Cinta Kan MembawaMu Kembali

Cinta Kan MembawaMu Kembali
S2 : 55. Manuver Dilla


__ADS_3

Apakah  pernah kau tahu bentuk dosa dan rindu? "


Apakah kau tahu bentuk kekal  dari sebuah hasrat dan rasa malu?"


Salahkah aku berharap pada rasa  di masa lalu yang membuatku mampu berdiri di masa depan?"


 


*****


"Aku sangat membenci Soffie dan ingin membunuhnya ! "Teriak Dilla dengan tatapan marah  pada handoyo. Pria itu menatapnya dengan senyum yang memancarkan kelicikan.


"katakan lima kali lagi dengan keras dan penuh percaya diri !" Handoyo menarik Dilla lebih dekat ke tubuhnya sehingga mereka makin mendekat.


Tubuh mereka saling menempel dan mata mereka bertatapan. Dilla  masih berkata dengan lantang dan tanpa disadari oleh Dilla, pria itu telah melepaskan pakaian yang digunakan oleh Dilla.


Handoyo memandang penuh kagum pada tubuh wanita itu, Ia tersenyum penuh seringai. Ditahannya hasratnya setelah ia memandang wanita cantik itu yang ada di hadapannya. Handoyo ingin melihat sampai dimana niat Dilla mewujudkan tujuannya.


Dilla terkejut ketika menyadari bahwa dirinya sudah tidak berpakaian sama sekali di hadapan pria itu. Pria itu memandangnya sambil tersenyum penuh kelicikan. Namun Handoyo hanya memandangnya saja tanpa melakukan apapun  pada Dilla.


'katakan padaku... Apakah kau masih ingin membunuhnya atau ingin pergi dari kamar ini ?" Handoyo masih memberikan pilihan pada Dilla.  Pandangan pria itu semakin berkabut, Ia jarang mendapatkan wanita yang cantik dan mulus seperti wanita yang ada di hadapannya.


"Pintu masih terbuka .... pikirkan sekali lagi Dilla!" Bayaranku tidak cukup dengan 5 milyarmu.... berikan juga aku pelayanan yang memuaskan maka aku akan mempertimbangkannya.... " Handoyo meninggalkan Dilla yang masih tercekat dengan keadaannya.


Handoyo  melangkahkan kaki menuju ranjangnya dan mengabaikan Dilla yang sudah tidak berpakaian.  Di pikiran  handoyo , ia tidak membutuhkan Dilla baik tubuhnya ataupun uangnya, Wanita itu yang lebih membutuhkannya. seringai licik masih ada di wajahnya sambil berbaring di ranjangnya dan matanya terpejam.


"Dilla Ingatlah balas dendam  adalah kesedihan bagi orang yang menanggungnya dan jika kamu siap membalaskan sakit hatimu, maka dendam adalah kobaran api yang membakar para pelaku pembakaran,,, Apakah kamu siap terbakar?"


Dilla terdiam mendengarkan ucapkan Handoyo dan terpaku ditempatnya. Namun segera ditepisnya ucapan yang meremehkan itu. Ia harus kuat dan mencapai impian yang lebih besar dan harus berjuang dengan keras demi mencapai tujuan utamanya dalam mendapatkan David, pria yang sangat dicintainya. Apapun akan kulakukan David.... Kamu adalah milikku.... Tidak ada dosa lagi yang kupikirkan.  Salahkah aku berharap pada rasa di masa lalu yang membuatku mampu berdiri di masa depan?


.


Handoyo masih menutup matanya di ranjangnya. Ia membiarkan Dilla yang masih  bingung antara dendamnya ataupun menghampiri dirinya yang terbaring di ranjang dengan masih berpakaian. Dilla bukan wanita pemuas nafsu pria  hidung belang. Selama hidupnya hanya 2 pria yang pernah menidurinya yaitu Toshihiro suaminya  dan Jack yang merenggut kesuciannya dan meminta tidur bersamanya ketika ia akan melauching album rekamannya yang akan dipromosikan habis-habisan dan memastikan Dilla menjadi artis populer. Jack memintanya sebagai bukti keseriusannya sebelum ia populer dan ternyata benar semua hal dibuktikan Jack.  Semuanya pria yang berusia tidak jauh berbeda  umurnya. Jadi ia suka rela melakukannya. Sementara  David sang mantan kekasihnya tidak pernah  menyentuhnya sekalipun. David begitu menghargainya dahulu.


Pria ini berumur hampir sama dengan ayahnya. Namun Langkah Dilla  sudah bulat. Ia harus mendapatkan bantuan dari pria ini. Dihempaskannya ego dan harga dirinya.  Ia pikir ini akan sepadan dengan apa yang  akan diperolehnya. Jika untuk melenyapkan Soffie dan mendapatkan David , ia akan melakukannya .  Cukup sepadan dengan pengorbanan yang dilakukan.


Dilla melangkahkan kaki menuju ranjang Handoyo yang sedang  berbaring telentang dan  sedang menutup matanya. Dilla yakin pria itu tidak tidur dan hanya menguji dirinya. Dirinya hanya merasa tidak yakin namun ia harus melakukannya demi membuat pria itu mau melakukan tugas pentingnya yaitu membereskan Soffie yang merupakan penghalang hubungannya dengan David.


Dikecupnya kening pria itu dengan lembut. Pria itu membuka matanya dan diam saja memandang Dilla yang sudah duduk di ranjangnya.  Dilla mencium pipi pria yang  baru dikenalnya dan berbisik dengan manja  di telinganya.


“Kau bilang dendam dapat membuat kita terbakar… sekarang  aku minta ajaklah aku terbakar dalam kegiatanmu menghancurkannya “ Bisik Dilla  di telinga pria itu. “Kumohon lakukanlah tugasmu…. Tolong bantu aku  melakukannya, “ Dilla berkata dengan sangat lembut di telinga pria itu.


Handoyo tersenyum mendengar bisikan Dilla  di telinganya. Wanita  ini adalah wanita yang luar biasa , pikir Handoyo. Hasrat Handoyo semakin membumbung menikmati perlakuan Dilla yang berani naik ke atas tubuh pria yang sebaya dengan ayahnya.


Terlanjur basah pikir Dilla. Aku harus bisa membuatnya  membunuh Soffie. Lupakan harga dirinya. Dilla ******* bibir pria itu dan  berusaha memancing pria itu agar membuat pria itu mau menidurinya dan melakukan


permintaannya.  Dan ternyata  tindakan Dilla   berhasil membangkitkan  hasrat Handoyo yang ditahannya sejak tadi.


Pria itu menelan saliva dan mengelus tubuh wanita yang berada di atasnya sudah tidak berpakaian. Di sentuh dan di remasnya tubuh Dilla  itu hingga darahnya berdesir tidak menentu. Jantung mereka berderap tidak menentu di siang menjelang sore itu.


Canggung dirasa Dilla. Namun kebencian terhadap Soffie  memusnahkan logikanya. Ia berusaha menikmati dan membuat Bahagia pria yang sedang bersamanya. Pria itu seperti singa kelaparan yang diberikan daging empuk membuat kelaki-lakiannya semakin tegak dan siap menggempur Dilla yang semakin liar.


Sudah hampir dua tahun setelah bebas Handoyo tidak menyalurkan kebutuhannya sebagai pria dewasa. Tapi di sore hari ini Hasrat yang awalnya ditahannya mati-matian dan sedari Dilla datang di rumahnya sduah  ia pendam itu akan tersalurkan. Keduanya melupakan sesaat urusan  mereka karena sudah mulai saling terpancing untuk menyatukan gairah mereka.

__ADS_1


Handoyo sudah tidak bisa berfikir lagi ketika  ia akan menyatukan dengan Dilla,  wanita itu mendorong dengan lembut dan  bertanya kembali  dengan suara manja yang menggodanya .  Dilla sengaja  merubah panggilan formalnya agar pria yang sedang diatasnya makin dapat dikendalikan.


“Mas Handoyo, sayangku …  tolong lakukan permintaanku untuk membereskan wanita itu… maka aku akan  melayanimu setiap kau memintanya , “ Bisik Dilla mesra dengan sambil mengecup keningnya dan tangannya mengelus pipi pria itu dengan lembut.


Rasa bangga karena dibutuhkan seorang wanita cantik membuat ia mengangguk dengan yakin dan mengelus wanitanya yang saat ini dirasa Handoyo  benar-benar mengaguminya dan benar-benar menyayanginya.


“Aku akan melakukannya untukmu, Dilla sayang… sekarang biarkan aku  menikmatimu…” Teriak Handoyo yang sudah diubun-ubun dan tidak bisa  berhenti ketika ia merasakan ujung senjatanya dicengkram oleh  milik Dilla. Mereka semakin terbakar dalam kegiatan panas mereka.


 


 


 


*****


Dilla masih terbaring tidak berdaya di kamar itu   sendirian. Tubuhnya hanya tertutup selimut. Tidak ada Handoyo di kamar itu.  Dilla menarik nafas dan melihat jam di dinding   pukul 09.00. Dilla  merasa sangat lelah  karena pria itu tidak pernah berhenti memasukinya sepanjang malam dan baru  berhenti di dini hari . Dila berusaha bangkit. Ia harus ke kamar mandi dan   membersihkan dirinya. Dilihatnya pakaian dirinya masih berada di lantai dekat


pintu. Segera dipungutinya pakaian miliknya yang berserakan dan ia harus segera kembali melakukan tugasnya  karena Shinta sudah menantinya.


Ketika Dilla baru keluar dari kamar mandi. Ia melihat pria itu  ada di kamar ini sedang menatapnya dan tersenyum.


“Kau sudah bangun… mari kita makan dahulu !” Ajaknya ramah.


“baiklah… aku sangat lapar sekali, mas Handoyo,” Dilla  berusaha menjawab santai dan serasa sudah kenal sangat lama dengan pria itu.


Handoyo tersenyum dan  menghampiri Dilla. Dipeluknya wanita itu dengan erat.  Tangannya segera bergerak ke tempat yang ia sukai dan sambil menikmati aroma Dilla.


“Kamu wangi… malam ini layani aku sekali lagi dan aku  akan mulai bekerja besok sore… akan kuamati kegiatan wanita itu!”


Handoyo membuka lemari pakaiannya dan terdapat banyak   stok handphone yang masih tersegel dalam kotaknya. “Kamu cari sendiri yang mana chargernya !”


“ Mas Handoyo… kenapa banyak sekali handphonenya… ini  seperti toko handphone…” Dilla terkejut memandang persediaan handphone yang  dimiliki Handoyo masih dalam kotak dan tersegel rapih.


“Bulan lalu seseorang memberikan satu troli isi handphonebaru dan memintaku untuk bekerja… tapi aku tak ingin melakukan… tawaranmu lebih  menggiurkan Dilla… terlebih bonus yang kau berikan tidak ada yang bisa  menandinginya…” Handoyo tersenyum pada wanita cantik yang berada di hadapannya. Ia meremas kembali bagian favorit yang ada di tubuh Dilla hingga membuat Dilla mengerang.


'Sayang... nanti malam ya... aku harus menghubungi Shinta  agar ia tidak mencariku..


"Hem.... " Handoyo melepaskan Dilla  dan membiarkan Dilla mencari charger yang sesuai dengan handphonenya. Dilla mendapatkan sebuah handphone yang sama dengan  miliknya dan mengeluarkan chargernya. Ia segera mengisi ulang baterei handphonenya.


“Ayo mas handoyo… mari kita makan… !” Apakah kita akan  makan di sini ataukah kita perlu keluar?” Mas Handoyo suka makan apa?" Tanya Dilla dengan ramah.


“Aku sudah memesankan makanan untukmu… mari kita ke bawah  untuk makan…. Ceritakan yang kau tahu mengenai wanita itu !” Tanya Handoyo   sambil memeluk Dilla meninggalkan kamar itu menuju ruang makan di lantai 1.


*****


Kegiatan makan pagi dan makan siang yang digabungkan oleh   Handoyo dan Dilla membuat mereka semakin akrab membicarakan rencana mereka  dalam menbereskan Soffie. Mereka seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak  berjumpa.


Handoyo begitu memperhatikan Dilla dan semua ucapan dengan detail.  Mungkin karena Handoyo sudah lama tidak memiliki istri dan memperoleh Dilla  yang cantik dan penurut.  Pria setengah baya itu jatuh dalam pesona Dilla yang lembut dan pandai dalam bertutur kata,


“ Mas handoyo… aku ke kamar dulu… aku yakin Shinta sudah sangat khawatir padaku !’


“ya… jangan kau ceritakan detail rencana kita!”

__ADS_1


“Aku hanya mau membatalkan undangan nyanyi  yang besok malam  saja… karena kupikir badanku pasti lelah setelah menghabiskan malam bersamamu , “ Dilla menjawab  sambil tersenyum dan mengecup pipi pria itu dan membuat Handoyo makin berbunga-bunga.


Dilla melangkahkan kakinya menuju kamar di lantai dua.  Dinyalakannya handphone dan segera dipencetnya nomor Shinta, sang assisten. Begitu panggilan kedua, langsung tersambung. Suara Shinta terdengar begitu khawatir pada sang artisnya.


“ Mbak Dilla… dimana?” aku khawatir sekali….. Ini  kita ada  undangan makan untuk rapat kordinasi manggung di Menado , gimana?”


“Shinta… tenang saja …. Kamu disana dan atur jadwalku.  Tapi kumohon kosongkan jadwalku minggu ini ya…


“Tapi mbak… kalo kita mengcancel sminggu sebelum acara  kita kena  pinalty mbak… dan itu besar ,mbak ...


“Biar saja… katakan pada mereka… aku sedang sakit.... aku tidak peduli lagi... aku harus mewujudkan tujuanku.


“Mbak Dilla dimana ?” Di rumah Pak Handoyo ?” Gimana  keputusan beliau mbak ?”


“ Aku baik-baik saja… Mas Handoyo akan membantuku… sekarang  kamu urus kontrakku yang lain dan atur yang minggu ini supaya aku tidak perlu hadir !”


“Mbak Dilla yakin... mbak ingat Pak David itu sangat baik sama mbak... ,mohon berfikir ulang, mbak !"


"Shinta... ini urusanku... lakukan saja tugasmu...


"Mbak... Jika Pak Handoyo sudah bertindak, maka tidak ada target pak Handoyo yang akan lepas... mbak Dilla , mohon berfikir ulang.... minimal... Ingat mbak... Tuhan tahu apa yang kita lakukan !"


"jangan sok suci kamu, Shinta....Apakah kau tahu bentuk dari dosa dan rasa rinduku ?" Sudahlah... bereskan urusanku. jika ada yang bertanya... katakan aku sedang istrirahat karena tidak fit... "Dilla berteriak dan menutup panggilan telephonenya pada sang assisten yang sangat dipercayanya.


Aku harus berhasil. Dilla menarik nafasnya dalam-dalam. Aku harus berhasil melenyapkan wanita itu !


 


 


 


*****


 


 


 


 


 


 


Happy reading guys  !! semoga kalian  tidak ikut terbakar oleh manuver Dilla dan juga semoga bisa lolos reviewnya... he... he...


Bolehkah tinggalkan komentar/like/ point/ hadiah. Thanks a lot, guys. Love you all


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2