Cinta Fey

Cinta Fey
Janggal


__ADS_3

“Fey! Matamu kok bengkak?” tanya Tara.


Karena Tara, semua mata tertuju pada Fey. Fey berusaha menundukkan wajahnya.


“Iya ... ya! Kalau mama lihat, memang terlihat bengkak, Fey!” kata Anna.


“Tidak apa-apa kok, Ma! Mungkin karena Fey baru kali ini pergi naik pesawat. Kemarin waktu berangkat mata Fey juga bengkak ya, Lex!” ucap Fey.


Fey melirik Alex yang tampak tenang, tak terganggu tatapan mata orang-orang di sekitarnya.


“Iya,” jawab Alex cuek.


“Kalau begitu sering-seringlah kalian pergi mumpung belum punya anak,” ucap Candra.


“Iya ... nanti kalau sudah ada anak kalian akan sulit bangun quality time berdua,” kata Anna.


Fey hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan kedua mertuanya.


---


Mengapa aku lihat kejanggalan di antara mereka, ya! Pasangan yang habis bulan madu biasanya tampil mesra. Mereka justru terlihat canggung satu sama lain atau terjadi sesuatu di Korsel.


Mata jeli Tara tak bisa di pungkiri, sangat tepat menilai situasi. Inilah yang dari dulu Alex di buat mati kutu oleh Tara


---


“Lex ... nanti sore kita ke rumah, sekalian antar oleh-oleh. Bisa?” ucap Fey sambil menggenakan dasi di leher Alex.


“Ya ... nanti aku usahakan pulang agak siang.”


Alex mengambil tas kantor dari tangan Fey, ia mencium kening Fey saat akan pergi.


“Aku pergi, Fey!”


Fey mengangguk pelan.


Alex menuju garasi, saat Alex akan masuk mobil, Tara nyerobot masuk mobil dulu.


“Kau masuk! Hari ini aku yang bawa,” kata Tara ketus.


Tampaknya urusan mata Fey menjadi urusan panjang.


Daripada pagi-pagi ribut, Alex menuruti kemauan Tara. Tanpa banyak bicara Alex masuk mobil. Tara langsung memacu kendaraannya menuju sebuah taman kota. Setelah mendapat tempat parkir, tanpa basa basi lagi. Tara langsung mencecar pertanyaan.


“Sekarang kau bilang, apa yang terjadi dengan Fey?” tanya Tara garang.


“Tidak ada apa-apa,” jawab Alex.


“Enggak ada apa-apa! Kok, mata Fey bengkak seperti abis nangis,” ucap Tara.


“Antara kami baik-baik saja,” kata Alex.


“Aku tak percaya. Fey tak bisa menyembunyikan sesuatu. Walau mulutnya bungkam. Matanya tak bisa bohong, Lex!” kata Tara.


“Kau boleh tanya Fey, kalau kau tak percaya!” sahut Alex.


“Huh! Aku di suruh tanya Fey, sama saja tanya dengan batu, selalu diam seribu bahasa. Kau sangat beruntung mendapat istri seperti Fey, tak pernah mengeluh. Kalian berdua setali tiga uang,” ucap Tara.


Tara keluar dari mobil lalu pergi menggunakan taksi. Tara meninggalkan Alex begitu saja. Alex hanya geleng-geleng kepala melihat ulah Tara.


Memang kuakui, aku beruntung menikahi Fey.


---


“Ma, nanti sore kami mau ke rumah mama Manda, mau antar oleh-oleh,” ucap Fey.

__ADS_1


“Ya, Sayang! Pergilah. Mama titip salam buat mama dan papamu, ya!”


Fey mengangguk.


Sore itu Alex pulang lebih awal karena sudah janji dengan Fey akan berkunjung ke rumah Amanda. Setelah Alex mandi mereka pun bersiap pergi kerumah Fey.


---


“Aduh, Sayang! Mama rindu,” ucap Amanda.


“Fey juga rindu, Ma" jawab Fey.


Keduanya saling berpelukan melepas kerinduan.


“Kau datang sendiri?”


“Tidak, Ma! Fey datang bersama Alex, ia sedang parkir mobil.”


“Kau kurusan, Fey?” tanya Amanda.


Amanda mengamati putri satu-satunya. Fey merasa risih di perhatikan Amanda dari atas ke bawah.


“Banyak makanan di rumah Alex bikin kaget perut Fey,” bisik Fey.


Fey berusaha memberi alasan pada Amanda. beruntung Amanda sudah tak banyak bertanya-tanya lagi.


“Ahh ... kamu bisa aja,” sahut Amanda.


“Papa belum pulang, Ma?” tanya Fey.


“Lagi sibuk, biasalah,” jawab Amanda.


“Apa kabar, Ma!" sapa Alex.


Alex memeluk dan mencium pipi Amanda, ibu mertuanya.


“Sama-sama, Ma. Mudah-mudahan Mama dan papa Sony suka,” sahut Alex.


“Yuk, kita makan. Mama sudah masak untuk kalian,” ajak Amanda.


“Wah makanan masakan Mama, enak! Pantas Fey pintar masak. Rupanya menurun dari Mama."


“Ahh, kau ini! Semua jika dikerjakan atas dasar cinta pasti baik. Apalagi masakan di olah dengan cinta, pasti enak di nikmati oleh orang tercinta pula.”


Alex termenung mendengar filosofi Amanda, sederhana namun menohok hatinya.


Apa yang selama ini Fey buat itu karena ia buat dengan cinta. Bukankah Toni juga memuji, kopi buatan Fey enak. Entah mengapa, setiap mendengar kata Toni. Aku tak suka mendengarnya.


“Nak Alex melamun apa?”


“Tidak melamun apa-apa, Ma!”


Alex pun kembali melanjutkan makannya kembali. Setelah makan malam, mereka bercengkrama, baru menjelang malam Alex dan Fey pamit pulang.


“Kami pulang, Ma,” kata Alex.


“Ya ... kalian hati-hati di jalan, ya,” sahut Amanda.


“Salam buat papa, Ma!” kata Fey


Amanda mengangguk.


---


“Fey, tolong buatkan aku kopi!” pinta Alex.

__ADS_1


“Ya!” sahut Fey.


“Kalian sudah pulang?” tanya Anna.


“Baru saja sampai, Ma,” jawab Fey.


“Huaaa ... mama masuk kamar dulu, ya! Sudah ngantuk,” ujar Anna.


“Ya ... Ma! Selamat malam. Mimpi indah, Ma!” sahut Fey.


“Selamat malam! Sama-sama, Sayang,” balas Anna.


Fey melanjutkan membuat kopi dan membawanya ke kamar. Alex sudah berada di ruang kerjanya.


“Lex ... ini kopinya!” ucap Fey.


Fey meletakkan kopi di meja kerja Alex.


“Makasih, Fey!”


Alex tanpa mengalihkan pandangan matanya sedikit pun pada lembar-lembar kertas dihadapannya. Alex terlihat sangat sibuk. Tak berapa lama Fey siap-siap untuk tidur.


“Lex ... aku tidur dulu!” ucap Fey sambil menghampiri Alex.


“Ya ... selamat tidur! Mimpi indah, Sayang.” Alex mencium kening Fey.


Fey mengangguk.


Tak berapa lama Fey sudah tertidur pulas. Menjelang tengah malam, Alex baru menyelesaikan pekerjaannya. Saat akan berangkat tidur, Alex menyempatkan diri memperhatikan Fey. Alex membetulkan selimut yang di kenakan Fey, terkadang menatap wajah Fey yang polos.


---


“Gimana Fey, rasanya menikah?” tanya Tara.


“Kenapa tanya-tanya?” Fey tanya balik.


Fey merasa sensitif saat di tanya kehidupan rumah tangganya.


“Ya ... kalau jawabannya enggak mengenakkan. Ya, mending enggak menikah!” jawab Tara asal.


Tak.


“Aduh! Di jitak,” teriak Tara.


“Kau, ya! Suka asal jawab,” ucap Fey.


“Ok, sekarang aku tanya serius. Kau bahagia dengan kehidupan sekarang?” tanya Tara.


“Ya ... aku bahagia! Seperti yang kau lihat,” jawab Fey.


Tara menatap wajah Fey.


“Sungguh, Ra! Aku bahagia, Alex baik padaku, kau bisa melihatnya.”


“Ya kalau dari luar, Alex perhatian, tapi aku tak tahu dalamnya.”


“Percayalah, kami luar dalam sama,”


“Fey ... seandainya kau tak bahagia atau Alex menyakiti hatimu. Bilang padaku, biar aku pukul suamimu itu,” ucap Tara.


Fey mengenggam tangan Tara.


“Ra, aku bahagia! Kau tak usah khawatir,” ujar Fey menyakinkan Tara.


Tara mengangguk.

__ADS_1


Setelah Tara keluar dari kamarnya.


Maafkan aku, Ra! Aku tak mungkin menceritakan apa yang terjadi di dalam rumah tanggaku. Kalau aku cerita ... bukankah sama saja aku membuka keburukan ku sendiri.


__ADS_2