Cinta Kan MembawaMu Kembali

Cinta Kan MembawaMu Kembali
S2 : 74. My Love


__ADS_3

Aku  mungkin takkan selalu ada disaat kamu bersedih dan menangis, tapi cintaku akan selalu ada untukmu .


 


 


****


 


Sabrina terusik dalam tidurnya ketika ia merasa ada yang mencium-cium perutnya. Dibukanya matanya dilihatnya Ardi masih mencium perutnya yang terbuka akibat ulah nakal suaminya di pagi hari ini dan itu mengganggu tidur lelapnya di hari sabtu.


"Mas Ardi.... ko sudah bangun?" Jam Berapa ini?"  Sabrina berkata sambil mengeliat sehingga Ardi makin semangat mencium perut istrinya dan tangannya terus mengelus perut nya berulang kali.


"Anak papa.... kangen sama papa gak sih? Rasanya lama banget kita ketemu, " Ardi meracau tanpa menghiraukan pertanyaan Sabrina yang ia ganggu tidurnya di dini hari.


Ardi yang makin iseng segera menaikkan kedua tangannya ke tempat makanan untuk buah hatinya. Ia meremas dan segera memasukan mulutnya di salah satu tempat favoritnya. Ardi terus mengisapnya h ingga membuat Sabrina melotot dan mendorongnya  karena ulah nakal Ardi di pagi hari sudah mengajaknya melakukan olahraga pagi.


"Sudah ah.... jangan deh mas.... aku lagi gak pingin... baru minggu kemarin kita melakukannya, mas Ardi !" Kan dokter bilang kita gak boleh terlalu sering...


"Tapi mungkin... ini minggu terakhir kita bisa melakukannnya ..ntar kata dokter aku disuruh puasa 3 bulan setelah Davira lahir , boleh ya... sekarang ya Sa...ntar aku akan puasa lama sayang, "Bujuk Ardi pada istrinya yang baru bangkit dari tidurnya dan langsung merapihkan pakaiannya


"Davira... siapa Davira ?" Sabrina bertanya pada Ardi sambil melirik pria yang mulai agak cemberut.


"Ini anak kita.... aku ingin namakan Davira... bolehkan ?" Ardi berkata sambil mengelus perut Sabrina kembali. Dan Sabrina mengangguk.


Ardi berfikir Sabrina mengijinkannya untuk melakukan olahraga pada pagi hari sehingga ia langsung menarik Sabrina kembali berbaring dan segera dikecupnya kening , pipi dan bibir wanita itu.  Namun hal itu berbeda dengan pimikiran istrinya. Sabrina berfikir bahwa Ardi meminta ijin untuk menamai calon puteri mereka dengan Davira.


"Mas Ardi, maksudku gak sekarang  nengok Daviranya... aku hanya setuju namanya Davira..." Sabrina mendorong tubuh ardi yang terus mencumbunya dan pria itu tak mau melepaskannya.


Ardi makin tidak dapat dikendalikan dan terus mencumbunya. Hingga suaranya makin parau dan Sabrina akhirnya membiarkan prianya itu melakukan kehendaknya.


"Please Sa... ijinkan aku menengok Davira, " Ardi dengan sedikit memohon dan akhirnya Sabrina mengangguk. Sabrina awalnya pasrah namun berkat cumbuan yang dilakukan pria itu membuatnya menikmati perlakuan dari sang suami yang lebih muda beberapa tahun itu.


"Mas Ardi...  "Desah Sabrina.


"Sa...


Sabrina begitu menikmati perlakuan Ardi di pagi hari itu hingga pria itu menggeram ketika cairannya berhasil dikeluarkan di dalam Sabrina.


" Ahhh.... Sasa, " Geraman Ardi dengan puas.


"Maaf, Sa... aku benar-benar gak bisa mengendalikan diriku... aku tak tahu.... aku begitu menginginkannya, Sa, " Ardi berkata dengan nafas masih menderu.


Dikecupnya kembali kening istrinya dan Ia menggeser tubuhnya dan jatuh tepat  di sebelah Sabrina.wanita itu  tersenyum memandang pria yang kelelahan di sampingnya. Dielusnya pria yang masih kelelahan itu.


"Kenapa dinamai Davira ? "  Sabrina berkata sambil mengelus pipi Ardi dengan penuh kasih  sayang.


"Aku ingin ia menjadi putri yang cantik, bahagia dan bijaksana,... seperti kamu Sa, "  Ardi menjawab sambil mengatur nafasnya.


Mereka tersenyum penuh arti, hingga tiba-tiba raut muka Sabrina berubah, Ia seperti kesakitan dan memegang perutnya.


"Kenapa Sa?"  Apakah aku tadi terlalu keras ya ?"

__ADS_1


"mas Ardi.... aku ko sekarang mules... aku pikir sekarang mau melahirkan Davira...  mules banget nih ?"


"Hah... ayo cepat berpakaian kita ke rumah sakit !" Ardi langsung mandi dan mengangkat tubuh istrinya ke kamar mandi. Mereka membersihkan diri dalam kepanikan dan gerak cepat. Ardi mengambilkan pakaian untuk istrinya dan keduanya segera memakai pakaian.


"Mas Ardi... sekarang sudah gak sakit lagi...emh mungkin hanya lapar ?"


"Hah... jadi gak jadi sekarang mulesnya nih ?'  gak jadi mau melahirkannya ?" Ardi bertanya dengan sangat serius dan Sabrina mengangguk penuh keyakinan.


"Kurasa belum mas Ardi.


Usia kandungan Sabrina sudah memasuki bulan ke sembilan lewat seminggu dan saat ini tubuhnya makin besar . Kaki dan pipinya juga semakin membengkak dan ia  mudah merasa lelah ketika berjalan. Terkadang kram di kaki suka hadir jika ia terlalu lelah.Namun makin terlihat cantik dan sexy bagi suaminya itu.


Untuk itu Ardi sudah meminta assisten di rumah dia bekerja dari pagi-pagi hingga sore pukul 5 untuk membantu Sabrina di rumah. Ia sangat khawatir istrinya itu kelelahan, apalagi kantornya sudah mengijinkan untuk cuti semenjak kehamilannya menginjak sembilan bulan.


Selepas sarapan, Sabrina meminta Ardi ikut menemaninya senam di ruko depan perumahan mereka. Ketika akan berangkat Sabrina merasa mulas kembali perutnya dan sakitnya tidak tertahankan sehingga membuat suaminya panik.


"Mas Ardi.... perutku mules sekali ... "Rintih Sabrina sambil berpegangan dengan dinding di sampingnya. Ardi yang terkejut langsung merangkul dan mengelus perutnya.


"Sa... apakah ini mules yang sekarang, beneran mau melahirkan?"


Ardi menatap istrinya yang meringis menahan tangis. Sabrina masih memegang perutnya.


"Mas  Ardi... bawa tas untuk persiapan bersalinku sekalian ya... kurasa Davira bentar lagi mau keluar nih... ini sakit banget mas Ardi," rintih Sabrina menahan sakitnya.


Ardi langsung membawa tas dan menuntun istrinya menuju mobil. Ia segera mengemudikan mobilnya ke rumah sakit bersalin yang merupakan tempat kontrol istrinya. JIka keadaan tidak macet, letak rumah sakit itu tidak jauh dari kediaman rumah Ardi.


Ketika sampai rumah Sakit, Ardi langsung meminta petugas rumah sakit membawa istrinya melalui brankar  rumah sakit. Disampingnya Ardi ikut berlari mendorong brankar itu sementara mata Sabrina terus terpejam menahan sakitnya akan melahirkan. Dahinya dipenuhi butiran keringat kecil dan tangannya mencengkram erat tangan Ardi.


"Sakit banget, mas Ardi... " Sabrina merintih menahan tangisnya.


"Aku sudah gak kuat mas Ardi... ini sakitnya minta ampun...dan kurasa air ketuban ku sudah keluar...


"Sayang .. kamu pasti bisa lahirin anak kita dengan selamat... aku ingin kalian berdua selamat, Sa... kamu sudah janji padaku....kita akan bersama hingga akhir waktu, " Ardi terus membujuk sambil mencium tangan istrinya.


Di dalam ruangan bersalin, Ardi terus menggenggam tangan istrinya itu. Sebenarnya Ardi sangat cemas melihat Sabrina yang akan melahirkan anaknya, namun ia harus kuat demi keluarga kecilnya.


Saat ini Sabrina sudah telentang dan menekuk kedua lututnya. Seorang dokter wanita yang menangani sudah siap di depan Sabrina yang akan melakukan tindakan pada Sabrina.


"Sebentar lagi bu Sabrina, " Ujar Dokter setelah mengecek jalan bayi .


Cengkraman  di tangan Ardi makin kencang dan Sabrina masih berupaya menarik nafas untuk mendorong anak perempuan dalam perutnya keluar.


"Ya bu... tarik nafasnya.... iya buang... tarik lagi bu, " Dokter itu beberapa kali memberikan instruksi hingga dorongan yang ke sekian, Sabrina berteriak " Aaaarg.......


"oeekkk... oeeek ...oek..."Suara Tangis bayi yang  nyaring keluar dan langsung diangkat oleh dokter dan diperhatikan dengan seksama.


"Wah bayi ini akan jadi bayi yang cantik, sebentar ya pak... dibersihkan dulu "Puji Dokter itu.


Dokter segera menyerahkan pada suster untuk dibersihkan, dan perawat membawa bayi itu keluar dari ruang bersalin sementara kedua orang tuanya hanya bisa menatap bayi mereka yang akan dibersihkan.  Ardi hanya menatap bayi kecil yang masih kemerahan dan masih ada lendir dan darah ditubuhnya. demikian juga Sabrina tersenyum melihat bayi kecil mereka lahir dengan selamat.


"Baby Davira,... Mas Ardi,"   Sabrina berkata pelan sekali. Ia merasa lelah setelah berjuang dan mengantuk rasanya.


 

__ADS_1


*****


 


 


Lily baru saja selesai mandi ketika mendengar pintu ruang tamu rumahnya seperti ada yang membuka dari luar rumah. Segera ia berpakaian dan keluar dari kamar.


"Josh... Josh... kamu pulang?" teriak Lily dengan gembira.


Josh langsung tersenyum bahagia melihat wanita hamil yang berteriak menyambutnya gembira. Dipeluknya wanita  itu erat dan diangkatnya dan mereka berputar-putar bahagia di ruang tengah.


"LIly... aku bahagia bisa pulang..... aku kangen kamu...," Josh sambil menciumi istrinya. Diangkatnya kembali tubuh lily dan diputar-putar di tengah ruangan.


"Josh...josh turunkan aku... kepalaku pusing , kamu ajak putar-putar....,"Teriak lily.


Josh menurunkan Lily dari gendongannya dan mengajaknya duduk di Sofa.


"Bagaimana dengan kejutanku?" Apakah kamu bahagia melihatku pulang, sayang ?"


Lily  memeluk kembali suaminya. "Josh...bisakah kamu meminta bossmu untuk memberikanmu cuti sampe aku melahirkan dahulu, ...kan 4 bulan lagi ,kita akan ketemu anak kita... kamu belum pernah menemaniku kontrol anak kita," Lily berkata sambil sedikit merajuk.


"Sayang ... aku tidak cuti tapi untuk 1 tahun ke depan aku ditempatkan di kantor. pusat di Jakarta.. itu keputusan pimpinan ... gak papa kan sayang," Tanya Josh lagi sambil mencium kening istrinya.


"Gak papa.... asal kamu ada di sini... di dekatku !


Josh menarik Lily mendekat dan memeluk wanitanya erat, hingga sebuah tendangan dirasakan Josh dari perut lily.


"Wah... ini jagoan papa... sudah tahu papa datang !" Josh menunduk dan mencium perut Lily.  "Hai... papa sudah datang.... papa akan temani kamu nanti bermain bola.


"Kan kita belum tahu jenis kelaminnya, Josh.


"Aku yakin dia lelaki, Lil... dia akan seperti aku.."Sahut Josh ringan dan mencium  kembali perut istrinya.


 


*****


 


 


 


Happy Reading temans....


bolehkah tinggalkan jejak disini. Terimakasih telah membacanya. Tetap semangat dalam menjalani hari dan jangan lupa tetap jaga kesehatan!"


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2