Cinta Fey

Cinta Fey
Awal Petaka


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan Sandra tinggal di rumah Candra. Saat weekend seperti ini, seluruh anggota keluarga Candra berkumpul di rumah kecuali Alex. Ia bersiap pergi ke suatu tempat.


“Lex, jangan pergi! Atau aku ikut!” rengek Sandra.


“Terserah! Mau ikut, ya silakan! Tapi nanti jangan bikin ribut. Kami mau pergi mancing!” kata Alex.


“Apa mancing!” teriak Sandra.


“Ya, mancing! Kau kira kami mau ke mall, mau shopping!” ucap Alex.


Sandra terdiam, ia membayangkan.


Tempat berlumpur, panas, dan cacing ... hi ....


Tubuh Sandra mengeliat.


“Hm ... aku enggak jadi ikut, Lex!” sahut Sandra.


Alex tersenyum puas.


---


Sandra datang-datang langsung banting barang di depan Danu. Bagi Danu sudah terbiasa Sandra berlaku demikian.


“Ada apa, Sayang? Pagi-pagi sudah marah-marah, nanti cepat tua,” kata Danu.


“Biasa, Pa! Alex, bikin Sandra kesal!” Sandra mengadu.


“San, belajar sabar. Walau baru bertemu sekali, papa lihat Fey orangnya lemah lembut. Kalau kau bisa sedikit lembut, Alex pasti luluh. Batu yang keras pun akan hancur kena tetes air. Jangan keras di lawan keras,” ucap Danu.


“Sandra akan berusaha, Pa!” sahut Sandra.


“Berusaha dekati Anna dan Candra, melibatkan keluarga itu penting. Kalau hubunganmu dengan orang tua Alex terjalin baik pasti mereka akan membelamu di depan Alex. Waktu kalian pacaran, kau tak berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan mereka,” kata Danu.


“Sandra pikir, jika kami menikah akan tinggal di luar negeri,” sahut Sandra.


“Itu tak mungkin, San! Alex anak lelaki mereka satu-satunya, ia pasti akan mewarisi perusahaan Candra. Ambil hati orang tuanya, San! Agar mereka mendukungmu,” ucap Danu.


Sandra mengangguk.


“Sandra pulang, Pah” kata Sandra.


“Ya, Sayang. Hati-hati di jalan,” sahut Danu.


---


Hari telah gelap, Alex belum kembali juga, memang mancing di mana? batin Sandra.


“Hm ... aku haus!” guman Sandra.


Sandra keluar kamar, ia mengambil segelas air minum di dapur. Saat Sandra meneguk air, ia melihat Alex telah kembali.


Lho, dia mau kemana? batin Sandra.

__ADS_1


Sandra melihat Alex menuju kamar lain. Ia segera mengekor tanpa Alex sadari.


“Kamar ini!” Sandra mengejutkan Alex.


“Mau apa, kau kemari!” ucap Alex.


“Aku mengikutimu, mengapa kau tak masuk kamar kita? Ini kamar siapa?” tanya Sandra.


“Ini kamarku! Sebaiknya kau keluar!” jawab Alex.


“Kamarmu? Kalau kamarmu artinya kamarku juga. Kenapa kamar ini dominan warna biru? Kau tahu aku suka warna peach,” ucap Sandra.


Sandra melenggang masuk dan merebahkan diri di atas ranjang. Sandra tak tahu, perbuatannya memicu kemarahan Alex.


“Sebaiknya kau keluar sekarang, sebelum aku menyeretmu!” Alex menuding arah pintu.


Alex melangkah mendekati pintu dan membuka pintu kamar lebar-lebar.


“Aku tidak mau!” Suara Sandra kian lantang.


“Jangan sampai aku menyeretmu keluar!”


Suara Alex tak kalah keras hingga Anna dan Tara datang ke kamar.


“Apa yang terjadi?” tanya Anna.


“Ra, tolong seret dia keluar!” kata Alex.


Tara menghampiri Sandra, ia mencengkram lengan Sandra.


Tara bersiap menyeret Sandra dari sana.


“Aku bisa jalan sendiri!” Sandra menghentakkan tangan Tara.


Sandra keluar kamar, ia menuju kamarnya sendiri. Sandra menghempaskan tubuhnya di atas sofa, tangannya mengepal kencang menahan geram.


Jadi selama ini, ia tidur di kamar itu! Pantas aku tak pernah melihat batang hidungnya setiap malam! batin Sandra.


---


Kau yang pilih sendiri jalanmu! Kini aku tak perlu sandiwara lagi di depanmu! batin Alex.


Selama ini Alex selalu pulang larut malam dan berangkat lebih pagi demi menghindari Sandra. Ia selalu pulang dan pergi dari kamar itu.


---


Sejak kejadian semalam Sandra tak keluar kamar. Setelah suasana rumah sepi, Sandra memanggil tukang kunci.


Aku penasaran, ada apa di kamar itu? batin Sandra.


Pintu kamar itu berhasil di buka, Sandra segera menerobos masuk kamar.


Saat masuk, mata Sandra tertuju pada foto pernikahan Alex dan Fey dengan frame besar di atas kepala ranjang.

__ADS_1


Mata Sandra tak berhenti menjelajah tiap sudut kamar hingga laci-laci lemari tak luput dari pandangan mata Sandra.


Dalam laci, Sandra menemukan album foto Alex dan Fey. Alex menyimpan fotonya saat bersama Fey dengan sangat rapi.


Dari mulai foto Pre-wed, foto pernikahan, foto bulan madu dan foto-foto yang Alex ambil sendiri dari ponselnya tersusun rapi dalam album foto.


Di meja rias terpampang foto Alex yang memeluk Fey dari belakang. Foto itu di ambil diam-diam oleh fotografer saat Pre-wed. Alex suka foto tersebut, menurut Alex di foto itu ekspresi mereka berdua sangat natural, ekspresi yang keluar dari hati. Namun bagi Sandra, foto itu sangat menyakitkan hatinya


Kau ... kau! Berani merebut hati Alex dariku.


Ia menggenggam erat bingkai foto itu lalu.


Prak.


Sandra membanting foto itu ke lantai, hingga bingkai foto itu hancur berkeping-keping. Sandra berlari menuju kamarnya dan menangis di sana.


“Kau jahat, Lex!” maki Sandra di sela-sela isak tangisnya.


---


Alex pulang saat menjelang malam. Saat menyentuh gagang pintu.


Mengapa tak terkunci? Aku tak pernah lupa mengunci pintu kamar Fey, batin Alex.


Alex membuka pintu kamar, ia terperangah di buatnya. Seluruh laci lemari terbuka, isi laci telah berhamburan di lantai. Bingkai foto Fey di meja rias telah hancur berkeping-keping di lantai.


Melihat hasil perbuatan Sandra, darah Alex mendidih hingga ke ubun-ubun. Alex bergegas keluar kamar, ia menuju kamar Sandra. Alex langsung merangsek kamar Sandra.


“Hai! Kau sudah gila, ya!” teriak Sandra dari atas sofa.


Bukan jawaban yang Sandra terima. Alex langsung mencengkeram lengan Sandra, ia mengangkat hingga Sandra berdiri di hadapan Alex.


“Aku peringatkan kau, untuk tidak menyentuh barang-barangku di sana. Kalau kau mengabaikan peringatanku ini. Jangan salahkan aku!” Alex mengemetak gigi.


Alex menghempaskan Sandra kembali ke sofa dan pergi meninggalkan Sandra. Tubuh Sandra gemetar, wajahnya pucat pasi.


Walau Sandra tahu Alex akan marah ia tak menyangka reaksi Alex di luar ekspektasi. Alex kembali ke kamar dan memungguti pecahan-pecahan kaca dari bingkai foto.


Sandra mengejar Alex.


“Ini semua karena kau! Jika kau tak memperlakukanku seperti ini. Aku tak akan merusak barang-barang di kamar ini. Kita sudah menikah, kenapa kau tak bisa melupakan dia!” teriak Sandra.


Alex berdiri, ia menghampiri Sandra dengan tatapan mata tajam. Sandra melangkah mundur.


“Bukankah, aku sudah menuruti apa maumu! Kalau kau minta aku melupakan Fey, aku tak bisa! Aku tak akan melupakan Fey sampai kapanpun!” kata Alex.


“Kau memang menuruti kemauanku. Tapi apa kau memenuhi kewajibanmu sebagai suami?” tanya Sandra.


“Ha ... ha ... kau lucu, sangat lucu,” kata Alex.


Alex tertawa terbahak-bahak.


“Kewajiban sebagai suami. Hei! Bukankah kau minta aku menikahimu, bukan mengawinimu!” kata Alex.

__ADS_1


“Kau...!” kata Sandra geram.


__ADS_2