
Tara terlahir dari seorang CEO One comporation yang bernama Candra Wijaya dan Anna Karenina seorang sosialita. Tara memiliki saudara laki-laki bernama Alexander Wijaya biasa di panggil Alex berusia 23 tahun.
Hm ... aku haus.
Tara keluar kamar untuk mengambil segelas air. Sambil meneguk air dalam gelas, ia melirik jam dinding di ruang tengah saat mendengar suara mobil Alex.
Tumben, jam segini pulang.
Hari ini Alex pulang sekitar pukul 9 malam, itu terbilang sore. Alex biasa pulang lebih larut. Setelah minum Tara segera kembali ke kamar, ia segan ketemu Alex. Namun ia terlambat.
“Tadi siang enggak jadi makan di resto favoritmu?” Alex melirik Tara.
Tara terkejut, ia tak mengira Alex melihatnya di sana. Ia sudah berusaha secepat kilat meninggalkan resto. Mengingat itu semua hanya membuat Tara semakin kesal. Gara-gara Alex, ia tak bisa menikmati makanan kesukaanya.
“Malas lihat kau di sana!” Tara menggerutu.
“Kau ini!” Alex meninggikan suaranya.
“Hai! Ada apa dengan kalian berdua?” tanya Anna.
Anna segera menghampiri kedua anaknya yang saling bersitegang. Walau usianya mendekati setengah abad, Anna masih terlihat anggun.
“Enggak ada apa-apa, Ma! Cuma Alex lagi baper,” ucap Tara. “sudah ahh, Ara mau tidur!”
Tara segera bergegas menyingkir menuju kamar sebelum terjadi perang dunia ketiga.
Seharusnya aku bisa menahan rasa hausku hingga aku tak perlu melihat wajahnya, ini membuat ku muak! maki Tara.
“Tuh ... Mama lihat sendiri, kan!” Alex merajuk.
“Sudah ... Lex! Tara seperti itu ... pasti ada sebabnya. Dari mana, kamu?” tanya Anna.
“Habis pergi dengan Sandra,” jawab Alex.
“Lex, kau sudah menyelesaikan kuliahmu. Kapan kau akan bantu papa di perusahaan?” tanya Anna.
“Nanti Ma! Setelah kami menikah. Alex pasti bantu papa di perusahaan,” jawab Alex.
Anna terkejut, ia tak menyangka Alex akan bicara seperti itu.
“Apa secepat itu kalian akan menikah?” tanya Anna.
“Kenapa, Ma! Mama tak mau, Alex menikah?” Alex balik bertanya.
“Bukan begitu, Lex! Menikah bukan hal main-main. Apalagi Sandra ....”
“Ada apa dengan Sandra?” desak Alex.
__ADS_1
“Mama rasa Sandra belum tentu mau menikah secepat itu,” kata Anna.
“Tidak, Ma! Sandra pasti mau. Kami sudah menjalin hubungan cukup lama, jadi tidak ada alasan bagi kami untuk tidak menikah dalam waktu dekat,” ujar Alex. “Ma! Alex lelah, Alex mau istirahat.”
Anna hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Alex tiap disinggung tentang Sandra selalu menghindar. Anna beranjak menuju kamar Tara.
“Tara, ini mama. Sudah tidur Say ....”
Tara membuka pintu kamarnya, Anna pun segera masuk kamar Tara. Anna melihat Tara sedang bersungut-sungut di atas ranjang.
“Sayang, kau masih kesal dengan Alex?” tanya Anna.
“Ya, Ara kesal pada Alex dan Sandra yang pamer kemesraan di depan umum. Kan, Ara malu! Bagaimana kalau Fey tahu, Ara punya kakak seperti itu.” Tara menunduk.
“Mama juga tidak setuju saat Alex bilang, ‘akan menikahi Sandra’ feeling mama mengatakan ia bukan wanita yang tepat untuk Alex. Tapi mama bisa apa? Mama bukan tipe orang kolot, menentang kemauan anak.
“Mereka berkenalan dan jatuh cinta sendiri dan secara kebetulan Sandra anak kolega papamu. Dari segi manapun Sandra calon menantu ideal,” kata Anna.
Mata Anna berkaca-kaca, seakan-akan ia tak rela anak lelaki satu-satunya mendapat pendamping hidup seperti Sandra yang hanya suka hura-hura. Tara dapat merasakan apa yang Anna rasakan.
“Sudah, Ma! Sebaiknya mama istirahat.” Tara mengelus pundak wanita yang mengantarnya ke dunia ini, agar tenang.
---
“Astaga ... Fey! Semalam kamu enggak tidur!” teriak Tara.
“A–a–apa terlihat jelas, Ra?” tanya Fey tergagap.
Aku enggak mungkin bicara, tak bisa tidur semalaman gara-gara cowok. Yang ada, aku malah di interogasi atau ditertawakan Tara.
“Ahh ... hanya kerjakan tugas kuliah, kok Ra,” jawab Fey.
“O ... begitu! Fey ... aku mau ke perpus dulu, ya! Ada yang mau aku cari di sana. Biasa tugas mister killer!” Tara mengerakkan tangan potong leher.
Fey hanya mengangguk.
Aduh ... bayangan cowok ini bikin aku, merasa sakit tapi aku tidak tahu obatnya.
---
“Sore, Pa!” Fey mencium kedua pipi Sony.
“Tumben, kesayangan papa kemari?” Sony berseloroh.
“Aduh ... di sindir, nih! Maaf, Pa! Kalau Fey jarang ke resto semenjak kuliah.” Sesal Fey.
“Sayang, papa hanya bercanda, kok! Justru papa marah jika kamu melalaikan tugas belajarmu, gara-gara bantu papa,” kata Sony.
__ADS_1
kring ... kring.
“Sebentar, Sayang! Papa angkat telepon dulu,” kata Sony.
Fey melihat-lihat resto yang sudah puluhan tahun di kelola Sony.
“Sayang! Kau tunggu di sini sebentar, papa mau antar pesanan,” ucap Sony.
“Kak Toni, kemana? Hingga Papa yang harus antar?” tanya Fey.
“Toni baru saja pergi,” jawab Sony. “sudahlah! Nanti keburu dingin, papa pergi—”
“Biar Fey yang antar, Pa!” potong Fey.
“Kamu bisa?” tanya Sony.
“Bisa Pa! Pasti sampai asal alamat jelas. Kan, bisa pakai aplikasi,” jawab Fey sambil senyum-senyum.
“Ya ... hati-hati! Ini alamat dan kunci motornya!" ujar Sony.
Fey membaca alamat yang Sony tulis dan tak lupa ia memasukkan alamat tersebut dalam aplikasi. Tiba di tempat tujuan, Fey di buat terpana dengan kemegahan rumah tersebut. Pagar besi tinggi dan kokoh, halaman luas dan rumah bagai istana berdiri megah di sana.
Hm ... besar sekali ini, 10 kali lipat luas rumahku.
Rumah megah itu membuat Fey lupa tujuan utama ke rumah tersebut hingga seorang sekuriti menghampiri.
“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya Udin, nama sekuriti rumah mewah itu.
“Maaf, Pak! Apa benar ini rumah pak Candra Wijaya?” tanya Fey.
“Benar Nona,” jawab Udin.
“Saya mau mengantar pesanan pak Candra,” ujar Fey.
“Oya, sebentar saya panggil bibi,” sahut Udin.
Udin menghubungi seorang melalui intercom. Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah mewah dan menghampiri Fey, wanita itu baru saja berdiri di hadapan Fey. Sebuah mobil sport warna merah berhenti tepat di samping kami, kaca mobil itu terbuka, nampaklah si pengendara mobil sport.
Di–di–dia ... cowok rupawan itu. Ya, Tuhan! apa dia pemilik rumah ini.
Tatapan mata Fey tak berkedip sedikit pun dan kaki Fey gemetar dengan pertemuan tak terduga ini.
Aduh! Jantungku melonjak dalam rongga dadaku, nafasku sesak dan wajahku terasa panas. Apa ini serangan jantung? batin Fey.
“Bi, mama sudah pulang?” Terdengar suara berat keluar dari bibir tipisnya.
“Belum, Den,” sahut Nah.
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban, tanpa basa basi lagi dia langsung menutup kaca mobil dan melesat membelah jalanan.
“Maaf Non, jadi nunggu lama. Wajah Non, kok pucat?” tanya Nah.