
Maafkan atas kesalahanku yang telah membuatmu terluka , memang aku belum mengerti akan semua keinginanmu, tapi ijinkan aku belajar memahamimu !"
*****
Setiap petang hari Januar datang membawa laporan dan selalu tidur di sofa rumah sakit menjaga pimpinananya. Soffie bersama Dean baru pulang dari rumah sakit setiap Januar tiba di ruang perawatan David. Begitu Jadwal mereka bertukar setiap harinya.
"Kami pulang ya, papa.... besok kami datang lagi, " Ujar Soffie sambil meninggalkan David yang terlihat tidak rela melihat anggota keluarganya yang harus meninggalkannya sendiri dan hanya ditemani oleh sang assisten di malam hari.
"Hemmm...
"Oh yach... papa... bolehkan besok pagi , kami melihat taman di dekat apartemen dahulu sebelum kesini ?"
"Kamu berani ke sana sendiri?"
"Mungkin aku akan mengajak madam Alice... Biar Dean bisa bermain di taman dahulu sebentar... biar dia melihat dulu dunia luar ya....mungkinkah ?" ... Apakah boleh Januar yang menemani dahulu treatment pagi ?"
"Baiklah... hati-hati," Ujar David dengan tegas.
Soffie tersenyum mendengar jawaban David yang mengijinkan mereka untuk bermain dahulu di taman. Soffie dan Dean mencium pipi David sebelum pulang ke apartemen mereka di Ottawa. Jarak rumah sakit dengan apartemen mereka sekitar 20 menit perjalanan .
David menghela nafasnya ketika Soffie dan Dean pergi meninggalkan kamar perawatan. Sementara Januar hanya memperhatikan dalam diam. Akhirnya David menyadari pekerjaan kantornya siap dimulai dan ia harus bertanggungjawab pada pekerjaannya.
"Mana yang harus kucek, Jan?"
"Ini Pak. " Ujar Januar sambil menyerahkan setumpuk berkas yang masih harus dicek dan diberikan catatan khusus oleh David agar seluruh rangkaian tugas dapat dimengerti oleh petugas lapangan.
Januar masih berdiskusi mengenai pekerjaan hingga waktu menunjukkan pukul 23.00 waktu Ottawa. David tersenyum melihat kemampuan kerjanya tidak berubah seperti sebelum dia sakit, hanya saja dia tidak mengingat orang-orang yang namanya tertulis di berkas-berkas pekerjaaan
" Jan... Aku mau pulang malam ini juga , toh kakiku sudah bisa berjalan dengan baik meski harus pake kruk itu....Coba deh Jan., kamu urus donk administrasiku...
"Maksud Bapak, malam ini juga Bapak mau pulang ke apartemen Bapak ?"
"Iya.. Aku mau tidur di apartemenku.... besok aku ke rumah sakit setelah mengantar Dean bermain ke taman... aku kasihan pada anakku tiap hari dia ada di rumah sakit... kayaknya aku kok kejam sekali , dia sepertinya memang harus pergi bermain... aku mau menjaga keluargaku...aku rasanya tidak rela melihat Dean yang hanya bermain dengan melihat TV ataupun dengan gadget mamanya... aku ingin dia aktif dan bahagia seperti aku dulu... mungkin seperti aku ... karena aku belum mengingat semuanya... tolong kamu usahakan ya...
"Baik Pak... saya akan lapor dokter jaga dan mengurus administrasi.. mungkin paling lama 30 menit.... bapak bisa bersiap-siap...
"jangan kabari Soffie... biar dia terkejut akan kedatanganku.
"Baik Pak !"
Tidak sampai 30 menit , Januar kembali dengan membawa berkas yang mengijinkan kepulangan David malam itu dan mereka sudah berada di mobil kantor menuju apartemen. David bahagia sekali dapat meninggalkan ruang perawatannya, meski sesuai perawatan rumah sakit ia harus menggunakan kursi roda dan tidak boleh terlalu lelah. Ia menyanggupi semua permintaan dokter jaga , karena bagi David kepulangan dia adalah paling penting dan tidak bisa ditawar lagi.
Ketika turun di Lobby, David berjalan hanya dibantu kruk penyangga dan Januar akan membawa kursi roda yang telah dilipat, karena David menolak menggunakannya.
__ADS_1
" SImpan saja , Jan di mobil... aku yakin... aku mampu berjalan !"
"Baik Pak, tapi ijinkan saya mengantar Bapak sampai ke pintu apartemen...
"Ya... memang kamu harus ikut dan tugasmu adalah menemaniku dahulu... jangan sampe ada yang tahu bahwa aku gak ingat... biasa saja.. bilang saja aku sedang sakit gigi, jika ada yang menegurku dan aku tidak sadat... katakan mulutku sangat sakit dan tidak bisa berbicara.... oh ya.....katakan saja jika aku salah menerka ruangan apartemenku... kamu diam saja biar aku menerka dan merasakan bahwa aku memang sudah sedikit mengingat... tapi kalo aku salah memasuki ruang apartemen... kamu harus mencegahnya
'Baik Pak !"
Mereka memasuki lobby dan menuju lift di dekat kolam ikan. Ketika masuk ke dalam lift, David termenung sebentar dan akhirnya David menekan tombol 30. Ia tersenyum ketika pintu tertutup dan Januar tidak berkomentar. Berarti benar tebakanku, aku pasti memilih lantai yang paling tinggi di apartemen ini.
Ruang apartemen di lantai 30 hanya ada 1 pintu dan David tersenyum melihat pintu itu, namun ia tidak ingat kodenya dan bertanya pada Januar.
"Jan... pintu ini kan... ?
"Benar pak... apakah bapak tidak bawa card atau ingat kunci aksesnya?"
"Aku tak tahu... aku tak ingat itu... mana bel-nya , Jan?"
Januar tidak menjawab dan dipencetnya bel apartemen itu. Tidak berapa lama keluarlah Madam Alice. Ia terkejut melihat David.
"David... kamu sudah sembuh?"
"Aku sudah lebih baik, Alice... bisakah kau buatkan aku teh hangat... jangan pakai gula ya!" Jan... kamu mau pulang ?"
"Sebaiknya saya langsung pulang saja, Pak... Saya kemari besok pagi pukul 07.30 ...
"Baiklah... sampai besok, Jan...
"Minumlah.... Dean dan Soffie sudah tidur... Kau mau aku membangunkan Soffie ?"
"Tidak usah, .... biar aku saja nanti... aku mau menikmati suasana apartemenku dahulu... Kau tidurlah !" Aku masih ada pekerjaan...
"Baiklah... Selamat malam, David !"
"Selamat malam Alice, " jawab David sambil tersenyum.
David melihat Madam Alice memasuki kamarnya dan ia menenggak tehnya sampai habis. Ia menunggu selama 10 menit sebelum memasuki kamar yang diduganya miliknya. Dibukanya pintu kamar itu dan ia tersenyum bahagia. Tebakanku benar lagi.
David melihat Soffie tertidur di sisi tengah sambil memeluk kaki Dean. Pria kecil itu tidur tidak bisa diam dan berputar putar karena posisi guling dan bantal berada di lingkaran ranjang yang bertujuan mencegah Dean jatuh ketika ia tertidur pulas. David melangkah mendekati ranjang itu dan berfikir sebentar sebelum ia bertindak memindahkan pria kecil itu.
Diangkatnya tubuh Dean dan dibaringkannya dengan benar sehingga posisinya ada di sebelah kiri ranjang. Demikian juga guling pembatas juga dirapihkannya. David membaringkan tubuhnya di sebelah Soffie yang berbaring menyamping menhadap Dean.
David memeluk tubuh Soffie dan membiarkan wanita itu membelakanginya. Lengan tangannya melingkari perut Soffie. Ia merindukan wanita ini. Wangi aroma rambutnya tercium. Dihirupnya dalam-dalam aroma rambut Soffie dan membuat ia makin mempererat pelukannya pada istrinya.
Erat pelukannya membuat Soffie sedikit terjaga dan merasa janggal ada yang memeluknya. Soffie berfikir siapa lagi yang suka memeluknya selagi tidur selain David dan ibunya. Pelukan ini dirindukannya dan desahan nafas orang dibelakangnya ia semakin menderu membuat ia terjaga dan menoleh pada orang yang dibelakangnya. kedua matanya sampai terbelalak mengetahui siapa yang memeluknya dengan erat.
"Hubbie.... benarkah ini hubbie?"
__ADS_1
"Hemm.. siapa lagi jika bukan aku ?'
"Bukannya Hubbie baru diijinkan pulang 3 hari lagi, hubbie kan belum pulih... bagaimana Hubbie bisa kesini...
David tidak menjawab tetapi mencumbu istrinya dengan penuh semangat. Soffie masih terdiam, Ia takut ia bermimpi bahwa suaminya pulang malam ini.
"Hubbie...bagaimana....
"Nanti saja ceritanya... aku merindukanmu... aku sangat menginginkanmu, phie ... aku rasa aku tidak bisa menahannya lagi... maafkan aku... maafkan aku... bolehkah aku melakukannya?" Apakah anakku di dalam sana bisa menerimanya jika aku menginginkannya malam ini....
Soffie terkejut dan mengangguk.
David tersenyum dan segera mencium kembali istrinya dengan penuh nafsu. Ia melupakan niat awalnya yang awalnya hanya ingin menemani Dean bermain, ia ternyata merindukan belahan jiwanya. Matanya makin menggelap dan nafasnya makin menderu ketika ia meremas gundukan di balik gaun tidur itu dan semakin membuatnya bernafsu ketika Soffie mendesah dan melupakan bahwa disamping mereka ada pria kecil yang masih terlelap.
Mereka terus bercinta dalam kegelapan malam dan saling melepaskan kerinduan mereka yang tertahankan dan membuat David harus melakukannya dengan perlahan karena demi menjaga kandungan Soffie.
"Aaarrrghhhhh... Hubbie !"
Kenikmatan yang mereka rasakan malam itu seakan melupakan masalah kecanggungan mereka. Soffie menyadari ingatan David belum sepenuhnya pulih, namun ia harus melayani suaminya. Mereka masih mengatur nafas mereka akibat olahraga malam yang cukup menguras energi di malam hari itu. Terlebih soffie yang sedang mengandung sehingga membatasi porsi percintaan mereka.
"Thanks sayang.... maafkan aku.... aku memang memaksa pulang malam ini... aku takut kenapa kenapa jika kamu besok ke taman tanpaku.... selain itu... sesungguhnya....aku benar-benar merindukanmu," Kata David dengan lirih,
Soffie masih berada di pelukan David. " Terimakasih... Hubbie sudah mau pulang... aku juga merindukan Hubbie... aku hanya tidak menduga bahwa hubbie pulang malam ini... aku bahagia sekali..." Jawab Soffie sambil berusaha
mengecup kembali David.
"Maafkan aku hingga membuatmu kemarin terluka... aku masih belum mengingat detail kejadiannya... tapi aku yakin instingku benar...bahwa kamu adalah istriku dan aku akan berusaha memahami dan mengerti dirimu... bisakah kamu menerimaku dan tidak akan pernah meninggalkanku... Aku tak bisa hidup tanpamu, Phie....
"Tentu hubbie... aku sayang hubbie..
"Aku juga sayang kamu, phie.... aku sayang anak-anakku..... I Love you, Soffie...
******
Happy reading guys !!! Bolehkan komentar/ kasih ide/ saran/ like/poin/ apapun itu. Thanks telah membacanya. Tuhan berkati kalian semua ya... tetap jaga kesehatan temans !!!
__ADS_1