Cinta Fey

Cinta Fey
Have Fun


__ADS_3

“Tunggu bentar, Lex!” Tara keluar dari mobil.


“Fey!” panggil Tara.


“Masuk, Ra! Nanggung packing!” teriak Fey dari dalam rumah.


Kemudian Toni muncul dari kamar mandi.


“Kak Toni!” Tara terkejut.


Sebelum Tara nyeletuk yang bikin Toni tersinggung, Fey mendekati Tara.


“Aku yang ajak kak Toni, buat temani aku daripada aku jadi obat nyamuk kalian,” bisik Fey selirih mungkin.


Tara mengangguk.


Alex mulai bosan dalam mobil, Alex keluar dan bersandar di body mobil. Tak lama mereka bertiga keluar, Alex menghampiri mereka.


“Katanya sebentar, kok lama! Eh, kau si gadis bo ....” kata Alex.


Perkataan Alex terpotong gara-gara Tara menginjak kaki Alex.


“Aduh!” teriak Alex.


Hah! Kenapa Tara ajak Alex? batin Fey.


Fey jadi salah tingkah, wajahnya panas, hati tak karuan.


Aduh! jatungku berulah lagi.


Seperti tak terjadi apa-apa, Tara memperkenalkan Alex pada mereka.


“Kenalkan, ini kakakku Alex. Alex ... ini Toni dan ini Fey,” ujar Tara.


Mau tak mau Alex mengulurkan tangan menjabat tangan Toni dan Fey. Wajah Fey semu merah saat itu. Alex menangkap ekspresi Fey yang canggung di pertemuan kedua ini.


“Lex, kau yang bawa mobil. Kak Toni duduk depan saja,” perintah Tara.


Di kursi belakang Fey mencolek paha Tara namun Tara cuek. Lama-lama Fey mencubit paha Tara.


“Aduh!” teriak Tara.


Tara menggosok pahanya yang di cubit Fey.

__ADS_1


“Apa! Bikin kaget saja,” respon Alex.


“Dah, biasa mereka begitu,” ujar Toni yang kebal dengan ulah keduanya.


“Kau sering jalan dengan mereka?” tanya Alex.


“Enggak terlalu, sih!” jawab Toni.


Mereka berdua larut dalam pembicaraan seputar hobi masing-masing.


“Hai! Mana Aldo!” bisik Fey.


“Enggak jadi ikut!” bisik Tara berbohong.


Tara tak pernah mengajak Aldo ke puncak. Jika para cowok sudah membaur tapi tidak dengan Fey, sepanjang perjalanan lebih banyak diam.


Banyak tempat telah di kunjungi, keseruan di antara mereka pun tercipta. Dari main di kebun teh, main air di danau dan main gantole. Fey mulai bisa mengatasi rasa canggung walau sesekali masih sering salah tingkah kalau kepergok kontak mata atau bicara dengan Alex.


Hari hampir menjelang sore, mereka menuju villa pribadi milik keluarga Candra untuk beristirahat. Villa yang besar, halaman luas dengan taman terawat memberi kesan homey dan memiliki kolam renang pribadi.


Seperti tak ada capenya, melihat air kolam renang yang tenang mengelitik Tara membuat riak di kolam renang.


Toni dan Fey memilih duduk di tepi kolam. Keusilan Tara mulai muncul, ia menarik Fey hingga jatuh ke kolam. Baru saja Fey naik dari kolam, Toni membopong Fey lalu di lempar ke kolam tapi Fey tak mau jatuh sendiri, ia berpegang erat pada leher Toni hingga mereka berdua jatuh ke kolam. Mereka pun saling mencipratkan air dan tertawa.


Dari kejauhan Alex memperhatikan tingkah laku ketiganya, terutama Fey.


Keusilan Tara kini mengincar Alex.


“Lex ... sini!” ajak Tara.


“Malas!” Alex menolak.


“Ayo, Kak Toni! Bantu aku cebur'in orang malas ini!” Tara memprovokasi Toni. Toni segera mengejar Alex.


“Hei! Jangan ... jangan!” Alex lari menjauh.


Alex menghindari Toni dan Tara, Alex mengitari Fey yang baru saja keluar dari kolam renang. Fey terjebak di antara ketiganya dan akhirnya.


Byurrrr.


Alex tercebur ke kolam bersama Fey, mereka segera menuju tepian kolam. Tara dan Toni tertawa senang.


Alex keluar dari kolam dan meraba kantong celananya.

__ADS_1


“Ra ... ini, gimana? Mati total tahu!” Alex memegang HP-nya yang basah kuyup.


“Beli lagi, aja” teriak Tara.


Rasa'in! Tuh HP! Cuma call Sandra doang, batin Tara.


“Sini, Kak! Coba Fey bantu,” ujar Fey.


Fey mengambil HP yang masih meneteskan air dari tangan Alex. Fey membawa HP milik Alex masuk ke villa terus menuju kamar. Alex mengekor Fey kemana ia pergi seperti anak ayam mengekor induknya. Fey mengambil travel bag-nya, ia mencari sesuatu di sana.


“Nah! Ini dia!” seru Fey.


Fey mengeluarkan hair dryer dari travel bag-nya. Fey bersimpuh di samping meja kecil, ia membuka semua komponen HP milik Alex. Di lap satu persatu dengan sapu tangan handuk, lalu hair dryer dinyalakan.


Alex dengan seksama memperhatikan apa yang Fey lakukan, mulai dari mengeringkan satu per satu komponen HP yang sudah di lap dengan teliti.


Cekatan juga, nih anak! batin Alex.


Alex diam-diam mengalihkan perhatiannya, mula-mula ia melihat mata, hidung dan bibir Fey. Tanpa sadar mata Alex melihat tonjolan dada Fey terbungkus bra warna biru tercetak jelas pada t-shirt ketat Fey berwarna putih. Tonjolan itu makin jelas karena t-shirt Fey yang basah namun Fey tak menyadarinya. Alex menelan saliva melihat itu, hasratnya bergejolak, bagaimanapun ia laki-laki normal.


“Di coba, ya Kak! Yang penting usaha.” Fey tiba-tiba mengangkat wajahnya menghadap Alex.


Wajah keduanya hampir bersentuhan untuk pertama kalinya hingga hembusan nafas pun, bisa mereka rasakan. Keduanya terkejut, Fey yang duduk bersimpuh mendadak oleng ke belakang, Alex secara refleks menarik tangan Fey hingga tubuh Fey condong ke arah Alex.


Brug.


Fey tetap jatuh tapi menimpa tubuh Alex. Sepersekian detik wajah Fey demikian sangat dekat dengan wajah Alex untuk yang kedua kalinya, wajah keduanya memerah. Fey segera menyingkir dari atas tubuh Alex.


Fey segera berdiri hingga tonjolan di dada Fey kian terlihat lebih jelas daripada posisi duduk. Wajah Alex kini kian memerah, darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun. Alex segera bangkit dan berjalan ke walk in closet. Tak lama Alex kembali dengan sehelai handuk. Alex mendekati Fey lalu ia menyelimuti tubuh Fey dengan handuk tersebut. Fey terkejut, ia baru menyadari. Tubuh dan T-shirt ketatnya masih basah, kedua tangan Fey segera silangkan di dada. Kini wajah Fey yang memerah menanggung malu, ia berlari ke kamar mandi.


Di depan cermin Fey membuka handuk yang Alex beri, kemudian Fey segera menutup handuknya kembali. Wajahnya kembali memerah.


Ya, Tuhan! Apa yang Alex lihat? Apa sama dengan apa yang aku lihat baru saja. Oh ... aku sungguh malu.


Kepala Fey keluar dari pintu kamar mandi untuk melihat situasi.


Kosong! Tampaknya kak Alex sudah pergi! batin Fey.


---


Gila! Aku hampir kehilangan akal sehatku. Apa tadi yang baru aku lihat ...


Alex mengibaskan tangan ke wajahnya, mengacak-acak rambutnya seperti orang frustasi. Melihat lekuk tubuh Fey yang terbungkus t-shirt basah membuat Alex terangsang. Wajah memerah Alex tak kunjung memudar. Berkali-kali Alex mengambil nafas dalam-dalam untuk mengusir hasratnya yang mencapai ubun-ubun.

__ADS_1


---


Setelah kejadian itu, Fey tak berani keluar dari kamarnya. Ia terlalu malu menghadapi Alex. Tara dan Toni tidak tahu, apa yang sudah terjadi, mereka pikir Fey kelelahan.


__ADS_2