
Dunia ini hanyalah tempat bagi kita untuk belajar bahwa kita masih saling membutuhkan lebih dari yang ingin kita akui.
Kita semua adalah makhluk sosial sehingga kita masih membutuhkan bantuan orang lain.
*****
David tiba di kamar perawatan Jeany bersama pak kidi . Hari itu Soffie meminta David mampir ke restoran “Sinar kasih” yang terkenal akan makanan khas Sumatra Barat untuk membeli makan malam di restoran itu untuk teman-temanya yang hadir di rumah sakit. ketika memasuki ruangan perawata dii tangan Pak Kidi ada 2 tentengan besar di kiri dan kanannya. Satu tentengan berisi 10 kotak nasi dan satu tentengan yang berisi minuman beraroma Jeruk. Pak Kidi miletakkan makanan dan minuman itu di atas meja diujung ruangan dan segera meninggalkan ruangan itu mengambil barang kembali di mobil.
Soffie sedang bersenda gurau dengan para teman rumpiesnya dan posisinya membelakangi ranjang pasien sehingga tidak perlu melihat Ardi dan Sabrina yang sedang mengobrol dengan Jeany, ataupun melihat pintu yang mendadak terbuka karena bila ada yang datang.
Saat Soffie sedang asyik bercerita mengenai kehidupannya di Ottawa, seseorang menarik kepalanya dari belakang sofa tempat ia duduki. Pria yang berdiri di belakang tempat duduknya itu tersenyum dan menundukkan kepalanya mencium Soffie tanpa ragu.
“ Hi my wife, “ Sapa David dan tanpa berfikir panjang langsung ******* bibir istrinya di hadapan teman-temannya rumpies-nya sehingga ruangan itu menjadi ramai akibat ulah nakalnya.
Soffie terbelalak melihat tindakan David yang memang sering sekali pamer kemesraan pada teman-temannya itu. Tetapi ia sering terkejut dengan semua tindakan David yang terkadang tidak diprediksinya. Jajang, Henry dan Lily langsung heboh meramaikan ruangan itu. Sementara Amara dan Santika hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Tidak terkecuali Jeany, Sabrina dan Ardi ikut menoleh memperhatikan yang terjadi di sudut ruangan perawatan itu. Sedikit nyeri terasa di hati Ardi memperhatikan tindakan David pada istrinya. Ia hanya terdiam dan melengoskan pandangannya.
“Perasaan gue yang pengantin baru, Vid… tapi ko gue kalah heboh dengan elo ya,” Jajang langsung komentar dan melirik Amara. “Sayang…kita harus seperti mereka!” dan tentu saja Amara menolaknya dan sedikit mencubit suaminya yang terkadang mesum.
“Gak deh Aa… jangan coba-coba… kalo mereka itu kan pasangan fenomenal !” Jawab Amara sedikit berbisik di dekat telinga suaminya.
Soffie langsung mendorong tubuh suaminya dan memukul pundaknya pelan.
“Ih…kebiasaan deh, suka banget isengin aku !” Ujar Soffie yang wajahnya sudah memerah.
David terkekeh dan duduk di tangan Sofa tempat Sofie duduk. Ia memandang teman-teman Soffie dan masih berniat mengganggu istrinya yang masih pemalu.
“ Jang.. biar elo tahu… Soffie itu kalo kelamaan gue tinggal suka nangis karena merindukan gue… jadi kalo gak gue cium atau … Awww… aduh ..... aduh.....sakit sayang,” Ucapan David terpotong oleh cubitan Soffie yang berulang-ulang, hingga membuat David berhenti bicara, wajah Soffie semakin merah menahan malu.
“Ha…ha… phie.. kenapa masih malu aja sih… anak elo sudah mau dua… biar aja David seperti itu, “ Jajang menimpali dengan tawanya.
“Sudah-sudah… ayo makan aja phie… aku lapar nih…boleh langsung makan kan?” Henry selalu menengahi jika sudah mulai tidak kondusif.
Soffie dan Lily segera membagikan makanan pada yang hadir termasuk pada Ardi dan Sabrina yang berada dekat Jeany. Mereka membagikan ke tiap orang satu kotak nasi.
“Mama… mau makan nasi kotak atau mau makan yang dari rumah sakit?” Soffie bertanya ketika menghampiri mamanya kembali dengan membawa nasi kotak untuk mamanya.
Jeany tersenyum. Ia ingat teman Soffie yang bernama Henry itu suka makan banyak jadi ia berniat memberikan pada Henry.
“Mama makan yang dari rumah sakit aja, phie… jatah mama untuk Henry aja… dia masih suka makan banyak kan?” gimana Hen, masih kuat gak makan lagi?"
“Wah tante masih ingat sama kebiasaanku?” Henry langsung menjawab dan menghampiri Jeany. Ia menerima nasi kotak jatah Jeany. Ia sering sekali makan di rumah Soffie dulu sebelum Soffie menikah sehingga Jeany sangat mengetahui kebiasaan Henry.
Ardi yang sedari tadi mendengarkan kehebohan Soffie dan teman-temannya karena kelakuan David hanya bisa terdiam dan sedikit menahan sakit dihatinya. Ardi tahu hubungannya sudah berakhir dengan Soffie, tapi kenapa rasa tak rela itu masih ada. Diliriknya Sabrina yang sedang makan, Ardi tersenyum memandang istrinya yang makan dengan lahap. David yang semula duduk baru ingat dia belum menghampiri Ardi dan Sabrina. Sebagai keponakan maka ia harus menyapa terlebih dahulu mereka.
“Udah lama Om Ardi dan Tante Sabrina disini?” David menyapa sambil menyalami mereka berdua.
“Mungkin baru 15 menit sebelum kamu datang , Vid,” Jawab Ardi sambil tersenyum dan menjabat tangan David. “
Kamu langsung kemari dari kantor, Vid?” Setiap hari kah ?"
__ADS_1
“Iya om… setiap pulang kerja aku kemari dan pulang agak malam sampai Sonny datang berganti shift dengan Soffie. Besok mama rencana pulang sih.. kata dokter sudah bisa berobat jalan dan terapy rutin setiap minggu..
“Syukurlah… Kak Jeany besok sudah boleh pulang… ntar aku datang pas acara syukuran Ariela saja ya, Kak… sekalian mau tau rumah Sonny ,” Sabrina menimpali percakapan suaminya dan David.
Dering handphone David menghentikan perbincangan mereka. “ Januar Calling “ David menunjukkan layar
handphone pada Soffie dan keluarga Ardi , seraya meminta ijin dan ia melangkahkan kaki ke luar ruangan.
Soffie segera menyadari ini telpon penting berkaitan pekerjaan dari Ottawa. Mudah-mudahan bukan masalah besar, karena David kemarin terpaksa menemaninya pulang ke Jakarta karena kecelakaan yang dialami Jeany.
David langsung menggeser tombol hijau itu ketika berada di luar ruangan.
“Ya Januar... "David langsung menjawab begitu berada di luar ruangan.
“ Maaf Pak David… saya mengganggu… ini ada yang penting sekali harus segera disampaikan pada bapak. “Suara Januar agak ragu menyampaikan pada atasannya yang sedang berada di Jakarta.
“Katakanlah… apakah proyek ada kendala disana?”
“Bukan pak…. Ini bukan tentang proyek. kalo masalah proyek sih kita aman dan semua berjalan dengan lancar, proyek kita akan selesai dua minggu lagi … emh ini… tentang keselamatan ibu Soffie, pak ?"
“Apa maksudmu?” Cepat katakan yang jelas !” David mulai menjawab dengan tidak sabar.
“Begini pak… baru saja Shinta , Assisten ibu Dilla menghubungi saya… dia meminta waktu bertemu dengan Bapak… terus saya tanyakan ada apa… Dia bilang Dilla makin susah diprediksi, susah diatur dan makin berbahaya bahkan ia sekarang sedang mendekati seorang pembunuh bayaran untuk membereskan ibu... tapi Dilla tidak mau kalo ia dianggap terlibat … Jadi ia meminta ketemu Bapak secepatnya, emh ....Bapak pernah dengar tentang seorang penjahat yang sekitar 10 tahun yang lalu dikenal dengan nama “Cepot Berdarah” … dia sering menbunuh orang dan selalu berhasil dalam setiap tugasnya.... dia sudah disewa ibu Dilla , pak...
“Aku pernah mendengarnya beberapa tahun yang lalu…bukannya ia dipenjara, Jan?’
“Ia sudah bebas pak … nah saya belum tahu detailnya… Shinta minta ijin untuk ketemu bapak tanpa sepengetahuan Ibu Dilla … katanya sekarang Bu Dilla tidak ada di apartemen, kemungkinan sedang merangkai rencana bersama "Cepot berdarah ? Gimana , apakah Bapak bersedia menemui ?”
“Suruh dia temui aku sekarang juga? Dimana ia berada?”
“ Dia saya suruh ke kantor saja ya pak?” Pak kayaknya kita perlu melibatkan Pak Irjenpol Iqbal… atau sebaiknya
“Ya… katakan 1 jam lagi aku ada kantor. Aku akan hubungi Pak Iqbal setelah pertemuan dengan Shinta… kamu minta Michael datang untuk mendampingiku di kantor … aku urus di rumah sakit dahulu…
Panggilan itu terputus. David segera menghubungi Sonny dan segera menyampaikan info yang baru didapat Januar. Ia meminta Sonny membawa keluarganya di rumah David karena dianggap lebih aman karena memiliki penjagaan yang lebih baik, dan David mengajak Sonny untuk ke kantor terlebih dahulu karena ada berita penting yang mendesak. Sonny yang terkejut mendengar penuturan David langsung menyanggupi dan ia segera memboyong keluarganya ke rumah David.
David segera melangkahkan kakinya menuju ruangan kamar perawatan Jeany. Ia harus segera bertindak cepat. Kecurigaan dia selama ini ketika Dissy dan Jeany kecelakaan yang sempat diduga dilakukanDilla makin membuatnya semakin yakin bahwa sang mantan itulah yang merencanakannya.
Ketika ia memasuki kamar ruang perawatan Jajang , Henry dan istri mereka sudah bersiap pulang dan David hanya mengangguk, namun ia tersadar bahwa ia membutuhkan bantuan teman-teman Soffie, akhirnya David berkata pada Jajang dan Henry.
“Bisakah aku bicara dengan kalian berdua dahulu… bolehkah om Ardi juga ikutan bergabung berbicara di luar?" Ada hal penting yang harus kusampaikan… tapi tidak disini?” David menatap ke tiga pria yang disebutkan namanya itu dengan tatapan tajam.
“Boleh dong, Vid… ayo mau bahas apa…jangan ragu-ragu, “ Jajang segera merangkul pundak pria yang lebih tinggi darinya dan melangkah keluar bersama David. Langkah Amara terhenti dan kembali duduk di sofa bersama Santika.
“kak David… ada apa… tumben semua pria diajak ngobrol tapi tidak di depan kami ?’ Soffie merasa aneh dengan kelakuan suaminya yang terkesan menyimpan rahasia.
“Kamu makan dulu ya sayang… aku ada perlu sebentar, “ David melirik Ardi yang masih berdiri di samping Sabrina, namun pria itu menepuk pundak istrinya dan melangkah menuju keluar kamar. Sabrina hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka segera berkumpul di selasar ujung . David menunggu hingga Ardi benar-benar mendekat pada kelompok mereka. Henry dan Jajang merasa agak aneh memandang kebiasaan David yang biasa santai dan sering
banyak bercanda. Wajah David sangat tegang setelah menerima telephon.
“Ada apa ini Vid? “ tumben banget kamu juga mengajakku ikut serta?” Tanya Ardi ketika sudah berkumpul bersama Jajang dan Henry,
“Iya Tumben banget vid… wajah elo aja jadi beda, “Sahut Henry yang memperhatikan detail wajah suami dari sahabatnya.
__ADS_1
“Gue mau minta tolong sama kalian semua… bisakah kalian tetap disini mungkin 3- 6jam di rumah sakit ini menjaga mama Jeany dan Soffie… karena mereka sedang menjadi target pembunuhan..
“hah… elo gak sedang bercanda kan Vid ?” Jajang langsung menimpali. Henry dan Ardipun sama-sama terkejut mendengar penuturan David,
“”Gue serius… tolonglah gue dulu....gue mau ambil bukti-bukti dan akan kordinasi dengan polisi dahulu… jadi bisakah kalian disini.. menjaga mereka dahulu dan nanti kalian bisa pulang setelah kami semua datang… malam ini juga mama Jeany akan pulang dan akan diurus oleh assistenku Michael… bisakah kalian disini dan tidak mengijinkan siapapun masuk/keluar ke dalam ruangan mama Jeany sampai aku datang… aku takut pembunuh itu
menyamar menjadi salah satu petugas medis… bisakah kalian tetap disini dahulu… karena gue yakin dia tidak akan datang untuk menyerang di rumah sakit karena kondisi ramai .. gue mohon bantu lindungi keluarga gue... dan sebisa mungkin jangan bicarakan dengan mama Jeany... aku takut dia jadi drop...
“Oke tidak masalah,” Ardi langsung menjawab dengan penuh keyakinan.
“tapi kita harus jawab apa jika para wanita itu bertanya…belum lagi jika Lily yang tanya ?” Bisa habis semua kita kalo tidak menjawab pertanyaan dia !"
“Lily akan pulang bersama Pak Kidi ya? Ntar aku yang jelaskan pada Lily di jalan … jika ditanya kalian bilang akan dapat proyek saja… gimana?” Kamian menunggu gue datang karena ini proyek mendesak dan harus dibereskan kalian menunggu berkas dari gue, " David memberikan jawaban
“Oke… kami akan bantu… "Henry menjawab dan jajang sudah menepuk pundak David memberikan jawaban yang menenangkannya.
"Hindari Soffie dari jendela... kalian tahu "Cepot berdarah" ? David mem berikan petunjuk kepada para sahabat yang dihadapinya.
"hah... kenapa bisa elo terlibat dengan dia sih, Vid ?" Jajang menyahut. "Dia itu penembak jitu lho... wah... ini beneran berbahaya...
"Jangan khawatir teman... cepat bawa polisi untuk menjaga keluargamu... kami akan menjaga dulu disini, " Henry menyahut.
"ya Vid... jangan khawatir ya !" Ardi ikut menepuk pundak keponakannya itu. "percayalah aku juga akan bantu kamu... selesaikan urusanmu!"
Mereka segera membubarkan diri dan memasuki kamar perawatan. David langsung memanggil Lily dan mengatakan bahwa ia yang akan mengantarnya pulang. Lily dan Soffie keheranan. Namun mereka diam karena mereka yakin ada hal penting yang dibicarakan para pria itu diluar.
Lily segera berpamitan pada Jeany dan Sabrina sebelum keluar ruangan itu bersama David dan Pak Kidi. Soffie menarik tangan David dan akan bertanya namun David menutup mulut Soffie.
"Percayalah padaku, Phie... kamu disini dahulu bersama teman-temanmu... jaga mama dulu,, sebentar aku kembali... jangan kuatir !"
"Bie... " Soffie tidak mampu berkata-kata ketika David langsung mengajak Lily keluar ruangan dan akan mengantarnya pulang.
"Ayo Lily... Pak Kidi akan mengantar kamu pulang !" Tante Sabrina , mohon tunggu sebentar ya... aku ada berkas yang harus diselesaikan Om Ardi !"
Sabrina hanya terdiam. Berkas apa yang harus diselesaikan Ardi berkaitan dengan pekerjaan David. Hal yang sama dirasakan oleh Amara dan Santika. Jajang segera menutup goden rumah sakit dan menggeser meja di depan jendela. Mereka memperhatikan apa yang dilakukan Jajang dengan diam
David berkata seperti itu untuk menenangkan para wanita yang ada di dalam ruangan terutama mama Jeany.
"Saya pergi sebentar, Jang dan Henry... tunggu ya !" David keluar tanpa menunggu jawaban para pria itu.
Ketika David pergi, Soffie langsung mendesak Jajang dan Henry, untuk menceritakan apa yang terjadi.
"Phie... laper nih... cheese cake, masih ada gak... mau lagi dong ?" Jajang berusaha mengalihkan pertanyaan sehingga membuat Soffie cemberut. Henry dan Ardi langsung tertawa melihat Soffie yang cemberut.
*****
__ADS_1
Happy Reading guys.
Bolehkah tinggalkan jejak di sini! Thanks a lot ya..... tetap jaga kesehatan dan semangat dalam menjalani aktifitas kalian. Tuhan berkati kalian semua !!!