Cinta Fey

Cinta Fey
Deja vu


__ADS_3

Fey hanya mengangguk, Fey menyandarkan kepalanya di dada bidang Alex.


Suhu tubuh masih menghangat dan deru napas mulai berangsur teratur, hanya itu yang tersisa dari aktivitas memadu kasih. Tanpa kata terucap, mereka hanya mengungkapkan dengan saling berpelukan erat, belaian lembut mengiringi tidur mereka hingga pulas.


Malam pun berganti pagi.


Alex membuka matanya saat matahari telah terbangun dari peraduannya. Alex teringat apa yang terjadi semalam, Alex melihat ranjang di sampingnya telah kosong. Secara refleks Alex langsung menyambar kimono tidurnya dan mengenakannya sambil beranjak dari ranjangnya.


“Fey ... Fey ... !” teriak Alex panik.


“Ya ...!” sahut Fey muncul dari kamar mandi.


Alex langsung memeluk Fey dengan sangat erat.


“Lex ... a–aku tak dapat bernapas,” ucap Fey dengan suara tercekik.


“Maaf, Fey!” Alex mengendurkan pelukannya. “aku teringat saat kau pergi. Persis sama kejadian semalam, aku takut! Kalau akan meninggalkanku. Itu seperti deja vu, bagiku,” ucap Alex dengan suara bergetar.


Alex seperti mengalami trauma, takut akan mengulang kejadian seperti dulu. Fey tak menyangka akan meninggalkan luka yang mendalam pada pria di hadapannya.


“Aku tak akan melakukan hal bodoh lagi, Sayang! Aku janji!” bisik Fey sambil memeluk Alex.


Fey membelai kepala Alex dengan lembut dan mencium rambut Alex. “Maafkan aku, Lex!”


“Fey, jangan pernah memendam masalah untuk diri sendiri. Aku tak mau kehilangan dirimu lagi. Hanya maut yang akan memisahkan kita. Kau mengerti, Fey!” kata Alex sambil menatap wajah Fey untuk minta kepastian dari Fey.


“Aku janji, Lex!!” sahut Fey dengan raut wajah serius.


Alex pun memeluk erat Fey kembali dan mencium rambut seakan takut kehilangan wanita yang telah menjadi belahan jiwanya.


---


Di rumah sakit, Tio berada di area parkir setelah dapat tugas jaga malam. Saat keluar jalur parkir, tiba-tiba Tio menginjak rem mendadak saat seseorang melintas depan mobilnya, ia ambruk di depan kendaraan Tio. Tio segera keluar dari mobil dan menghampirinya.


“Kau tak apa-apa, Nona?” Tio memapah wanita muda berdiri.


“O ... aku tak apa-apa. Maaf! Sudah membuat Anda terkejut” jawabnya.


“Anda sangat familiar, di mana aku pernah melihat Nona!” Tio mengingat-ingat.

__ADS_1


“O ... rupa Anda, Dokter! Aku, Sandra! Aku pernah menjadi pasien Anda!” sahut Sandra.


“Ya! Benar. Wajah Nona tak asing bagiku. Apa Anda terluka?” tanya Tio.


“Tidak! Mobil Dokter sama sekali tak menyentuhku, aku yang terkejut hingga terjatuh. Dokter bisa panggil nama saya, Sandra,” jawab Sandra tersenyum.


“San, kau benar-benar tak terluka? Atau kau cek up, biar aku yang tanggung biayanya,” Tio menawarkan.


“Tak usah, Dok! aku baik-baik saja. Kalau anda bersikeras, Anda bisa traktir aku saja. Ini kartu namaku,” Sandra menyerahkan sebuah kartu nama.


“Sedang kau di rumah sakit?” tanya Tio.


“O ... aku menjenguk temanku di sana,” Sandra menunjuk ke salah satu gedung di sekitar area rumah sakit di mana Tio bekerja sebagai salah satu tenaga medisnya.


“O ... kukira ....” ucap Tio.


“Bunuh diri!” cegat Sandra.


Tio mengangguk.


“Aku tak akan melakukan hal bodoh lagi, Dok! Hm ... bolehkah aku memanggil Anda, langsung nama?” tanya Sandra.


"Oya, silakan! Namaku Tio, umur kita tampak tak berbeda jauh. Hm ... maaf aku harus pergi,” sahut Tio.


Mereka pun berpisah, Tio segera mengendarai mobilnya menuju jalanan.


“Apalagi yang akan kau lakukan. Ok ... aku akan mengikuti permainanmu!” guman Tio pada diri sendiri.


Sandra pun masuk ke sebuah mobil miliknya di salah satu area parkir yang sama.


"Aku akan mencari kesempatan dengan menjalin hubungan pertemanan denganmu,” Sandra tersenyum namun senyum itu sangat menakutkan dan memiliki sejuta makna.


---


FLASHBACK


Pagi ini Danu mengantar Sandra ke bandara. Sandra akan melanjutkan terapinya di luar negeri sesuai janjinya dengan Danu.


“Pah, Sandra berangkat!” kata Sandra sambil memeluk dan mencium pipi Danu.

__ADS_1


“Ya hati-hati, Sayang!” sahut Danu sambil melambaikan tangan.


Sandra melenggang pergi sambil melambaikan tangan, ia mendorong koper miliknya. Setelah Sandra melewati pintu boarding pass bandara, Danu pun segera menuju area parkir dan bergegas menuju ke kantor.


Setelah Danu meninggalkan bandara, Sandra kembali keluar dari pintu boarding pass, selama ini, Sandra tak pernah pergi meninggalkan negara ini.


Danu terlalu sibuk dengan masalah kantor otomatis ia pasif berkomunikasi dengan Sandra. Danu hanya menerima kabar melalui chat dari Sandra saja. Selebihnya ponsel Sandra lebih banyak off.


Selama ini Sandra tinggal di apartemen barunya. Ia tak ingin hidupnya di kendalikan Danu lagi. Ia lebih memilih hidup dengan caranya sendiri, walau tersiksa. Sandra yang selalu suka pergaulan malam yang glamor kini Sandra mulai mengurangi aktivitasnya di malam hari demi meraih kehidupan bebas yang ia inginkan. Sandra kehilangan kepercayaan pada orang sekelilingnya termasuk Andy.


Kala rasa sepi menganggu dan tak tahan lagi, ia akan menghubungi seseorang untuk menemani dirinya berpesta bahkan untuk urusan ranjang, Sandra pun tak segan-segan menyewa jasa online untuk urusan ini. Sandra tak pernah mengajak orang lain ke apartemen barunya. Ia hanya bermain dan melakukan pesta di hotel kelas VIP. Semua ia lakukan semata-mata untuk menutup rapat tempat persembunyiannya.


Setelah bertemu Tio, ia menghempaskan diri di atas sofa ia memejamkan mata.


“Tio ... Tio ... kau adalah umpanku,” guman Sandra pada diri sendiri.


Entah apa yang di rencanakan Sandra dan siapa sasarannya kali ini.


---


Setiba Tio di rumah, ia membersihkan diri dan sarapan. Saat bersantai, Tio mengambil selembar kartu atas nama Sandra dari dompetnya.


“Hm ... kau rupanya seorang desainer,” guman Tio sambil meletakkan kartu nama Sandra di atas meja.


Tio menuju kamarnya dan merebahkan diri di atas ranjang. Ia menduga-duga apa yang akan Sandra lakukan hingga akhirnya Tio tertidur karena lelah sehabis tugas jaga semalaman.


---


Fey sedang berbenah barang-barang di kamar yang telah lama tak pernah ia sentuh. Mulai dari isi lemari pakaian dan lemari penyimpanan barang-barang.


Fey mengambil sebuah album foto, Fey membuka satu demi satu. Kadang senyum manis mengembang di bibir Fey, terkadang Fey tertawa lebar. Kenangan itu berputar kembali di otak Fey seperti film.


Hingga Fey melihat di suatu laci lemari, beberapa buah buku. Fey mengambil buku itu dan air mata Fey menetes dan berakhir deras. Fey terharu.


Fey meninggalkan tumpukan buku-buku itu sambil berlari menuju ranjang. Fey berusaha menahan tangisan dengan bantal namun ia tak kuasa menghentikan air matanya yang terus mengalir.


“Mah ... Mamah! Ternyata Mamah di sini!” Tian mencari Fey di kamar.


Fey berusaha mengusap namun terlambat, Tian telah melihat dirinya menangis.

__ADS_1


“Mamah menangis?” tanya Tian.


“Tidak, Sayang! Mata mamah hanya kemasukan debu, habis membersihkan itu!” jawab Fey sambil menunjuk buku yang tergeletak di lantai.


__ADS_2