Cinta Kan MembawaMu Kembali

Cinta Kan MembawaMu Kembali
34. Extra Part : Ardi Life


__ADS_3

Ardi masih menyesali kebodohannya yang membiarkan David memukulinya dan mematahkan kaki dan lengannya beberapa bulan yang lalu.  Satu hal yang paling Ardi sesali adalah tindakannya yang tidak mengecek dahulu kemampuan David. Ia berfikir  bahwa David cuma lelaki kaya yang arogan dan gemar membanggakan kekayaan yang berasal dari warisan keluarga  tanpa didukung keahlian apapun. Benar-benar David mengecohnya selama ini.


David berhasil mengambil hati Soffie dan memilikinya secara utuh. Tidak ada lagi Ardi di hati Soffie. Ajakan Ardi untuk  mengajak Soffie membina kasih kembali dan mereka akan menikah di tahun depan, benar-benar ditolak Soffie dan memilih setia pada David membuat Ardi semakin terluka. Soffie begitu mantap dengan David sebagai pilihan pendamping hidupnya.


Seandainya dulu di Singapura , Ardi  memilih untuk menjaga kesetiaan  pada Soffie dan menolak ajakan Sabrina untuk tinggal di Apartemennya, mungkin ia tidak kehilangan Soffie. Dan hubungan kasihnya dengan Soffie tidak berakhir. Ia benar-benar menyesali keputusan salahnya yang menganggap bahwa ia dapat berhemat tempat tinggal dan masih dapat membiayai adik-adiknya yang berada di Karawang.


" Benar-benar bodoh... " Runtuk Ardi terus menerus pada dirinya sendiri.


Sabrina yang cantik, sexy dan mapan. Sabrina adalah seorang pekerja keras yang baik hati dan dermawan.  Wanita itu membuat  dirinya meninggalkan Soffie , gadis polos yang baik hati yang selalu ia jaga dulu di kampus.  Soffie yang tidak pernah menuntutnya untuk selalu ada dan memahami kesulitan ekonomi keluarganya dan mengajaknya untuk merintis karir demi masa depan mereka berdua.  Tindakan Ardi yang mengambil jalan pintas dengan tinggal bersama Sabrina dan akhirnya menikahi Sabrina adalah salah satu penyebab dirinya kehilangan Soffie.


Soffie tidak berani meninggalkan keluarganya untuk kembali menjalin kasih dengannya. Ia bilang tidak sanggup dunia mencerca hubungan mereka yang terlarang. Om dan keponakan? bagaiamanapun, Soffie kekasihku. Hanya kesalahan masa lalu yang membuat Soffie meninggalkan Ardi.


Ardi masih ingat ketika ia mengunjungi kantor Soffie dan mengajaknya makan siang bersama, Soffie tidak menolak genggaman tangannya. Mata Soffie masih ada secercah harapan untuknya. Apakah pandangan dia yang salah ataukah bagaimana ?  Apakah mata Soffie yang menipunya pada saat itu? Soffie masih bersedia menerima kecupan di keningnya dan ia masih memandangku penuh harap.


Waktu itu Soffie bersedia menunggunya, tapi kenapa Soffie berubah? David berhasil mempengaruhi hati Soffie. Oh.. aku kalah telak dari David!! Pria itu benar-benar berani mencuri kekasihku... Dan aku kalah mempertahankan Soffie di sisiku. Seandainya aku tidak kesulitan ekonomi dan memilih menghemat biaya hidup di Singapura dengan menumpang di apartemen Sabrina, mungkin aku tidak kehilangan Soffie.


Mengapa Sabrina adalah tante Soffie.... benar-benar tidak diduga mereka berdua adalah tante dan keponakan.  Mengapa juga mereka bisa bersaudara.  Ardi masih tidak merelakan  bahwa kekasihnya  akhirnya menjadi keponakannya.  Dirinya masih tidak rela, melihat Soffie bersama David.


Sakit pada tubuhnya tidak seberapa tetapi betapa memalukan bahwa dirinya benar-benar kalah telak dari lelaki yang mengambil kekasihnya dan dipermalukan meskipun ia telah membawa sekelompok preman untuk membantunya memberikan pelajaran pada David.


Hari ini Sabrina akan mengunjungi Soffie di Rumah Sakit, karena Soffie sudah melahirkan putra bagi David. Ardi cemburu... mungkin. Bukan cemburu menurutnya, Ia marah pada David yang menghancurkan rencananya untuk kembali pada Soffie dan membuat Soffie menghancurkan cinta mereka. Ia menyesal ketika di Singapura dulu mengabaikan Soffie. Suara Sabrina membangunkan lamunan Ardi dari penyesalan hatinya.


" Mas Ardi... hari ini aku tidak menemani mas untuk terapi ya... atau bagaimana nih? Apakah mas Ardi tidak mau mengunjungi Soffie yang sudah melahirkan?"


"Kamu pergi saja duluan, nanti jika aku sudah pulih kita akan sama-sama mengunjungi mereka ya...


"Baik mas Ardi,  " Kata Sabrina sambil mengecup Ardi yang masih terduduk di kursi kerjanya sambil menyiapkan materi mengajar online.

__ADS_1


" hati-hati Sa...


"ya mas, aku berangkat!


Ardi menarik nafas ketika Sabrina sudah pergi dengan sopir yang mengantarnya untuk melihat Soffie di Rumah Sakit.  Ada setitik kesedihan di hati Ardi bahwa Soffie sudah memiliki anak dari pria lain. Seharusnya anak yang dilahirkan Soffie adalah anaknya. Maafkan aku, Soffie, Aku tak sanggup melihatmu. Kuharap kamu sehat dan baik- baik saja, Soffie.  Aku akan belajar merelakanmu  bersamanya. Maafkan aku, Soffie.


 


*****


Dua bulan kemudian...


Hari ini adalah kegiatan terapi terakhirku di rumah sakit milik pemerintah yang terkenal di Jakarta. Langkah tegap Ardi sudah menjadi lebih kuat  dan segala aktifitas pekerjaan sudah mulai berjalan dengan normal. Harga yang mahal untuk sebuah keikhlasan untuk melihat kesalahan masa lalu.


Menerima kenyataan bahwa Soffie adalah satu kesalahan Ardi di masa lalu dan belajar menerima bahwa kekasihku menjadi keponakanku. Namun  Ardi masih belum mau menemui Soffie dan David. Melihat kebahagiaan keluarga kecil mereka. Jiwa besar belum hadir di hati Ardi untuk melihat kebahagiaan Soffie. Masih ada luka di hatinya.


Ardi mulai menyadari bahwa iapun harus bahagia dengan pilihannya. Sabrina sudah begitu baik padanya selama ini. Sabrina banyak membantu kehidupan keluarganya, Adik-adiknya dibiayai sekolah dan kuliahnya. Selama dirinya sakitpun Sabrina tidak meninggalkannya dan tidak mendapat informasi sebenarnya tentang penyebab luka pada tubuhnya.  Sabrina hanya mengetahui bahwa ia kerampokan dan tidak mengetahui penyebab sesungguhnya dari musibah yang dialaminya.


Hari ini Ardi akan menjemput Sabrina di kantornya setelah hampir berbulan-bulan Sabrina harus menggunakan jasa sopir ataupun angkutan online jika sopir yang disewa berhalangan menjemputnya. Dering telepone Ardi mengalihkan pandangan Ardi dri jalan  pada layar handphonenya untuk melihat siapakah yang menelponnya.


-Sabrina Calling-  Ardi langsung menekan tombol hijau dan menjawab panggilan istrinya.


"Ya Sa. "


"Sudah sampai mana mas?


"Bentar lagi ko Sa... Ini sudah mau puter balik dekat kantormu,

__ADS_1


"Berarti aku tunggu di lobby saja ya, mas.


"Ya Sa.


Ketika Mobil Ardi tiba, Sabrina segera memasuki mobil dan duduk dengan nyaman disebelah suaminya. Ardi tersenyum melihat istrinya yang tetap cantik meskipun umurnya diatas dirinya. Ditariknya tubuh istrinya dan diciumnya  kening Sabrina sebelum Ardi menjalankan kendaraannya.


"Sa... kamu capek gak? "tanya Ardi sambil menyetir mobilnya.


"Gak mas, kenapa?


"Gimana kalo kita mulai untuk berkonsultasi ke dokter kandungan? " Apakah kamu keberatan?"


"Gak mas.... aku sangat ingin mengandung anakmu mas Ardi. "Jawab Sabrina dengan penuh semangat.


"Aku ingin memiliki anak denganmu, aku ingin kita menata hidup kita dengan lebih baik. Maafkan aku selama ini aku egois tidak peduli dengan keinginanmu, tapi kita akan mulai kehidupan rumah tangga kita dengan lebih saling terbuka dan percaya , Sa..


"Aku bahagia mendengarnya mas Ardi.  Kita akan lebih saling mencintai dan bertanggungjawab pada keluarga kita mas, ketika ada anak. Aku akan berhenti kerja jika aku hamil, Apakah mas Ardi berkeberatan?


"tidak.. aku bahagia jika kamu mau jadi ibu rumah tangga dan menjaga anak-anakku.


Ardi menarik Sabrina ke pelukannya dan tangan kanannya masih di setir. Dikecupnya kening istrinya. Ardi akan belajar mencintai istrinya dengan sungguh-sungguh dan menata hidupnya dengan lebih baik.  Sabrina sudah banyak melakukan banyak hal untuk dirinya, adik-adiknya dan tidak meninggalkannya ketika ia di rumah sakit. Sabrina adalah istri yang kuat dan sabar.


"Aku mencintaimu, Sabrina


"aku juga mencintaimu , mas Ardi.


"Sa,  terimakasih sudah menjagaku dan tidak pernah meninggalkanku selama aku sakit.  Maafkan karena aku pernah menjadi orang yang sangat egois, aku akan berubah menjadi pria yang lebih bertanggungjawab , jadi kuharap kamu mau tetap bersamaku sampai maut memisahkan kita.

__ADS_1


"Iya , mas Ardi. Terimakasih mas telah sehat dan mau mencintaiku dengan tulus.


Tangan kiri Ardi masih merangkul Sabrina dan tangan kanannya masih konsentrasi di kemudi mobilnya. Hati Ardi merasakan  kelegaan yang luar biasa , kepalanya yang semula berat menjadi lebih ringan. Ardi menyadari kesalahannya pada Sabrina dan akan membina keluarga kecil  dengan lebih bertanggungjawab.  Semoga perubahan ini membawa kebahagiaan di rumah tangga kita.


__ADS_2