
Fey menyembunyikan wajah merahnya di dada Alex.
“Ha ... ha ... masih malu-malu!” kata Alex mempererat pelukannya.
“Lex, kemarin Tara ajak kita ke puncak,” ucap Fey.
“Boleh juga, tuh! Ide Tara tapi nunggu kau tak menstruasi, ya!” sahut Alex.
“Iih apa, sih!” Fey makin merangsek di pelukan Alex.
“Mana-mana wajah malu istriku! Aku mau lihat!” Alex menjauhkan dadanya agar ia bisa memandang wajah Fey.
Namun Fey mengambil bantal untuk menutupi wajahnya. Alex menarik bantal penutup wajah Fey, ia kembali menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Alex menahan tangan Fey di atas kepalanya.
“Aku suka lihat wajah merahmu, Fey! Pipimu merah seperti apel.”
Alex mendaratkan ciuman di bibir Fey dengan lembut. Alex merengkuh tubuh Fey dalam pelukan.
“Fey! Yang tadi siang aku bilang serius, ya!” kata Alex.
“Kau sangat ingin kita punya anak lagi?” tanya Fey.
Alex mengangguk.
“Ya, aku sangat ingin kau hamil anak keduaku!” jawab Alex.
“Benar, ya! Hanya kedua, ya!” kata Fey.
“Ya, jangan gitu dong! Kamu anak tunggal, aku dua bersaudara. Makin banyak aku makin senang!” sahut Alex.
“Ya, kamu senang. Aku yang repot!” ucap Fey.
“Serepot apapun kau, aku akan jadi suami siaga untukmu dan papa terbaik untuk anak kita!” balas Alex.
“O ... Lex!” sahut Fey sambil mengecup bibir Alex.
Keduanya pun tertidur pulas dengan saling berpelukan.
---
“Ra, aku akan melamarmu!” kata Tio tiba-tiba.
“Apa benar, Iyo! Yang kau katakan?” tanya Tara.
“Ya, tapi aku hanya seorang diri, apa kau mau terima pinangan dariku?” Tio tanya balik.
“Mau, Iyo! Kau tahu keluargaku tak pernah melihat harta seseorang,” jawab Tara.
“Makasih, Ra! Kau menemaniku di sisa umurku!” kata Tio.
Tio mengecup bibir Tara.
“Kapan kau akan datang memintaku pada orang tuaku?” tanya Tara.
“Minggu depan, aku akan datang meminang dirimu.” Tio memeluk tubuh Tara dengan erat.
---
Setelah selesai makan malam Tara menyampaikan keinginan Tio melamar dirinya.
“Ra, selamat ya!” ucap Alex dan Fey hampir bersamaan.
Fey memeluk Tara.
“Makasih, Fey! Aku ingin bahagia dan memiliki cinta seperti cinta kalian.”
“Pasti, Ra! Tio pria yang baik, kalian pasti bahagia!” sahut Fey.
“Ra, papa senang akhirnya gadis tomboy papa menikah,” Candra berseloroh.
__ADS_1
“Ahh ... Papa!” Tara malu-malu.
“Tara kini lebih feminim, kok ... Pa!” kata Fey.
“Benar, kau harus banyak belajar masak pada Fey. Para pria akan tertarik pada wanita pintar masak. Kalau selera perut sudah kena tak akan kemana-mana!” ucap Alex.
“Itu kalau Alex, Ra! Yang penting jadi diri sendiri!” kata Fey.
Tara mengangguk.
“Kapan Tio akan datang, Ra?” tanya Anna.
“Minggu depan, Ma!” jawab Tara.
“Bentar lagi! Cepat menikah, Ra!” ucap Alex.
“Aku sekolah belum selesai, main nikah aja!” sahut Tara.
“Ya, Ra! Agar tak menyesal!” Fey melirik Alex.
“Rupanya kau menyesal putus sekolah dan menikah denganku? Kalau kau tak putus kuliah kau sudah kecantol orang lain! Aku yang menyesal!” Alex cemberut.
“Aku enggak mau lama-lama, memangnya aku jaga jodoh orang lain!” kata Alex lagi.
Seisi ruangan tertawa.
---
“Pak, ada yang mau bertemu? Namanya Tio,” kata Benny.
“Tio? Oya ... suruh dia masuk!” sahut Candra.
“Siang Om. Maaf ganggu waktu istirahat Om,” kata Tio.
“O ... tidak! Kita sekalian makan siang bersama,” ajak Candra.
Tio pergi makan bersama dengan calon bapak mertuanya.
“Oya Tara sudah cerita, datanglah! Kau, kami terima dengan tangan terbuka!” sahut Candra.
“Om tak keberatan, Iyo yang sebatang kara ini menikahi Tara?” tanya Tio.
Candra menggeleng.
“Kau anak baik, mau sebatang kara, mau memiliki keluarga besar. Yang akan menikah, kan kamu? Bukan keluarga kamu, kamu pasti akan membuat Tara bahagia,” jawab Candra.
“Makasih, Om! Iyo Pasti akan membahagiakan Tara. Berbuat yang terbaik untuk Tara,” kata Tio.
“Sudah minta anaknya, masih panggil om!” sindir Candra.
“Maaf, P–Pa,” Tio mengaruk kepalanya.
Aku tenang memberikan Tara pada pemuda sepertimu! batin Candra.
Tio tersenyum.
---
Hari H, Tara telah tiba. Dari pagi Tara nervous, sebentar-sebentar ke kamar mandi.
“Ra! Tenang, jangan gugup!” kata Fey menenangkan.
“Aku pengin tenang, tapi hatiku enggak bisa tenang!” sahut Tara.
“Kamu ini bagaimana, sih! Enggak di lamar resah, di lamar nervous. Maunya gimana?” ucap Alex gemas melihat tingkah Tara.
“Auntie, Om Yo sudah datang!” Tian berseru dari luar rumah hingga kamar Tara.
“Gimana, Fey!” Tara kian panik.
__ADS_1
“Ambil napas panjang, Ra! Lalu hembuskan berlahan.”
Tara lakukan apa yang Fey katakan.
“Gimana, Ra?” tanya Fey.
Tara mengangguk.
Fey mengenggam tangan Tara keluar kamar, tampak di kejauhan Tio dengan setelan jas resmi terlihat sangat tampan.
“Fey, Tio sangat tampan!” kata Tara.
“Ya, serasi denganmu!” sahut Fey.
Acara pun berjalan dengan lancar, Tio pun telah menyematkan cincin tanda pengikat pada Tara. Tara terharu hingga menitikkan air mata.
“Jangan menangis di hari bahagia kita, Ra,” bisik Tio.
Tara mengangguk.
“Selamat datang di keluarga Candra Wijaya!”
Alex memeluk Tio dengan erat sambil menepuk punggungnya.
“Selamat, Iyo!” kata Alex.
“Makasih, Lex! Hm ... Kakak Ipar!” kata Tio malu-malu.
“Sudah enggak usah basa basi, panggil aku Alex seperti biasa,” sahut Alex.
“Selamat untuk kalian berdua, ya!” kata Fey.
---
Dengan sekali teguk, Sandra meminum satu gelas sloki red wine.
Prang.
Sandra melempar gelas sloki kosong ke arah cermin. Air mata Sandra mengalir bebas di kedua pipinya.
Hatinya sakit setiap keluarga Candra mendapat berita bahagia.
“Mengapa keberuntungan selalu berpihak padamu. Aku sangat membencimu, Ra!” teriak Sandra.
“Aku sangat membenci hingga aku ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri!” kata Sandra dengan penuh rasa kebencian yang sangat dalam.”
Tubuh Sandra terkulai di lantai, ia merasa dunia ini membenci dirinya hingga ia harus menelan rasa kecewa berkali-kali.
“Papa!” teriak Sandra tanpa sadar.
Sandra merasa rindu Danu, pria yang selalu menopang di saat terpuruk. Sandra menangis meraung-raung di apartemen barunya. Setelah puas menangis, Sandra tertidur pulas di atas lantai.
---
“Tian, ganti panggil om Yo dengan uncle!” kata Tara.
“Apa itu uncle?” tanya Tian.
“Artinya paman. Kan, auntie mau menikah dengan om Yo. Jadi ganti panggil uncle, ya!” pinta Tara.
“Jadi om ... eh uncle Yo akan di sini bersama kita, Ma?” tanya Tian.
Fey mengangguk.
“Asyik! Opa ... Oma!” teriak Tian di halaman belakang.
Taman belakang di sulap jadi pesta kebun untuk menyambut Tio menjadi bagian keluarga Candra Wijaya. Senyum keduanya tak pernah luntur dari wajah mereka.
“Apa yang kau lihat, Sayang!” Alex memeluk Fey dari belakang.
__ADS_1
“Tuh!” Fey menunjuk sepasang sejoli yang sedang bahagia.