Cinta Kan MembawaMu Kembali

Cinta Kan MembawaMu Kembali
S2 : 54. Siap Terbakar ?"


__ADS_3

Balas dendam adalah kesedihan bagi orang yang  harus menanggungnya. Dan jika kamu siap untuk membalaskan sakit hatimu, maka  dendam adalah kobaran api yang membakar para pelaku pembakaran."


*****


Dilla melihat kembali sebuah alamat  yang dikirimkan dari Shinta mengenai alamat Handoyo padanya beberapa hari yanglalu.  Dengan bantuan ‘Google Map” alamat  yang dituju mudah ditemukan. Rumah itu berada di Kawasan elite di daerah Pondok Indah.  Menurut Shinta itu adalah pencapaian yang luar biasa bagi orang kampungnya, meskipun ditempuh dengan jalan yang  salah.


Sempat ragu melihat penampilan rumah mewah itu namun Dilla menyakinkan dirinya  bahwa Shinta mengenal orang ini dengan baik sehingga tidak mungkin diberikan alamat palsu karena pria itu merupakan tetangga satu desa yang pernah  membantu Shinta  setamat sekolah menengah kejuruan ke Jakarta.


Dulu Handoyo adalah pria yang baik dan suka membantu orang  namun karena masalah beban ekonomi dan harus  kehilangan istri dan anaknya dalam peristiwa kebakaran besar yang menimpa keluarga besarnya ikut membentuknya menjadi seperti sekarang ini. Pria yang kejam dan bengis yang  tidak memiliki perasaan demi mendapatkan harta duniawi.


Rumah itu berpagar tinggi dan  hanya memiliki 1 orang penjaga rumah yang tidak berseragam dinas.  Ketika  mobil Dilla berhenti di depan pagar rumah itu, penjaga segera  menghampiri dan menanyakan alasan kunjungan dengan bertanya tidak ramah. Dilla hanya menjawabnya dari dalam mobil.


“ Saya sudah ada janji dengan Pak  Handoyo… emh… Shinta yang menghubungi beliau., dan membuat janji , “ Dilla  tidak mengatakan dirinya dengan jelas  dan tidak mencopot kacamata hitamnya.


“Oh…  sebentar saya tanyakan dulu…. Ibu tunggu  disini… kalo pak Handoyo bilang tidak ingin ketemu maka tidak ada kesempatan  ya  Bu… sekalipun kata ibu sudah buat  janji… jadi tidak ada alasan memaksa !”


Penjaga itu membiarkan mobil Dilla terparkir melintang  di depan gerbang rumah megah bercat hijau tua.  Hampir 10  menit Dilla menunggu di dalam mobil ketika akhirnya diijinkan masuk ke dalam halaman  rumah itu. Dilla memasukkan mobilnya dan memarkirkannya tidak jauh dari depan pintu garasi.  Ia melangkahkan kakinya  menuju ruang tamu dengan dikawal  oleh sang penjaga yang tetap tidak ramah kepadanya.


“Ibu tunggu disini… jangan  kemana-mana,… sebentar bapak akan keluar !”  Penjaga itu kembali menuju posnya dan meninggalkan Dilla di ruangan tamu itu sendiri dan tanpa dipersilahkan duduk.


Ruangan itu besar dan rapi. Cukup  berkelas dan terkesan tertutup di ruangan itu. Dilla memperhatikan interior


ruangan itu yang cukup mewah mengingat sekali bekerja orang ini akan mendapatkan bayaran fantastis. Dilla sudah mempersiapkan uang berapapun yang  diminta asal tujuannya tercapai. Tidak ada lukisan pemilik rumah dan hanya  1 buah lukisan besar bergambar singa yang sedang menerkam zebra. Lukisan itu memenuhi dinding ruang tamu. Selain itu hanya sofa empuk  berwarna coklat tua dan dua buah guci besar yang berada di sudut ruangan dan sebuah lemari kaca denga berisi beberapa perabot keramik yang mahal.


Rekor pria ini  hanya 2 kali tertangkap selama menjalankan tugasnya yang cukup banyak  dan ia pernah dipenjara  2 kali untuk kejahatan yang dilakukannya. Kejahatan pertama ia memperoleh hukuman 7 tahun dan kejahatan ke dua ia memperoleh 15 tahun.  Tidak diketahui siapa yang menyuruhnya karena pria itu selalu bekerja sendiri dan


menangung sendiri semua kejahatannya.  Jika bukan karena Shinta pernah membesuk selagi pria itu dipenjara, maka tidak mungkin Dilla akan ditemuinya. Pria itu hanya menemui orang tertentu yang  menurut pandangannya layak ditemui.


Pria asal Kota Lampung ini  memiliki  nama julukan  “Cepot berdarah”  karena ia akan meminum darah dari orang yang  dibantainya dan mengirimkan bukti foto dengan wajah penuh darah  di dirinya.    Pria ini merupakan salah satu pembunuh berdarah dingin yang membuat masyarakat Indonesia waktu itu  gempar karena  foto tindakannya sempat beredar dan ia dengan gentle mengakui  melakukan pembunuhan yang sangat keji atas suruhan orang lain namun tidak menyebutkan siapa yang menyuruhnya. Diduga ia beberapa kali membunuh pengusaha kaya raya atas titah para elite negeri ini . Makanya banyak yang ingin menggunakan jasanya karena sudah pasti tidak akan ditangkap karena pria ini terkenal akan komitmennya menjaga nama sang pemberi perintah dan dia hanyalah seorang eksekutor.


“ Si Cepot Berdarah “ini  dikenal sangat lihai dalam membidik korban  dengan mempelajari gerak-gerik dan kebiasaan sehari-hari  dari calon korbannya.  Setelah dirasa paham memahami gerak-gerik  calon  korban, ia langsung menyergap dan  belum pernah ada yang gagal dari sergapannya. Meskipun pernah tertangkap polisi


tapi pria ini tidak pernah menyebutkan alasannya kenapa dia membunuh dan hanya menerima konsekuensi atas apa yang dilakukannya. Pria ini sudah berumur 53 tahun, tinggi kurang lebih 167 cm , bertubuh atletis, dan yang terpenting sangat menguasai pekerjaannya.


Dilla masih berdiri memperhatikan lukisan besar hingga ia terkejut mendengar suara di belakangnya dan refleks menoleh pada pria yang ada di belakangnya.


“Kenapa kau mencariku ?” Pria itu berdiri dan menatap  sinis pada wanita cantik yang berkulit mulus dihadapannya.


“Pak Handoyo ?” Tanya Dilla ragu sambil memandang pria yang berkulit sawo matang, atletis dan berjalan tegap menuju sofa.


“Hem… “Jawab Handoyo sambil duduk dan tidak menyilahkan  tamunya untuk duduk.


“Saya ingin meminta bantuan bapak…emh… jika bapak tidak  keberatan dan bersedia menolong saya untuk membereskan seseorang…


“Kemana suamimu… minta tolong dia saja… kenapa minta tolong orang lain ?” kau bukan janda bukan,” Ucapnya sambil memandang tubuh Dilla dari atas ke bawah.


Hari ini Dilla menggunakan rok jeans selutut dan kemeja  putih lengan pendek yang dikeluarkan dan sepasang sendal tinggi. Kesan cantik, elegan dan sensual ada di Dilla hari itu.


“Saya memang belum bercerai dengan suami saya tapi iasudah  meninggalkan saya 6 bulan yang lalu  setelah menganiaya saya dan melukai  seluruh tubuh saya  hingga saya dirawat karena nyaris mati di rumah sakit dan ia mengancam  akan membunuh saya… saya hampir mati dan dirawat berbulan-bulan…hingga saya pulih kembali seperti sekarang


“Jadi kau ingin saya membunuhnya ?” Membunuh suamimu ?”


“Oh bukan … saya tidak ingin membunuhnya… ada orang lain  yang sangat menyakiti saya… maukah bapak membantu saya…saya akan membayarnya berapapun?  " Dilla memandang pria itu dengan tatapan manjanya.

__ADS_1


“Kau ini aneh…  kau artis  penyanyi itu kan?” Kenapa tidak ingin membunuh suamimu yang jelas-jelas menyakitimu … tapi ingin membunuh orang lain?” Apa orang yang ingin kau bunuh itu lebih kejam dari suamimu ?” Hardik Handoyo sehingga membuat Dilla sedikit takut akan pandangan matanya.


Namun tekad Dilla sudah bulat dan  memaksanya untuk berani menghadapi pria yang  berdiri didepannya dan menurut Dilla sangat tidak sopan dan meremehkannya.


“Saya mengerti alasan suami saya melakukan itu pak dan saya sudah memaafkannya… saya ingin meminta tolong pada bapak karena alasan  lain… mohon bantu saya membereskan orang lain yang sangat menyakiti hati saya ?”  Dilla menjawab dengan lirih.


“Dengar saya hanya ingin menemui kamu karena kamu itu artis dan katanya bosnya Shinta temanku yang sering  mengirimkan makanan untukku selama di penjara … saya hanya ingin melihat seperti apa wajahmu di dunia nyata, apakah cantik itu  tidak hanya di televisi… kau  ternyata lebih cantik aslinya “  Handoyo mendengus kasar dan mengambil sebatang rokok dan mulai menghisapnya dan terus memandang Dilla secara intens.


Dilla memandang pria itu dan menghampiri Handoyo yang duduk di sofa. Dilla merendahkan dirinya dengan duduk di lantai di samping kaki  Handoyo. Pria itu diam saja dan masih  menghisap rokonya dengan tenang seakan tidak peduli pada Dilla. Dia begitu menikmati rokok yang dihisapnya.


“Tolonglah saya pak… “ Shinta bersimpuh sambil menangis di depan pria yang terlihat gagah diusianya sudah kepala 5.   Pria itu menemui shinta hanya menggunakan  kaos tanpa lengan dan celana jeans. Di  tangan pria itu tergambar naga yang sedang terbuka mulutnya. Terkesan  sangar dan arogan.


“Apakah orang yang mau dibereskan itu menghambat karirmu?”  Ceritakan dulu dengan jujur baru aku akan memikirkannya… jika kau bohong maka aku tidak akan membantumu !” bahkan  akan melemparmu keluar dari tempatku sekarang juga!"


“Baik pak Handoyo … Orang itu merebut kekasih saya di masa lalu… dia menghambat hubungan saya dengan pria itu. Pria yang selalu baik pada saya dan mencintai saya… pria yang menyelamatkan saya dari kejamnya suami saya….  Pria itu yang merawat saya , Pak “ Dilla masih menangis dan terduduk di lantai di samping Handoyo.


“Kau memintaku membunuh seorang wanita… maaf aku tidak  akan membunuh wanita… bukan levelku… “  Handoyo berteriak kencang di depan Dilla.


 Handoyo segera bangkit dan akan meninggalkan Dilla dan  akan meminta Dilla meninggalkan rumahnya. Namun Dilla  yang masih terduduk dilantai memegang kaki Handoyo dengan erat dan menahannya sambil menangis.


“Wanita ini yang terlebih dahulu yang menjual dirinya  pada kekasihku sehingga kekasihku terpaksa bertanggungjawab atas kehamilan yangtidak disengaja… Aku sangat membencinya…  aku ingin  dia tidak ada lagi di dunia ini … hanya itu saja yang kuinginkan… aku harus memberikan pelajaran pada wanita itu … ”Ujar Dilla  sambil menangis  dengan bersimpuh dan mencium kaki pria itu yang tidak mengenakan alas kaki. Dilla benar-benar menangis di hadapan Handoyo dan berlinang air mata.


“Apa yang kudapat jika aku membantumu?”


“Apakah 5 milyar itu sepadan pak ?” Dilla berkata dengan  hati-hati.


Ia masih menangis di lantai dan tidak berani  menengadahkan kepalanya memandang Handoyo. Takut sudah pasti. Dilla sangat  frustasi jika Handoyo tidak membantunya. Langkah keduanya yang melibatkan  stasiun TV untuk  membongkar hubungannya dengan David gagal total dan Dilla tidak ingin yang ini juga gagal juga.


“Dilla… itu namamu bukan ? “ Handoyo masih belum beranjak  dari ruang tamu karena Dilla masih memegang kakinya dan wanita itu masih  bersimpuh di lantai.


“Dengar kebencianmu itu tidak sepadan dengan nilai itu… Kau belum terlalu  benci pada wanita itu  kalau kadar bencimu masih seperti itu kau masih bisa berubah pikiran dan kupikir kau  hanya cuma punya penyakit iri hati... lepaskan saja pria itu... masih banyak pria lain yang bisa kau dapatkan.... Simpan saja  uangmu… pergilah  dan banyak  berdoa saja… maafkan wanita itu !”


“Pak Handoyo… tolonglah saya… saya harus melakukan apa  agar bapak mengerti bahwa kadar kebencian saya pada wanita itu sangat tinggi !”


“Tidak ada yang harus kaulakukan untukku… pulanglah !”


“tolonglah saya pak !” Saya tidak bisa hidup jika terus  mengingat wanita itu !” Saya mohon, kasihinilah saya , Pak Handoyo !” Dilla makin menangis histeris dan mencium kembali kaki Handoyo.


“Baik… kau akan melakukan apa saja untuk membuktikan  bahwa kamu memang membencinya ?”


Dilla mengangguk dari posisi duduk di lantai dan menengadah  menatap pria yang sedang berdiri di depannya yang terlihat tanpa belas kasihan.


“Ikut aku “ Handoyo melangkahkan kakinya menuju tangga di lantai dua rumahnya.


Dilla mengikuti pria itu tanpa banyak  tanya.  Mereka melangkahkan kakinya melewati ruang tengah yang kosong dan menuju  sebuah ruangan kamar di lantai dua.


Begitu Dilla memasuki ruangan itu. Pintu langsung ditutup  oleh Handoyo. Mereka berdiri di balik pintu kamar.  Mereka berdiri  berhadapan dan jaraknya sangat dekat. Suara  nafas masing-amsing dapat terdengar.


“Katakan siapa nama wanita itu ? “ Tanya Handoyo dengan  sangat tegas.


“Soffie… aku belum tahu nama lengkapnya. Ia istri dari  David Pratama… mungkin bapak pernah mendengarnya?”  Dilla menjawab dengan tersenyum pada pria  itu. “ Saat ini dia sedang mengandung…tapi aku tak rela dia bersama David dan menikmati kekayaannnya.


‘Dia sedang hamil dan kau mau bertanggungjawab atas darah  ibu dan anak itu yang akan tertumpah?”  Tanya Handoyo lagi dengan menatap Dilla.

__ADS_1


“Aku akan bertanggungjawab akan darah  yang akan tertumpah…. Yang penting kau mau membantuku, “ Dilla benar-benar terdengar putus asa.


“Sekarang katakan dengan lantang….. Aku membenci Soffie  dan Aku yang ingin membunuhnya !”  Handoyo berkata dengan lantang dan mengajak Dilla mengikuti ucapannya.


Dilla mengucapkannya dengan lantang di depan Handoyo. Dilla merasa yakin akan tujuannya yang akan berhasil jika Handoyo mewujudkannya.


“ Kurang keras !”  Teriak Handoyo.


“Aku sangat membenci Soffie dan Aku yang ingin membunuhnya !” teriak Soffie dengan berapi api dan memandang Handoyo dengan tatapan yang tajam. Ia sudah tidak takut lagi  dengan pria yang berada di hadapannya.


“Katakan lagi dan ingat bagaimana ia merebut kekasihmu !”


“Aku sangat membenci Soffie dan Aku yang ingin  membunuhnya !” Teriak Dilla  dengan tatapan marah pada Handoyo dan pria itu menatapnya dengan senyum yang memancarkan kelicikan.


“Katakan lima kali  lagi dengan keras dan percaya diri “ Handoyo menarik Dila agar  lebih dekat pada tubuhnya.


Tubuh mereka saling menempel dan mata mereka bertatapan. Dilla  masih berkata dengan lantang dan tanpa disadari Dilla,  pria itu  telah melepaskan pakaian yang digunakan oleh  Dilla.


Handoyo memandang penuh kagum pada tubuh  wanita itu. Ia tersenyum penuh seringai.  Ditahannya hasratnya, setelah ia  memandang wanita cantik yang ada di hadapannya. Handoyo ingin melihat sampai dimana niat Dilla mewujudkan tujuannya.


Dilla terkejut menyadari bahwa dirinya sudah tidak berpakaian sama sekali dihadapan pria itu. Pria itu memandangnya dengan senyum liciknya. Namun Handoyo hanya memandangnya saja tanpa melakukan apapaun padanya.


“ Katakan padaku.. apakah kau masih ingin membunuhnya atau ingin pergi dari kamar ini ?” Handoyo masih memberikan pilihan pada Dilla untuk berfikir ulang. “Apakah kebencianmu cukup besar sehingga kau layak berada


di sini? “Tanya Handoyo sekali lagi  pada Dilla . Pandangan pria itu semakin berkabut. Pria dewasa yang jarang


mendapatkan wanita cantik sebagai pemuas nafsunya.  Biasanya ia mencari wanita di kelab malam dan memuaskannya tidak di kediamannya.


“Pintu masih bisa terbuka… pikirkan sekali lagi, Dilla !”   Bayaranku tidak cukup 5 milyarmu… berikan juga


aku pelayanan yang memuaskan dan aku akan mempertimbangkannya … “ Handoyo  meninggalkan Dilla yang masih tercekat dengan keadaannya.


Handoyo melangkahkan kakinya menuju ranjangnya dan  mengabaikan Dilla yang masih tidak berpakaian.  Pria itu seraya mengejek wanita itu.  Dia tidak membutuhkan Dilla. Dia masih menggunakan pakaian lengkap dan wanita itu yang membutuhkan dirinya.


“Dilla ingatlah Balas  dendam adalah kesedihan bagi orang yang harus menanggungnya dan jika kamu siap untuk membalaskan sakit hatimu, maka dendam adalah kobaran api yang membakar  para pelaku pembakaran… Apakah kamu siap terbakar ?”


Handoyo tersenyum dan menutup matanya di tempat  tidur. Dilla masih berdiri terpaku memandang pria itu.


 


 


*****


 


 


 


 


Happy reading guys....

__ADS_1


semoga masih berbaik hati membacanya... ditunggu komentarnya atau sarannya. Boleh tinggalkan jejak kamu disini. Tuhan berkati kalian. I Love you All.


Semangat dan tetap jaga kesehatan ya !!


__ADS_2