
“Fey ... ayo makan!” ajak Tara dari luar kamar.
Kalau tak lapar, Fey lebih baik memilih di kamar saja daripada bertemu Alex. Mengingat kejadian tadi, Fey jadi malu. Namun perut ini tak mau kompromi seperti genderang perang. Terpaksa Fey keluar dari kamar dan siap-siap pasang wajah tebal. Fey tak tahu kalau Alex juga merasakan hal yang sama.
Mereka menuju ke sebuah resto steak.
Mengapa dari sekian tempat duduk, dia memilih duduk di hadapanku? batin Fey.
Mata keduanya tak berani beradu dan rasa canggung melingkupi keduanya.
“Gimana Lex, HP-mu?” tanya Tara tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat wajah keduanya kembali memanas. Sama-sama mengingat kejadian sore tadi.
Alex menggelengkan kepala.
Fey hanya melirik Alex dari sudut matanya. Fey tak berani melihat Alex secara langsung.
O ... ternyata, tetap tak bisa.
“Sudah beli lagi aja, gitu aja repot!” kata Tara.
Menu yang di nanti tiba, Toni dengan cekatan memotong steak di hadapannya dan meletakkannya di depan Fey. Fey menjadi lebih canggung, Alex melihat semua itu dari sudut matanya.
“Makasih, Kak!” ucap Fey.
“Cie, romantis amat Kak Toni! Fey kapan lagi, sudah jarang stok cowok perhatian begini. Coba kalau Kak Toni suka padaku. Sudah aku sambar, tanpa pikir dua kali!” goda Tara.
Perkataan Tara membuat wajah Fey kian memerah.
“Sudah, jangan goda Fey lagi! Sini steak kamu aku potong-potong,” kata Toni.
“So sweet! Kak Toni enggak tega, lihat Fey di goda. Kak! semangat tapi jangan lama-lama berjuangnya, nanti keburu ada yang nyamber, lho!” ujar Tara.
Toni hanya tersenyum tipis dan Fey tersipu-sipu.
Usai santap malam, mereka kembali ke villa. Tara sudah langsung masuk kamar karena sudah kelelahan. Sedari pagi, ia tak bisa diam.
Alex memilih duduk di teras menghadap ke perbukitan, melihat lampu-lampu dari mobil yang melintas hingga terlihat seperti kunang-kunang dari kejauhan.
“Lex! Kau mau kopi, enggak?” Toni menawarkan.
“Boleh, asal jangan kopi hitam,” ujar Alex.
Toni ke dapur saat Fey melintas di sana. Mata Alex tergelitik melihat Fey.
Mengapa aku tertarik memperhatikan gadis itu, ya! batin Alex.
“Kak Toni, mau buat apa?” tanya Fey.
“Buat kopi” jawab Toni singkat.
“Sini, Fey buat'in!” Fey menawarkan diri.
“Ok ... dua, ya Fey! Jangan kopi hitam, kami tunggu di teras,” kata Toni.
Astaga ... kami! Sama Alex dong! Kenapa aku menawarkan diri, ya! sesal Fey.
Toni kembali ke teras tanpa membawa apa-apa.
__ADS_1
“Lho, mana kopinya?” tanya Alex.
“Lagi di buat'in Fey. Kopi buatan Fey, gini!” Toni angkat jempol seperti iklan.
Tak lama Fey muncul membawa nampan berisi dua cangkir kopi.
“Ini kak, kopinya!” ujar Fey berusaha wajar.
“Makasih, Fey!” kata Toni.
“Makasih!” ucap Alex canggung.
Fey hanya mengangguk dan segera menuju kamar membawa sejuta rasa hari itu dalam tidur.
Alex menyeruput kopi hangat dari dalam cangkir.
Benar, rasa kopi ini beda. Lebih enak dari yang di cafe manapun dan rasanya enak kebangetan! puji Alex.
Keduanya terlibat percakapan sana kemari dan akhirnya Alex bertanya sesuatu yang bikin penasaran dari tadi.
“Kau suka dia?” tanya Alex sesantai mungkin.
“Siapa? Fey?” Toni balik tanya.
Alex mengangguk.
“Ya! Siapa yang tak suka Fey. Ia sangat menyenangkan. Sangat beruntung jika dapat memiliki dia,” jawab Toni.
“Lalu ....” kata Alex.
“Aku pernah nembak dia,” potong Toni.
“Di tolak,” jawab Toni.
“Kenapa?” tanya Alex makin penasaran.
“Dia tak punya rasa yang sama. Dia hanya menganggapku kakak,” jawab Toni.
Entah mengapa, ada rasa lega menyusup di hati Alex.
Syukurlah. What! Kok ... rasa ini mengelitikku.
---
Hari masih pagi, namun suara gaduh sudah terdengar hingga kamar. Fey bangun dan melihat jam.
Baru pukul 5 pagi.
Fey keluar dari kamar.
“Kak Alex!” kata Fey.
“O ... sorry! Aku nganggu ya?” Alex terkejut.
Alex merasa tak enak hati karena kegaduhan yang ia buat di dapur saat pagi buta, menganggu tidur Fey.
“Ada yang bisa Fey bantu?” tanya Fey.
“Hm ... aku mau bikin mie instan,” jawab Alex malu-malu.
__ADS_1
“Makan mie instan enggak baik buat tubuh, sebentar Fey buatkan sesuatu,” ujar Fey.
Tanpa menunggu jawaban Alex dengan segera Fey membuka lemari stok makanan yang ia bawa kemarin. Ia mengambil mie shoa (sejenis mie tapi lebih tipis dan lembut) dan bawang putih kemudian Fey membuka lemari pendingin di ambilnya dua butir telur dan mata Fey masih mencari-cari sesuatu di sana.
“Apa yang kau cari?” tanya Alex.
“Caisim, Kak!” jawab Fey.
Alex bingung tak tahu maksud Fey. Rupanya Fey menyadari Alex bukan seperti orang kebanyakan yang tahu nama sayur-sayuran. Itu terlihat jelas dari raut wajah Alex.
“Itu Kak, sayuran hijau untuk campuran mie goreng dan sejenisnya,” jelas Fey.
“O ... di kebun mang Diding banyak,” sahut Alex.
Alex tanpa sadar langsung menggandeng tangan Fey menuju belakang villa. Fey merasakan tangan kekar Alex yang mengenggam tangannya, jari mereka saling bertaut.
Tangannya sangat hangat! batin Fey.
“Tuh ... bukankah itu yang kau cari!” ujar Alex. sambil menunjuk lahan di belakang villa.
“Iya ... betul!” jawab Fey.
“Sudah sana kau ambil, sebanyak yang kau mau!” kata Alex.
“Kenapa diam saja, bukankah kau mencari caisim?” tanya Alex.
“Iya ... tapi! Kak bisa lepaskan tanganku,” pinta Fey dengan wajah memerah.
“Eh ... maaf!” kata Alex malu-malu.
Alex menyadari telah mengenggam tangan Fey segera melepas genggaman tangannya. Rasa canggung kembali datang untung, mang Diding muncul.
Mang Diding orang yang mengurus villa keluarga Candra dan tinggal di belakang villa dan memanfaatkan halaman belakang untuk berkebun sebagai usaha sampingan mang Diding.
“Aduh ... Aden kapan datang? Sudah lama mamang enggak ketemu.” kata Diding
"Sudah lama,” sahut Alex.
“Mang ... aku mau beli caisimnya. Harganya berapa?” tanya Alex.
“Ambil aja, Den! Enggak usah bayar. Mamang juga nanam di tanah milik pak Candra. Itu pacar Aden? Cantik. Geulis pisan ... serasi sama Aden yang ganteng,” kata Diding.
Alex hanya tersenyum, ia tak mengiyakan ataupun menolak perkataan Diding.
Fey memang cantik ... cantiknya natural, wajahnya manis mengemaskan dan sikapnya lembut tak seperti Sandra yang ... Astaga, apa ini! Kenapa aku membandingkan keduanya.
“Kenapa Den! Mamang salah ngomong, ya!” kata Diding.
Diding melihat raut wajah tuan mudanya yang tiba-tiba berubah.
“O ... enggak, Mang,” jawab Alex berusaha wajar.
Fey berlari kecil di antara hamparan hijaunya sayuran membuat Fey terlihat seperti bunga di antara rerumputan.
Namun lagi-lagi, mata Alex tak bisa berpaling dari Fey.
Memang tak salah mamang bilang Fey cantik karena memang ia cantik apalagi ...
“Sudah ... Neng? Apa segitu cukup?” tanya Diding.
__ADS_1
Kata-kata Diding seketika membubarkan lamunan Alex.