
Cinta itu perlu dijaga dan dipupuk. Langkah terbaik untuk menjaga dan memupuknya adalah melalui pernikahan. Tujuan dari pernikahan kita adalah bukan untuk berpikiran sama, melainkan untuk berpikir bersama.
*****
Sabtu pagi pukul 05.30 Lily tiba di kediaman Jajang. Pak Udin yang menjaga rumah itu menyapanya ramah. Pria itu ikut membantu lily yang sibuk membawa beberapa kantong untuk membantu persiapan pernikahan Jajang.
“Selamat pagi, Bu lily… wah pagi-pagi sudah ikut sibuk membantu Pak Jajang ,” Sapanya ramah pada Lily yang baru turun dari mobil yang dipesannya dari aplikasi online.
“Pagi Pak Udin… gimana tuh si Jajang sudah bangun belum ?”
“Sudah bu… pagi-pagi dia sudah nganterin kopi… mungkin gak bisa tidur karena bahagia mau menikah ya bu... itu Bu Martini juga sudah selesai memasak… ini saya sudah sarapan pagi… ini barang yang ibu bawa mau taro di mana bu?"
“Kasih tau bu martini saja… dia yang mengatur semuanya… ntar dia yang putuskan ditaro dimobil mana ?”
“Baik bu... saya cari bu Martini dulu...
Lily segera memasuki rumah dan menemui Jajang yang terduduk di ruang tengah sambil menonton TV. Lily segera menyapanya hangat.
“Jang… kamu di make up belakangan saja… itu sebentar Cuma untuk nutup luka… sekarang mana ibu dan adikmu ?”
“Itu di kamar tengah lil… kamu udah sarapan belum, Lil ?’
“Nanti saja… belum lapar.. takut gak keburu mendadani mereka …
“Lil.. kamu lagi hamil… aku gak mau kamu sakit….ntar Josh marah padaku karena kamu sibuk membantuku dan lupa makan… ayo sarapan dulu… itu ibu Martini sudah siapkan makanan… aku ambilkan ya… jadi biar bisa sambil kamu make up ibu , kamu sambil makan?”
“oke.. ambilkan deh… jadi bisa sekalian makan… jangan banyak banyak ya Jang nasinya … aku minumnya air hangat… jangan lupa !”
“Ya…. Bumil,”Ujar Jajang sambil bangkit menuju meja makan untuk mengambilkan makanan di meja.
Lily segera memasuki ruang tengah dimana ibu dan adik Jajang berada. Kedua wanita itu masih menggunakan baju rumahan yang menggunakan kancing depan agar mudah mengganti kebaya ketika selesai di
make up. Lily bekerja sambil menyuapi dirinya beberapa makanan karena Jajang terus mendesaknya makan. Sementara Jajang masih mengobrol dengan ayahnya di ruang tengah. Tak lama kemudian Santika dan Henry juga datang di rumah itu membantu Jajang mempersiapkan pernikahannya.
Tiba-tiba handphone Jajang berbunyi di kala Jajang, Henry dan Ayah Jajang mengobrol seru sehingga ia menghentikan perbincangannya. " David Calling " . Tumben, dia yang telpon semoga tidak ada apa-apa pada Soffie. Jajang menggeser tombol hijau di handphonenya.
‘Hai Vid… tumben kamu telpon " Sapa Jajang ramah.
‘Hai calon manten… Apakah ibu Martini dan Pak Kidi bisa membantumu disana ?” Jawab David di ujung telpon yang berada di benua berbeda dengan Jajang.
‘Mereka sangat cekatan membantu gue, Vid… thanks banget ya.... Soffie gimana keadaanya disana? Dia sehat kan... tidak ada masalah dengan kandungannya?"
‘Dia baik-baik saja… Cuma agak sedih aja teman baiknya menikah tapi dia gak bisa hadir.
‘Katakan saja, doakan aja, agar pernikahanku dapat berjalan dengan baik seperti pernikahan kalian yang rukun-rukun…
‘Ya Jang… aku Cuma mau ngucapin selamat ya atas pernikahan kamu dan mohon maaf karena telah melarang Soffie pulang ke Jakarta... pekerjaanku masih banyak dan aku tidak bisa membiarkannya pulang ke Jakarta sendiri dengan membawa kedua jagoannku...
‘Gak papa Vid… kalian sudah sangat banyak membantuku dengan mengirimkan Pak Kidi dan Ibu Martini disini untuk membantuku mempersiapkan semuanya.... ngomong-ngomong emang anak yang keduamu pasti laki-laki lagi?"
"Kayaknya sih, Jang... ini sekarang Soffie lagi super duper galak lho di hamil yang kedua ini...ha.. ha,,, aduh- aduh sayang .... jangan cubit-cubit... aduh... sakit nih sayang...
Jajang tersenyum mendengar David yang kesakitan karena dicubit Soffie yang pasti sedang merah padam. Sahabat yang paling disayanginya. Kemudian David berkata kembali ketika cubitan Soffie sudah berhenti.
__ADS_1
‘Sebagai bentuk permintaan maaf gue… gue ingin memberikan tiket bulan madu untuk kalian menginap di Senggigi Beach Hotel, Lombok… kalian berangkat sore ini ya… kurasa cukup 3 hari elo dan istrimu disana …nanti ibu martini akan atur penerbangan kalian ya.. mohon diterima ya, Jang ?”
‘Ini beneran, Vid… bukannya nanti akhir tahun elo akan ajak kita semua jalan-jalan ke Venice?”
‘Ya itu sih lain lagi… yang ini hadiah pernikahan dari gue dan sebagai permintaan maaf dari gue karena Soffie gak bisa pulang… gue merasa gak enak aja dan biar Soffie gak cemberut terus… aduh… dia mencubitku lagi nih, Jang , “ Teriak David di telpon
‘Ha… ha… terimakasih vid… salam untuk Soffie ya dan pesanku jangan galak-galak gitu… hadiah dari elo luar biasa… thanks ya, Vid.
‘Salam pada keluargamu dan istrimu ya..
‘Siap… thanks
Panggilan itupun terputus dan Jajang tersenyum lebar dan masih memandang Handphonenya. Henry meliriknya dan bertanya pada Jajang.
‘Kenapa senyum-senyum, jang ?”
‘David kasih tiket bulan madu untuk gue dan Amara di Lombok, Hen…,”Jawab Jajang sambil duduk di sebelah Henry.
‘Itu pasti karena Soffie merajuk minta pulang tapi David gak ijinin…”Sahut Henry pelan. Mereka telah saling mengenal lama mengenai kebiasaan Soffie.
‘Sebenarnya sedih juga gak ada Soffie… tapi mau gimana lagi… lakinya gak ijinin…semoga setelah pernikahan gue, David tidak mencurigaiku lagi mau merebut Soffie dari dia…
‘elo juga Jang harus berubah jangan suka pegang-pegang Soffie, ntar istrilo tahu bisa lebih parah… bisa makin runyam urusannya… ntar berikutnya elo bilang… mending ditendang David daripada didiemin Amara… ha… ha…
‘Sial lo hen…. "Jajang sambil meninju lengan sahabatnya. Ia tersenyum mengingat perilaku jahilnya pada sahabatnya itu.
*****
Di ruangan itu telah hadir penghulu yang akan menikahkan Amara dan Jajang. Keluarga besar Amara dan Keluarga Jajang beserta teman-teman terdekat juga hadir di ruangan itu. Mereka akan menjadi saksi pernikahan Jajang dan Amara yang digelar pada hari itu.
Semua yang hadir dapat melihat dengan jelas, betapa cantiknya Amara yang berjalan bersama Ayah dan ibunya memasuki ruangan dimana para tamu telah menantinya dan terlebih Jajang yang seakan tidak dapat berkedip memandang kekasih hatinya yang terlihat makin cantik di hari spesial mereka.
Amara duduk tepat di samping Jajang yang tersenyum mengagumi keindahan wanita yang akan dinikahinya. Sementara Ayah Amara duduk di seberang Jajang memandang kedua pasangan pengantin yang sedang berbahagia.
Semua yang hadir mengatakan Jajang sungguh beruntung dapat menikahi Amara yang super cantik dan pintar serta memiliki karir yang bagus. Hari ini adalah hari terakhir Ayah Amara memegang tanggungjawab atas Amara dan akan berpindah pada pria yang akan menjadi suami anaknya. Ditatapnya pria yang ada dihadapannya.
Jajang mulai mengucapkan janji sucinya dengan lantang dan membuat air mata Amara mengalir karena suara Jajang terdengar begitu merdu yang pernah ia dengar di telinganya. Ia memantapkan hati untuk setia pada pria yang akan bertanggungjawab padanya dan mengasihinya seumur hidupnya. Pria itu menyebut Namanya dengan jelas di dalam janji suci itu. Pria yang akan menjaga kehormatan dirinya dan keluarganya. Pria yang menjadi imamnya dan membimbingnya menjadi wanita yang sholeha.
Setelah doa dipanjatkan, Amara mencium punggung tangan Jajang , lalu Jajang mencium kening Amara dengan menutup kedua kelopak matanya. Ia bersyukur dapat menikahi wanita ini dan dipermudah langkahnya dengan didukung teman-teman baiknya.
‘Apakah kamu menyesalinya Amara ? Mengapa kamu menangis , Sayang …, “ Bisik Jajang ketika ia melepaskan ciuman dari kening Amara.
‘Aku menangis bahagia dan sedih Aa… Aku bahagia karena kita akhirnya bisa menikah dan yang membuatku sedih , aku akan berpisah dengan Ayah dan Ibuku…
‘Kau masih bisa menemui kedua orang tuamu…. Aku tidak melarangnya… Jangan menangis lagi, mara…kamu itu cantik sekali hari ini , mara !” Ayo kita harus sungkem pada Ayah dan Ibuku dulu…
Mereka bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat Ayah dan ibu sambung Jajang berada. Sementara yang hadir ikut menyaksikan seremony yang diatur oleh EO yang kemarin direpotkan karena pernikahan mereka yang diajukan.
‘Ayah terimakasih sudah membesarkanku hingga aku bisa seperti sekarang… terimakasih selalu mengerti aku dan mau memahami bahwa aku ingin hidup terpisah dari Ayah semenjak kuliah… maafkan keegoisanku…. Aku tidak pernah marah pada Ayah apaalgi menentang Ayah menikah lagi dengan ibu… Terimakasih ibu…maaf jarang mengabari kalian berdua … Aku menyayangi dan menghormati kalian ... maafkan aku yang selalu merepotkan kalian berdua… aku juga sayang ibu dan adik-adik… maaf karena kesibukanku jarang mengunjungi kalian di Bandung…. Terimakasih telah membantuku melamar wanitaku menjadi istriku…
“Iya anakku… Ayah bangga padamu yang merintis karirmu dari bawah dan hingga kamu bisa mandiri dan maafkan Ayah karena jarang juga menengokmu di Jakarta… kami selalu mendoakannmu…Ingatlah Jajang dan Amara, kalian bukan lagi dua orang tapi kalian itu sekarang adalah satu … jadi apapun yang kalian putuskan jangan dari salah satu pihak…tapi harus bersama. .. pesan Ayah sama Jajang..jaga istri dan anak-anakmu kelak…. Tujuan dari pernikahan kalian adalah bukan untuk berpikiran sama, melainkan untuk berpikir bersama sehingga kalian bisa melangkah bersama hingga akhir waktu.
__ADS_1
“Terimakasih Ayah , “ Jawab Jajang dengan lirih.
Jajang memeluk Ayahnya lama dan kemudian beralih pada ibu sambungnya. Jajang hanya mencium punggung tangannya. Canggung. Mereka memang tidak dekat. Ayah adalah Pria yang telah membesarkannya dan menjadikannya pria yang mandiri di kota Jakarta. Diidikan ayah tak dilupakannya sehingga ia mampu kuliah dan bekerja di Jakarta.
Dahulu Jajang memang pernah kecewa ketika Ayahnya menikah lagi, namun di beberapa tahun belakangan ia makin dewasa dan menyadari sehingga sudah mampu menerima adik -adiknya. Pemahamannya semakin matang bahwa tidak mungkin membiarkan ayahnya kesepian sementara dirinya juga merantau. Ia tersenyum pada kedua orang tuanya .Demikian juga langkahnya diikuti oleh Amara yang memeluk ayah dan ibu Jajang sebagai
bentuk permintaan restu menjadi menantunya.
Setelah itu mereka beralih pada orang tua Amara yang duduk di sisi lainnya dan giliran Amara yang meminta restu terlebih dahulu. Ia memeluk Ayah dan ibunya sambil menangis terisak. Jajang hanya menepuk pundak istrinya. Jajang teringat ucapan mertuanya kemarin yang berpesan untuk menjaga anaknya dan tidak membuatnya sakit hati jika dikemudian hari mereka akan bertengkar. Menjaga lisan pada istri haruslah diperhatikan.
‘Ayah dan ibu, terimakasih ya sudah mau menerima Jajang sebagai menantu .. saya akan menjaga
Amara dengan sepenuh hati dan tidak akan menyakiti hatinya.
‘Terimakasih Jajang… tolong jaga dia ya… Ingat pesan ayah kemarin … jangan sakiti hatinya… Saat ini kalian memang saling cinta tapi cinta itu perlu dijaga dan dipupuk dan langkah terbaik untuk menjaga dan memupuknya adalah melalui pernikahan…. Kalian harus saling menjaga, memaafkan dan percaya , karena itu adalah kunci langgengnya pernikahan.
“Iya Ayah… terimakasih untuk nasihatnya.
Setelah kegiatan sungkem selesai mereka menikmati hidangan yang disajikan dengan penuh gembira. Pasangan pengantin itu tidak habis-habisnya digoda oleh teman-teman baik mereka hingga waktu menunjukkanpukul 14.00 dan ibu Martini mengingatkan Jajang agar mempersiapkan diri untuk keberangkatannya ke Lombok.
Jajang baru teringat bahwa ia belum memberitahukan pada Amara bahwa sore hari ini mereka akan terbang ke Lombok untuk bulan madu. Ia juga belum memberitahukan kepada keluarganya akan kepergiannya yang mendadak ke Lombok sore ini.
“Mara… maaf aku terlupa… sahabatku mengirimkan tiket untuk kita bulan madu… emh bisakah kamu menyiapkan
pakaianmu untuk disana selama 3 hari… aku akan minta ijin pada ayahmu untuk membawamu pergi ke sana... emh kamu gak keberatan kan?"
“hah… kok mendadak sih A? Aku belum menyiapkan apa-apa… sebentar… aku ganti baju dan siap-siap ya… apakah Aa sudah menyiapkan pakaian ?"
“Iya sayang tadi pagi ibu martini sudah menyiapkannya … maaf aku terlupa karena konsenku pada akad pernikahan kita.... sekarang aku akan bicara dulu ke ayah untuk minta ijin membawamu sore ini juga.
Mereka berpisah dan Jajang menghampiri Ayah mertuanya yang sedang ngobrol dengan ayahnya sambil
menikmati makanan. Kedua pria itu menjadi semakin akrab meski baru bertemu dua kali.
“ emh ayah… maaf mengganggu obrolan kalian…. Saya mau minta ijin….sebentar sore saya akan membawa Amara untuk pergi ke Lombok, “ Jajang menatap kedua pria yang menjadi ayahnya sekarang. Mereka tersenyum
mendengar permintaan Jajang.
‘Pergilah nak… nikmati bulan madu kalian… Ayah mengerti ko,” Sahut Ayah Amara dengan bijak.
"Terimakasih Ayah.... emh ntar Ayah jika mau ke Bandung... ibu Martini akan mengaturnya besok pagi... Maaf tidak bisa mengantar ayah ke Bandung, "Kata Jajang pada ayahnya dengan sedikit rasa bersalah.
"Pergilah nak...nikmati bulan madumu... Ayah bisa membereskan semuanya disini... nanti telpon ayah jika sudah hadir cucuku...
Ketiga pria itu sama-sama tersenyum . Mereka berharap pada pernikahan Jajang dan Amara yang akan menghadirkan anggota baru di keluarga besar mereka. Semoga saja.
*****
Happy Reading Guys..... Terimakasih telah membaca karyaku, semoga kalian tidak keberatan meninggalkan jejak di sini. Tuhan berkati kalian dan tetap jaga kesehatan ! Love you All...
__ADS_1