Cinta Kan MembawaMu Kembali

Cinta Kan MembawaMu Kembali
5. Tante Sabrina


__ADS_3

hi... temans, bisakah koment untuk novel ini, biar tahu kekuranganku, like juga oke ko.., thx guys😃😃😃 happy reading!!


******


Ketika Soffie turun dari gocar di depan gerbang rumahnya, ia terkejut ada sebuah mobil terparkir di depan pintu garasi  rumahnya. Lampu ruang tamu yang menyala dan suara orang sedang ngobrol menghentikan langkahnya sesaat. Lelah sepulang kerja menjadikan pikirannya menjadi kurang cermat pikir Soffie. Itu bukan suara yang dirindukannya. Langkahnya terhenti di dekat pintu samping rumahnya. bukan... dilanjutkan kembali langkahnya memasuki pintu samping.


Segera Soffie masuk ruang tengah dan ketika menuju kamarku, suara itu terdengar kembali. Suara Ardi.   Apakah Ardi  datang ke rumahku... sama siapa? Akh gak  mungkin fikir Soffie. Ditepisnya pikirannya. Tak mungkin suara Ardi yang ada di ruang tamu rumahnya.


Sehabis  mandi  dan berganti pakaian , Soffie langsung menuju ke arah ruang makan karena ia merasa lapar, namun suara mama yang memanggilnya membuatnya berfikir ulang untuk segera makan.  Langkahnya pun berbalik ke arah ruang tamu, untuk menyapa tamu mamanya. Namun ia tercekat melihat siapa yang duduk di ruang tamu rumahnya.


Ardi,... bener-bener Ardi ,  suara yang didengar ketika ia pulang benar-benar ada di rumahnya. Ardi adalah  lelaki yang pernah mengisi hari-harinya diwaktu kuliah di UI sedang berada di ruang tamu rumahnya. Tapi Ardi datang Bersama tante Sabrina. Kenapa tangan tante Sabrina berada di paha Ardi.  Aku masih tercekat, demikian juga Ardi terus memandangku. Wajah Ardi terkejut ketika pandangan kami bertemu. Suara tante Sabrina menghentikan lamunanku.


“Soffie ….  Apa kabar sayang, ” Teriak  tante sabrina padaku.


Tante Sabrina bangkit dari kursi dan segera memelukku erat. Aku masih tak mampu berkata-kata ketika tante Sabrina menarik tubuhku ke pelukannya. Ardi masih melihatku, ekspresinya tidak dapat dilukiskan karena masih terkejut.


“Baik tante,  emmh…,” jawabku ketika kesadaranku kembali. Aku memeluk tante Sabrina.


“Bagaimana  dengan tante sekarang, kapan tante datang  dari singapura ? “kataku  sambil mengalihkan pandanganku dari Ardi yang masih  duduk di sofa samping tante Sabrina.


Tante sabrina adalah adik bungsu mama yang tinggal di Singapura. Umurnya masih 34 tahun dan Ia bekerja dan tinggal di Singapura. Tante sabrina sering mengirimkanku pakaian dan uang saku ketika Soffie sekolah dan kuliah. Ia adalah tante yang cantik, baik dan ramah.


“Tante baik donk sayang, sekarang tante sudah menikah, Oh ya perkenalkan ini suami tante, Namanya Ardi Wibowo, kamu  bisa panggil om  Ardi,  "Ucap Tante dengan penuh semangat.


“Ayo  Ardi sayang…  kenalkan ini keponakanku, Soffie.  dia  berhasil kerja di BI, hebat kan keponakanku ini, sudah cantik, pintar pula… “ Celoteh tante sabrina yang menarik tangan Ardi padaku agar bersalaman denganku.

__ADS_1


“Sabrina…... emh  Soffie  ini dulu adik kelasku dan aku pernah menjadi pembimbing salah satu tugas magangnya  di UI, jadi  aku mengenalnya dengan baik… Hai Soffie, apa khabar? “ Ardi tersenyum ramah padaku dan mengulurkan tangannya dan menggenggam dengan erat.


Serasa ada rasa yang hilang dari  hatiku  dan sedikit nyeri muncul  di hatiku saat ini. Tapi aku harus tersenyum


pada mereka dan terutama pada mamaku karena mama tidak  boleh mengetahuinya. Bahwa Ardi pernah menjadi kekasihku  dulu di kampus. Ardi sering  mendampingiku dalam proyek-proyek sosial di Kampus ataupun  di berbagai kegiatan mahasiswa.


Kesibukan Ardi  kuliah dan bekerja di hari libur sehingga hampir tidak pernah kami berkencan di hari libur dan menikmati hubungan pacaran seperti pada umumnya.  Ardi dulu sering mengantarku  pulang hanya sampai stasiun kereta api karena kita berbeda arah pulang dan ia tidak memiliki kendaraan dan uang yang terbatas untuk kehidupan Ardi dan adik-adiknya.


Ardi sudah tidak memiliki orang tua karena itu ia harus bekerja dan menjadi tulang punggung bagi adik-adiknya. Aku cukup memahami dan mentolerir semua kerja keras Ardi. Kami lost kontak karena Ardi mendapat beasiswa S3 dan bekerja di Singapura dan dulu ia menjanjikan akan menghubungi setiap minggu ketika ia berada di sana, tapi Ardi tak pernah menghubungiku sekalipun selama di Singapura.


Dulu Soffie pernah menangisi kepergian  Ardi ketika ia menghilang tanpa kabar…. Dan sekarang Ardi muncul di


depan matanya sebagai Om.  Ardi  adalah Suami tantenya. Mantan kekasihku menjadi Om-ku... Ironis!  Aku bingung harus bersikap bagaimana. Kenapa kamu menjadi suami tanteku, Ardi.


“Hai … om ardi,, sekarang aku  harus memanggilmu om ya…, Kataku sambil tersenyum pahit pada ardi.


“Bagaimana kalian bisa saling mengenal,” Selidik Sabrina


“Dulu ia mahasiswaku Sa… Dia  adalah salah satu mahasiswa berprestasi…,” Kata Ardi menjelaskan pada Sabrina.


" Iya tante.. Om ardi adalah salah satu dosenku dulu. Aku pernah mengambil mata kuliah kelasnya.


" Oh... Jadi phi, kamu mengenal Ardi dulu... bagaimana dulu , ia di kampus , phi? " Tanya Sabrina dengan penuh semangat.


"Emh... maaf tante, Soffie hanya mengenal dia sebagai dosen saja, kami jarang ngobrol diluar kegiatan kampus," Jawab Soffie dengan penuh keyakinan. Maafkan Soffie tante.

__ADS_1


“Ayo sekarang kita makan, sudah lengkap kita dan makanan juga sudah siap, “ kata mamaku sambil menarik tangan Sabrina ke ruang makan.


Ardi menarik nafas dan tetap memandang Soffie. Ia melangkahkan kaki menuju ruang makan dan duduk di sebelah Sabrina, sedangkan Soffie di sebelah Jeanny. Ardi duduk berhadapan dengan Sofffie, sehingga mereka merasa canggung satu sama lain. Mereka ingin bertegur sapa setelah sekian lama, tapi mereka mengetahui akan melukai wanita yang duduk disebelah mereka masing-masing.


Acara makan malam bersama keluarga menurut mamaku , hanya diisi oleh suara tante sabrina dan mama.  Soffie  dan Ardi hanya terdiam dan menjawab sesekali sambil tersenyum mengikuti arah pembicaraan. Ardi dan Soffie masih saling mencuri pandang dan tidak bisa saling berkata-kata. Pertemuan pertama setelah berpisah namun tidak ada yang bisa mereka katakan dan lakukan, mereka telah melihat bahwa didepan mereka sudah ada jurang yang sangat lebar. Om dan keponakannya.


Selesai makan  Jeany mengajak mereka menginap . Soffie dan Ardi sama-sama terkejut atas tawaran mama Soffie. Untungnya Sabrina menolaknya karena besok mereka akan ke Karawang menemui adik-adik Ardi. Dan akhirnya merekapun berpamitan, meski Jeany masih terus membujuk mereka untuk berangkat dari  di rumah. Untungnya mereka menolaknya, kalo tidak Soffie  tidak bisa tidur malam ini, mana besok masih hari jumat dan  ia harus kerja.


****


Dalam perjalanan pulang Ardi dan Sabrina tidak bercakap-cakap karena Sabrina sudah mengantuk dan tertidur di mobil. Begitu mereka sampai di rumah mereka di Kawasan Depok, istrinya masih tertidur dan  Ardi menggendong Sabrina ke kamar mereka.


Hingga malam beralih ke dini hari, mata Ardi masih belum terpejam. Ia mengingat janjinya pada Soffie di masa lalu. Ia merasa bersalah pada kekasih masa lalunya.  Mengapa Sabrina harus menjadi tante Soffie, apa yang harus kulakukan. Soffie makin cantik dan senyumnya itu benar-benar menggoda Ardi untuk mengingat kebersamaan mereka di masa lalu. .  Namun Sabrina sudah banyak membantu banyak keluargaku. Ia membiayai ketiga adikku kuliah. Maafkan aku Soffie. Helaan nafas Ardi masih terus terdengar, ia tidak bisa tidur mengingat pertemuannya dengan Soffie.


Ardi  masih mencintai Soffie. Ardi merindukan senyum manisnya dan wajahnya yang sering memerah jika ia menggodanya. Sabrina yang tertidur lelap di sampingnya, berbalik dan memeluk tubuhnya.  ia terkejut suaminya masih terjaga.


' Sayang, ... kamu belum tidur?


"Aku baru terbangun ko Sa... ini mau ke toilet.. tidurlah lagi, Sa. Besok kita masih harus ke Karawang.


"Baiklah


Malam semakin larut ketika Ardi tertidur. Dalam tidur Ardi  , terlihat seraut wajah Soffie  yang sedang tersenyum dan memegang tangan Ardi. Mereka berpegangan tangan menuju stasiun kereta api.


"Kamu akan menelponku kan, mas Ardi? Kamu tidak akan melupakanku ?

__ADS_1


"Tentu saja... aku akan menelponmu setiap minggu, Jangan kuatir! Tunggu aku kembali, aku akan melamarmu! Aku akan bekerja dengan giat hingga kita bisa menikah ketika kukembali!


"Aku akan menunggumu, Mas Ardi!


__ADS_2