Cinta Fey

Cinta Fey
Kembali Padaku


__ADS_3

“Iyo, bagaimana situasinya?” tanya Alex.


“Tara hanya lecet-lecet dan shock saja. Namun Tian cedera cukup serius di kepala,” jawab Tio.


“Fasilitas di rumah sakit ini tak memungkinkan untuk melakukan operasi Tian,” kata Tio lagi.


“Sebentar, Iyo!” sahut Alex.


Alex menghubungi seseorang melalui ponselnya, tak lama Alex menghampiri Tio kembali.


“Iyo ... kita bawa mereka sekarang! Ke rumah sakit lebih besar dengan helikopter,” kata Alex.


Tio segera berkordinasi dengan tim medis untuk mempersiapkan Tian dan Tara terbang.


“Fey, kita akan bawa Tian ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya,” ucap Alex sambil menggenggam tangan Fey.


Alex memapah Fey yang sangat shock.


“Kau bersama Fey, kalian dampingi Tian dan Tara!” ucap Alex.


“Tara baik-baik saja, dia bisa istirahat di rumah,” kata Tio.


“Tara! Kenapa Tara?” tanya Fey memotong pembicaraan Tio.


“Tara mengalami kecelakaan yang sama dengan Tian, untuk detailnya nanti aku ceritakan,” jawab Tio.


Fey mengangguk.


“Tara pulang bersamaku. Berikan kunci mobilmu, biar Indra yang ambil mobilmu!” jawab Alex.


Alex mengenggam tangan Fey.


“Fey ... jangan khawatirkan Tian. Tian kita, anak yang kuat,” kata Alex sambil memeluk Fey dan mencium kening Fey.


Fey mengangguk.


Mereka pun segera membawa Tian untuk di tangani lebih lanjut. Tara pulang bersama Alex menggunakan mobil sportnya. Dalam perjalanan Alex menghubungi Candra via HP.


“Halo ... Pa! Tolong bicara dengan om Roy. Tian dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk segera di tangani.”


“Tian? Tian ... siapa?”


“Tian anak Alex, cucu Papa! Alex telah temukan mereka. Ceritanya panjang, nanti Alex ceritakan. Tolong ... Pa!”


“Ok, Lex! Bye!”


“Bye, Pa!”


Setibanya Tian di rumah sakit, Tian segera masuk ruang operasi. Setelah mengantar Tara ke rumah, Alex menuju rumah sakit. Alex bergegas menuju ruang tunggu operasi, tampak Fey masih menangis di dampingi Anna dan Amanda. Alex berlutut di depan Fey dan menggenggam tangan Fey.


“Lex, aku takut!” Fey menatap wajah Alex.


“Kau jangan takut, percayalah Tuhan akan melindungi anak kita. Tian pasti bisa melalui ini semua!” sahut Alex.

__ADS_1


Tak lama seorang perawat keluar dari ruang operasi.


“Maaf, dengan keluarga ananda Tian, ananda Tian membutuhkan transfusi darah. Ada keluarga golongan darah O?” tanya perawat.


“Aku golongan darah O!” Alex beranjak dari hadapan Fey.


“Aku juga O,” kata Fey.


Alex menahan tangan Fey.


“Kali ini biar aku, Fey! Jika aku tak cocok, kau boleh coba,” kata Alex.


“Mari ikut saya!” sahut perawat itu.


Alex mengekor perawat itu pergi dan baru kembali hampir dua jam kemudian. Alex menunggu sambil memeluk Fey yang masih terisak, tak bisa menahan tangisnya.


Setelah melakukan operasi sekitar empat jam. Tim dokter yang mengoperasi Tian keluar dari ruang operasi.


“Bagaimana, Roy?” tanya Candra.


“Operasinya berhasil. Kita tunggu setelah Tian sadar, kita observasi lebih lanjut!” jawab Roy.


“Thank you, Roy!” ucap Candra.


“Terimakasih, Om!” kata Alex.


Roy mengangguk sambil menepuk punggung Alex.


“Pa ... Ma, sebaiknya kalian istirahat di rumah dan temani Tara di rumah,” kata Alex.


“Tidak, aku tak akan meninggalkan Tian,” sahut Fey.


Akhirnya Alex hanya bisa mengalah, melihat Fey bersikeras.


“Iyo, lukamu perlu kau obati,” kata Alex.


“Tidak, aku baik-baik saja. Ini– ini darah Tian,” ucap Tio baru menyadari pakaiannya penuh bercak darah.


“Iyo, kau ikut aku!” ajak Alex.


“Kemana?” tanya Tio.


Alex tak menjawab pertanyaan Tio, membuat Tio mau tak mau mengekor di belakang Alex menuju area parkir.


“Iyo, pakailah pakaianku ini. Sepertinya pas, ukuran kita kurang lebih sama,” kata Alex sambil menyerahkan pakaian pada Tio.


“Jadi merepotkan,” sahut Tio sambil menerima pakaian dari tangan Alex.


“Tidak merepotkan, aku selalu membawa satu set pakaian di mobil. Kau adalah om Yo, yang selalu Tian ceritakan padaku. Terimakasih Iyo, kau selalu ada untuk Tian,” kata Alex.


Tio merasa tak enak hati apalagi ia pernah punya rasa ingin memiliki Fey.


“Lex, aku minta maaf!” kata Tio.

__ADS_1


“Maaf? Untuk apa?” tanya Alex.


Tio menceritakan dari awal bertemu dengan Fey hingga akhir.


“Dulu aku berniat menikahi Fey namun Fey menolak dengan alasan yang tak jelas. Kini aku tahu alasannya!” jawab Tio.


“Sudah lupakan! Justru aku berterimakasih pada almarhum tante Heni yang mau menerima Fey pada saat itu. Jika tidak! Ceritanya akan lain, Iyo!” kata Alex sambil menepuk punggung Tio.


Tian telah pindah ke ruang rawat biasa. Mereka bertiga tak pernah beranjak dari kamar Tian.


Terutama Fey yang selalu di samping ranjang Tian dan memegang jari jemari Tian. Air mata Fey tak berhenti mengalir. Alex menghampiri Fey.


“Fey! Kau bisa sakit kalau menangis terus,” ucap Alex lirih sambil memegang kedua pundak Fey.


“Entahlah, Lex! Ak–aku tak bisa menghentikan air mataku. Aku menyesal tak bisa menjaga Tian dengan baik. Aku, mama yang buruk!” sahut Fey terisak.


“Tidak, Fey! Kau, Mama yang hebat. Tian selalu membanggakanmu di depanku,” kata Alex.


“Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan,” balas Fey.


“Tanpa kusadari, aku berteman dengan anakku sendiri. Beberapa hari terakhir aku sering bertemu Tian, ia biasa memanggilku om Vila,” kata Alex.


“Oh ...!” suara Fey tercekat.


Fey membekap mulutnya sendiri, ia makin terisak tangisannya. Alex memeluk Fey dan mengelus rambut Fey.


“Maafkan aku, aku tak mengenali anak sendiri. Harusnya aku sadar, saat dia membawa bubur buatanmu. Aku juga bukan papa yang baik untuk Tian. Saat ia berkeluh kesah tentang papa-nya,” kata Alex.


Alex memegang wajah Fey dan menatapnya lekat-lekat.


”Fey ... mulai sekarang, mari kita menjadi orang tua yang baik untuk Tian!” kata Alex lagi.


Fey menggelengkan kepalanya.


“Mengapa?” tanya Alex.


“Sandra,” jawab Fey.


“Wanita jahat itu sudah keluar dari rumah kita sejak lama. Bertahun-tahun aku mencarimu. Aku tahu, kau pergi saat sedang hamil. Hatiku sakit Fey, tak bisa melindungimu. Justru kau telah berbuat banyak untuk kami,” kata Alex.


“Mengapa kau pergi meninggalkan kami, kami lebih memilih bangkrut daripada menerima wanita itu. Wanita itu sangat jahat, ia mampu memporak-porandakan hidup kita semua!” ucap Alex lagi.


“Maafkan aku, Lex! Aku tak berpikir panjang hingga membuat Tian ikut menderita juga,” sahut Fey.


Alex berlutut di depan Fey.


“Maukah, kau dan Tian kembali padaku?” tanya Alex.


Fey menangis kemudian mengangguk dan berkata, ”Mau ... aku mau!”


“Hm ... ada lamaran lagi! Pasti makan-makan lagi, nih!” Tio berseloroh.


“Dasar ... kau! Kalau kau bukan om Tian sudah aku timpuk, bikin moodku hilang!” Alex menggerutu.

__ADS_1


”Satu sama, ya!” kata Tio.


“Hah! Rupanya kau menyimpan dendam padaku, waktu aku ganggu romanmu itu. Kau mau hitung-hitung dengan kakak iparmu!” sahut Alex.


__ADS_2