
Balas dendam adalah kesedihan bagi orang yang harus menanggungnya. Dan jika kamu siap untuk membalaskan sakit hatimu, maka dendam adalah kobaran api yang membakar para pelaku pembakaran."
*****
Dilla melihat kembali sebuah alamat yang dikirimkan dari Shinta mengenai alamat Handoyo padanya beberapa hari yanglalu. Dengan bantuan ‘Google Map” alamat yang dituju mudah ditemukan. Rumah itu berada di Kawasan elite di daerah Pondok Indah. Menurut Shinta itu adalah pencapaian yang luar biasa bagi orang kampungnya, meskipun ditempuh dengan jalan yang salah.
Sempat ragu melihat penampilan rumah mewah itu namun Dilla menyakinkan dirinya bahwa Shinta mengenal orang ini dengan baik sehingga tidak mungkin diberikan alamat palsu karena pria itu merupakan tetangga satu desa yang pernah membantu Shinta setamat sekolah menengah kejuruan ke Jakarta.
Dulu Handoyo adalah pria yang baik dan suka membantu orang namun karena masalah beban ekonomi dan harus kehilangan istri dan anaknya dalam peristiwa kebakaran besar yang menimpa keluarga besarnya ikut membentuknya menjadi seperti sekarang ini. Pria yang kejam dan bengis yang tidak memiliki perasaan demi mendapatkan harta duniawi.
Rumah itu berpagar tinggi dan hanya memiliki 1 orang penjaga rumah yang tidak berseragam dinas. Ketika mobil Dilla berhenti di depan pagar rumah itu, penjaga segera menghampiri dan menanyakan alasan kunjungan dengan bertanya tidak ramah. Dilla hanya menjawabnya dari dalam mobil.
“ Saya sudah ada janji dengan Pak Handoyo… emh… Shinta yang menghubungi beliau., dan membuat janji , “ Dilla tidak mengatakan dirinya dengan jelas dan tidak mencopot kacamata hitamnya.
“Oh… sebentar saya tanyakan dulu…. Ibu tunggu disini… kalo pak Handoyo bilang tidak ingin ketemu maka tidak ada kesempatan ya Bu… sekalipun kata ibu sudah buat janji… jadi tidak ada alasan memaksa !”
Penjaga itu membiarkan mobil Dilla terparkir melintang di depan gerbang rumah megah bercat hijau tua. Hampir 10 menit Dilla menunggu di dalam mobil ketika akhirnya diijinkan masuk ke dalam halaman rumah itu. Dilla memasukkan mobilnya dan memarkirkannya tidak jauh dari depan pintu garasi. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dengan dikawal oleh sang penjaga yang tetap tidak ramah kepadanya.
“Ibu tunggu disini… jangan kemana-mana,… sebentar bapak akan keluar !” Penjaga itu kembali menuju posnya dan meninggalkan Dilla di ruangan tamu itu sendiri dan tanpa dipersilahkan duduk.
Ruangan itu besar dan rapi. Cukup berkelas dan terkesan tertutup di ruangan itu. Dilla memperhatikan interior
ruangan itu yang cukup mewah mengingat sekali bekerja orang ini akan mendapatkan bayaran fantastis. Dilla sudah mempersiapkan uang berapapun yang diminta asal tujuannya tercapai. Tidak ada lukisan pemilik rumah dan hanya 1 buah lukisan besar bergambar singa yang sedang menerkam zebra. Lukisan itu memenuhi dinding ruang tamu. Selain itu hanya sofa empuk berwarna coklat tua dan dua buah guci besar yang berada di sudut ruangan dan sebuah lemari kaca denga berisi beberapa perabot keramik yang mahal.
Rekor pria ini hanya 2 kali tertangkap selama menjalankan tugasnya yang cukup banyak dan ia pernah dipenjara 2 kali untuk kejahatan yang dilakukannya. Kejahatan pertama ia memperoleh hukuman 7 tahun dan kejahatan ke dua ia memperoleh 15 tahun. Tidak diketahui siapa yang menyuruhnya karena pria itu selalu bekerja sendiri dan
menangung sendiri semua kejahatannya. Jika bukan karena Shinta pernah membesuk selagi pria itu dipenjara, maka tidak mungkin Dilla akan ditemuinya. Pria itu hanya menemui orang tertentu yang menurut pandangannya layak ditemui.
Pria asal Kota Lampung ini memiliki nama julukan “Cepot berdarah” karena ia akan meminum darah dari orang yang dibantainya dan mengirimkan bukti foto dengan wajah penuh darah di dirinya. Pria ini merupakan salah satu pembunuh berdarah dingin yang membuat masyarakat Indonesia waktu itu gempar karena foto tindakannya sempat beredar dan ia dengan gentle mengakui melakukan pembunuhan yang sangat keji atas suruhan orang lain namun tidak menyebutkan siapa yang menyuruhnya. Diduga ia beberapa kali membunuh pengusaha kaya raya atas titah para elite negeri ini . Makanya banyak yang ingin menggunakan jasanya karena sudah pasti tidak akan ditangkap karena pria ini terkenal akan komitmennya menjaga nama sang pemberi perintah dan dia hanyalah seorang eksekutor.
“ Si Cepot Berdarah “ini dikenal sangat lihai dalam membidik korban dengan mempelajari gerak-gerik dan kebiasaan sehari-hari dari calon korbannya. Setelah dirasa paham memahami gerak-gerik calon korban, ia langsung menyergap dan belum pernah ada yang gagal dari sergapannya. Meskipun pernah tertangkap polisi
tapi pria ini tidak pernah menyebutkan alasannya kenapa dia membunuh dan hanya menerima konsekuensi atas apa yang dilakukannya. Pria ini sudah berumur 53 tahun, tinggi kurang lebih 167 cm , bertubuh atletis, dan yang terpenting sangat menguasai pekerjaannya.
Dilla masih berdiri memperhatikan lukisan besar hingga ia terkejut mendengar suara di belakangnya dan refleks menoleh pada pria yang ada di belakangnya.
“Kenapa kau mencariku ?” Pria itu berdiri dan menatap sinis pada wanita cantik yang berkulit mulus dihadapannya.
“Pak Handoyo ?” Tanya Dilla ragu sambil memandang pria yang berkulit sawo matang, atletis dan berjalan tegap menuju sofa.
“Hem… “Jawab Handoyo sambil duduk dan tidak menyilahkan tamunya untuk duduk.
“Saya ingin meminta bantuan bapak…emh… jika bapak tidak keberatan dan bersedia menolong saya untuk membereskan seseorang…
“Kemana suamimu… minta tolong dia saja… kenapa minta tolong orang lain ?” kau bukan janda bukan,” Ucapnya sambil memandang tubuh Dilla dari atas ke bawah.
Hari ini Dilla menggunakan rok jeans selutut dan kemeja putih lengan pendek yang dikeluarkan dan sepasang sendal tinggi. Kesan cantik, elegan dan sensual ada di Dilla hari itu.
“Saya memang belum bercerai dengan suami saya tapi iasudah meninggalkan saya 6 bulan yang lalu setelah menganiaya saya dan melukai seluruh tubuh saya hingga saya dirawat karena nyaris mati di rumah sakit dan ia mengancam akan membunuh saya… saya hampir mati dan dirawat berbulan-bulan…hingga saya pulih kembali seperti sekarang
“Jadi kau ingin saya membunuhnya ?” Membunuh suamimu ?”
“Oh bukan … saya tidak ingin membunuhnya… ada orang lain yang sangat menyakiti saya… maukah bapak membantu saya…saya akan membayarnya berapapun? " Dilla memandang pria itu dengan tatapan manjanya.
__ADS_1
“Kau ini aneh… kau artis penyanyi itu kan?” Kenapa tidak ingin membunuh suamimu yang jelas-jelas menyakitimu … tapi ingin membunuh orang lain?” Apa orang yang ingin kau bunuh itu lebih kejam dari suamimu ?” Hardik Handoyo sehingga membuat Dilla sedikit takut akan pandangan matanya.
Namun tekad Dilla sudah bulat dan memaksanya untuk berani menghadapi pria yang berdiri didepannya dan menurut Dilla sangat tidak sopan dan meremehkannya.
“Saya mengerti alasan suami saya melakukan itu pak dan saya sudah memaafkannya… saya ingin meminta tolong pada bapak karena alasan lain… mohon bantu saya membereskan orang lain yang sangat menyakiti hati saya ?” Dilla menjawab dengan lirih.
“Dengar saya hanya ingin menemui kamu karena kamu itu artis dan katanya bosnya Shinta temanku yang sering mengirimkan makanan untukku selama di penjara … saya hanya ingin melihat seperti apa wajahmu di dunia nyata, apakah cantik itu tidak hanya di televisi… kau ternyata lebih cantik aslinya “ Handoyo mendengus kasar dan mengambil sebatang rokok dan mulai menghisapnya dan terus memandang Dilla secara intens.
Dilla memandang pria itu dan menghampiri Handoyo yang duduk di sofa. Dilla merendahkan dirinya dengan duduk di lantai di samping kaki Handoyo. Pria itu diam saja dan masih menghisap rokonya dengan tenang seakan tidak peduli pada Dilla. Dia begitu menikmati rokok yang dihisapnya.
“Tolonglah saya pak… “ Shinta bersimpuh sambil menangis di depan pria yang terlihat gagah diusianya sudah kepala 5. Pria itu menemui shinta hanya menggunakan kaos tanpa lengan dan celana jeans. Di tangan pria itu tergambar naga yang sedang terbuka mulutnya. Terkesan sangar dan arogan.
“Apakah orang yang mau dibereskan itu menghambat karirmu?” Ceritakan dulu dengan jujur baru aku akan memikirkannya… jika kau bohong maka aku tidak akan membantumu !” bahkan akan melemparmu keluar dari tempatku sekarang juga!"
“Baik pak Handoyo … Orang itu merebut kekasih saya di masa lalu… dia menghambat hubungan saya dengan pria itu. Pria yang selalu baik pada saya dan mencintai saya… pria yang menyelamatkan saya dari kejamnya suami saya…. Pria itu yang merawat saya , Pak “ Dilla masih menangis dan terduduk di lantai di samping Handoyo.
“Kau memintaku membunuh seorang wanita… maaf aku tidak akan membunuh wanita… bukan levelku… “ Handoyo berteriak kencang di depan Dilla.
Handoyo segera bangkit dan akan meninggalkan Dilla dan akan meminta Dilla meninggalkan rumahnya. Namun Dilla yang masih terduduk dilantai memegang kaki Handoyo dengan erat dan menahannya sambil menangis.
“Wanita ini yang terlebih dahulu yang menjual dirinya pada kekasihku sehingga kekasihku terpaksa bertanggungjawab atas kehamilan yangtidak disengaja… Aku sangat membencinya… aku ingin dia tidak ada lagi di dunia ini … hanya itu saja yang kuinginkan… aku harus memberikan pelajaran pada wanita itu … ”Ujar Dilla sambil menangis dengan bersimpuh dan mencium kaki pria itu yang tidak mengenakan alas kaki. Dilla benar-benar menangis di hadapan Handoyo dan berlinang air mata.
“Apa yang kudapat jika aku membantumu?”
“Apakah 5 milyar itu sepadan pak ?” Dilla berkata dengan hati-hati.
Ia masih menangis di lantai dan tidak berani menengadahkan kepalanya memandang Handoyo. Takut sudah pasti. Dilla sangat frustasi jika Handoyo tidak membantunya. Langkah keduanya yang melibatkan stasiun TV untuk membongkar hubungannya dengan David gagal total dan Dilla tidak ingin yang ini juga gagal juga.
“Dilla… itu namamu bukan ? “ Handoyo masih belum beranjak dari ruang tamu karena Dilla masih memegang kakinya dan wanita itu masih bersimpuh di lantai.
“Dengar kebencianmu itu tidak sepadan dengan nilai itu… Kau belum terlalu benci pada wanita itu kalau kadar bencimu masih seperti itu kau masih bisa berubah pikiran dan kupikir kau hanya cuma punya penyakit iri hati... lepaskan saja pria itu... masih banyak pria lain yang bisa kau dapatkan.... Simpan saja uangmu… pergilah dan banyak berdoa saja… maafkan wanita itu !”
“Pak Handoyo… tolonglah saya… saya harus melakukan apa agar bapak mengerti bahwa kadar kebencian saya pada wanita itu sangat tinggi !”
“Tidak ada yang harus kaulakukan untukku… pulanglah !”
“tolonglah saya pak !” Saya tidak bisa hidup jika terus mengingat wanita itu !” Saya mohon, kasihinilah saya , Pak Handoyo !” Dilla makin menangis histeris dan mencium kembali kaki Handoyo.
“Baik… kau akan melakukan apa saja untuk membuktikan bahwa kamu memang membencinya ?”
Dilla mengangguk dari posisi duduk di lantai dan menengadah menatap pria yang sedang berdiri di depannya yang terlihat tanpa belas kasihan.
“Ikut aku “ Handoyo melangkahkan kakinya menuju tangga di lantai dua rumahnya.
Dilla mengikuti pria itu tanpa banyak tanya. Mereka melangkahkan kakinya melewati ruang tengah yang kosong dan menuju sebuah ruangan kamar di lantai dua.
Begitu Dilla memasuki ruangan itu. Pintu langsung ditutup oleh Handoyo. Mereka berdiri di balik pintu kamar. Mereka berdiri berhadapan dan jaraknya sangat dekat. Suara nafas masing-amsing dapat terdengar.
“Katakan siapa nama wanita itu ? “ Tanya Handoyo dengan sangat tegas.
“Soffie… aku belum tahu nama lengkapnya. Ia istri dari David Pratama… mungkin bapak pernah mendengarnya?” Dilla menjawab dengan tersenyum pada pria itu. “ Saat ini dia sedang mengandung…tapi aku tak rela dia bersama David dan menikmati kekayaannnya.
‘Dia sedang hamil dan kau mau bertanggungjawab atas darah ibu dan anak itu yang akan tertumpah?” Tanya Handoyo lagi dengan menatap Dilla.
__ADS_1
“Aku akan bertanggungjawab akan darah yang akan tertumpah…. Yang penting kau mau membantuku, “ Dilla benar-benar terdengar putus asa.
“Sekarang katakan dengan lantang….. Aku membenci Soffie dan Aku yang ingin membunuhnya !” Handoyo berkata dengan lantang dan mengajak Dilla mengikuti ucapannya.
Dilla mengucapkannya dengan lantang di depan Handoyo. Dilla merasa yakin akan tujuannya yang akan berhasil jika Handoyo mewujudkannya.
“ Kurang keras !” Teriak Handoyo.
“Aku sangat membenci Soffie dan Aku yang ingin membunuhnya !” teriak Soffie dengan berapi api dan memandang Handoyo dengan tatapan yang tajam. Ia sudah tidak takut lagi dengan pria yang berada di hadapannya.
“Katakan lagi dan ingat bagaimana ia merebut kekasihmu !”
“Aku sangat membenci Soffie dan Aku yang ingin membunuhnya !” Teriak Dilla dengan tatapan marah pada Handoyo dan pria itu menatapnya dengan senyum yang memancarkan kelicikan.
“Katakan lima kali lagi dengan keras dan percaya diri “ Handoyo menarik Dila agar lebih dekat pada tubuhnya.
Tubuh mereka saling menempel dan mata mereka bertatapan. Dilla masih berkata dengan lantang dan tanpa disadari Dilla, pria itu telah melepaskan pakaian yang digunakan oleh Dilla.
Handoyo memandang penuh kagum pada tubuh wanita itu. Ia tersenyum penuh seringai. Ditahannya hasratnya, setelah ia memandang wanita cantik yang ada di hadapannya. Handoyo ingin melihat sampai dimana niat Dilla mewujudkan tujuannya.
Dilla terkejut menyadari bahwa dirinya sudah tidak berpakaian sama sekali dihadapan pria itu. Pria itu memandangnya dengan senyum liciknya. Namun Handoyo hanya memandangnya saja tanpa melakukan apapaun padanya.
“ Katakan padaku.. apakah kau masih ingin membunuhnya atau ingin pergi dari kamar ini ?” Handoyo masih memberikan pilihan pada Dilla untuk berfikir ulang. “Apakah kebencianmu cukup besar sehingga kau layak berada
di sini? “Tanya Handoyo sekali lagi pada Dilla . Pandangan pria itu semakin berkabut. Pria dewasa yang jarang
mendapatkan wanita cantik sebagai pemuas nafsunya. Biasanya ia mencari wanita di kelab malam dan memuaskannya tidak di kediamannya.
“Pintu masih bisa terbuka… pikirkan sekali lagi, Dilla !” Bayaranku tidak cukup 5 milyarmu… berikan juga
aku pelayanan yang memuaskan dan aku akan mempertimbangkannya … “ Handoyo meninggalkan Dilla yang masih tercekat dengan keadaannya.
Handoyo melangkahkan kakinya menuju ranjangnya dan mengabaikan Dilla yang masih tidak berpakaian. Pria itu seraya mengejek wanita itu. Dia tidak membutuhkan Dilla. Dia masih menggunakan pakaian lengkap dan wanita itu yang membutuhkan dirinya.
“Dilla ingatlah Balas dendam adalah kesedihan bagi orang yang harus menanggungnya dan jika kamu siap untuk membalaskan sakit hatimu, maka dendam adalah kobaran api yang membakar para pelaku pembakaran… Apakah kamu siap terbakar ?”
Handoyo tersenyum dan menutup matanya di tempat tidur. Dilla masih berdiri terpaku memandang pria itu.
*****
Happy reading guys....
__ADS_1
semoga masih berbaik hati membacanya... ditunggu komentarnya atau sarannya. Boleh tinggalkan jejak kamu disini. Tuhan berkati kalian. I Love you All.
Semangat dan tetap jaga kesehatan ya !!