
Tara menghampiri Fey di sudut taman kampus.
“Hai Fey! Kemarin kau di cari Alex. Ada apa?” tanya Tara.
“Biasa ponselku mati, Alex jadi uring-uringan. Hobi kalian bersaudara suka ngambek kalau HP-ku off.” Fey menutupi apa yang terjadi kemarin.
Tak lama ponsel Fey ada notifikasi chat. Fey membaca chat dari Alex.
Alex: “Kau pulang kuliah jam berapa? Nanti aku jemput!”
Fey:“Jam 2 siang.”
Alex:“Ok.”
Fey:“Ya.”
Fey menyimpan ponselnya kembali.
“Dari Alex?” tanya Tara.
Fey mengangguk.
“Gimana perasaanmu setelah jadian sama Alex?” tanya Tara.
“Baik.”
“Kok, baik aja. Itu juga semua orang bisa, Fey!”
“Ya, baru juga jalan ... Ra! Hm ... aku masuk kelas, ya! Sudah jamnya!” Hindar Fey.
Maaf ... Ra! batin Fey.
Fey tak ingin Tara tahu apa yang terjadi antara Alex dan dirinya.
Tara hanya mengangguk.
---
Selesai kuliah Fey segera bergegas menuju mobil Alex yang menunggu di halaman kampus.
Ada suasana canggung di dalam mobil hingga mereka tiba ke sebuah toko perhiasan berlian.
Alex menggenggam tangan Fey masuk toko tersebut.
“Siang, Tuan Alex! Ada yang bisa saya bantu?”
“Aku ingin membeli cincin tunangan.”
“Silakan pilih, Sayang!” Alex melirik Fey.
Tunangan ... kau serius! batin Fey.
Fey bingung. Ia tak pernah membeli perhiasan apalagi ini perhiasan berlian.
“Kenapa? Bingung?”
Fey mengangguk.
“Sini, Sayang! Biar aku bantu!”
Tiba-tiba Alex berdiri di belakang Fey, membuat Fey terkejut.
“Coba yang ini”
Alex sambil menunjuk sepasang cincin.
“Apa kau suka, Sayang?”
Suara Alex sangat lembut terdengar di telinga Fey, ia melihat cincin di tangan Alex.
Fey mengangguk.
Alex mengambil salah satu yang ukurannya lebih kecil. Alex memegang tangan Fey dan menyelipkan cincin di jari manis lalu Alex mengecup bibir Fey. Fey terkejut dengan apa yang Alex lakukan, seketika wajah Fey kian memerah.
“Fey! Kau sekarang milikku seorang!”
Alex mengulurkan tangannya, Fey tahu maksud Alex. Fey mengambil cincin pasangannya, ia sematkan di jari Alex.
Ya ... Tuhan! Aku benar-benar tak bisa mundur lagi.
__ADS_1
Fey duduk sambil melihat cincin yang melingkar di jari manisnya saat menunggu Alex transaksi.
Dengan ini kau mengikatku.
Alex memilih cincin sederhana dengan berlian mungil namun tetap elegan. Alex tak hanya membeli sepasang cincin tapi sebuah kalung dengan liontin dua hati bertaut.
Setelah selesai, Alex menghampiri Fey yang asyik memandang cincin di jarinya.
“Cantik, Sayang!”
Alex mengejutkan Fey. Ia tersipu malu dan mengangguk dengan wajah sudah memerah seperti udang rebus.
“Mari kita pulang!” ajak Alex.
---
Di rumah Fey terjadi keributan karena kiriman baju yang banyak dan branded, semua dari butik. Amanda hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Sore, Ma!” sapa seseorang.
Amanda terkejut karena baru pertama kali ini bertemu Alex.
“Ya ... ya sore!” jawab Amanda terbata-bata.
“Maaf, Alex baru temui Mama.”
Alex menyapa Amanda dengan ramah. Fey membuatkan minum untuk Alex dan Amanda.
“Minum ... Lex!” kata Fey.
Alex mengangguk.
Alex pintar mengambil hati Amanda, tak butuh waktu lama. Rasa canggung diantara keduanya lenyap saat baru pertama kali bertemu. Setelah Alex pulang, tak henti-hentinya Amanda memuji Alex.
“Fey ... Alex tampan, ya! Ramah dan pintar menyenangkan hati orang tua.”
Puji Amanda tiada habisnya. Hingga malam Amanda tak henti-hentinya menyanjung di depan Sony.
“Kemarin Mama menolak Alex. Kini menyanjung,” Sony berseloroh.
Membuat Amanda malu kalau mengingat itu.
---
Pagi itu Alex sudah chat.
Alex:“Jangan lupa nanti malam, aku jemput pukul 5 sore.”
Apa enggak terlalu dini jemputnya. Kan, acaranya pukul 7 malam.
Fey merebahkan diri, ia menatap langit-langit kamarnya. Fey menyentuh bibirnya, ia teringat kecupan dari Alex.
Kau seperti angin cepat sekali berubah. Kadang manis kadang galak ... aku rindu Alex yang dulu, manis dan lembut
---
Dari pagi Alex sudah sibuk, dari chat mengingatkan Fey dan menyiapkan pakaian yang akan dia kenakan nanti malam.
“Aduh! Dari kemarin ngurus Fey melulu. Pakaian sendiri belum siap,” omel Alex.
Siang itu Alex segera menuju butik, ia mencari pakaian untuk acara nanti malam. Pilihannya jatuh pada setelan jas putih dan dalaman t-shirt warna merah marun.
Ok! aku pakai ini. Sesuai dengan warna gaun Fey. Urusan baju ... done! batin Alex.
Alex juga melakukan reservasi melalui aplikasi.
Hm ... untuk jaga-jaga! batin Alex.
---
Jam di dinding telah menunjukan tepat pukul 5 sore. Fey telah siap namun ia malu untuk keluar dari kamar padahal sebentar lagi Alex datang menjemputnya.
“Fey ... Alex sudah datang, nih!” Suara Amanda dari luar kamar.
Fey terkejut. Fey ragu keluar dari kamar, ia melihat di cermin kembali.
Ahh ... aku malu.
“Ma ... biar Alex jemput Fey ke kamar.”
__ADS_1
“Ya ... silakan, Sayang!”
Aduh! Gimana ini ... Alex kemari.
“Fey ... aku masuk, ya!” kata Alex setelah mengetuk pintu.
Tanpa ada jawaban Alex tetap masuk. Alex tahu Fey tak percaya diri mengenakan gaun itu.
“Fey!” panggil Alex.
“Ya!” Fey malu-malu.
Fey menunduk, Alex menghampiri Fey. Di genggamannya tangan Fey. Alex menepuk lembut punggung tangan Fey.
“Fey, lihat aku!”
Fey mengangkat wajahnya.
“Kau cantik mengenakan gaun ini.”–Alex mendekati telinga Fey.–“Aku suka!”
Alex memujiku! batin Fey.
“Bisa, kita berangkat?”
Fey mengangguk.
Entah mengapa, kata-katamu seperti mengandung sihir. Membuat hatiku tenang.
Saat di luar kamar.
“Astaga! Anak mama cantik sekali. Sampai mama tak mengenali,”
“Ahh ... Mama! Fey jadi malu.”
“Ma ... kami pergi dulu! Mungkin nanti pulangnya agak malam!” kata Alex.
“Ya, Sayang! Hati-hati di jalan.”
Sebelum ke tempat tujuan, Alex mampir ke sebuah salon.
“Kenapa kemari?” tanya Fey.
“Mau make over kau. Aku sudah duga tampilan kamu akan minimalis. Tak salah aku jemput kau pukul 5 sore.”
Alex turun dan membuka pintu mobil untuk Fey, ia mengenggam tangan Fey.
“Jen! kau rias dan tata rambut dia!” kata Alex pada wanita yang di sapa Jen.
Alex menarik tangan Jen dan berbisik.
“Jen, rias dan tata rambut dia model sederhana tapi anggun,” pinta Alex.
Jen mengangguk.
“Pacar baru, Lex?” tanya Jen.
“Bukan, dia calon isteriku!”
“Serius!”
“Duarius”
Jen tersenyum.
Satu jam sudah Fey di make over, begitu selesai. Alex tak berkedip, sampai-sampai Jen harus menyikut Alex.
“Puas?” tanya Jen.
Alex hanya angkat jempol karena kehabisan kata-kata. Fey termangu melihat dirinya melalui cermin.
Apa ini aku? batin Fey.
“Jen, tolong foto kami.” Alex memberi ponsel pada Jen.
Alex menarik pinggang Fey mendekat, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Fey. Membuat wajah Fey merah merona.
Jen mengambil beberapa foto mereka berdua. Alex puas dengan hasil jepretan Jen.
Sebelum berangkat Alex mengeluarkan sebuah kotak berisi kalung. Alex mengenakan kalung itu di leher Fey dan liontinnya tepat di atas antara belahan dada Fey yang menonjol. Membuat keduanya jadi salah tingkah.
__ADS_1