
Tak lama Fey membuka matanya, ia melihat jam di atas nakas.
“Aduh aku ketiduran, aku hanya ingin memejamkan mata sejenak!” guman Fey langsung turun dari ranjang.
Fey berjalan menuju kamar Tian, ia merapikan selimut yang Tian kenakan.
“Tian tidur sangat pulas!” guman Fey lirih takut menganggu tidur Tian.
Fey kembali kamarnya dengan berlahan-lahan.
“Alex!” pekik Fey.
Alex berdiri di balik pintu hingga Fey terkejut bukan kepalang. Alex tanpa bicara sepatah kata pun, ia hanya menarik tangan Fey menuju sofa. Alex mengajak Fey duduk di sofa. Di atas meja ada sebuah mangkuk berisi air, handuk kecil dan sebuah paper bag.
“Ada apa, Lex?” tanya Fey bingung.
Namun Alex diam seribu bahasa, membuat Fey ikut terdiam dan memperhatikan apa yang akan Alex lakukan dengan semua benda di atas meja.
Alex mengeluarkan sesuatu dari paper bag, sebuah krim dengan aroma wangi semerbak. Alex memegang tangan Fey, ia mengusap lembut kedua telapak tangan Fey dengan handuk hangat dan mengeringkannya. Alex mengambil satu scoop kecil krim dan ia usap di kedua telapak tangan Fey.
“Maaf, Fey! Tanganmu jadi kasar karena aku, suami yang tak becus menjaga ....” ucapan Alex terputus.
Muuaah.
Fey mendaratkan ciuman di bibir Alex.
“Jangan katakan itu lagi!” ucap Fey.
Sepersekian detik Alex merasa terhinoptis dengan apa yang Fey lakukan pada dirinya namun ia segera tersadar.
“Aku akan berkata itu sejuta kali setiap menit bahkan setiap jam di sepanjang hidupku. Tiap aku mengatakan satu kecupan di bibir di kali sejuta kata, ada sejuta kecupan!” sahut Alex tertawa penuh kemenangan.
“Dasar genit!” balas Fey sambil cemberut.
“Kalau enggak genit, tak akan lahir Tian!” ucap Alex sambil memegang kedua tangan Fey.
Alex merangsek bibir Fey dan mencium dengan ganas seperti memakan buah ranum hingga Fey kehabisan napas dibuatnya.
Fey berusaha mengelak bibir Alex namun Alex tak memberi kesempatan kepadanya. Ia mencium seluruh sudut bibir Fey. Alex tak berhenti bergerak menjelajahi tiap sudut bibir Fey. Alex melepas bibir Fey, saat ia terengah-engah.
Baru saja Fey tarik napas, bibir Alex kembali mendarat dan mencium lebih dalam bibir Fey. Lidah Alex menyusup dan melilit lidah Fey hingga memenuhi rongga mulut Fey. Lidah Alex menjelajahi tiap inci rongga mulut Fey seperti mengabsen deretan gigi Fey. Alex pun mengulum dan menyedot lidah Fey hingga Fey menggeliat dan Alex pun mengakhiri ciumannya untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali dengan Fey.
Keduanya saling berpelukan hanya deru napas ngos-ngos terdengar memenuhi kamar yang sunyi. Mereka menikmati irama degup jantung mengiringi deru napas keduanya.
“Kau nakal!” kata Fey.
__ADS_1
“Nakal?” tanya Alex.
“Kau menahan tanganku, kau membuatku tak berdaya saat aku kehabisan napas!” jawab Fey.
“Ha ... ha ... maaf, tak bisa ku bayangkan jika kubiarkan tanganmu penuh krim bebas kemana-mana. Salah sendiri! Berani-beraninya kau menawarkan bibir padaku!” Alex membela diri.
Makan malam pun tiba, ini makan malam pertama setelah Fey kembali dengan formasi keluarga lengkap. Tak sedikit tingkah Tian mengundang tawa. Mereka melanjutkan perbincangan di ruang tengah hingga waktu tidur Tian tiba.
“Maaf, Pa ... Ma! Fey dan Tian masuk kamar dulu.”
“Malam Opa ... malam Oma!” Tian mengucap salam sambil memeluk mereka.
“Ya, Sayang! Mimpi indah, ya!” kata Anna sambil menepuk punggung cucu satu satunya.
Tian mengangguk lalu Tian mengandeng tangan Fey berjalan masuk menuju kamar. Tak lama Alex mengekor Fey dan Tian ke kamar. Alex memperhatikan apa yang mereka lakukan berdua.
Tian membersihkan diri, dan mengelap tubuhnya dengan handuk kemudian mengenakan piyama yang disediakan oleh Fey. Tian juga menggosok giginya dan semua itu ia lakukan sendiri kemudian Tian menghampiri Alex.
“Tian pergi tidur, Pa!” Tian memeluk Alex.
“Selamat tidur, Sayang!” sahut Alex sambil mencium kening Tian.
Fey mengantar putra semata wayang pergi tidur. Tian naik ke atas ranjang dan Fey menyelimuti tubuh Tian.
“Selamat tidur, Sayang!” ucap Fey.
“Ma!” teriak Tian.
“Ya, Sayang!” sahut Fey menyalakan lampu kamar kembali, Fey menghampiri Tian.
“Ma! Kamarnya sangat gelap saat lampu dimatikan,” kata Tian.
“O ... Mama ganti ini, ya!” sahut Fey sambil menyalakan lights sleep.
“Ini lebih baik, Ma!” kata Tian sambil menarik selimut.
“Mama tidur di mana?” tanya Tian.
“Mama tidur di sebelah kamar Tian. Apa Tian takut tidur sendiri?” jawab Fey.
Tian menggeleng cepat.
“Cuma kamar ini terlalu besar untuk Tian. Malam ini Tian minta Mama temani hingga Tian tertidur, bisa?” pinta Tian penuh harapan.
Fey mengangguk.
__ADS_1
Tian segera menggeser tubuhnya, ia memberi ruang untuk Fey di ranjang miliknya. Fey merebahkan diri di samping Tian, ia sandarkan kepala di lengan Fey. Fey memeluk Tian dan menepuk-nepuk lembut pantat anak semata wayangnya.
Tak sampai 5 menit Tian sudah tertidur pulas. Tian memiliki jam tidur yang teratur sejak kecil. Dengan berlahan Fey turun dari ranjang, ia meninggalkan kamar Tian.
Setelah mengurus Tian, kini Fey mengurus Alex. Seperti biasa, Ia selalu menyiapkan pakaian yang akan Alex kenakan.
“Lex, piyamamu telah kusiapkan!” kata Fey.
“Ya, Tian sudah tidur?” tanya Alex sambil beranjak dari sofa.
“Sudah! Ia mengeluh kamarnya terlalu besar, Lex!” jawab Fey sambil menyerahkan handuk.
“Bukankah setelah ia dewasa, akan membutuhkan kamar tidur yang besar,” kata Alex dari kamar mandi.
“Ya, benar juga! Cuma aku merasa tak enak hati dengan Tara,” balas Fey.
“Karena kamarnya untuk Tian?” tanya Alex sambil keluar dari kamar mandi.
“Ya, kan! Tian masih terlalu kecil untuk menempati kamar seluas itu, ia masih bisa di sini dulu!” jawab Fey.
Alex membelalakkan matanya, ”Maksudmu di kamar ini?”
Fey mengangguk tanpa rasa bersalah.
“Lalu aku di mana?” tanya Alex berkacak pinggang.
“Ya, kau juga di sini!” jawab Fey enteng sambil masuk ke kamar mandi.
Jawaban Fey, membuat Alex mengacak rambutnya seperti orang frustasi.
Fey, kau masih saja bikin aku gemes hingga ku tak berdaya menghadapi sikap polosmu itu. Bikin hatiku dongkol sendiri! batin Alex.
Alex membuka pintu kaca di teras kamarnya, ia mencari udara segar untuk menghilangkan rasa dongkolnya pada Fey.
Setelah Fey keluar dari kamar mandi, seperti biasa ia duduk di depan meja rias melaksanakan ritual malamnya. Ia mengenakan krim malam dan menyisir rambutnya. Fey melihat Alex di teras rumah menghadap taman.
“Kau tidak tidur?” Fey menghampiri Alex di teras kamar.
“Hm ....” Alex hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Alex hanya bisa menelan bulat-bulat rasa kesal di hati.
“Dingin amat jawabnya! Ada sesuatu yang mengusikmu, Lex!” ucap Fey berdiri berlawanan arah dengan Alex.
Alex menatap tajam ke arah Fey.
__ADS_1
Kau yang mengusikku, Fey! batin Alex.