
Hari bahagia Sandra telah tiba. Pesta kecil di halaman rumah Alex tak menyurutkan Sandra tetap menggelayut manja di lengan Alex.
Ketegaran Tara kali ini, runtuh! Dengan mata berkaca-kaca, ia merasa bersalah pada Fey.
“Maafkan aku, Fey!” guman Tara lirih.
Seusai acara pernikahan, Sandra tak pernah jauh dari Alex.
“Kau sebaiknya tunggu di kamar! Aku ada urusan,” ucap Alex.
Walau kesal, Sandra mengikuti kata Alex yang kini menjadi suaminya. Alex pergi menemui Toni.
Sandra masuk kamar dan menunggu Alex di sana. Ia sudah menganti gaun pengantinnya dengan baju tidur seksi. Malam hampir berganti pagi namun batang hidung Alex tak terlihat jua. Sandra berakhir tidur dalam kamar seorang diri.
---
Sandra terbangun dari tidur, saat hari sudah siang.
Ahh, sudah pukul 10 siang? batin Sandra.
Sandra keluar kamar, terlihat suasana rumah sepi hanya ada Anna di rumah.
“Ma, kok sepi! Yang lain, kemana?” tanya Sandra.
“Ini sudah siang, Alex dan papa ke kantor sedang Tara ada kelas pagi,” jawab Anna.
“Oya, San! Kalau kau mau makan. Masih ada makanan di meja makan, kalau kau ingin makanan hangat, kau bisa panaskan. Itu microwave ada di dapur,” ucap Anna.
“Lho, Ma! Bi Nah mana?” tanya Sandra.
“Ya, karena keuangan kami tidak stabil. Jadi Nah dan Mul kami berhentikan. Kami tak mampu bayar mereka,” jawab Anna.
Anna pergi meninggalkan Sandra sendiri di ruang tengah.
“Gila...! Hanya membayar seorang pembantu dan supir saja, kalian tak mampu!” teriak Sandra.
Sehabis makan, Sandra kembali ke kamar. Sandra ngomel ngga karuan, ia merasa kesal sendiri. Baru saja ia merebahkan diri.
“San ... San ...!” Anna memanggil Sandra dari luar kamar.
Walau sungkan, Sandra bangkit dari ranjang.
“Ada apa, Ma?” tanya Sandra.
“Bantu mama masak, San!” jawab Anna.
“Apa! masak?,” sahut Sandra terkejut.
“Iya, masak! Sebentar lagi Tara pulang. Sebaiknya kita masak sekarang!” ajak Anna.
“Sandra enggak mau, Ma! Sandra di rumah tak pernah kerja di dapur,” sahut Sandra.
“Itu kan, dulu! Sekarang kau sudah menikah. Nanti mama ajari,” ucap Anna.
Walau merasa sungkan, Sandra mau melakukannya karena Anna menyuruhnya dengan lemah lembut membuat Sandra tak bisa menolak.
“San, tolong ambil daging di kulkas. Sekalian di cuci yang bersih lalu di potong dadu!” perintah Anna.
Saat potong daging.
__ADS_1
“Aduh!” teriak Sandra.
“Kenapa, San?” tanya Anna.
“Kuku Sandra jadi patah, gara-gara potong daging!” jawab Sandra.
“Hati-hati, San!” ucap Anna.
“Sudah, ahh! Sandra tak mau lanjut'in lagi” sahut Sandra.
Sandra membanting pisau, ia meninggalkan Anna sendiri di dapur. Anna hanya bisa geleng-geleng kepala.
Saat Alex pulang, Sandra langsung nyerocos masalah kerjaan di dapur.
“Lex, tolong bilang mama. Aku enggak mau kerja di dapur.” Sandra merajuk.
“Ya, bagaimana lagi! Kita harus berhemat. Kau harus bantu mama,” sahut Alex datar.
“Tapi lihat ini! Telapak tanganku jadi kasar,” ujar Sandra.
Sandra menunjukkan telapak tangan, Alex hanya melirik.
“Kau bisa pakai krem,” kata Alex dingin.
Sandra memeluk Alex dari belakang.
“Aku mau mandi, siapkan pakaian untukku,” kata Alex.
Alex melepas pelukan tangan Sandra. Sandra cemberut tapi ia tetap melakukan permintaan Alex. Selesai Alex mandi, mereka bersiap untuk makan malam bersama.
“Lex, gimana rencanamu dengan Indra?” tanya Candra.
Candra mengangguk.
---
“Jadi kau akan pergi lagi?” tanya Sandra.
“Ya, seperti yang sudah kau dengar tadi” jawab Alex.
“Aku pergi, San!” ucap Alex.
Setelah Alex menghilang dari balik pintu, Sandra menghentakkan kaki melampiaskan rasa kesalnya.
Di malam kedua pernikahannya, kembali Sandra habiskan seorang diri dalam kamar. Sandra berusaha menahan kantuk demi menunggu Alex. Namun rasa kantuknya lebih besar daripada menunggu seorang Alex. Membuat Sandra tak berdaya ia tidur terlelap.
Menjelang tengah malam, Alex baru kembali ke rumah. Ia menuju ke kamarnya saat bersama Fey. Ia menumpahkan rasa rindunya dengan melihat foto-foto Fey, terutama foto candid saat Fey tidur. Membuat Alex tersenyum melihat wajah polos Fey saat tertidur. Alex menangis menahan rindu yang amat sangat hingga Alex tertidur dengan sendirinya.
---
Sejak menikahi Sandra, Alex berangkat kantor lebih pagi dan pulang larut malam terkadang ia tak pulang.
Lama-lama Sandra merasa jengkel dengan tingkah laku Alex. Hari itu Sandra bersiap pergi ke rumah Danu.
“Halo, San!” sapa Danu.
“Ya!” jawab Sandra ketus.
“Kesal amat jawabnya, anak papa!” ucap Danu.
__ADS_1
“Sandra kesal, Pa! Sejak menikah kami belum pernah melakukan malam pertama. Ia selalu pulang malam dan pagi-pagi sudah berangkat. Sandra bisa stress!” sahut Sandra.
“Awal kalian mau menikah, kan papa sudah bilang. Kau harus sabar, karena Alex sekarang bukan Alex yang pakai abu-abu,” kata Danu.
“Sandra sudah berusaha sabar kok, Pa!” Ucap Sandra.
“Bagus kalau kau usaha begitu,” sahut Danu.
”Satu lagi! Kau harus kontrol amarahmu. Jangan mancing atau terpancing emosi agar tidak menjadi bumerang untukmu,” kata Danu lagi.
“Ya, Pa! Sandra berusaha menahan amarah, walau saat marah Sandra ingin banting barang,” sahut Sandra.
“Good girl” ucap Danu.
Danu memeluk Sandra.
“Jangan bosan, jika Sandra sering curhat, Pa!” kata Sandra.
“Mana ada orang tua yang menolak anaknya. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu, datanglah saat kamu ingin datang,” sahut Danu.
“Thanks, Pa!” ucap Sandra.
“Kau tak merancang lagi?” tanya Danu.
“Lagi buntu, Pa! Tak ada inspirasi, nanti kalau Sandra ada ide, Sandra akan mulai lagi,” jawab Sandra.
“Ya, kantormu juga belum kau benahi. Hampir setahun di tinggal. Sudah waktunya makan siang,” kata Danu.
Danu melihat jam di pergelangan tangannya.
“Makan siang bersama, Pa,” ajak Sandra.
“Ok,” sahut Danu.
“Mau makan di mana, Pa?” tanya Sandra.
“Terserah yang traktir, dong! Papa ngikut aja!” jawab Danu.
“Ok. Yuk, Pa! Ini saatnya kencan dengan Papa tersayang,” ucap Sandra.
“Hm ... kamu bisa saja,” balas Danu.
---
Alex berada di kantor Candra.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Candra.
“Ya, selama ini bisa Alex handle. Entah nanti bagaimana kelanjutannya, Alex belum tahu!” jawab Alex.
“Maafkan papa, Lex!” ucap Candra.
“Sudah terjadi, Pa! Yang penting kita atasi sekarang. Keuangan perusahaan stabil kembali pasti semua akan mengikuti,” balas Alex.
“Papa sudah perintah orang mencari Fey. Tapi Lex, jika kita temukan Fey sekarang. Kita tak mungkin membawa Fey pulang. Ada Sandra di sini apalagi saat ia pergi, ia sedang hamil. Kau tahu sendiri, watak Sandra seperti apa,” ucap Candra.
“Jika Fey ditemukan sekarang, biarkan Alex pergi dengan Fey,” sahut Alex.
“Terserah kau, bagaimanapun dia tetap istri sahmu,” kata Candra.
__ADS_1