
Di ruang tengah rasa canggung menyergap keluarga Sony walau duduk satu meja namun ketiganya larut dengan pikiran masing-masing.
“Pa ... Ma, Fey mau bicara.” Fey buka suara.
“Fey, kalau bahas Alex. Sebaiknya kau urungkan.” Amanda mengelak.
Amanda tahu betul watak Fey. Walau lembut jika memiliki keinginan, ia akan bersikeras menperjuangkan.
“Kita dengar dulu apa yang ingin Fey katakan.” Sony menengahi.
“Ma ... Pa, Fey sudah mencintai Alex dari dulu. Tahu Alex kakak Tara, muncul harapan di hati Fey. Namun Fey tak tahu Alex memiliki kekasih. Hingga membuat mereka bertengkar dan terjadi kecelakaan itu. Fey ingin bertanggung jawab dan menebus kesalahan karena telah membuat Alex seperti itu. Biarkan Fey merawat orang yang Fey cintai. Bahagia atau tidak Fey akan menelannya. Please!” pinta Fey.
“O ... Sayang! Kenapa kau keras kepala.”
Tangis Amanda pecah, ia tak bisa bicara apa-apa lagi.
“Kalau Fey seperti Alex, pasti Mama ingin Fey bahagia dan melakukan yang terbaik buat Fey,” ujar Fey.
Sony merasa keputusan Fey telah bulat. Sony akhirnya mengangguk.
“Fey! Pastikan kau bahagia,” ucap Sony.
“Pa ....!” Amanda kecewa.
“Ma ... benar kata Fey. Fey tetap mau menerima Alex dengan segala kekurangan pasti Tuhan kasih Fey yang terbaik.”
Amanda kian menangis saat mengiyakan keinginan Fey.
“Makasih Ma ... Pa! Fey pasti bahagia,” ucap Fey.
Sony dan Amanda memeluk anak semata wayangnya dengan derai air mata.
---
Fey menemui Anna untuk memberi jawaban atas permintaan Alex. Setelah Fey mengatakan ‘Ya’ Anna menangis bahagia.
“O ... Sayang! Tante, bukan-bukan mama. Panggil aku, mama! Mama akan memperlakukanmu dengan baik. Kau anugerah terbesar bagi keluarga kami. Kapan mama dapat menemui kedua orangtuamu?” Anna terharu.
“Terserah Mama saja,” kata Fey malu-malu.
“Baik! nanti mama minta no HP Amanda. Biar mama buat janji. Ayo sekarang! kau ikut mama pulang dan temui Alex!” ucap Anna.
“Apa! Ma ... aku ... aku ...,” Fey tergagap-gagap.
Aduh! Bagaimana ini. Aku belum siap bertemu Alex sekarang.
Anna tak perduli apa yang dirasakan Fey, ia langsung mengenggam tangan calon menantunya dengan erat-erat serasa takut kehilangan.
---
“Lex ... lihat! Siapa yang mama bawa?” tanya Anna.
Alex muncul dari ruang tengah menggunakan kursi rodanya.
Fey menunduk, ia tak memiliki keberanian menatap Alex.
“O ... kau!” kata Alex dingin.
“Fey! Mama tinggal, ya! Silakan kalian ngobrol,” kata Anna.
“T–ta–tapi Ma....”
“Kita bicara di kamarku,” potong Alex.
Tanpa menunggu jawaban Fey, tangan Alex langsung mengayuh kursi rodanya menuju kamar. Mau tak mau Fey mengekor Alex menuju kamarnya.
“Tutup pintunya,” kata Alex.
“A–apa!”
“Tutup pintunya!” suara Alex lebih keras.
__ADS_1
“Tapi kita bukan ....” Fey tak melanjutkan kata-katanya.
“Suami istri, maksudmu?” Alex cuek.
Alex seperti tahu apa yang di otak Fey saat hanya berdua dan pintu kamar di tutup.
“Kolot!” Alex komentar dingin.
Fey menekuk wajahnya saat di sebut ‘kolot’ oleh Alex.
Tanpa bertanya lagi, Fey langsung melaksanakan permintaan Alex. Fey mengikuti Alex yang berada di teras kamar.
“Aku ingin kita secepatnya menikah!” kata Alex dingin.
“Maaf, Kak! Aku masih kuliah, baru semes ....”
“Hentikan kuliahmu! Aku sanggup menghidupimu dengan keadaan fisikku seperti ini. Satu lagi! Jangan panggil aku, kakak. Apa kau pikir, aku nikahi adikku!” potong Alex.
“Akan aku pikirkan ... Ka ... Lex,” kata Fey hampir kelepasan.
“Tak usah, kau pikir lagi! Aku ingin kau selesaikan semester ini. Semakin cepat semakin baik. Aku tak suka menunggu!”
Semester ini? Tidak! itu tiga bulan lagi,
secepat itu. Secepat itukah kau ingin menghukumku, membenciku dalam ikatan perkawinan. Kau bagai monster bagiku sekarang. Mana Alex yang dulu sangat manis? batin Fey.
Alex merogoh kantong bajunya, ia mengeluarkan ponsel dari sana.
“Kau tulis no HP-mu di sini!” perintah Alex.
Seperti kerbau di cocok hidungnya, Fey segera menulis no ponselnya di kontak ponsel Alex.
“Setiap hari kau harus kemari. Aku ingin mengenal seperti apa, wanita yang akan aku nikahi,” kata Alex.
Setiap hari! Apa yang aku lakukan di sini setiap hari ...
---
“Kami sebenarnya sangat terkejut namun Fey menyakinkan kami. Kami sebagai orang tua hanya bisa menuruti kemauan anak,” balas Amanda.
“Percayalah, kami akan memperlakukan Fey dengan baik seperti anak kami sendiri” ujar Anna.
“Terimakasih banyak,” kata Amanda menangis haru
---
“Ngapain pagi-pagi, kau kemari?” tanya Tara.
“Di suruh Alex kemari setiap hari!” jawab Fey.
“Tapi enggak pagi-pagi begini, Non! Dia juga belum bangun, apalagi ini weekend,” kata Tara.
“Kau ikut aku saja!” ajak Tara.
“Kemana?”
“Ke kamarku.”
Tanpa basa-basi, Tara langsung menarik tangan Fey menuju kamarnya.
Mereka bercerita ke sana kemari seperti biasa. Tak lama ponsel Fey berdering, Fey melihat layar ponselnya.
“Alex ... Ra!” kata Fey.
“Halo ....”
“Kapan kau kemari?”
“A–aku sudah di sini sejak jam 8 pagi.”
“Kau ke kamarku, sekarang!”
__ADS_1
“Ya.”
Fey menutup ponselnya.
“Ra, aku pergi dulu!” kata Fey.
Tara mengangguk.
---
Fey sudah berdiri di depan pintu kamar Alex, ia mengetuk pintu.
“Masuk!” suara Alex dari dalam kamar.
Fey segera masuk, tampak Alex masih di peraduannya.
“Bukankah aku menyuruh mu kemari untuk menemuiku. Mengapa kau temui Ara!”
“A–aku ....!”
“Duduk!” potong Alex.
Fey merasa sesak di dada, ia hanya bisa menuruti kata-kata Alex segera duduk tanpa di suruh dua kali.
“Kenapa kau duduk di sana?” tanya Alex.
“Bukankah, kau menyuruhku duduk!” Fey sedikit kesal.
“Ya, tapi tidak duduk jauh di sana. Duduklah di sini.” pinta Alex.
Alex menepuk ranjangnya tepat di sebelah Alex duduk.
Fey menggeleng.
“Kenapa? Takut aku perkosa!”
Fey menggeleng.
“Lalu apa?” tanya Alex.
“Kalau marah, kau menakutkan!” Fey beralasan.
Masih jelas di mata Fey, luapan kemarahan Alex limpahkan pada dirinya saat di rumah sakit.
“Justru kau lebih takut aku marah daripada aku perkosa.” Alex dengan raut wajah aneh karena menahan tawa.
“Bukan itu! Tapi kau kalau marah mengerikan!”
“Duduk sini!” Alex perintah kedua kalinya.
Tanpa menawar lagi, Fey memberanikan diri duduk di samping Alex. Napasnya tertahan, seolah-olah ia bernapas di samping hewan buas.
“Apa hubunganmu dengan Toni?” tanya Alex.
“Eh ... itu. Hm ... hanya teman.” Fey gugup.
“Sudah punya pacar?”
Fey menggeleng.
“Pernah pacaran,”
Fey menggeleng.
Hai ... apa ini! Interogasi. batin Fey.
Alex menatap tajam membuat Fey menunduk. Wajah Alex mendekati wajah Fey. Fey menutup matanya. Alex mengamati wajah Fey lalu menjauh.
“Mulai sekarang jangan pernah ada pria lain selain aku, tak terkecuali Toni.” Alex tegas.
“Hah!” Fey tercengang.
__ADS_1
“Kok! Hah!” Alex kian ketus.