
Ketika Badai itu datang, tetap tenang dan berserah pada Tuhan, Ia akan memberikan kepadamu Jalan keluar dan kamu akan mampu melewati badai itu.
Aku tahu aku salah mengingini milik orang lain, tapi aku duluan yang mengenalnya... Aku teramat mencintainya..... aku tak bisa hidup tanpanya... aku selalu ingin bersamanya... kenapa harus aku yang mengalah? Biarkan aku berjuang untuk yang memang seharusnya dulu milikku !"
David telah selesai meeting dengan salah satu koleganya di salah satu restoran dan saat itu bersama dengan Januar dan Haryanto yang selalu mengikuti langkah pimpinannya selama di Ottawa.
David sangat serius dalam bekerja hingga terkadang tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya ketika seorang wanita cantik berjalan menghampirinya. Wanita itu menggunakan tas dan pakaian yang bermerek branded dan aromanya wangi sekali, sehingga tidak jarang pandangan dari pria yang dilewatinya mampu membuat para pria menoleh dan mengagumi ciptaan Tuhan.
" Pagi Dav ... " Sapa lembut wanita cantik tersebut.
David menoleh ke arah sumber suara, karena di negara ini yang menyapanya dengan menggunakan bahasa Indonesia hanya segelintir orang saja. David terkejut. Dila. Mau ngapain Dilla disini? Kenapa harus ada dia disini?"
"Dilla .. kamu ngapain disini?"
"Mencarimu... aku hanya ingin ngobrol dan say "Thanks "pada penyelamatku ... Dav..
"Pulanglah Dila... aku cuma dapat membantumu sampai disitu ... aku senang kamu baik-baik saja dan teruskanlah karirmu ! jangan cari aku, Dila.... Lanjutkan kehidupanmu !" Aku pamit Dila .. masih ada banyak kerjaan... mohon tidak menggangguku... mengertilah Dila!"
"Dav... aku hanya minta waktumu satu hari ini saja... setelah ini aku tidak akan mengganggumu... aku tahu jadwalmu hari ini sudah selesai, Bukankah begitu Januar?" Tanya Dila pada asisten David yang bersiap pergi mendampingi David.
"Dila... mohon tahu batasan...
"Dav... aku hanya minta waktumu beberapa jam... masakah kamu tidak kasihan padaku?" ... aku jauh-jauh datang dari Beijing ke Ottawa ini hanya untuk menemuimu... Kasihanilah aku, Dav.... tapi tak bisakah kamu berikan sedikit saja dari waktumu yang berharga itu sebentar saja... aku hanya ingin makan bersama terakhir kali denganmu .. please," Bujuk Dila sambil memegang lengan David yang tertutup kemeja. "Please David... habis ini aku tak meminta waktumu lagi....
"Baiklah... "Jawab David dengan mengalah.
Diliriknya kedua anak buahnya. "Januar ... kamu tetap di sini bersama Haryanto... tunggu aku , 1 jam lagi aku kembali... dan jangan pulang ke apartemen dan jika Soffie mencariku... bilang aku masih ada rapat... aku cuma pergi sebentar... cepat Dila!"
David melangkah meninggalkan kedua anakbuahnya dan mengajak Dila menuju mobilnya. Ia mengemudikan sendiri mobilnya padahal biasanya David selalu menggunakan jasa sopir selama di Ottawa.
Dila tersenyum riang mendengar jawaban David yang segera mengatur ulang waktunya. Pria ini masih memiliki hati padanya. Berarti aku masih memiliki kesempatan. Kamu sekarang memang bukan milikku, David. Tapi kamu akan menjadi milikku. Hanya milikku dan kita akan bersama selamanya. Maafkan aku David... kamu harus bersamaku , tidak boleh ada Soffie lagi di hidupmu... karena aku tak bisa hidup tanpamu.
Januar memandang Dila dengan tatapan sinis, dia tidak menyukai Dila yang terus mengejar pimpinananya dan melakukan berbagai cara. ia merasakan tidak enak pada istri pimpinannya yang baik hati itu. Tapi ia bisa apa? Ia cuma bawahan yang harus mengikuti pimpinannya.
__ADS_1
Januar masih memandangi langkah David yang digelayuti tangannya oleh Dila. Dasar wanita tak tahu malu. tapi bisa apa jika pimpinannya sudah bersabda. tugasnya hanya memastikan bahwa Soffie tidak mengetahui dan Haryanto tidak bocor informasi yang dapat membahayakan pimpinannya.
Januar masih berdiri dengan kaku ketika menutup telpon dari rumah sakit yang menghubunginya bahwa David kecelakaan. Bagaimana ia menyampaikan pada istri Boss-nya. Apakah ia harus jujur bahwa tadi David pergi bersama Dila. Mengapa harus ada kejadian seperti ini sih? Keluarga ditunggu segera untuk hadir di The Ottawa Hospital. Pasien terluka parah.
"Gimana ini Har... aku tak sampai hati bilang ke Bu Soffie soal Pak David ?" Kenapa juga sih Dila pake datang dan maksa bos untuk pergi... apa kita saja yang langsung ke rumah sakit ... aduh apa kita lihat dulu keadaannya dan baru ajak bu Soffie... karena kalo cuma kecelakaan kecil kan Pak David bisa marah...
"tapi kalo kecelakaan sangat parah dan kita yang menemui Pak David berdua , dan ada apa-apa dengan Pak David...; maka kita bisa celaka juga... kita kan memang harus menjelaskan semuanya.. tadi kita yang menyaksikan Pak David dan menyuruh kita tunggu di restoran itu dan melarang kita pulang...
"Bentar... aku akan menyusun kata...biar Bu Soffie tidak Shock... ah seandainya yang disini Pak Sonny bukan kamu , Har... aku gak bingung gini!"
"Sudahlah Jan.. kita memang harus menyampaikan ke bu Soffie... ayo cepat sebelum ada apa-apa ke Pak David... atau gini saja . kamu ke apartemen bu Soffie dan aku ke Rumah Sakit , gimana?" Nanti aku kabarin kalo sudah bisa melihatnya...
"Bagus juga idemu... kita ketemu disana... , " Jawab Januar sambil mengarah ke mobil kantor di Ottawa. Sementara haryanto menghentikan taxi untuk mengantarnya ke rumah sakit tempat David berada dan menginformasikan keberadaan David disana.
Januar memencet bel Apartemen tanpa henti dan langsung dibuka oleh Soffie yang sedang menggendong Dean. Ia terkejut Januar sudah datang dan dilihatnya tanpa David disampingnya. Tumben.
"Bu Soffie ... mari kita berangkat sekarang.. ini sangat penting !" Pak David menunggu, .. Biar saya yang menggendong Dean !" Bujuk Januar tanpa menjelaskan alasan mengapa mereka harus segera pergi. Januar masih kebingungan menyampaikan alasan harus membawa Soffie pergi dengan segera.
"Mau kemana kita Januar... kenapa Kak David tak mengabariku ? katakan ada apa ini.. kenapa buru-buru, Jan?"
"Ayolah bu... mohon tidak bertanya lebih lanjut... nanti ibu mengerti!" Bujuk Januar kembali.
Sementara madam Alice yang memperhatikan Januar menjadi curiga. Ia tidak ingin kenapa-kenapa pada keluarga David. Ia memutuskan membawa tas dan botol minum isi susu milik Dean.
"Wait Januar... Where are you going? I am coming with Soffie and Dean... and Jika kamu tidak membawaku, maka kamu dilarang membawa Soffie.. !" Ucap Madam Alice dengan tegas, hal itu cukup mengejutkan Soffie dan Januar yang menganggap wanita itu sangat peduli pada mereka. Soffie tersenyum memandang Madam Alice yang terkesan peduli pada keluarganya.
__ADS_1
"Oke.. Please coming!" Let's go !"
Januar segera memerintahkan sopir untuk menjalankan kendaraannya menuju " The Ottawa Hospital" dan Soffie makin terkejut mendengar tempat tujuannya. Rumah sakit....berarti ada apa dengan David?
" Januar... jangan buat aku takut... katakan kenapa dengan David... jangan sembunyikan apapun dariku !"
"Maaf bu... ibu yang sabar... saya juga belum tahu detailnya !" maaf bu...kita doakan semoga tidak terlalu fatal dengan pak David.
"katakan apa yang kau tahu, Januar !" Teriak Soffie sambil menangis dan tangisan itu juga diikuti oleh Dean yang melihat mamanya menangis,sehingga iapun ikut menangis. Madam Alice berusaha memahami Januar dengan mendengarkan.
Januar makin panik melihat kedua ibu dan anak itu makin bertangisan. Dia bingung menceritakan kronologis kepergian David dan Dila ditambah ada musibah ini. Ia masih menutupi kebohongan boss-nya. Semoga Pak David tidak fatal dalam mengalami musibah kecelakaan ini. Mengapa si Haryanto tidak segera mengabarinya.
"Pak David kecelakaan bu...
"Aapa... kenapa bisa?"
"maaf bu...saya belum tahu.. saya cuma dapat info Bapak ada di rumah sakit sekarang dan keluarga diminta segera hadir.... Haryanto juga sedang disana mendampingi....
"Hubbie..... kenapa begini..... aku harus bagaimana?"
Soffie menangis di pelukan Madam Alice. Tubuh Soffie seolah limbung, tatapannya kosong mendengar David kecelakaan. Tangisan Dean tidak terdengar membuat Januar makin panik mendengar tangisan keduanya. Oh Tuhan... tolong kami !"
Happy reading Guys... bolehkah tinggalkan komentar,/ saran/ like / atau apapun itu... Thx telah membacanya!"
__ADS_1