
Di sebuah clubbing, tampak sepasang mata menatap tajam dari sudut ruangan.
Mata itu, milik Andy. Ia menatap tanpa berkedip pada Sandra yang sedang menikmati red wine seorang diri.
Apa yang terjadi padamu hingga kau minum anggur seperti meminum air putih! batin Andy
Ada rasa khawatir menghinggapi perasaan Andy, ia menghampiri Sandra di sana.
“Hai, San!” sapa Andy.
“Hai!” Sandra sapa balik.
“Kau datang dengan siapa?” tanya Andy.
“Seperti yang kau lihat!” jawab Sandra.
“Alone?” ucap Andy.
Sandra mengangguk.
“Tak baik untuk seorang wanita datang kemari sendiri,” kata Andy.
“Kau masih aja seperti dulu. Rese!” balas Sandra ketus.
“Aku begini karenakan aku cinta, San! Kau saja tak pernah merespon cintaku,” kata Andy.
“Cinta? Ha ... ha ... semuanya omong kosong!” sahut Sandra sambil tertawa.
“Aku sungguh peduli, San! Sejahatnya kau padaku, aku tak pernah sakit hati!” kata Andy.
“Itu karena kau bodoh!” balas Sandra.
“Kalau saja kau berpaling sebentar saja padaku, kau akan merasakan ketulusanku. Ya, mungkin aku bodoh! Karena sudah kau hianati aku berkali-kali, tetap saja hatiku tak bisa berpaling darimu,” ucap Andy.
“Kalau saja Alex memiliki setengah dari hatimu. Aku pasti bahagia!” ucap Sandra.
“Apa setelah kalian menikah. Kau tak bahagia?” tanya Andy.
Sandra hanya diam.
“Apa hanya obsesimu menikah dengan Alex,” ucap Andy.
“Tidak! Ini pernikahan juga atas persetujuan Alex. Tak mungkin kami menikah kalau Alex ngga mau bersamaku di pelaminan,” sahut Sandra.
“Lalu kenapa sekarang kau di sini seorang diri. Mabuk lagi!” ucap Andy.
Hati Andy sakit melihat Sandra lari ke minuman keras. Andy peduli Sandra, karena rasa cinta Andy sangat besar pada Sandra sejak dulu. Sosok Andy tak pernah terlihat di mata Sandra karena di mata Sandra hanya ada Alex seorang.
“Kami sedang melewati masa sulit dalam hubungan ini. Aku yakin masih ada cinta di antara kami,” balas Sandra.
“Saat SMA maksudmu?” tanya Andy.
“Tidak saat SMA saja,” jawab Sandra.
“Hm ... masa itu tidak realistis, San! Hanya mau suka-suka saja,” kata Andy.
“Kau bohong!” pekik Sandra.
__ADS_1
“Aku bohong?” tanya Andy.
“Kalau cinta SMA tidak realistis. Kau suka aku dari SMA,” jawab Sandra.
“Kalau itu pengecualian, cintaku sampai sekarang tetap konsisten, San!” ujar Andy membela diri.
“Udah, ahh! Jangan bahas dia. Aku ke sini minum untuk lupakan dia. Kau malah ungkit dia,” ucap Sandra sambil menenggak minumannya.
Lagi, lagi dan lagi.
“Hentikan, San! Nanti kau mabuk!” kata Andy.
“Siapa yang mabuk! Aku baik-baik saja!” kata Sandra ketus.
Sandra mengangkat gelasnya kembali.
“Cukup, San! Lama-lama kau hangover!” ucap Andy sambil menahan tangan Sandra.
“Kau menyebalkan! Aku mau pulang!” balas Sandra.
Sandra beranjak meninggalkan Andy dengan sempoyongan.
“Aku panggilkan Alex!” ucap Andy menghadang Sandra.
“Awas! Kau minggir!” teriak Sandra sambil merangsek.
“Aku akan antar kau pulang!” ujar Andy.
“Pulang?” tanya Sandra.
“Aku enggak mau pulang ke rumah,” ucap Sandra lalu ia ambruk.
“San ... San ... !” Andy memanggil Sandra sambil menggoyangkan tubuh Sandra.
Sandra tak sadarkan diri lagi. Andy membuka tas Sandra, ia mencari ponsel Sandra. Andy menelpon Alex menggunakan ponsel Sandra.
Alex enggak angkat, batin Andy.
---
Di waktu yang hampir bersamaan.
Alex masih meeting di kantor, ponsel Alex di atas meja masuk call dalam mode silent. Alex mengambil dan melihat layar ponselnya.
Mau apalagi dia telepon? batin Alex.
Alex meletakkan kembali ponselnya, ia meneruskan meeting dengan rekan bisnis.
---
Akhirnya Andy memapah Sandra yang mabuk berat, ke dalam mobil Andy. Di dalam mobil andy berpikir lalu ia mengambil ponselnya.
“Halo ... Rit! Kau di mana?”
“Aku lagi pergi keluar kota! Kenapa, Dy?”
“O ... enggak, cuma ingin ketemu. Aku kira kau tak pergi. Ok ... Rit! Lain kali aku call you again! Bye.”
__ADS_1
“Bye!”
Gawat! Mau kubawa Sandra kemana ini? batin Andy.
Akhirnya Andy membawa Sandra ke apartemen miliknya. Andy membopong Sandra menuju salah satu kamar di apartemennya.
Andy merebahkan Sandra dengan berlahan, ia melepas sepatu Sandra.
Tiba-tiba Sandra duduk, ia melepas outfit outer miliknya dan melemparkannya ke lantai. Kini ia hanya mengenakan tank top ketat sehingga dada Sandra yang membulat dan up tercetak di sana dengan jelas. Andy menelan salivanya melihat dada Sandra yang menonjol mengoda. Andy mencoba menahan hasrat ingin menyentuhnya, tangan Andy menarik selimut untuk menutupi tubuh Sandra. Namun Sandra menyibakkan selimut itu dengan tangannya dan terlihatlah kulit putih mulus paha Sandra terpampang di depan mata Andy karena Sandra hanya mengenakan skirt pendek. Lagi-lagi Andy menelan salivanya.
Darah Andy mendidih sudah namun ia berusaha keras menahan diri untuk kesekian kalinya.
Andy berusaha kembali menyelimuti Sandra. Kali ini Sandra menendangnya kembali dengan kedua kakinya. Hingga paha Sandra yang terlihat kian menantang ke laki-lakian Andy. Gairah Andy sudah sampai ke ubun-ubun.
“Jangan salahkan aku, San! Kau yang memancingku!” ucap Andy.
Nafsu telah menguasai Andy, ia melepas jaket dan kemejanya. Andy langsung menindih Sandra dengan gairah memuncak. Andy mencumbu Sandra dengan penuh nafsu. Sandra yang antara sadar tak sadar merasakan kenikmatan yang Andy berikan dan Andy pun melakukan dengan gairah yang amat sangat.
Lenguhan demi lenguhan keluar dari bibir Sandra, membuat Andy kian bersemangat untuk memuaskan Sandra.
Andy mencium bibir Sandra dengan lembut sesekali Andy mencium leher Sandra hingga menggelinjang.
Tangan Andy melepas tank top Sandra, ia lepas pengait bra. Andy mengulum puncak dada dan meremas dada Sandra dengan lembut.
“Aahh ....” Sandra mendesah.
Dengan penuh gairah, Andy menikmati saat bercinta dengan Sandra.
“Aah ... Alex ... ooh ....” rintih Sandra sambil meremas rambut Andy.
“San... panggil namaku ... jangan kau panggil nama dia ....” bisik Andy di telinga Sandra.
“Oo ... Aahh ....” hanya lenguhan demi lenguhan yang keluar dari mulut Sandra.
“O ... San ... kau sungguh nikmat ....” bisik Andy lagi.
Andy meraba tiap inci tubuh Sandra hingga Sandra mengeliat, terutama tiap titik sensitif Sandra di cium Andy. Tubuhnya mengelinjang hebat.
“San ... aku akan memilikimu ... San!” bisik Andy kembali.
Andy meraba milik Sandra.
“O ... kau sudah sangat becek, Sayang!” kata Andy.
“San ... kau hanya milikku ... milikku ... !” ucap Andy memasuki milik Sandra.
“Aaaah ... oooh .... Lex!” teriak Sandra sambil menjambak rambut Andy.
Andy tak perduli lagi, bibir Sandra menyebut nama Alex.
“Oooo ... San .... ” racau Andy.
“San ... kau masih virgin?” Andy terkejut saat melihat darah di bawah sana.
Namun nafsu Andy mengalahkan logika, Andy tetap mencumbu Sandra. Sudah kepalang tanggung bagi Andy untuk mundur, tak bisa lagi selain tetap maju. Andy tetap menyelesaikan penyatuan tubuh yang terlarang.
Andy bergerak kian cepat membuat Sandra kian menggelinjang hebat menuju klimaks. Dan akhirnya Andy pun mencapai puncak kenikmatan kemudian ia ambruk di samping Sandra yang juga lemas di ranjang. Keduanya pun tertidur pulas karena kelelahan.
__ADS_1