Cinta Kan MembawaMu Kembali

Cinta Kan MembawaMu Kembali
S2 :49. Different gifts


__ADS_3

Setiap hari sebenarnya adalah anugerah dari Tuhan  yang telah diberikan,   namun terkadang kita lupakan dan menjalaninya dengan tidak bersukacita.


 


 


*****


Lily pulang ke rumahnya dan langsung duduk di sofa ruang tengah. Ia menyalakan televisi untuk mengisi kesepiannya. Sudah sepuluh hari Josh, suaminya belum mengabarinya.


Memang Josh sudah sering mengatakan tugasnya terkadang berada di daerah yang tidak memiliki jaringan komunikasi yang stabil sehingga akan sulit menghubungi ataupun memberi kabar. Terkadang untuk keamanan semua handphone akan ditinggalkan di markas. Mereka hanya membawa perlengkapan untuk bertugas untuk menghindari pelacakan musuh ataupun demi keamanan kelompoknya.


Tiba-tiba televisi yang ditontonnya menyampaikan sebuah berita terkini " Kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua melakukan penyerangan dan  dalam insiden baku tembak yang terjadi di Beoga, Kabupaten Puncak, Papua,   seorang jenderal bintang satu meninggal dunia.


Deg... Jantung Lily berdebar. Josh kemarin hanya mengatakan tugas di Papua. Josh tidak pernah menceritakan spesifik tempat tugasnya dan apa yang dilakukan. Sebelum pergi ia hanya mengatakan akan tugas luar mungkin 2  bulan di Papua. Apakah di tempat konflik itu?


Lily sangat khawatir setelah menonton berita yang ditayangkan di salah satu stasiun TV.  Dikeluarkan handhpnenya  lalu ditekannya nomor  Josh di handphonenya dan menghubungi nomor Josh.  Suara seoang operator wanita yang menjawabnya.  Handphone yang anda tuju sedang tidak aktif.  Ditekan kembali nomor suaminya.. masih suara wanita itu yang mengatakan nomor yang anda tuju tidak aktif.  Akhirnya Lily meninggalkan pesan di nomor Josh dan meminta pria itu segera menghubunginya.


Josh... kamu baik-baik saja kan? ... Semoga kamu tidak terluka... aku dan anakmu menunggu kamu di rumah... lirih Lily yang masih menonton berita tentang penembakan di Papua. Ia mengerti Josh adalah tentara khusus yang terkadang ditugaskan di beberapa tempat yang sedang konflik. Ia paham tugas suaminya itu tapi sekarang ia sangat resah.


Dulu Josh  juga sudah mengingatkan Lily menjadi istri seorang abdi negara itu memang berat dan harus siap kapanpun ketika ditinggal suaminya bertugas. Ia paham semua itu ketika mereka akan menikah dahulu dia harus menjalani serangkaian tes. Ia mampu lolos untuk tes itu tapi ketika menjalaninya dan mengetahui bahwa suaminya kemungkinan besar berada di lokasi konflik dan ada korban jiwa, ia khawatir dan takut.


Lily menangis sesegukan di depan televisi. Sendirian. Dering Handphnenya membuatnya sedikit tersadar.


"Henry Calling"  Digesernya tombol hijau dan disapanya sahabat yang menghubunginya.


"Ya Hen... 'Sapanya sambil menghapus air matanya.


"Lil... kamu sudah dapat kabar dari Josh ?"


"Belum Hen,... Dia sudah 10 hari tidak menghubungiku... aku takut dia kenapa-napa... ini di berita ada penembakan.... aku sangat khawatir..


"Hei...  jangan takut... Josh pasti bisa melaluinya... jangan khawatir ya... lil.... aku percaya dia pasti bisa... kamu sudah makan belum?"


"Belum.... aku dari tadi nonton Tv  dan aku jadi gak niat makan ...


"Perlu aku dan tika ke sana menemanimu ?" Kami bawakan makanan ya?"


"Gak usah Hen... tadi aku sudah beli makanan... aku mau makan.... tenang saja aku gak papa... mungkin hormon kehamilanku membuatku cengeng..

__ADS_1


"Baiklah... kamu makan sekarang... nanti jika ada apa-apa, hubungi aku... tengah malam sekalipun, kami akan kerumahmu... Serahkanlah segala kuatirmu pada Tuhan... sekarang kamu makan, mandi dan sholat !   Biar pemikiranmu lebih tenang ya ?"


"Terimakasih Henry. Bilang sama Tika juga ... terimakasih ya...


"Ya... kabari aku jika ada apa-apa.


Panggilan itu terputus dan Lily segera meninggalkan ruang tengah dan membiarkan televisi tetap menyala.  Ia segera  membersihkan diri dan segera makan malam sendirian dalam rumah.    Setelah makan ia membereskan perlengkapan makannya dan mencucinya kembali.  Televisi masih menyiarkan berita baku tembak itu dan Lily memilih membersihkan diri kembali untuk melakukan sholat tahajut untuk menenangkan hatinya dan berserah pada yang maha kuasa.


 


 


*****


 


Soffie sedang berbaring di sofa ruang tengah apartemenya  sambil mengelus-ngelus perutnya. Ia merasa mudah lelah di kehamilannya yang hampir menginjak 5 bulan. Sementara Dean asyik duduk di samping mamanya sambil menonton kartun yang ditayangkan di televisi.


Setiap di tayangkan iklan anak itu akan sibuk bertanya ataupun mengemil makanan yang disediakan di meja. Hari ini Soffie membuat makaroni schootel dan puding coklat kesukaan Dean.


"Ma ...mama kapan sih ade bayi keluar ?"


"mungkin beberapa bulan lagi ... kenapa Dean gak sabar ya...sudah mau ketemu adenya ?"


"nanti ya... Dean akan sekolah jika keadaan sudah memungkinkan... Dean sudah mau sekolah ?'


"Iya mam... Dean mau jadi anak yang pintar seperti papa.


"Ya ...nanti Dean akan sekolah... kan akhir bulan ini kita akan pulang ke Jakarta dan Dean , akan sekolah di sana ya ... " Jawab Soffie sambil memeluk pria kecilnya.


"Ma... kenapa sih ade bayi itu adanya di dalam perut mama... kenapa gak di perut papa saja ?  Papa itu lebih kuat dan gak bisa capek kayak mama gini...


Soffie tersenyum mendengar pertanyaan polos dari Dean. Ia mengerti anaknya ini sangat kritis dan jika tidak dijawab maka Dean akan bertanya terus tanpa henti. Ia harus bijak dan tidak boleh salah berbicara.


"Ade bayi itu hanya bisa berada di perut mama karena perut mama itu lebih hangat daripada perut papa... dulu Dean juga ada di perut mama .. Dean ada di perut mama lama lho... 9 bulan.


"ko Dean gak ingat ya ma.... tapi apa muat? Dean kan besar ma, sementara perut  mama cuma sebesar ini, " Anak itu memegang perut mamanya dan mengukur dirinya. Ia keheranan dan wajahnya bingung.


"Muat sayang... dulu Dean kecil banget.... kurang lebih empat tahun yang lalu Dean kecil gak sebesar dan sepintar ini sayang... Dean lahir dari perut mama, Dokter membantu untuk mengeluarkan dean dari perut mama, nanti juga sama adek bayi akan dibantu oleh dokter agar bisa keluar  dan waktu itu...

__ADS_1


Ucapan Soffie terputus ketika mendengar pintu masuk apartemen ada yang membuka dari luar.  Ibu dan Anak itu menoleh ke pintu, Begitu muncul dua buah wajah dari pintu yang terbuka, Dean langsung berlari dan memeluk salah satu Pria itu. David dan Januar sudah pulang dari tugas mereka di sore hari. Kedua pria itu tersenyum memandang Dean yang berlari riang ke arah mereka.


"Papa .... " Dean berlari dan menghambur memeluk Papanya dengan riang.


David langsung merentangkan tangannya dan memeluk jagoan kecilnya itu. Sementara Soffie bangkit dari berbaringnya dan menghampiri kedatangan suaminya itu.


"Bie... kamu tumben sekali pulang cepat .


"Iya... kita dapat undangan makan malam dari walikota...maaf mendadak... ini berkaitan dengan proyekku... Jadi nanti malam kamu ikut denganku, Phie... biar Januar dan Alice yang menjaganya...Bisakah bersiap dalam waktu 30 menit ?


" Bisa ... Apakah tidak boleh membawa Dean ?'


'Gak boleh sayang... kita cuma sebentar ko... Hei, Jagoan papa...sebentar papa pinjam dulu mamamu...nanti kamu di rumah bersama madam Alice dan om Januar... Jaga mereka berdua... jika ada apa-apa hubungi papa, Oke?"


"Oke papa... Jangan  takut ! Sekarang Dean sudah  besar dan jadi seorang  kakak...  tapi kenapa walikota bilang papa tidak boleh bawa anak kecil... Dean kan sudah besar?" Apakah walikota tidak senang dengan anak yang sudah kecil yang sudah besar ? "


"Gini sayang... undangannya hanya untuk dua orang dan tertulis hanya untuk orang dewasa.... Dean kan belum dewasa.


"Oh begitu pa... tapi kenapa madam alice dan om Januar juga tidak boleh ikut? Mereka kan dewasa ?"


"Mereka banyak pekerjaan dan harus membereskan pekerjaan papa...


"Oh... begitu tapi mama itu orang dewasa yang mudah capek, apa tidak apa-apa jika papa mengajak mama tanpa Dean?


"Nanti Papa yang jaga mama...  oh iya Dean,  mama itu pasti kuat kalo pergi sama papa...


"Pa... nanti walikota itu.... "ucapan Dean terputus karena Soffie menghentikan pria kecilnya yang cerewet dan tukang mengatur papanya.


"Dean... kita makan yuk ? Kasihan papa sudah laper... "Bujuk Soffie membantu David dari serbuan pria kecilnya yang serba ingin tahu.  Dean tersenyum pada mamanya dan menganggukkan kepalanya.


 


 


*****


 


Happy Reading Guys.... Thanks telah membaca karyaku. Bolehkan tinggalkan jejak disini !!!! Thanks a lot. Tuhan Berkati kalian semua. Love you Guys.

__ADS_1


 


 


__ADS_2