
Fey tiba di rumah menjelang siang. Pintu ruang baca tidak tertutup sempurna hingga Fey mendengar suara Candra.
Rupanya papa tak pergi ke kantor.
Fey melangkahkan kaki kembali namun tertahan.
Mengapa namaku di sebut-sebut? batin Fey.
Fey kembali mendekati pintu ruang baca, ia mencuri dengar pembicaraan antara Candra dan Anna.
“Pa, mana bisa kita melakukan itu pada Fey!” kata Anna.
“Aku masih memiliki moral, Ma! Mana mungkin kita suruh mereka berpisah!” sahut Candra.
“Apa tak ada cara lain, Pa?” tanya Anna.
“Ada, kita jual beberapa properti untuk menutup kerugian. Itu kalau cukup, kalau tidak. Ya, kita tutup perusahaan,” jawab Candra.
“Danu dan Sandra memang sama gilanya, Alex sudah bahagia dengan Fey. Mereka ingin memisahkan Alex dari Fey hanya untuk menyenangkan Sandra. Tidak itu saja, bahkan meminta Alex menikahi Sandra! Aku tak sudi, punya mantu Sandra,” kata Anna.
“Mereka manusia licik,” sahut Candra.
Fey membungkam mulutnya, tenggorokannya tercekat mendengar percakapan mereka. Fey menjauhi pintu dengan langkah gontai menuju kamar. Fey terkulai lemas di lantai kamar. Apa yang baru ia dengar, bagai petir di siang bolong. Fey menitikkan air mata.
Ya ... Tuhan! Apa yang harus aku lakukan! O ... Sayangku! batin Fey.
Fey mengelus perutnya yang masih rata. Saat ia harusnya gembira mendapat anugerah mengandung buah cintanya dengan Alex namun Fey menghadapi dilema dengan keadaan perusahaan Candra yang kesulitan.
---
Pada saat makan malam, Fey berusaha bersikap wajar. Sesekali ia mencuri pandang pada Candra yang terlihat bersusah hati.
“Hei ... Fey! Kalau makan jangan melamun,” usik Tara.
Fey terkejut, kepergok Tara.
“Ahh ... enggak!” ucap Fey.
Fey berusaha bersikap wajar.
---
Di dalam kamar, tampak Alex duduk di sofa, sedang chat dengan seseorang. Fey memeluk Alex dari balik sandaran sofa.
“Lex!” bisik Fey
“Hmmm ....”
Mata Alex tertuju pada layar ponselnya.
“Lex...!” panggil Fey kedua kali.
Suara Fey bergetar, Alex segera meletakkan ponsel dan berbalik. Ia melihat mata Fey tampak berkaca-kaca.
“Fey, kenapa?” tanya Alex.
Alex panik, ia menarik Fey duduk di pangkuan Alex.
Fey menggelengkan kepala.
“Aku sayang kau, Lex! Aku tak ingin kehilangan kau!” Suara Fey kian parau.
__ADS_1
Fey memeluk erat Alex dan menangis terisak di dada bidang Alex. Kedua tangan Alex memegang pangkal leher Fey dan menatap wajah Fey.
“Hei ... hei ...! Kau lihat aku. Kau tak akan pernah kehilangan aku. Semua akan baik-baik saja.”
Alex memeluk dan menepuk-nepuk punggung untuk menenangkan Fey yang masih terisak.
“Siapa yang menyuruhmu berpisah denganku?” tanya Alex.
Fey menggeleng.
“Enggak ada, kan! Mengapa kau takut kehilangan aku. Aku tak pernah pergi atau meninggalkanmu. Ini janjiku, Fey! Jangan kau menangis lagi!” kata Alex.
Aku percaya kau tak akan pernah pergi meninggalkanku. Tapi mengapa air mataku tak mau berhenti mengalir ...
---
“Pak, ada tamu. Ia menantu pak Candra?” ucap sekretaris.
“O ... suruh dia masuk!” ucap Danu.
Hari itu Fey mendatangi kantor Danu yang tak lain ayah Sandra. Fey masuk ruangan Danu.
“Silakan duduk, kau mau minum apa?” sapa Danu.
Fey menggeleng.
“Maksud kedatanganku kemari ingin menanggapi penawaran Om ke papa Candra,” ucap Fey tanpa basa-basi.
“O ... ya ... ya ....” Danu mengangguk.
“Aku setuju dengan syarat yang Om ajukan,” kata Fey.
“Sungguh! Om sangat mengucapkan terimakasih,” sahut Danu.
“Kau memang gadis ... o .... tidak! Kau
menantu yang baik.”
Fey segera menarik tangannya.
“O ... maaf!” Danu melepas tangan Fey.
“Aku hanya bisa pergi, mengenai Alex mau menikahi Sandra atau tidak, itu terserah Alex. Beri aku waktu, untuk siap meninggalkan mereka. Dan jangan lupa janji Om akan bantu papa Candra!” ucap Fey.
“Pasti! Om pasti bantu papamu. Ini no HP om, silakan hubungi om saat kau siap. Saat kau pergi, om langsung penuhi janji!” sahut Danu.
Fey pun pergi meninggalkan kantor Danu.
Sungguh hati menantu Candra sangat mulia. Andai saja separuh sifatnya di miliki Sandra tentu akan lebih baik. Kau sangat beruntung, Can! Memiliki menantu yang rela berkorban untukmu.
---
Setelah menemui Danu, Fey ajak Tara makan di resto favoritnya, Japanese food.
“Kakak Ipar tumben ajak kencan adik ipar,” sapa Tara kocak.
“Ini anak dari dulu suka asal, memang enggak boleh ajak jalan-jalan. Apa kau sudah ada pacar? Jadi enggak mau aku ajak jalan lagi?” tanya Fey menggoda Tara.
“Ra ...!”
Fey mulai bicara serius di sela-sela makan.
__ADS_1
“Ya ...!” sahut Tara.
“Akhir-akhir ini papa kelihatan kurang fit. Kamu harus sering kasih perhatian, ya! Mama juga, Ra! Aku tak bisa mengandalkan Alex, ia kadang-kadang kurang peka. Kalau Alex salah, tolong kau tegur!” ucap Fey.
“Kau ini, pesan macam-macam seperti mau pergi jauh saja!” sahut Tara.
“Ya–ya, enggak! Alex lebih takut kau daripada padaku.” Fey gugup.
Tara mengangguk.
---
Dalam kamar Fey merenungkan.
Apa yang aku lakukan, sudah benar? Pasti ini yang terbaik.
Malam itu, Fey bersikap sangat manja hingga Alex terheran-heran.
“Kok! Hari ini kau gemes'in, ya!” ucap Alex.
Alex menghampiri fey yang duduk di tepi ranjang. Alex bersandar pada kepala ranjang memeluk Fey dari belakang.
“Kenapa? Enggak suka?” Fey tanya balik.
“Suka! Cuma enggak kaya biasanya. Kau, kan suka jaim,” sahut Alex.
“O ... ya!” jawab Fey singkat.
Alex mencium tengkuk Fey yang putih bersih, membuat Fey tertawa geli.
“Mengapa kau tertarik padaku?” tanya Fey.
“Di mataku, kau lembut tapi serba bisa. Enggak sangka gadis zaman sekarang, jarang ada yang bisa masak enak!” ucap Alex.
Alex memainkan tangan Fey, sesekali mencium rambut Fey.
“Masakan yang kau masak di puncak itu, enak Fey. Aku suka!” puji Alex.
“Mau aku buat'in lagi?” Fey menawarkan.
“Mau! Tapi jangan sekarang, itu bisa kapan kapan kau buatnya. Sekarang aku mau manja'in istriku ini,” sahut Alex.
Tak tahukah kau, Lex! Aku tak punya waktu lagi, untuk menyenangkanmu. Entah kapan aku akan memasak makanan kesukaanmu lagi.
Alex mencumbu Fey dengan sesekali mencium telinga dan leher Fey membuat Fey mengeliat di buatnya.
“Fey ...!”
“Hmm ....”
Fey menatap wajah Alex lekat-lekat.
O ... wajah ini akan aku rindukan.
“Fey ... aku ingin punya anak darimu, dua saja cukup. Mau cewek atau cowok terserah. Kalau cewek aku ingin ia cantik sepertimu, Sayang!” ucap Alex.
Alex membalas tatapan wajah Fey. Mata Fey menitikan air mata.
Kau telah punya satu di dalam rahimku, Lex! batin Fey.
“Kenapa kau menangis?” tanya Alex.
__ADS_1
“Aku terharu, Lex! Dalam hidupku, aku sudah tak ingin apa-apa selain melihat orang-orang yang aku cintai, hidup bahagia tiada yang lain,” ucap Fey.
“O ... Fey!”