kata Alex dengan mata berkaca-kaca dan tak terbendung lagi.
Tian mengusap air mata yang mengalir di pipi Alex.
“Tian, papa boleh peluk Tian?” tanya Alex.
Tian mengangguk dan membuka kedua tangannya lebar-lebar. Alex menyambut pelukan Tian. Alex menangis kemudian Tian menepuk-nepuk punggung Alex.
“Jangan menangis, Pa!” kata Tian.
“Apa, Sayang! Katakan sekali lagi?” tanya Alex.
“Jangan menangis lagi, Pa!” kata Tian sambil menghapus air mata Alex yang masih mengalir.
“O ... Sayang,” sahut Alex sambil mencium kepala Tian dengan lembut.
Keduanya berpelukan sangat lama seperti ingin menghapus kerinduan setelah bertahun-tahun tak bertemu. Fey bahagia hingga menitikkan air mata, melihat kedua pria yang paling ia cintai saling berpelukan.
Alex merentangkan tangan kepada Fey, Fey menyambut tangan Alex dan ketiganya saling berpelukan.
Seharian ini Tian tak mau jauh dari Alex. Fey merasa di abaikan, ia pergi keluar kamar mencari udara segar.
Kamar rawat Tian menghadap taman penuh bunga warna-warni. Fey menuju sebuah kursi panjang di tengah taman sekitar kolam ikan, ia duduk sambil menikmati suasana sore itu.
Fey memejamkan mata, menikmati suara gemericik air kolam ikan membuat hatinya tenang.
Tio menuju kamar Tian, saat melihat Fey seorang diri di tengah taman. Tio menghampiri Fey di sana. Tio duduk di samping Fey dengan sangat berlahan agar tak menganggu Fey yang sedang terpejam.
“O ... kau!” sapa Fey.
“Mengapa kau sendiri di sini?” tanya Tio.
“Aku di cuek'in mereka berdua,” kata Fey.
“Karena itu kau menyendiri di sini,” sahut Tio.
__ADS_1
Fey mengangguk.
“Aku biarkan Alex melakukan quality time bersama Tian,” kata Fey.
“Tian sudah tahu, Alex ayah biologisnya?” tanya Tio.
“Sudah, baru saja aku beritahu Tian,” jawab Fey.
“Baguslah!” kata Tio.
“Iyo, aku belum cerita tentang kita pada Alex,” kata Fey.
“Aku sudah cerita,” sahut yg Tio.
“Lalu?” tanya Fey.
“Alex tak mempermasalahkan, cuma aku terkejut waktu Alex cerita awal perkawinan kalian yang tak berjalan lancar,” jawab Tio.
“O ....” kata Fey singkat.
“Fey ... hiduplah bahagia, jangan selalu membahagiakan orang lain. Ini saatnya kau cari kebahagiaan untuk dirimu,” ucap Tio.
“Aku selama ini bahagia melihat orang lain bahagia terutama orang-orang yang aku cintai termasuk kau dan Tara. Aku ingin kalian bahagia,” sahut Fey.
“Kau ini, selalu saja begitu,” ujar Tio.
“Tumbuh sebagai anak tunggal, aku menganggap Tara seperti saudara kandung walau aku mengenal Tara saat baru awal kuliah,” sahut Fey.
Alex menghampiri Fey dan Tio berada.
“Hai, Iyo! Kapan datang?” tanya Alex.
“Belum lama!” jawab Tio.
“Tian sedang apa?” tanya Fey.
“Tidur ...!” jawab Alex sambil duduk di samping Fey.
“Dia sangat cerewet, aku sampai kewalahan menjawab pertanyaan dia. Kita berdua tak banyak bicara, dia meniru siapa?” tanya Alex sambil menatap Tio.
“Mengapa kau melihatku? Kan, kau ayahnya. Kalau kau merasa orang pendiam. Kau belum tinggal serumah kembali dengan Fey lagi. Selama ia tinggal bersamaku, ia sangat cerewet kaya emak-emak rempong!” kata Tio.
Fey membelalakkan matanya.
“Apa benar Fey, yang Tio katakan?” tanya Alex.
“Enggak, Iyo bohong!” jawab Fey.
“Terus kau nuduh aku yang menurunkan sifat cerewet pada Tian. Andil aja enggak!” Tio terus nyerocos.
“Kau ...!” kata Fey sambil membelalakkan matanya.
“Kau, lihat saja nanti,” kata Tio sambil tersenyum.
---
Alex terlibat perdebatan seru dengan Tara di ruang tengah.
“Ra ... please!” kata Alex.
__ADS_1
“Huh! Main gusur seenaknya!” sahut Tara.
“Apa yang kalian ributkan! Malu ahh ... sudah dewasa tetap saja kelakuan kaya anak kecil!” ujar Anna.