
Tara : “Iyo, kutunggu kau malam ini di resto biasa. Pukul 7 malam!”
Tio membaca chat dari Tara.
“Ada apa, ya!” guman Tio dalam hati.
“Dok, ada pasien gawat di bed 1,” kata seorang perawat membuyarkan lamunan Tio.
“Ya!” sahut Tio sambil beranjak dari tempat duduknya.
Malam pun tiba, Tio pergi menuju sebuah resto, tempat janji dengan Tara.
Ternyata di sana ada pesta kecil yang di hadiri beberapa teman Tara. Tio menghampiri Tara di sana.
“Hai! Kau sudah datang!” sapa Tara sambil menyambut Tio.
“Hai! Kau ulang tahun hari ini?” tanya Tio setelah melihat ada kue ulang tahun.
Tara hanya mengangguk.
“Selamat ulang tahun, Ra!” ucap Tio sambil menjabat tangan Tara.
“Kadonya mana?” sahut Tara seperti anak kecil minta sesuatu.
“Kadonya menyusul! Aku tak tahu kalau hari ini, kau ulang tahun,” ucap Tio.
“Jadikan aku pacar!” kata Tara.
“Hah!” Tio terkejut.
“Iya, jadikan aku pacarmu. Itu kado yang kuminta darimu!” kata Tara.
“Kau ...!” Tio seperti blank.
“Aku serius! Aku ingin jadi pacarmu! Kenapa?” Tara mengenyitkan alis matanya.
“Hm ... Ra! Aku seumur hidup, baru kali ini aku di tembak!” sahut Tio sambil menggaruk kepalanya.
“Habis kalau nunggu kau yang nembak. Bisa-bisa kau kecantol orang lain, aku enggak mau jadi jomblo selamanya!” ucap Tara.
Tio hanya diam, ia baru berusaha melupakan Fey dari hatinya.
Apa Tuhan kirim Tara untuk membantuku melupakan Fey, batin Tio.
“Kok diam! Jawab dong, Iyo!” kata Tara.
“Hm ... aku bingung jawabnya. Maksudku, aku nyaman saat bersamamu tapi untuk urusan hati, masih ada seseorang yang mengisi hatiku, Ra! Walau di antara kami sudah tidak ada hubungan lagi!” kata Tio menjelaskan.
“Aku akan menunggumu!” kata Tara.
“Apa?” tanya Tio.
“Aku akan menunggumu!” jawab Tara mengulangi.
“Kau tadi bilang, kau nyaman saat bersamaku tapi di hatimu masih ada seseorang. Aku akan menunggumu!” kata Tara lagi.
“Tapi ....” kata Tio terputus.
“Enggak ada tapi-tapian, kita putuskan saja begitu. Yuk, makan! Aku sudah lapar!” ajak Tara sambil menggandeng tangan Tio.
Tio seperti kerbau di cocok hidungnya, hanya bisa ikut di belakang Tara. Malam itu kian larut diiringi alunan musik pesta ulang tahun Tara.
---
Keesokan harinya, Alex menghampiri Tara di teras rumah.
__ADS_1
“Ra! Gimana perkembangan hubunganmu dengan Tio?” tanya Alex.
“Baik, kemarin aku nembak dia!” jawab Tara.
“Hah! Serius?” tanya Alex lagi.
Tara mengangguk.
“Terus dia jawab apa?” tanya Alex penasaran.
Tara menceritakan semuanya kepada Alex.
“Tio masih mencintai seseorang dan ia belum bisa melupakan dia walau telah putus,” kata Tara.
“Kau tanya siapa dia?” tanya Alex.
“Tidak, aku tak ingin tahu siapa dia dan apapun tentang dia, Lex!” jawab Tara.
“Ya, sudah! Kalau itu menurutmu lebih baik. Aku ke kamar dulu!” kata Alex sambil berlalu.
Tara mengangguk.
---
Di dalam kamar Alex.
Syukurlah, Tara telah mengungkapkan perasaan, mudah-mudahan mereka berjodoh! batin Alex.
Tidak lama kemudian.
Ting.
Ponsel Alex ada notifikasi chat.
“Hm ... panjang umur ini orang,” guman Alex.
Alex : “Ok! Otw.”
Alex segera membalas chat Tio, ia pun segera meluncur menuju coffee shop, tempat janji bertemu Tio di sana. Tio telah menanti Alex di sana.
“Kapan datang?” tanya Alex.
“Baru lima menit yang lalu,” jawab Tio.
Alex segera duduk di hadapan Tio.
“Kau mau pesan minum apa?” tanya Tio.
“Apa aja, asal jangan kopi hitam!” jawab Alex.
Tak lama, pramusaji mengantar pesanan mereka.
“Lex! Ada yang mau kubicarakan!” kata Tio.
“Silakan bicara, tak usah sungkan,” sahut Alex.
“Ini tentang Tara!” ucap Tio memulai percakapannya.
“O ... itu!” Alex tebak arah pembicaraan Tio.
“Kau sudah tahu?” tanya Tio.
“Ya ... dia cerita. Dia tembak kau, cuma kau belum bisa buka hatimu untuk Tara,” ucap Alex.
“Ya ... karena itu, aku bilang padamu. Aku takut di anggap gantung status anak orang. Kalau aku laki-laki, enggak jadi masalah berbeda dengan Tara,” kata Tio.
__ADS_1
Kau sangat dewasa dalam berpikir, aku tenang jika Tara menikah dengan orang sepertimu, batin Alex.
“Perasaan kau ke Tara, bagaimana?” tanya Alex.
“Aku tak bisa bilang cinta padanya karena hatiku sedang mengalami masa sulit, ada sesuatu yang menganjal di antara aku dan dia. Jadi aku masih merasa belum stabil mengenai perasaanku pada Tara,” jawab Tio.
“Ikuti kata hatimu saja, Iyo!” ucap Alex.
“Kau tak keberatan kalau Tara menungguku?” tanya Tio.
“Tidak, itu kemauan Tara sendiri, aku tahu kau orang baik. Jangan terlalu lama, jika kau tak ingin menyesal di kemudian hari.” Alex menunduk.
“Kau pernah mengalami penyesalan?” tanya Tio.
Alex mengangguk.
“Hampir satu tahun, aku mengecewakan hidup dia. Aku sungguh beruntung walau tanpa sengaja, aku telah menyakiti dia sampai berkali-kali. Dia tak pernah sedikitpun mengeluh, aku belajar banyak dari dia tentang menghargai orang.” Mata Alex berkaca-kaca.
“Kau mencintai dia?” tanya Tio.
”Sangat cinta, melebihi nyawaku sendiri!” jawab Alex.
“Wah ... dia sungguh beruntung!” ucap Tio.
“Karena itu, aku pesan jangan sia-siakan orang yang mencintaimu. Agar kau tak alami penyesalan seperti diriku!” sahut Alex.
Tio mengangguk.
“Senang bicara denganmu!” ucap Tio.
“Cepatlah, kalian menikah!” kata Alex.
“Apa!” sahut Tio.
”Kau, cepatlah menikah! Agar kita bisa bicara 24 jam,” ucap Alex.
“Gila kau! Pasienku, gimana!” balas Tio.
“Ha ... ha ....” Alex tertawa terbahak-bahak.
“Kau ada-ada saja!” kata Tio.
---
Sementara itu, Danu terlibat perdebatan sengit dengan Sandra.
“Sandra tidak mau, Pa!” teriak Sandra.
“Tolong, San! Kau harus berobat agar kau tak semakin parah!” kata Danu.
“Gila! Maksud Papa?” tanya Sandra.
“Papa tidak bilang Sandra gila. Cuma kalau kau tak berobat, kau bisa mengalami depresi berat. Papa khawatir, San!” jawab Danu.
“Berobat ke psikiater itu sakit gila, Pa! Sandra tidak gila! Sandra tidak mau!” teriak Sandra.
Danu mengenggam tangan Sandra untuk menenangkannya.
“San, dengarkan papa! Papa tidak bilang Sandra gila. Tapi tolong, San! Kau anak papa satu-satunya. Papa mohon!” pinta Danu.
Sandra terdiam.
“Papa tahu perasaan Sandra, karena itu papa ajak Sandra konsultasi ke luar negeri untuk berobat. Agar tak ada yang mengetahui kau berobat ke psikiater,” ujar Danu.
“Tapi Sandra tidak gila!” Sandra mulai menangis.
__ADS_1
“Ke psikiater belum tentu gila, San! Kita konsultasi saja dulu,” kata Danu.
Akhirnya Sandra mau di ajak untuk konsultasi ke psikiater. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Sandra di diagnosa depresi dan harus melakukan terapi. Karena Sandra harus terapi, mau tak mau untuk sementara waktu mereka harus tinggal sampai waktu yang tidak ditentukan.