Cinta Kan MembawaMu Kembali

Cinta Kan MembawaMu Kembali
S2: 63. Menjaga keluarga


__ADS_3

Keluarga adalah tempat terbaik bagi kita untuk belajar tentang sebuah pengorbanan dan saling menjaga.


Dukungan yang terbaik dari setiap masalah adalah keluargamu. Mereka selalu ingin memastikan kamu mampu bahagia dan dapat menjalani hidupmu baik-baik saja.


 


 


 


*****


 


Sarapan  pagi kali ini di rumah David sangat ramai. Keluarga inti David yang terdiri dari David  Soffie dan Dean.  Keluarga inti  Sonny yang terdiri dari 4 orang  yaitu Sonny, Dissy, Stefanus dan Baby Ariella. Dan Tak lupa mama Jeany juga tinggal disitu.  Mereka semua berkumpul di dalam rumah besar milik David.


Selain itu  ada tamu tambahan yang memang di minta David untuk  membantu melindungi keluarganya  yaitu 3 orang polisi khusus yang berpakaian preman ikut hadir di rumah itu dengan tugas khusus dari  oleh Irjenpol Iqbal. Dua dari tiga  Polisi yang bertugas itu pernah ikut menangani penangkapan kasus "Cepot berdarah" di puluhan tahun lalu meski satu rekan mereka tertembak di masa lalu., sehingga dianggap berpengalaman dan memahami taktik  Si Cepot berdarah" .   Para polisi  yang bertugas itu setiap hari memantau kesiapan rumah dan 1 orang yang ikut membantu pengawasa CCTV karena mereka ditugaskan untuk menangkap “Cepot berdarah “ yang akan menyerang rumah itu.


Selain kehadiran polisi, David memiliki  tim keamanan rumah itu dengan Ibu Martini sebagai kepala ART dengan didukung 9 orang security yang shifnya terbagi atas 3 shif dan 1 orang ahli IT yang khusus menangani jaringan rumah itu dan bertugas memantaunya dan memperhatikan hacker yang kemungkinan membajak di rumah itu.


Rumah  besar itu  yang dijadikan target serangan  namun memiliki akses keamanan yang agak sulit ditembus oleh pencuri biasa.   Rumah itu selain berpagar tinggi,  memiliki CCTV yang memantau pergerakan di  luar rumah dan setiap sudut terawasi dengan baik, satpam yang berjaga dalam 3 shift dan 4 ekor anjing herder yang siap menyerang.  Untuk itulah David merasa tempat teraman untuk melindungi keluarga besarnya adalah rumahnya agar selamat dalam  menghadapi serangan dari “Cepot berdarah “  yang mengaku sniper/penembak  terbaik pada masa mudanya.


Dissy, Soffie  dan mama Jeany yang belum   mengetahui mengapa  keluarga mereka akan dijadikan target serangan oleh musuh. Mereka merasa nyaman berkumpul bersama keluarga.  Para Pria itu merahasiakan serangan yang akan dilakukan oleh  Cepot berdarah.    David memang meminta merahasiakan itu karena takut hal itu berpengaruh pada Kesehatan mereka, terlebih mama Jeany baru sembuh dan Soffie sedang mengandung sehingga mengganggu ketenangan hatinya.  David hanya berkata bahwa ada ancaman untuk keluarga mereka sehingga setiap anggota keluarga tidak meninggalkan rumah di bulan ini dan tidak beraktifitas di luar rumah.


David memilih bekerja dari rumah termasuk juga Sonny, semua pekerjaan dilakukan secara online dan hanya meminta assisten David dari kantor yang bernama Michael membawakan berkas yang diperlukan jika memungkinkan. Mereka  semua memilih semua aktifitas dilakukan secara online dan menghindari keluar dari  rumah. Bila ditemukan hal mencurigakan para pria di rumah itu memilih berbicara di dalam ruangan David.


"Phie , kamu jaga disini dengan Dean ya... ingat ya... kalian  semua hanya boleh beraktifitas di ruang keluarga lantai 2,... tidak ada yang mendekati jendela ataupun memunculkan wajah di jendela...kami akan rapat tapi akan mengamati dari CCTV, sehingga kalian semua terpantau jelas! " David berpesan pada Soffie dan Dean. Dean mengangkat tangannya dan memberi hormat seraya berkata mengikut salam seperti para polisi itu lakukan.


"Siap !" Dean berkata dengan penuh semangat.


Soffie dan David tersenyum memandang pria kecilnya yang semakin kritis. David dan Sonny masuk ruangan kerja David  bersama 2 polisi yang senior, sementara polisi lainnya masih di ruang keluarga demikian juga ibu Martini yang duduk membantu mengawasi para wanita itu.


"Om Polisi ... kenapa sih kita gak boleh keluar rumah?" Tanya Dean yang duduk di samping polisi muda itu yang bernama Charlie.


"karena ada penjahat yang akan menyerang dan kita harus siapkan semuanya, jadi kita diminta menunggu disini !" Charlie menjawab dengan santai pada Dean sambil mengelus kepalanya.


"Kenapa kita harus menunggu disini? Kenapa gak om tangkap  dan tembak aja... kan polisi itu bisa menangkap penjahat?"


Charlie tersenyum dan memandang Soffie yang sedang mengiris buah apel untuk Dean. Soffie dan Mama Jeany mendengarkan sambil tersenyum. Mereka sangat mengetahui jika Dean tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan pria kecil itu harus mendapatkan jawaban dan selalu bertanya.


"Kita harus hati-hati dalam bekerja... tidak boleh sembarangan menangkap dan menembaknya... karena mereka juga manusia yang memiliki keluarga  yang akan kehilangan jika mereka tertembak... jadi kita yang mengalah untuk menangkap tanpa tembak-tembakan...


"Tapi kalo penjahat tidak ditembak... nanti mereka boleh ditendang? Aku bisa menendangnya, Om!"  Dean Berdiri berupaya memamerkan gerakannya dan meloncat dengan mengejutkan.  Tendangan itu sulit dilakukan oleh anak kecil sebayanya.

__ADS_1


"Wah kamu hebat sekali, Dean.... Siapa yang mengajarkan tendangan seperti itu ?' Charlie terkagum kagum melihat tendangan Dean.  " Apakah kamu ikut private taekwondo?"


"Apa itu private tekdo?" Dean bertanya kembali, hingga Soffie yang ikut membantu menjawabnya.


"Maaf Pak Charlie... Dean itu suka sekali bertanya  dan pamer... tapi ya gitu... maaf bikin pusing ya...dia gak ikut private taekwondo... papanya yang mengajarkan tendangan itu setiap sore sepulang kerja ataupun di hari libut... jadi ya gitu.... dia itu selalu pamer bisa menendang... padahal cuma itu yang dikuasainya," Soffie menarik Dean dari kursi disamping polisi muda itu.


"Gak papa, bu... saya suka lihat tendangan dia... keren sekali !" Pantas pak David yang mengajarkannya !"


"Papa bilang aku harus seperti papa, ma !"


"Iya sayang... sekarang Dean makan buah dulu ya... jangan ganggu om polisi bekerja!" Soffie sengaja menarik Dean untuk duduk di meja makan dan meninggalkan polisi yang duduk di sofa itu.


"Tapi mam... om polisi tidak bekerja... dia sedang duduk dan nonton di HP1" Dean masih berkilah dan menolak untuk bersama mamanya.


 


******


Shinta  baru akan keluar pintu gerbang rumah kontrakannya di kawasan "Palem Residence"  yang letaknya tidak jauh dari apartemen Dilla Pratiwi.  Namun ia terkejut mobilnya tidak bisa keluar karena dihalangi  sebuah mobil hitam yang mendadak berhenti di depan mobilnya. Ia mengklakson , namun mobil itu balas mengklakson kembali. Hal itu dilakukan Shinta kembali dan diikuti oleh mobil itu, hingga membuat Shinta keluar dari mobil dan memilih menghampiri mobil yang melintang itu dan mengetuk jendela dari  pintu samping mobil hitam itu.


Tok- tok.


Ketukan Shinta cukup keras dan membuat pemilik kendaraan yang duduk di belakang kemudi menurunkan jendela penumpang. Shinta terkejut melihat seulas wajah yang  menatapnya tanpa ekspresi. Pria yang kemarin dilihatnya sedang bersama artisnya  melakukan perbuatan terlarang di dalam kamar. Wajah pria  itu yang  sedang dilihatnya seakrang  menatap tajam sehingga membuatnya makin takut memandang pria itu


Shinta sangat takut melihat pria itu dan hampir berbalik dan mundur.


"Shinta !""  Aku bilang masuk sebelum aku marah dan menembakmu !"   Handoyo meninggikan suaranya dan membuat Shinta membuka pintu mobil itu dan duduk disamping Handoyo.  Shinta berkata sangat pelan karena ia takut dan ia sedang berfikir bahwa ia kemungkinan besar akan mati ditembak pria itu karena menyaksikan perbuatannya bersama Dilla di kamar.


"Maaf.... maafkan saya kemarin... saya tidak tahu .... maaf... saya benar-benar tidak tahu... tindakan saya yang kemarin salah... maafkan saya,"  Shinta terus berkata ,maaf  dengan pelan dan wajahnya menunduk.


Shinta  maklum jika pria itu marah dan membunuhnya  karena melihat kelakuan Handoyo dan Dilla..


 "Maafkan saya , Pak Handoyo... jangan tembak saya !"  Shinta memohon sambil menunduk .


Sesungguhnya Shinta  berharap ada polisi yang menyelamatkannya. Tapi bagaimana, tas dan handphonenya ada di dalam mobilnya , tidak ada yang menolongnya jika Handoyo langsung menembaknya.


Handoyo mengambil sesuatu dari kursi belakang tempat duduknya  dan melemparkan 1 kantong plastik besar itu ke pangkuan Shinta.


"Bukalah kantong itu !" Handoyo berkata dengan nada tegas pada Shinta.


Shinta terkejut mendapat lemparan kantong plastik hitam yang besar dan berat itu ! Ia membuka kantong itu dan terkejut. Di dalam kantong plastik besar itu terdapat banyak Uang Asing dalam satuan US $ dalam jumlah banyak yang masih diikat dengan logo salah satu bank swasta di Indonesia  dan beberapa uang rupiah berwarna pink  dalam jumlah yang banyak jika dalam ikatan logo bank swasta yang sama.


"Ini apa pak?" Shinta bertanya dan melupakan rasa takutnya. "Bapak ingin saya memberikan ke Mbak DIlla?"

__ADS_1


"Dengarkan aku... aku hanya bicara pada hari ini saja padamu ... kamu pulanglah ke kampung sebelum aku bekerja... ini semua  untuk modalmu.. usahalah di kampung dan sekolahkan adik-adikmu !"  aku cuma minta tolong rawat makam istri dan anakku... lakukan itu untukku... kamu juga boleh menjual rumahku... nanti akan kukirimkan surat rumahku untuk keluargamu!"


"Tapi kenapa pak? Kenapa ini semua untuk saya ?"


'Aku hanya bisa memberi waktumu hari ini... bereskan urusanmu di Jakarta, dan kamu segera  minta mengundurkan diri dari pekerjaanmu sebagai assisten Dilla....jika  besok siang pukul 12.00 kamu masih ada di Jakarta, maka jangan salah jika kamu aku bereskan ... lakukan perintahku selagi aku menganggapmu masih bagian dari keluargaku !"


"Tapi pak...


"Kamu mau mencoba rasanya ditembak dengan pistol ini?"  Handoyo mengeluarkan senjata dari samping tempat duduknya dan mengarahkan pada Shinta. Shinta terkejut dan otomatis mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah.


"Ba... Baik Pak... saya akan mengundurkan diri sekarang ke mbak Dilla dan saya akan  bilang padanya bahwa saya harus membantu ayah  di kampung....  saya akan jalankan dengan baik perintah pak Handoyo, terimakasih pak !"


Shinta segera beranjak dan membuka pintu mobil  itu. Ia berfikir harus segera keluar sebelum Handoyo berubah pikiran.  Ketika Shinta akan melangkah keluar, Handoyo menarik tangannya sehingga dia hampir jatuh terjerembab menabrak "persneling mobil"


"Ya Pak, " Shinta begitu takut sambil memegang kantong plastik hitam itu.


"BIla ditanya polisi, kapan terakhir kali  melihatku... katakan saja ... kau terakhir kali melihatku  di dalam apartemen Dilla ketika aku sedang bercinta dengan Dilla... katakan saja seperti itu... Jangan katakan pada siapapun kamu mendapatkan uang itu... aku tidak ingin kamu dan keluargamu terlibat... lakukan pekerjaan yang baik di kampung dan jaga adik-adikmu , maafkan aku menyusahkanmu !"  Hanya ini yang bisa kulakukan terakhir kali... karena aku memang menganggapku sebagai anakku !"


"Terimakasih pak Handoyo !'  Shinta menatap pria itu . Wajah pria itu masih dingin. Shinta meninggalkan mobil Handoyo dan memasuki mobilnya. Handoyo langsung melesat dengan mobilnya meninggalkan Dilla yang masih bingung dengan tindakan besar yang akan mengubah hidupnya.


 


*****


Happy reading Guys.... thanks masih berbaik hati membacanya.


Boleh tinggalkan jejak disini. Thanks a lot ya.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2