
Sebesar apapun cinta seorang wanita, ia akhirnya akan pergi ketika kehadirannya tidak dihargai. Mungkin dia pernah memohonmu untuk berubah tapi jika selalu diabaikan maka ia benar-benar pergi dari hidupmu
*****
( Brak)
Pintu mobil ditutup oleh Amara. Dengan langkah sedikit lemah, Amara melangkah dari parkiran menuju lobby Dinas Pendidikan Kota Jakarta, Macetnya perjalanan dari kampusnya menuju Gatot subroto ditempuh selama 3 jam . Jika tidak penting maka ia tidak mau berangkat sendiri ke sini dan akan meminta assisten yang datang. Salah satu tugas ketua Program studi di kampusnya adalah harus melaporkan posisi perubahan data dosen pengajar dan yang paling utama adalah mengurus perpanjangan surat ijin kampusnya, karena ia merupakan pemilik kampus itu.
Sekilas ia melihat mobil Fahri terparkir tidak jauh dari mobilnya, tapi Amara berfikir mungkin hanya perasaannya saja karena ia tidak mengingat nomor plat mobil pria itu. Ahh tak mungkin Fahri ada di sini. Ia terus melangkah meninggalkan parkiran dan konsen pada tujuannya. Urusannya di dinas bisa diselesaikan dalam waktu tidak kurang dari 1 jam. Amara tersenyum ketika meninggalkan ruang perijinan untuk kampus swasta. Akhirnya ia keluar dan menuju parkiran dimana mobilnya diparkir.
(Grepp)
Sebuah tangan besar dan kekar menarik Amara ke sudut pojokan parkiran. Amara terdorong ke dinding. Ia melihat sosok tersebut dengan cepat.
"Fah... Fahri..." Sahut Amara terkejut.
Tanpa menjawab Amara , Pria itu mengambil tindakan di luar nalar. Pria yang biasa begitu santun pada Amara. Ia ******* bibir Amara dengan ganas. Ke dua tangannya masih mendorong Amara di dinding dan menahannya agar tidak melarikan diri darinya.
Amara terkejut pada tindakan Fahri dan belum dapat bertindak. Sebagian otaknya sedikit terbuai dan akhirnya setitik kesadaran Amara harus segera mendorong mantan kekasihnya yang tiba-tiba muncul di depannya.
"Fahri... apa-apaan kamu?" Bentak Amara ketika berhasil mendorong pria itu. Namun tangan Fahri masih mengungkungi Amara sehingga wanita itu tidak bisa bergerak melepaskan dirinya.
"Aku benar-benar merindukanmu, Mara.... maafkan aku..... kembalilah padaku... aku akan menceraikannya, " Ucap Fahri dengan sedikit mengiba. Matanya menatap Amara dengan tulus. " Aku tidak bisa melupakanmu, Amara !"
"Pergilah... diantara kita sudah selesai, Fahri... "Jawab Amara pelan dan berusaha tegar.
"Maafkan kesalahanku... kita mulai dari awal ya, Mara ?"
Amara berfikir bagaimana ia dapat melepaskan diri dari lelaki ini. Amara tidak ingin melihat mata Fahri. Ia takut terjatuh kembali dalam pesona lelaki itu. Ia harus setia pada Jajang, pria yang sekarang menjadi kekasihnya. Ia berusaha mencari orang yang lewat ataukah ada yang bisa membantunya lepas dari pria yang masih mendorong tubuhnya di tembok dan menahannya dengan posisi yang tidak merugikannya.
"Apakah benar berita yang kudengar, mara bahwa kau akan menikah?" Sekarang kau dekat dengan Jajang...?"
"Ya... kami akan menikah.dua bulan lagi.
"Kau tak mungkin begitu cepat melupakanku, Mara..
"Kamu adalah masa lalu, Fahri... sekarang lepaskan aku.... aku harus pergi, " Ujar Amara sambil berupaya mendorong lelaki itu.
Namun tenaganya kalah kuat dari pria yang berdiri di hadapannya Tidak ada pergeseran dari lelaki itu. Fahri masih berusaha menciumnya kembali dan Amara membuang mukanya. Amara merasa lelah dengan posisinya yang seperti ini. Ia berharap ada yang menolongnya bisa lepas dari Fahri. Hingga sebuah tangan dibelakang pria itu menarik Fahri dan mendorong sang lelaki agar menjauhinya. Pria itu memukul wajah Fahri beberapa kali sambil berteriak.
__ADS_1
"Br*ngs*k kau Fahri...beraninya mengganggu calon istriku !"
Jajang. Kenapa bisa ada Jajang di sini. Apakah ia melihat apa yang dilakukan Fahri tadi. Perasaan Amara campur aduk antara senang karena terbebas dari Fahri namun sedikit khawatir apakah Jajang melihat apa yang dilakukan Fahri padanya barusan.
Kedua pria itu akhirnya saling memukul dan Amara hanya bisa berteriak meminta mereka berhenti. Perkelahian itu mengakibatkan beberapa orang akhirnya mendekat dan melerai perkelahian itu. Fahri tersenyum seraya mengejek pria yang menghajarnya habis-habisan dipegang oleh beberapa orang di parkiran. Demikian juga Fahri yang tangannya dipegang oleh dua orang pria yang tidak dikenal yang memegangnya agar tidak memukul lawannya.
"Sabar pak... semua bisa dibicarakan... "suara seorang bapak-bapak yang melerai pertikaian dua pria itu,
"Lepaskan saya..; dia hampir memperkosa tunangan saya... saya akan menghajarnya... saya harus memberi pelajaran pada lelaki brengsek itu!" Teriak Jajang dengan penuh emosi.
"Tenang pak... tenang...semua bisa kita bicarakan... malu juga jika kita sudah dewasa berkelahi... terlebih yang hadir disini pasti kalo bukan guru ya dosen... bener kan?" Bapak Guru atau Dosen ? .. " Apa bapak gak malu kalo berkelahi dan kemudian diviralkan...ntar ditonton anak murid kan lebih malu . "Suara Bapak itu lagi.
Ucapan itu membuat Fahri dan Jajang tersadarkan dan menjadi sedikit tenang. Amara menghampiri Jajang dan ingin meminta perkelahian dihentikan karena tindakan kedua pria itu sudah disaksikan banyak orang.
"Aa... kita pulang yuk... sudah deh.. gak usah diperpanjang...."Bujuk Amara pada Jajang.
"Kamu terluka gak, ra?" Tanya Jajang pada kekasihnya
"Aku baik-baik saja.... " Jawab Amara pendek. Ia segera menoleh pada Bapak-bapak yang ada di sebelah Jajang. "Terimakasih ya pak !" Kata Amara sambil tersenyum pada bapak-bapak yang membantu melerai perkelahian itu.
"Bubar... ayo semua bubar .... sudah selesai tontonannya...."kata-bapak itu dengan santai dan membubarkan kerumunan yang sempat tercipta di parkiran. Dan ketika Jajang menarik tangan Amara menuju mobilnya, Fahri masih memprovokasinya.
Wajah Jajang masih memerah menahan amarah dan ia masih di tarik Amara menuju mobil . Amara mengajak Jajang menuju mobilnya yang terparkir melintang karena awalnya Jajang terkejut melihat Amara yang berada di parkiran yang kemudian wanita itu ditarik Fahri ketika ia baru memasuki parkiran.
"Aa... ayo kita pulang...nanti aku minta sopir kampus untuk mengambil mobilku disini !" Bujuk Amara yang membuat Jajang mengalihkan pandangannya dari lelaki yang tadi dihajarnya.
"Ya... "Jawab Jajang sambil menekan kunci mobil dan ia memasuki mobilnya bersama Amara dan meninggalkan parkiran di situ. Sementara Fahri masih memandangi kepergian sepasang kekasih yang menorehkan luka di hatinya. Ketika Jajang melajukan mobilnya meninggalkan kantor Dinas pendidikan, ia menepuk kepalanya karena baru tersadar mengenai tujuannya ke dinas pendidikan.
"Astaga... aku jadi lupa , aku harus mengurus sertifikasi dosenku....
"Maafkan aku, Aa... seandainya tadi tidak ada insiden itu ...mungkin urusan aa jadi beres... apakah kita akan kembali ke sana untuk mengurusnya A?"
"Sudahlah... lain kali saja...
"Maafkan aku ya, A...
"Bukan salahmu.... boleh aku tanya, mara ?"
"tanya apa A..
__ADS_1
"Pertanyaan dari lelaki itu... lebih enak mana ciumanku ataukah lelaki itu ?" Apakah kau belum melupakannya, mara ?" Tanya Jajang dengan serius dan mengalihkan pandangannya dari ramainya lalu lintas yang semakin macet.
Amara terkejut. Ia tidak mampu menjawabnya. Malu sekali bagaimana ini menjawabnya. Namun Jajang masih sesekali memandangnya sambil menyetir. "Kau keberatan menjawabnya, Mara ?"
"Aa... dia hanya masa laluku... aku juga tadi tidak menikmati apapun... aku hanya berupaya melepaskan diri darinya.... selama ini kami berpacaran dia tidak pernah melakukan itu padaku, A... kumohon percayalah padaku...
"Kamu tidak sedang membohongikukan, Mara ?"
"Aa... percayalah padaku... aku tidak sedang berbohong, " Jawab Amara.
"Kamu kalo pergi jangan sendiri dong.. kalo aku kosong aku bisa mengantarmu... atau kamu pake sopir aja... jadi minimal ada yang menolongmu jika kamu mendapat pelecehan seperti tadi...
"Maafkan aku , A... aku tidak tahu akan ada insiden ini... aku terbiasa ke mana-mana sendiri. Besok selain ke kampus aku akan minta di antar sopir saja deh... sekarang kita makan yuk Aa, " Bujuk Amara untuk menenangkan kekasihnya.
Jajang menarik Amara ke dalam pelukannya, dan mencium pucuk kepala wanita itu. " Aku sayang kamu, mara.... aku tidak mau kehilangan kamu..
"Aku juga aa.... jangan marah ya... aku tidak tahu tadi fahri disana...
"Aku bukan marah padamu.... aku hanya tidak suka melihatnya...
"Aa cemburu ya?"
"Iya..... aku gak suka wanitaku dicium mantannya....'Lain kali kalo pergi meski aku tak mengantarmu...minimal kamu beritahu aku ya, Mara... aku ko khawatir sekali padamu.... aku bener-bener sayang kamu, ....aku takut kehilanganmu, mara ...
" Aa tidak akan kehilanganku.... aku akan setia pada Aa...aku juga tahu rasanya kehilangan... aku tidak mau kehilangan Aa juga... makasih ya, Aa sudah melepaskanku dari Fahri, " Amara menatap Jajang dan mengambil tangannya dan mencium punggung tangan lelaki itu.
"Sakit gak , A tangannya?"
"Tanganku gak sakit... yang sakit itu hatiku, Mara.... aku tidak rela dia menciummu.. itu membuatku marah.
"Aa... bisakah melupakan yang tadi?"
"Bisa... tapi nanti di toilet kamu cuci mulut kamu itu bersih-bersih... aku gak rela ada virus dia ditubuhmu....
Amara tersenyum mendengar jawaban dari pria yang tengah cemburu itu. " Aku pasti mencucinya bersih-bersih...!" Jawab amara dengan tegas.
*****
Happy reading Guys.... bolehkah tinggalkan komentar/ like/ poin/ hadiah untukku, biar makin semangat. Terimakasih telah membacanya. Tetap semangat dalam menjalani hari-hari ini. Do the best in your life !!!!!
__ADS_1