
Aku telah kehilangan banyak hal dalam hidupku , tetapi tidak dengan kehilangan harga diriku, ini adalah suatu kehormatan jika aku bisa melakukan apa yang kujanjikan kepadamu.
*****
Pagi hari Dilla sudah memasak untuk sarapan pagi dan menatanya di meja makan apartemennya. Ia langsung mandi serta berpakaian yang cantik untuk menarik hati pria yang masih terlelap di ranjang miliknya. Diliriknya pria yang semalam tidur bersamanya dan pria itu tidak pernah puas memasukinya. Pria itu masih belum berpakaian dan berlindung di balik selimut dan sepertinya masih nyenyak di dalam mimpinya.
Dilla mengambil handphonenya dan memfoto pria yang masih terlelap di ranjangnya. Diambilnya selimut yang menutupi tubuh sang Pria dan difotonya beberapa gambarsang kekasih yang masih terlelap. Pria itu yang beberapa hari ini mengganggu tidurnya dan membuat tidak tenang karena terus merindukannya.
Dilla merasa bahwa ia sudah bergeser tujuannya dari yang semula meminta pria itu untuk menyingkirkan Soffie dari kehidupan David Pratama. Ia sudah tidak peduli lagi pada Soffie. Ia mulai tidak memikirkan bagaimana mendapatkan David Pratama. Ia menginginkan pria itu terus bersamanya.
Dilla seperti tersadar dengan pemikirannya. Mengapa ia bisa berubah? Apakah ia sudah benar-benar jatuh cinta pada pria ini. Pria yang memiliki latar belakang buruk di masa lalunya namun yang dirasa Dilla adalah pria itu tulus padanya, penampilannya keren meski berusia sama dengan ayahnya dan yang terpenting Handoyo mampu menjadi pendengar yang baik baginya sehingga ia nyaman bersama pria itu.
Segera ia melangkah menuju ranjangnya dan ingin mengajak pria yang masih terlelap itu untuk sarapan. Sudah hampir pukul 09.00 pagi, namun pria itu masih nyaman di balik selimut. Dilla segera duduk di samping pria yang masih terlelap dan mendengkur pelan.
"Mas Han....mas Han... " Panggil Dilla sambil mencium pipi pria yang matanya masih terpejam.
"Hem... kenapa La?" Jam berapa ini ....aku masih mengantuk sayang !"
"Mas Han... sudah hampir jam 9 nih.... sarapan yuk!" Aku sudah masakin sarapan Udang Balado dan tumis kangkung kesukaanmu... bangun dong sayang.!" Dila membujuk dan masih menciumi pria yang masih terlelap. dan memeluk guling di sampingnya.
"Kamu kerja hari ini?" Handoyo bertanya sambil matanya terus terpejam
"Gak mas... aku off sampe 5 hari ke depan... oh iya... Shinta sudah berhenti kerja katanya ayahnya sakit di kampung, mas Han," Dilla terus berceloteh, sementara Handoyo sudah mulai membuka matanya dan ia mengulet di tempat tidur itu untuk membantunya menyadarkan dirinya.
Handoyo bangun dan memundurkan tubuhnya sehingga bisa bersandar pada Headboard dari springbed itu. Ditatapnya wajah cantik itu lekat.
"Dilla, kamu itu cantik banget sih, " kalimat pembuka Handoyo yang membuat Dilla tersenyum.
"Terimakasih mas Handoyo !' Mandi dulu deh.. aku sudah siapkan air di Bath Tub dengan aroma "Blue mint" pasti kamu suka... terus kita sarapan ya, " Bujuk Dilla untuk membuat Handoyo bangkit dari ranjangnya.Ia menarik tangan Handoyo pelan seraya meminta pria itu bangkit , namun pria itu masih seperti ogah-ogahan untuk bangun dari ranjangnya.
__ADS_1
Handoyo segera mengambil gelas berisi air putih yang berada di meja kecil yang letaknya di samping tempat tidur. Segera diteguknya air putih itu dan habis dalam beberapa tegukan.
"kurang nih airnya sayang... aku masih haus,... "Pinta Handoyo sambil menyodorkan gelas.
"Bentar mas... aku ambilkan... aww,....... mas handoyo... apa yang kamu lakukan ?"" Dilla yang baru mau mengambil gelas dari tangan Handoyo langsung kaget karena pria itu menariknya hingga jatuh di atas tubuh kekar Handoyo. Pria itu tersenyum dan langsung bergerak cepat melucuti pakaian yang dikenakan Dilla
"Gak usah ambil disini sudah ada dan ini lebih bergizi, " Ujar Handoyo yang langsung membuka blouse Dilla, dan membuka kain ke dua yang berenda kemudian Handoyo melempar kain itu dan langsung menghisap isinya tanpa ragu.
"Mas Handoyo... semalam itu belum puas? Badanku sampai mau remuk nih...mas Han !' Dilla komplain karena pria itu tanpa ijin sudah langsung bertindak cepat.
Pria itu tidak berhenti seperti anak bayi yang kehausan dan tangannya bekerja dengan cepat tanpa dapat dikendalikan hingga Dilla kembali tidak berpakaian. Dilla kembali mendesah akibat perbuatan Handoyo yang tiba-tiba mencumbunya.
"Mas Han... ah mas han....bisakah setelah sarapan kita boleh lanjutin... sekarang mandi dulu yuk," Bujuk Dilla.
Handoyo menatap wajah kekasihnya dan tangannya mengangkat tubuh Dilla agar duduk di pangkuan Handoyo. Ia menatap lekat pada Dilla dengan sangat serius.
"Dilla... Jam 11 ini aku harus pergi dan mengatur ulang missiku... jangan nakal lagi... semalam dan pagi ini, aku sudah memuaskanmu... hemm.... bagaimana sayang, " Handoyo berkata sambil tersenyum dan melihat ekspresi Dilla yang mulai tidak nyaman, karena tangan Handoyo berada di simbol kesexyan Dilla pada bagian atas tubuhnya. Handoyo memutar-mutar dan memilin bagian kecil dari simbol itu.
Perkataan itu membuat Handoyo tiba-tiba terhenti dari aktifitas liarnya karena terkejut mendengar ucapan Dilla yang meminta menghentikan missi untuk menyingkirkan Soffie.
"Apa maksudmu Dilla, " Handoyo kembali fokos dan menghentikan kegiatan favoritnya. Tubuh Dilla masih berada di pangkuan Handoyo.
"Aku takut kamu kenapa-kenapa menjalankan tugas itu, "Dilla berkata lirih. "Aku tahu David bukan orang sembarangan, pasti di rumahnya ada banyak penjagaan dan bagaimana dengan keselamatan mas Handoyo... aku benar-benar takut kehilanganmu, mas Han... bisakah kamu tetap bersamaku saja?"
"Dilla ... kamu ingat bagaimana kita berkenalan?" Bukankah dulu kau memintaku melakukan dengan yakin dan percaya diri ! Aku tidak suka jika kamu berubah Dilla... tidak ada satu orangpun bisa lepas dari tembakanku... sampai saat ini aku masih dikenal sebagai cepot berdarah.... aku sudah melatih kembali ketepatan tembakkanku dan masih stabil.
"Aku takut jika kita tidak bisa bertemu lagi, mas Handoyo.... aku benar-benar mencintaimu... aku benar-benar ingin menghabiskan hidup bersamamu, Salahkah aku menginginkan itu , mas han?"
" Dilla... ini memang pekerjaanku... kamu tahu dari awal... aku memang bukan pria yang baik dan tepat untukmu... tapi aku juga benar-benar sayang dan tulus dalam mencintaimu... aku ingin memilikimu seutuhnya dengan sebuah kebanggaan... ini harga diriku jika aku menjalankan tugas darimu....anggaplah tugas ini sebagai mahar pernikahan kita.... Aku telah kehilangan banyak hal dalam hidupku , tetapi tidak dengan kehilangan harga diriku, ini adalah suatu kehormatan jika aku bisa melakukan apa yang kujanjikan kepadamu. " Handoyo mengelus pipi wanita itu yang sudah mulai meneteskan air mata.
"Iya... aku tahu itu pekerjaanmu adalah membunuh orang dengan bayaran mahal... tapi aku takut mas Handoyo terluka dan jika missi ini berhasil, Mas Handoyo akan menghilang beberapa waktu... bagaimana jika aku merindukanmu...aku benar-benar mengkhawatirkanmu, mas Han...
" Dilla.... aku akan terus mengawasimu... aku akan mendatangimu... kamu tahu aku bisa masuk apartemen ini tanpa terlihat... satpam tidak menghubungimu kan ketika aku datang kemarin ?" Handoyo mengingatkan Dilla akan kedatangannya. Apartemen Dilla terkenal akan penjagaan yang ketat dan diawasi oleh CCT namun pria itu mampu melewati satpam yang bertugas tanpa terlihat.
__ADS_1
"Sebenarnya aku juga bisa masuk ke dalam apartemenmu meski kau mengganti passwordnya... tapi aku ingin kamu melihat kejutan dari kedatanganku !" kata Handoyo sambil menghapus air mata Dilla. Dikecupnya bibir Dilla kembali dan digigitnya pelan.
" La, Nanti jam 11 aku akan pergi dan kamu tidak boleh menangisi lagi kepergianku.... lakukan aktifitasmu seperti biasa ! JIka ada yang bertanya padamu tentangku, ataupun berita tentangku.... kamu jangan terlibat apapun dan jika mendesak katakan bahwa kamu mengenalku karena aku adalah penggemar fanatik yang sering mengirimkan bunga untukmu...nanti pengacaraku akan ,mendatangimu dan mengurus perceraianmu !"
Dilla menganggukan kepala dan mulai memahami pria yang dihadapannya. " Mas handoyo akan mencariku kan? " tidak akan melupakanku?" tidak akan melupakan janjimu padaku sebagai mahar pernikahan kita ...
"Laki laki itu yang bisa dipegang ada dua, La... satu omonganku dan yang kedua adalah ini, " Ujar Handoyo sambil menarik tangan Dilla di bagian inti tubuh pria itu yang sudah mengeras. "La.... puaskan dia... sebelum aku pergi siang ini, " Ujar Handoyo yang mulai tidak bisa menata hati dan tubuhnya yang terus meronta minta dipuaskan oleh sang kekasih hati yang akan ditinggalkan.
Pria itu mengangkat Dilla hingga ia bisa menduduki senjata penting milik nya. Dilla bergerak diatas senjata itu dengan berusaha mengepaskan tubuhnya.
"Ah...
Handoyo menggeram dan menikmati perlakuan Dilla. Demikian juga Dilla begitu menikmati apa yang ia lakukan. Dilla tidak mengetahui bahwa di dalam rahimnya telah bersemanyam benih Handoyo akibat pria itu terlalu sering memasuki tubuhnya tanpa pengaman.
Itulah yang membuat hormon Dilla meningkat drastis dan selalu ingin berdekatan dengan pria yang ada di bawahnya dan tangan pria itu terus bekerja meremas milik Dilla hingga Dilla makin menggila. Hingga cairan itu keluar kembali di dalam tubuh Dilla.
"Kumohon berjanjilah padaku... jangan ada yang memasukimu selagi aku tidak ada di sampingmu, Dilla sayang!
"Aku akan terus menunggumu, mas Handoyo, " Bisik Dilla di telinga Handoyo.
"Aku mencintaimu, Dilla !"
*****
Happy Reading guys..... tunggu ya, eksekusi bentar lagi akan dimulai. Semangat untuk kalian yang membacanya dan bolehkah tinggalkan jejak kalian disini !!
Thanks telah berbaik hati membacaya ! Love you all
__ADS_1