
Sampai pagi menjelang.
Sandra bangun merasakan pusing dan terasa sakit pada bagian selangkangannya, ia membuka matanya dan melihat sekelilingnya.
“Aku di mana?” Sandra duduk dan memegang kepalanya yang pusing.
Saat akan turun ranjang, ia merasakan tidak mengenakan pakaian satupun di tubuhnya. Sandra segera menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya. Sandra melihat Andy tidur seranjang dengannya.
“Aaaaaa ... kenapa kau di sini? Apa yang sudah kau lakukan padaku!” teriak Sandra sambil menendang Andy hingga terjatuh dari ranjang.
Andy yang baru saja terbangun menjadi blank. Setelah beberapa saat Andy baru bisa menguasai dirinya. Ia pun segera mengenakan pakaiannya.
“Tenang, San! Biar aku jelaskan i–ni–ini karena kau. Kau yang menggodaku! Kau yang minta ...!” ucap Andy.
“Kau!” teriak Sandra memotong kalimat Andy.
Plak.
Sandra menampar pipi Andy, raut wajah Sandra menyimpan kemarahan yang membuncah. Andy tak melawan sedikitpun, Sandra menangis terisak.
“Sorry, San! Aku pasti tanggung jawab ternyata kau masih virgin!” kata Andy.
“Sebaiknya kau diam!” bentak Sandra.
Sandra memungut semua pakaiannya dan berlari menuju ke kamar mandi bersama selimut yang masih menutupi tubuhnya. Selesai mengenakan pakaiannya di dalam sana lalu ia mengambil tasnya.
“San ... San ... dengarkan aku!” rengek Andy saat melihat Sandra akan pergi.
“Dy ... biarkan aku berpikir. Beri aku waktu!” pinta Sandra.
Sandra pergi meninggalkan Andy sendiri.
“San ... aku benar-benar mencintaimu!” ucap Andy lirih.
Sandra meninggalkan apartemen Andy dengan pikiran yang kacau balau.
Seandainya aku tak minum, aku tak akan mabuk, sehingga hal ini tidak terjadi! batin Sandra penuh sesal.
Sandra ke kantor miliknya yang telah lama tak berpenghuni. Kantor itu di lengkapi kamar tidur dan kamar kecil yang biasa Sandra gunakan untuk istirahat atau saat kerja lembur.
Ia melepas semua pakaian outernya di dalam toilet. Sandra melihat hampir seluruh tubuhnya penuh kissmark.
“Andy ... kau sungguh sialan! Karena ini aku tidak bisa pulang!” teriak Sandra.
Leher dan dadanya penuh tanda memar bekas ciuman Andy, membuat ia tak berani langsung pulang ke rumah.
Sandra mencari cara untuk menutupi kissmarknya, ia mencari sesuatu di dalam tasnya. Sandra permak lehernya dengan foundation kemudian di beri bedak.
“Hm ... cukup tersamar,” guman Sandra tersenyum puas.
Sandra mengenakan kembali pakaiannya dan pulang ke rumah Alex tapi sebelumnya ia ke apotik beli pil KB.
“Aku harus minum ini agar tak hamil!” kata Sandra pada diri sendiri sambil menggenggam salah satu alat kontrasepsi itu.
Sandra melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Pukul 10 siang pasti di rumah sudah sepi, aku harus segera pulang! batin Sandra.
---
Begitu tiba di rumah, ia segera masuk kamarnya dan hari itu, ia habiskan hanya di kamar saja.
“Apa yang harus aku lakukan!” guman Sandra sambil mondar mandir.
“Semoga obat ini bekerja, aku tak boleh hamil!” ucap Sandra sambil mengkonsumsi pil-pil itu.
Pada saat makan malam, baru Sandra keluar dari kamar karena merasa lapar. Tak lupa ia menyamarkan tanda memar akibat ciuman Andy.
“Semalam kau telepon aku mau apa?” tanya Alex saat di meja makan.
“Hm ... enggak ... enggak ada apa-apa. Hanya salah pencet!” jawab Sandra gugup.
Brengsek Andy! Pasti dia yang telepon Alex! batin Sandra.
“Kalau tak penting, enggak usah telepon,” ucap Alex dingin sambil menuju kamarnya.
Sandra mengejar Alex ke kamarnya.
“Hai! Aku sudah bilang, untuk tidak masuk ke kamar ini!” teriak Alex.
“Aku sudah tidak perduli! Mau kau pukul atau bunuh sekalian. Aku puas bisa penjarakan kau!” ucap Sandra.
“Aku tak sebodoh itu, mau melakukan itu untuk orang sepertimu,” sahut Alex sambil duduk di tepi ranjang.
“Aku masih istrimu! Kenapa aku telepon kau pun, kau larang!” teriak Sandra.
“Aku hanya mau bilang itu!” jawab Sandra.
“Heh! Aku kira, kau mengejarku sampai kamar minta, aku gagahi!” kata Alex santai.
Mendengar perkataan Alex, membuat Sandra marah, ia kembali ke kamarnya.
“Aaaaaa ...!” teriak Sandra sambil menghentakkan kaki ke lantai.
“Kalau bukan karena kau, Dy! Sudah kuterjang Alex di ranjang tadi,” ucap Sandra dengan geram.
Saat Alex menawarkan, Sandra sangat ingin menanggapi. Namun sayang ia teringat kissmark di sekujur tubuhnya membuat ia berpikir panjang. Sandra tak ingin Alex tahu apa yang sudah ia lakukan dengan pria lain.
---
Andy tampak gelisah di apartemennya, sepanjang hari Andy tak bisa konsentrasi mengerjakan apa pun. Rasanya gelisah tak tahu harus berbuat apa.
Kok Sandra belum menghubungiku ...
Perasaan Andy seperti pesakitan menunggu vonis hakim. Begitu yang Andy rasakan menunggu apa yang akan Sandra lakukan. Malam itupun Andy gelisah hingga pagi menjelang.
---
Pagi itu Sandra masih berada dalam kamarnya. Sandra kirim chat pada Andy.
Sandra : ”Aku baik-baik saja, tunggu chat atau call dariku.”
__ADS_1
---
Setelah Andy membaca pesan itu, ia merasa lega.
“Syukurlah, aku sudah tenang saat kau baik-baik saja,” ucap Andy pada diri sendiri.
Andy baru bisa tertidur pulas setelah semalaman menunggu kabar dari Sandra.
---
Keesokan harinya, Sandra chat Andy kembali.
Sandra : “Dy, siang ini kita ketemu di apartemenmu.”
Sebaiknya aku selesaikan ini sekarang juga, batin Sandra.
---
Ibarat dapat durian runtuh, Andy senang bukan kepalang mendapat chat dari pujaan hatinya. Sejak siang Andy sudah standby di apartemennya.
Orang yang di nanti pun telah tiba, dengan penuh semangat Andy menyambut kedatangan Sandra.
“Masuk, San!” Andy mempersilakan Sandra masuk.
Sandra melenggang masuk ke apartemen Andy, ia segera menutup pintunya rapat-rapat.
Plak.
Begitu pintu apartemen itu ditutup, Sandra melayangkan tamparan pada Andy.
“Kau!” ucap Andy sambil memegang pipinya yang panas akibat tamparan Sandra.
“Itu untuk kelancanganmu kemarin!” sahut Sandra.
“Sorry, aku memang salah. Tapi aku tak bermaksud ambil untung dari mabukmu. Kau yang memancing gairahku, San! Aku sudah berusaha tidak membawamu kemari. Aku telepon Rita tapi dia tak ada di rumah. Aku pun sudah menelepon Alex agar menjemputmu. Namun dia tak angkat,” kata Andy membela diri.
“Ya, aku tahu! Alex bilang padaku,” balas Sandra datar.
Akhirnya Sandra tahu Andy tidak sepenuhnya bermaksud melecehkannya.
“A–apa, Alex tahu?” tanya Andy.
“Ya, dia tahu! Ada call dari HP-ku?” jawab Sandra.
Andy mengangguk.
“Kita selanjutnya bagaimana, San?” tanya Andy.
“Tidak ada yang berubah, kita tetap seperti dulu. Kita anggap tak pernah terjadi apa-apa,” jawab Sandra datar.
“San, apa kau tidak mau hidup bersamaku saja! Aku janji akan membahagiakanmu!” ucap Andy menyakinkan Sandra.
“Aku tak mau mengecewakanmu. Aku tak bisa membalas perasaanmu. Sorry, Dy! Kau orang baik, sebaiknya kau mendapat yang lebih baik dariku,” balas Sandra.
“Kalau aku bisa, dari dulu aku sudah move on,” kata Andy.
__ADS_1
“Aku berterimakasih karena kau beri aku cinta. Tapi aku tak bisa melepas Alex,” sahut Sandra.